
Happy reading ...
***********************
Noted: ( Percakapan panjang yang digambarkan sebagai latar belakang episode selain bahasa Inggris, authornya akan Indonesiakan aja yawgh đ)
***
âRasanya, jika ada yang patut dicurigai .. kaulah orangnya!â
Dan semua mata kini memandang pada Putra, saat tudingan dari anak lelaki Henrick tertuju pada Putra.
Namun Putra menanggapinya dengan santai. Putra mengulas sebuah senyuman malahan.
âJaga bicaramu Jacco!â
Ramone mendelik pada pria muda yang merupakan anak lelaki dari pria yang bernama Henrick Jiltk itu.
âBiarkan saja Vader..â ucap Putra. âDan atas dasar apa kau bicara seperti itu?..â
Putra menenangkan Ramone yang nampak tidak suka, lalu ia kembali beralih pada pria muda yang bernama Jacco tersebut.
âKau datang dengan tiba-tiba, lalu menyebarkan rumor tentang ada pengkhianat di dalam keluarga ini.. Bukankah itu patut dicurigai?!â
Jacco berkata dengan percaya dirinya.
Pria muda anak lelaki Henrick itu yakin bahwa kalimatnya akan memojokkan Putra.
Putra kembali menyunggingkan senyuman di bibirnya.
âApa kalian ingat apa yang aku katakan tadi soal pengkhianat ini?â
âKau bilang, mari bersulang, dan kau juga bilang jika kau telah memastikan bahwa wine yang akan kami minum tidak tercampur racun didalamnya ..â
Salah seorang dari kubu setia Ramone menyahut.
Putra pun menoleh padanya dan menampakkan senyuman.
âTerima kasih Paman.â
Pria paruh baya yang Putra panggil dengan sebutan Paman itu pun mengangguk pada Putra.
Pria lainnya yang berada dalam ruangan dan juga hitungannya memang setia pada Ramone yang beberapa dari pria tersebut menyertakan anak-anak lelaki mereka yang sudah diakui dalam âkeluargaâ Ramone tersebut pun mengiyakan ucapan pria paruh baya yang tadi berbicara.
Lalu Putra menoleh lagi pada Jacco. âKau dengar itu Jacco Jiltk? Atau telingamu berbeda dengan telinga mereka semua? Hem?â ucap Putra.
âEengg ...â
âJika aku seperti yang kau tuding kan, untuk apa aku mengungkapkan rencanaku yang ingin meracuni kalian semua dengan wine yang berada di gelas kalian itu?â
âItu...â
Jacco tergugu.
âDan juga, aku meminum wine yang seharusnya beracun itu bukan?â
âItu bisa saja sekedar alibimu!â
Namun dengan cepat Jacco berdalih dan kembali mencoba menjatuhkan Putra.
âUntuk mencari muka!â Seru Jacco dengan pongahnya.
Putra tersenyum miring kemudian.
âSeperti itukah menurutmu?â
Putra berucap.
âJika seperti itu ...â
Putra lalu menangkat tangannya lalu membuat gerakan seolah memanggil, pada Bale yang berdiri didekat pintu masuk aula.
âBawa dia masuk Bale!â seru Putra, dimana Bale mengangguk cepat dan langsung melakukan gerakan tangan seperti yang dilakukan Putra tadi ke arah pintu masuk aula.
Brak!.
âMungkin diantara kalian ada yang mengenalnya?â ucap Putra sambil mendekati sesuatu yang merupakan seseorang yang sudah tidak bernyawa itu.
âSiapa dia, Putra? ...â itu Ramone yang bertanya.
âSatu dari dua orang yang dikirim untuk membunuhmu, Vader.â
âOh ya?â
âYa.â
Putra menjawab dengan pasti pada Ramone.
âLalu mana yang satunya? Kau bilang dua orang.â
__ADS_1
âSudah mati kemarin! Dan aku sendiri yang menghabisinyaâ
âD-darimana kau tahu jika ia adalah suruhan seseorang untuk menghabisi Ramone?â Itu Henrick yang melontarkan pertanyaan.
Putra menyungging miring. âKebetulan aku melihatnya bersama dengan pembunuh bayaran yang hendak membunuh Vader kemarin.â
Henrick nampak melirik pada anak lelakinya.
âD-dimana?...â Henrick bertanya.
âAmsterdam,â jawab Putra dengan cepat.
âLalu laki-laki ini, apa dia masih hidup?â tanya Ramone dari tempatnya.
Putra yang sudah berjongkok didekat jasad pria yang tadi dihabisi Yonna itu, kemudian mencengkram rambut jasad tersebut dan membuat wajah pria yang sudah babak belur parah itu terlihat dihadapan semua orang dalam aula.
âSayangnya tidak.â
âKau berhasil mendapatkan informasi darinya? ...â
Salah seorang anggota âkeluargaâ yang pro Ramone bertanya.
âSedikit...â jawab Putra seraya menghempaskan kembali jasad yang ia cengkram rambutnya tadi.
âApa ... yang dia katakan? ...â
âTidak banyak seperti yang telah kukatakan tadi.â
âKatakan.â
âHanya rencana untuk menghabisimu kemarin yang akan dilakukan oleh partnernya, lalu keberadaannya disini adalah rencana lain yang memang sudah disiapkan jika partnernya itu gagal menghabisimu. Aku mengenalinya, jadi
kuminta Bale mengikuti dan mengawasi gerak-geriknya.â
âAku melihat dia menyuntikkan racun ke dalam beberapa botol wine,â Bale maju untuk berbicara.
Ramone pun manggut-manggut.
âYang kemudian dia berikut botol-botol tersebut langsung aku amankan.â
âJadi apa yang dia katakan? ...â
âKau sepertinya penasaran sekali?â
âAââ
âTentu saja, anak lelakiku ini penasaran dengan apa yang pria yang kau katakan adalah kiriman seseorang untuk menghabisi Ramone. Akupun penasaran dengan apa yang dikatakannya...â
âDan aku rasa semua orang disini juga sama penasarannya denganku dan Jacco, termasuk aku rasa ayah baptismu pun penasaran tentang apa yang pria ini katakan padamu.â
Putra mengulas senyumannya.
âApa dia menyebutkan nama sampai kau berani mengatakan bahwa ada pengkhianat dalam âkeluargaâ ini setelah sekian lamanya kami mengabdi pada ayah baptismu ...â
âAyahku benar,â Jacco menimpali. âDan aku rasa, jika ia menyebutkan nama, itu tidak bisa kau jadikan pegangan untuk menuduh kami sebagai pengkhianat!... Dan seperti yang aku katakan, ini hanya alibimu saja untuk mencari muka!â
Kembali sepasang ayah dan anak itu mencoba memprovokasi orang-orang dalam aula tersebut. Namun Putra tetap setenang air sungai, sembari menatap pada duo ayah dan anak yang seolah ingin memojokkan dan menjatuhkannya.
âAku rasa kau harus memberi penegasan untuk ini Ramone,â Henrick kini beralih pada Ramone. âKau memang harus tegas, tapi jika ada fitnah dalam âkeluargaâ ini dari pihak dalam sendiri, bukankah kau harus berlaku adil?...â Henrick menyeringai dalam hatinya.
âHenrick benar Ramone. Kau harus tegas dan adil dalam hal ini, meski dia anak baptis kesayanganmu.â
âApa dia menyebutkan nama, Nak?...â Ramone berbicara pada Putra.
âYa.â
Putra menjawab pasti, dimana Henrick dan tiga orang lainnya meneguk saliva mereka dengan ketat. Namun tetap masih berusaha tenang, meski dalam hati mereka sudah sangat was-was. Jika nama mereka disebutkan, maka habislah mereka ber empat.
Tapi ketenangan yang sedang mereka usahakan untuk tunjukkan dibalik rasa was-was dari ke empat orang tersebut dalam hati masing-masing, bukan tanpa sebab. Sekalipun nama mereka disebut oleh Putra nanti, Putra tetap harus menunjukkan bukti-bukti yang akurat.
âSiapa?...â tanya Ramone dengan tegas.
âGijs.â Jawab Putra. Dimana Ramone langsung mengernyit.
Sisanya menatap Putra juga dengan raut tanda tanya, kecuali Henrick, Jacco dan dua orang yang berada dipihak mereka secara sembunyi-sembunyi.
âTaââ
âJika nama itu yang dia sebutkan, mengapa kau katakan ada pengkhianat disini sementara Gijs itu bukan bagian dari âkeluargaâ ini?â
Ramone yang hendak berbicara untuk bertanya pada Putra itu terpotong kalimatnya karena Jacco yang sedari tadi banyak bicara itu langsung menyambar ucapan sembari menatap pada Putra.
Putra hanya menyungging miring dan tetap nampak tenang saja. âKarena pria ini mengatakan Gijs membantu seseorang di dalam sini.â
âApa dia memberikanmu bukti? ... Karena seharusnya kau paham peraturan dalam âkeluargaâ iniâ sambar Jacco. âJika tidak---â
âApa kau bisa diam?â Suara Ramone yang tegas langsung memotong cerocosan Jacco. âKau sudah terlalu banyak bicara Jacco!â
âMa-maafkan aku...â Jacco seketika tergagap saat Ramone berbicara tegas dan menatapnya tajam.
__ADS_1
âKau seharusnya sadar posisimu.â
Ramone menegaskan. Dan Jacco mengangguk gugup.
âMaafkan dia Ramone...â Henrick memasang badan untuk Jacco.
âJangankan kau!â ucap Ramone. âAyahmu pun tidak bisa bicara sesuka hatinya disini!â
Ramone menatap tajam pada Henrick kini.
âSudahlah Vader...â
Putra menginterupsi.
âMereka hanya manusia biasa yang kerap lupa siapa dirinya...â
Putra kemudian mengayunkan langkahnya mendekati Henrick.
âMungkin saat ini pun seperti itu.â
Putra berucap sembari menatap Henrick dan Jacco.
âTerlupa bahwa mereka ada diposisi paling bawah dalam keluarga ini, bahkan hak suara mereka pun tidak terlalu berarti...â
Putra menyungging miring pada Henrick dan Jacco.
âBukan begitu Henrick?â cetus Putra. âKau sudah menjelaskan posisimu dalam âkeluargaâ ini, pada anak lelakimu ini bukan?â
Merasa tersindir, Jacco sudah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, namun sang ayah mengkode agar Jacco menahan geramnya itu atas ucapan Putra yang secara tidak langsung merendahkan mereka.
Henrick kemudian mengulas senyuman pada Putra. âYa, tentu aku paham betul posisiku dalam âkeluargaâ ini ...â ucap Henrick.
âAku senang kalau ternyata kau orang yang sadar diri,â sahut Putra.
âTapi setidaknya kau harus memikirkan lagi ucapan Jacco, tentang peraturan dalam âkeluargaâ ini jika kau mengatakan ada pengkhianat diantara kami. Jika memang pria itu...â
Henrick menunjuk ke tempat jasad pria yang kini sedang diseret keluar dari aula.
âMengatakan seseorang bernama Gijs yang bekerja sama dengan salah seorang diantara kami, kau tetap harus menunjukkan bukti.â
âHeemm,â Putra mensedekapkan tangannya.
âItu sudah menjadi kebijakan Ramone selama ia memimpin âkeluargaâ ini.â
Henrick masih lanjut bicara. Dimana Putra kemudian menyungging miring.
âBicara tentang memimpin âkeluargaâ ...â Putra kembali menegakkan tubuhnya.
Lalu menatap satu-satu orang yang mengitari meja jamuan dalam aula, hingga pandangan Putra kembali berhenti di Henrick dan Jacco.
âAku yang menjadi kepala keluarga, dalam âkeluargaâ ini sekarang.â
Putra kini berbicara dengan tegas dengan tatapan yang tajam.
âPeraturan ayah baptisku sudah tidak berlaku,â tegas Putra. âKini peraturanku yang berlaku.â
â......â
âJadi kalian tinggal memilih...â
â......â
âPatuh dan tunduk padaku, atau silahkan melawanku jika memang kalian mampu.â
**
Putra sudah kembali berada disisi Ramone setelah menegaskan posisi dirinya sekarang yang sudah ditunjuk Ramone secara langsung untuk menggantikan posisi sang ayah baptis sebagai kepala keluarga di lingkup âkeluargaâ Ramone.
Setelahnya semua orang nampak bungkam dan duduk dengan tertib di kursinya masing-masing, termasuk Putra yang duduk di sisi kiri Ramone, tempat Bale tadi duduk. Meski Ramone menunjuk Putra secara sepihak, namun keputusan Ramone sebagai pendiri tunggal âkerajaanâ nya tidak dapat diganggu gugat.
Para anggota âkeluargaâ yang sekarang berada dalam aula memang hanya ikut andil setelah Ramone mempersilahkan mereka untuk masuk, dan saat Ramone telah mencapai puncak kejayaannya di Belanda.
Jadi hak veto dalam pengambilan keputusan adalah mutlak milik Ramone seorang.
Dan setelah penegasan Putra yang diiyakan Ramone tanpa ragu jika kepemimpinan Ramone dalam âkerajaanâ nya tersebut kini beralih pada Putra, hal itu tidak ada satu anggota âkeluargaâ pun yang bisa membantahnya.
Pria muda yang sudah ditunjuk Ramone dan bahkan kini sudah mengenakan cincin ikonik Ramone yang menjadi penanda simbol kepemimpinan âkerajaanâ dunia bawah Ramone Zeeman yang cukup besar di Belanda itu adalah rajanya sekarang.
Raja baru yang sepertinya mirip seperti Ramone saat muda dulu, namun dengan aura yang sedikit berbeda dari Ramone.
Nampak lebih berdarah dingin selain begitu misterius dan patut diwaspadai dengan sangat, mengingat raja baru ini, dapat dengan mudah menangkap konspirasi untuk menghabisi Ramone.
Padahal konspirasi itu diyakini sudah sangat dilakukan dengan begitu hati-hati oleh para pelakunya.
Namun raja baru ini, dengan sangat cepat mengungkapkannya. Dia, Putra Adjieran Vinson.
**
To be continue.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaaakk.