LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 194


__ADS_3

Happy reading ...


***********************


Noted: ( Percakapan panjang yang digambarkan sebagai latar belakang episode selain bahasa Inggris, authornya akan Indonesiakan aja yawgh 😉)


***


“Rasanya, jika ada yang patut dicurigai .. kaulah orangnya!”


Dan semua mata kini memandang pada Putra, saat tudingan dari anak lelaki Henrick tertuju pada Putra.


Namun Putra menanggapinya dengan santai. Putra mengulas sebuah senyuman malahan.


“Jaga bicaramu Jacco!”


Ramone mendelik pada pria muda yang merupakan anak lelaki dari pria yang bernama Henrick Jiltk itu.


“Biarkan saja Vader..” ucap Putra. “Dan atas dasar apa kau bicara seperti itu?..”


Putra menenangkan Ramone yang nampak tidak suka, lalu ia kembali beralih pada pria muda yang bernama Jacco tersebut.


“Kau datang dengan tiba-tiba, lalu menyebarkan rumor tentang ada pengkhianat di dalam keluarga ini.. Bukankah itu patut dicurigai?!”


Jacco berkata dengan percaya dirinya.


Pria muda anak lelaki Henrick itu yakin bahwa kalimatnya akan memojokkan Putra.


Putra kembali menyunggingkan senyuman di bibirnya.


“Apa kalian ingat apa yang aku katakan tadi soal pengkhianat ini?”


“Kau bilang, mari bersulang, dan kau juga bilang jika kau telah memastikan bahwa wine yang akan kami minum tidak tercampur racun didalamnya ..”


Salah seorang dari kubu setia Ramone menyahut.


Putra pun menoleh padanya dan menampakkan senyuman.


“Terima kasih Paman.”


Pria paruh baya yang Putra panggil dengan sebutan Paman itu pun mengangguk pada Putra.


Pria lainnya yang berada dalam ruangan dan juga hitungannya memang setia pada Ramone yang beberapa dari pria tersebut menyertakan anak-anak lelaki mereka yang sudah diakui dalam ‘keluarga’ Ramone tersebut pun mengiyakan ucapan pria paruh baya yang tadi berbicara.


Lalu Putra menoleh lagi pada Jacco. “Kau dengar itu Jacco Jiltk? Atau telingamu berbeda dengan telinga mereka semua? Hem?” ucap Putra.


“Eengg ...”


“Jika aku seperti yang kau tuding kan, untuk apa aku mengungkapkan rencanaku yang ingin meracuni kalian semua dengan wine yang berada di gelas kalian itu?”


“Itu...”


Jacco tergugu.


“Dan juga, aku meminum wine yang seharusnya beracun itu bukan?”


“Itu bisa saja sekedar alibimu!”


Namun dengan cepat Jacco berdalih dan kembali mencoba menjatuhkan Putra.


“Untuk mencari muka!” Seru Jacco dengan pongahnya.


Putra tersenyum miring kemudian.


“Seperti itukah menurutmu?”


Putra berucap.


“Jika seperti itu ...”


Putra lalu menangkat tangannya lalu membuat gerakan seolah memanggil, pada Bale yang berdiri didekat pintu masuk aula.


“Bawa dia masuk Bale!” seru Putra, dimana Bale mengangguk cepat dan langsung melakukan gerakan tangan seperti yang dilakukan Putra tadi ke arah pintu masuk aula.


Brak!.


“Mungkin diantara kalian ada yang mengenalnya?” ucap Putra sambil mendekati sesuatu yang merupakan seseorang yang sudah tidak bernyawa itu.


“Siapa dia, Putra? ...” itu Ramone yang bertanya.


“Satu dari dua orang yang dikirim untuk membunuhmu, Vader.”


“Oh ya?”


“Ya.”


Putra menjawab dengan pasti pada Ramone.


“Lalu mana yang satunya? Kau bilang dua orang.”

__ADS_1


“Sudah mati kemarin! Dan aku sendiri yang menghabisinya”


“D-darimana kau tahu jika ia adalah suruhan seseorang untuk menghabisi Ramone?” Itu Henrick yang melontarkan pertanyaan.


Putra menyungging miring. “Kebetulan aku melihatnya bersama dengan pembunuh bayaran yang hendak membunuh Vader kemarin.”


Henrick nampak melirik pada anak lelakinya.


“D-dimana?...” Henrick bertanya.


“Amsterdam,” jawab Putra dengan cepat.


“Lalu laki-laki ini, apa dia masih hidup?” tanya Ramone dari tempatnya.


Putra yang sudah berjongkok didekat jasad pria yang tadi dihabisi Yonna itu, kemudian mencengkram rambut jasad tersebut dan membuat wajah pria yang sudah babak belur parah itu terlihat dihadapan semua orang dalam aula.


“Sayangnya tidak.”


“Kau berhasil mendapatkan informasi darinya? ...”


Salah seorang anggota ‘keluarga’ yang pro Ramone bertanya.


“Sedikit...” jawab Putra seraya menghempaskan kembali jasad yang ia cengkram rambutnya tadi.


“Apa ... yang dia katakan? ...”


“Tidak banyak seperti yang telah kukatakan tadi.”


“Katakan.”


“Hanya rencana untuk menghabisimu kemarin yang akan dilakukan oleh partnernya, lalu keberadaannya disini adalah rencana lain yang memang sudah disiapkan jika partnernya itu gagal menghabisimu. Aku mengenalinya, jadi


kuminta Bale mengikuti dan mengawasi gerak-geriknya.”


“Aku melihat dia menyuntikkan racun ke dalam beberapa botol wine,” Bale maju untuk berbicara.


Ramone pun manggut-manggut.


“Yang kemudian dia berikut botol-botol tersebut langsung aku amankan.”


“Jadi apa yang dia katakan? ...”


“Kau sepertinya penasaran sekali?”


“A—“


“Tentu saja, anak lelakiku ini penasaran dengan apa yang pria yang kau katakan adalah kiriman seseorang untuk menghabisi Ramone. Akupun penasaran dengan apa yang dikatakannya...”


“Dan aku rasa semua orang disini juga sama penasarannya denganku dan Jacco, termasuk aku rasa ayah baptismu pun penasaran tentang apa yang pria ini katakan padamu.”


Putra mengulas senyumannya.


“Apa dia menyebutkan nama sampai kau berani mengatakan bahwa ada pengkhianat dalam ‘keluarga’ ini setelah sekian lamanya kami mengabdi pada ayah baptismu ...”


“Ayahku benar,” Jacco menimpali. “Dan aku rasa, jika ia menyebutkan nama, itu tidak bisa kau jadikan pegangan untuk menuduh kami sebagai pengkhianat!... Dan seperti yang aku katakan, ini hanya alibimu saja untuk mencari muka!”


Kembali sepasang ayah dan anak itu mencoba memprovokasi orang-orang dalam aula  tersebut. Namun Putra tetap setenang air sungai, sembari menatap pada duo ayah dan anak yang seolah ingin memojokkan dan menjatuhkannya.


“Aku rasa kau harus memberi penegasan untuk ini Ramone,” Henrick kini beralih pada Ramone. “Kau memang harus tegas, tapi jika ada fitnah dalam ‘keluarga’ ini dari pihak dalam sendiri, bukankah kau harus berlaku adil?...” Henrick menyeringai dalam hatinya.


“Henrick benar Ramone. Kau harus tegas dan adil dalam hal ini, meski dia anak baptis kesayanganmu.”


“Apa dia menyebutkan nama, Nak?...” Ramone berbicara pada Putra.


“Ya.”


Putra menjawab pasti, dimana Henrick dan tiga orang lainnya meneguk saliva mereka dengan ketat. Namun tetap masih berusaha tenang, meski dalam hati mereka sudah sangat was-was. Jika nama mereka disebutkan, maka habislah mereka ber empat.


Tapi ketenangan yang sedang mereka usahakan untuk tunjukkan dibalik rasa was-was dari ke empat orang tersebut dalam hati masing-masing, bukan tanpa sebab. Sekalipun nama mereka disebut oleh Putra nanti, Putra tetap harus menunjukkan bukti-bukti yang akurat.


“Siapa?...” tanya Ramone dengan tegas.


“Gijs.” Jawab Putra. Dimana Ramone langsung mengernyit.


Sisanya menatap Putra juga dengan raut tanda tanya, kecuali Henrick, Jacco dan dua orang yang berada dipihak mereka secara sembunyi-sembunyi.


“Ta—“


“Jika nama itu yang dia sebutkan, mengapa kau katakan ada pengkhianat disini sementara Gijs itu bukan bagian dari ‘keluarga’ ini?”


Ramone yang hendak berbicara untuk bertanya pada Putra itu terpotong kalimatnya karena Jacco yang sedari tadi banyak bicara itu langsung menyambar ucapan sembari menatap pada Putra.


Putra hanya menyungging miring dan tetap nampak tenang saja. “Karena pria ini mengatakan Gijs membantu seseorang di dalam sini.”


“Apa dia memberikanmu bukti? ... Karena seharusnya kau paham peraturan dalam ‘keluarga’ ini” sambar Jacco. “Jika tidak---“


“Apa kau bisa diam?” Suara Ramone yang tegas langsung memotong cerocosan Jacco. “Kau sudah terlalu banyak bicara Jacco!”


“Ma-maafkan aku...” Jacco seketika tergagap saat Ramone berbicara tegas dan menatapnya tajam.

__ADS_1


“Kau seharusnya sadar posisimu.”


Ramone menegaskan. Dan Jacco mengangguk gugup.


“Maafkan dia Ramone...” Henrick memasang badan untuk Jacco.


“Jangankan kau!” ucap Ramone. “Ayahmu pun tidak bisa bicara sesuka hatinya disini!”


Ramone menatap tajam pada Henrick kini.


“Sudahlah Vader...”


Putra menginterupsi.


“Mereka hanya manusia biasa yang kerap lupa siapa dirinya...”


Putra kemudian mengayunkan langkahnya mendekati Henrick.


“Mungkin saat ini pun seperti itu.”


Putra berucap sembari menatap Henrick dan Jacco.


“Terlupa bahwa mereka ada diposisi paling bawah dalam keluarga ini, bahkan hak suara mereka pun tidak terlalu berarti...”


Putra menyungging miring pada Henrick dan Jacco.


“Bukan begitu Henrick?” cetus Putra. “Kau sudah menjelaskan posisimu dalam ‘keluarga’ ini, pada anak lelakimu ini bukan?”


Merasa tersindir, Jacco sudah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, namun sang ayah mengkode agar Jacco menahan geramnya itu atas ucapan Putra yang secara tidak langsung merendahkan mereka.


Henrick kemudian mengulas senyuman pada Putra. “Ya, tentu aku paham betul posisiku dalam ‘keluarga’ ini ...” ucap Henrick.


“Aku senang kalau ternyata kau orang yang sadar diri,” sahut Putra.


“Tapi setidaknya kau harus memikirkan lagi ucapan Jacco, tentang peraturan dalam ‘keluarga’ ini jika kau mengatakan ada pengkhianat diantara kami. Jika memang pria itu...”


Henrick menunjuk ke tempat jasad pria yang kini sedang diseret keluar dari aula.


“Mengatakan seseorang bernama Gijs yang bekerja sama dengan salah seorang diantara kami, kau tetap harus menunjukkan bukti.”


“Heemm,” Putra mensedekapkan tangannya.


“Itu sudah menjadi kebijakan Ramone selama ia memimpin ‘keluarga’ ini.”


Henrick masih lanjut bicara. Dimana Putra kemudian menyungging miring.


“Bicara tentang memimpin ‘keluarga’ ...” Putra kembali menegakkan tubuhnya.


Lalu menatap satu-satu orang yang mengitari meja jamuan dalam aula, hingga pandangan Putra kembali berhenti di Henrick dan Jacco.


“Aku yang menjadi kepala keluarga, dalam ‘keluarga’ ini sekarang.”


Putra kini berbicara dengan tegas dengan tatapan yang tajam.


“Peraturan ayah baptisku sudah tidak berlaku,” tegas Putra. “Kini peraturanku yang berlaku.”


“......”


“Jadi kalian tinggal memilih...”


“......”


“Patuh dan tunduk padaku, atau silahkan melawanku jika memang kalian mampu.”


**


Putra sudah kembali berada disisi Ramone setelah menegaskan posisi dirinya sekarang yang sudah ditunjuk Ramone secara langsung untuk menggantikan posisi sang ayah baptis sebagai kepala keluarga di lingkup ‘keluarga’ Ramone.


Setelahnya semua orang nampak bungkam dan duduk dengan tertib di kursinya masing-masing, termasuk Putra yang duduk di sisi kiri Ramone, tempat Bale tadi duduk. Meski Ramone menunjuk Putra secara sepihak, namun keputusan Ramone sebagai pendiri tunggal ‘kerajaan’ nya tidak dapat diganggu gugat.


Para anggota ‘keluarga’ yang sekarang berada dalam aula memang hanya ikut andil setelah Ramone mempersilahkan mereka untuk masuk, dan saat Ramone telah mencapai puncak kejayaannya di Belanda.


Jadi hak veto dalam pengambilan keputusan adalah mutlak milik Ramone seorang.


Dan setelah penegasan Putra yang diiyakan Ramone tanpa ragu jika kepemimpinan Ramone dalam ‘kerajaan’ nya tersebut kini beralih pada Putra, hal itu tidak ada satu anggota ‘keluarga’ pun yang bisa membantahnya.


Pria muda yang sudah ditunjuk Ramone dan bahkan kini sudah mengenakan cincin ikonik Ramone yang menjadi penanda simbol kepemimpinan ‘kerajaan’ dunia bawah Ramone Zeeman yang cukup besar di Belanda itu adalah rajanya sekarang.


Raja baru yang sepertinya mirip seperti Ramone saat muda dulu, namun dengan aura yang sedikit berbeda dari Ramone.


Nampak lebih berdarah dingin selain begitu misterius dan patut diwaspadai dengan sangat, mengingat raja baru ini, dapat dengan mudah menangkap konspirasi untuk menghabisi Ramone.


Padahal konspirasi itu diyakini sudah sangat dilakukan dengan begitu hati-hati oleh para pelakunya.


Namun raja baru ini, dengan sangat cepat mengungkapkannya. Dia, Putra Adjieran Vinson.


**


To be continue.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaaakk.


__ADS_2