LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 255


__ADS_3

Happy reading ....


♦♦♦♦


London, England


Dua orang pria yang dalam kondisi terikat tubuhnya, dibawa masuk oleh Richard dan Stan dengan kepala kedua orang tersebut yang juga ditodongkan pistol oleh Richard dan Stan.


Dimana mulut kedua orang yang terikat itu, juga di sumpal oleh kain yang diikat simpul pada belakang kepala keduanya.


Setelahnya, kedua orang itu dipaksa berlutut tepat di hadapan Putra dan Damian.


“Jaeden who sent them right? (Jaeden yang mengirim mereka bukan?)” tanya Hiz sekaligus menebak dengan yakin.


Pada dua orang pria yang disinyalir sebagai orang yang ditugaskan untuk memata-matai dirinya selama dua puluh empat jam, yang bergantian dengan rekannya yang lain. Sepengetahuan Hiz.


Namun Richard dan Stan menggeleng.


“No Sir. They said that they were sent by a man name Gaines.”


“(Tidak Tuan. Mereka mengatakan jika mereka dikirim oleh seorang pria bernama Gaines)”


“Heh!” Putra mendengus sinis, setelah satu nama disebutkan oleh Richard dalam laporannya. Sementara Hiz geleng-geleng.


“I just impeach him, since I still can’t find something specific to see if Gaines having ‘special’ connection with Jaeden. But now, I really can’t believe if Gaines also defect.”


“(Aku hanya mencurigainya, sehubungan aku belum menemukan sesuatu yang spesifik untuk melihat apa Gaines memiliki hubungan ‘khusus’ dengan Jaeden. Tapi sekarang, aku sungguh tidak percaya jika Gaines membelot juga)”


Hiz berucap kemudian.


“Maybe he was under threat and being used with that m*therfuck*r? (Mungkin saja dia dibawah ancaman dan dimanfaatkan oleh keparat itu?) ....”


Damian yang kemudian bicara.


Namun setelahnya Putra mengangkat tangan kanannya.


Dan tak ada lagi yang bicara setelah itu, selain Putra.


“What else? (Apalagi?)”


Putra berkata seraya bertanya namun matanya tetap pada kedua orang yang terikat tubuhnya, dan tersumpal mulutnya itu.


“He’s the one who said that Gaines name Sir (Dia yang tadi menyebutkan nama Gaines Tuan)---“


Richard yang menjawab, seraya menunjuk pada satu orang.


“But this one don’t want to open up his mouth (Tapi yang satu ini tidak mau membuka mulutnya)”


Richard lalu menunjuk pria yang satunya lagi, yang meski wajahnya sedikit babak belur, namun nampak tak gentar berada didalam posisinya sekarang.


“Hem.” Putra berdehem sambil menyungging miring. “Interesting (Menarik)....” ucap Putra kemudian.


Lalu Putra menyuruh Richard untuk membuka sumpalan pada mulut pria yang Richard bilang tidak mau memberikan informasi, meski sudah sempat dipukuli.


“So you guys are ‘faithful dog’, or Gaines, or maybe man name Jaeden paid you guys a lot then you won’t to talk even in your position right now?”


“(Jadi kalian adalah ‘anjing setia’, atau Gaines, atau mungkin orang yang bernama Jaeden membayar kalian cukup banyak hingga kalian bersikeras tidak mau berbicara meski dalam posisi kalian sekarang?)”


Kemudian Putra berbicara pada pria yang sumpalan mulutnya telah dibuka, lalu diseret ke dekat kaki Putra yang telah mengambil tempat untuk duduk di sebuah sofa single dengan menopangkan satu kakinya.


“Even you beating us until dying, you won’t get anything from us!”


“(Meskipun kau memukuli kami sampai kami sekarat, kau tidak akan mendapatkan apapun dari kami!)”


Pria yang berada dengan posisi dipaksa berlutut itu bicara dengan pongah.


Putra pun mendengus sinis dengan menyungging miring pada pria itu sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


“Also don’t want negociate about you and your friends price? (Juga tidak mau bernegosiasi tentang hargamu dan temanmu itu?)”

__ADS_1


Lalu Putra berbicara. Dan pria itu balik mendengus sinis pada Putra.


“We’re not interesting to your money. And for your information, me and my friends here, not coming from such an usual organization. If they’re not having any news from us, or didn’t meet us when our time to change is up, they’ll know if something wrong happened ----“


“(Kami tidak tertarik dengan uangmu. Dan sebagai informasi untukmu, aku dan temanku ini, tidak berasal dari organisasi yang biasa. Jika teman-teman kami tidak mendapat kabar dari kami, atau mereka tidak mendapati kami saat waktu kami untuk mengawasi habis, mereka akan tahu jika ada yang tidak beres ) ----“


Pria yang dipaksa berlutut di hadapan Putra itu merepet dengan sikap pongahnya, lalu tersenyum remeh pada Putra.


“Then, they will come to slaught all of you. You guys won’t be able to face it or even try to run (Lalu, mereka akan datang untuk membantai kalian semua. Kalian tidak akan bisa menghadapi itu ataupun mencoba untuk lari) ---“


Putra mengurai dirinya dari sandaran sofa, lalu memajukan tubuhnya sambil menurunkan kakinya secara perlahan sambil memandangi pria pongah tersebut.


Pria pongah itupun menyungging miring, karena merasa jika Putra termakan ancamannya barusan yang memang pada dasarnya pria itu dan satu kawannya adalah bawahan dari seseorang yang memiliki banyak anak buah yang biasa melakukan tindakan-tindakan kriminal, atau tugas lainnya berdasarkan permintaan dari para klien yang menggunakan jasa mereka, melalui Bos mereka itu.


Hanya saja, pria pongah itu tidak tahu siapa yang dia ajak bicara. Pria itu tahu segala sesuatu tentang seorang Hizkia Phillips karena sudah mendapatkan segala informasi tentang salah satu orang yang berada dipihak keluarga Rery tersebut.


Hiz memang dapat digolongkan sebagai orang berada yang memiliki jabatan cukup penting pada sebuah lembaga keuangan di Inggris.


Namun jika dibandingkan oleh orang yang menyewa jasanya itu berikut juga temannya melalui sang Bos, pria pongah itu berpikir jika Hiz tidak ada apa-apanya dari segi ‘kekuatan’ yang berdasarkan uang.


Perintah untuk menghabisi Hiz memang sudah turun juga, namun sampai orang yang menyewa si pria pongah dan teman-temannya dalam suatu organisasi yang dapat dikatakan adalah suatu organisasi yang menyediakan jasa untuk tindakan kriminal.


Namun sampai detik ini Hiz belum dapat dihabisi karena orang yang menyewa pria pongah dan teman-temannya itu belum mendapatkan apa yang incar.


Maka tugasnya adalah untuk mengawasi terlebih dahulu dan melapor setiap apa yang Hiz lakukan setiap harinya, dengan siapa dia bertemu dan sebagainya.


Hanya tinggal menunggu waktu, menurut pria pongah itu dan Bos, berikut anggota mereka, karena sudah merencanakan untuk kembali membobol rumah Hiz untuk mencari apa yang diincar oleh penyewa mereka, sekaligus menemukan orang yang berhubungan dengan Hiz selama ini.


Namun sebelum itu sampai terjadi, mereka sudah keburu ‘ditemukan’ oleh Putra dan rombongannya.


Meski begitu, pria pongah itu nampak tak gentar, lebih kukuh pertahanan daripada satu temannya, yang setelah mendapat cenderamata berupa beberapa sundutan rokok disekitar tubuhnya, dia sempat keceplosan menyebut nama seseorang yang bernama Gaines.


Sementara si pria pongah yang sedang bicara pada Putra ini tetap bungkam saat diberikan cenderamata yang sama seperti temannya. Bahkan dia memberi peringatan pada temannya yang keceplosan itu untuk tidak lebih ‘membuka’ mulutnya lebih besar lagi.


Hingga akhirnya berakhirlah kedua orang tersebut dengan dibawa oleh Richard dan Stan kehadapan Putra dan lainnya yang sedang berada di Kediaman milik Hiz itu. Dan satu orang yang bersikap pongah itu kini sudah dihadapkan langsung didepan Putra. Yang memandang remeh, karena menyamakan Putra dengan Hiz.


“Then, they will come to slaught all of you. You guys won’t be able to face it or even try to run (Lalu, mereka akan datang untuk membantai kalian semua. Kalian tidak akan bisa menghadapi itu ataupun mencoba untuk lari) ---“


Pria pongah itu berbicara dengan menyungging miring dengan tatapannya yang meremehkan Putra. Lalu dia menolehkan kepalanya dan memandang remeh orang-orang disekeliling Putra dengan pongahnya, sebelum ia kembali menoleh pada Putra.


“Better you enjoy your rest time tonight if you only have this bunch of ‘ladies’ (Sebaiknya kau nikmati saja sisa waktumu malam ini jika yang kau punya hanya ‘para wanita’)”


Kembali pria pongah itu meremehkan, bahkan mengeluarkan kata hinaan yang merendahkan para saudara dan orang-orang Putra dimana hal itu tentu saja adalah hinaan yang sama untuk Putra.


Mereka yang bersama Putra sudah nampak geram, gatal ingin segera menghabisi pria pongah tersebut.


Putra nampak tetap tenang, namun matanya tajam menatap pria pongah tersebut.


“Kill us if you dare to outdare people of my organization and feel free trying to run (Bunuh saja kami jika kau berani menantang orang-orang dari organisasi kami dan silahkan mencoba untuk lari)”


Pria pongah itu mendengus remeh dan sinis melihat Putra yang tak berkomentar, hanya diam memandanginya. Berpikir jika Putra pasti sedang gamang dan tidak akan berani membunuhnya karena sadar orang-orang dari Putra hanya sedikit saja jika dibandingkan dengan orang-orangnya.


Dan Putra memang telah mengetahui dari organisasi mana dua pria yang selama ini mengawasi Hiz, setelah Richard menemukan sebuah barang yang merupakan simbol organisasi dari dua pria ini bernaung dari dalam mobil yang mereka gunakan yang telah juga diamankan oleh Richard, Stan dan satu rekan mereka.


“Well (Kalau begitu).....” Putra tak lama berbicara. Wajahnya masih nampak santai saja, dan pria pongah itu memperhatikan Putra dengan spontan mengangkat alisnya melihat betapa tenangnya pria yang ada dihadapannya itu.


Pria pongah itu pikir, paling-paling ia dan rekannya hanya akan dipukuli habis-habisan, lalu ditinggalkan.


Lalu Putra dan orang-orangnya akan pergi saking tidak mau berhadapan dengan orang-orang yang berada dalam organisasinya.


“What the most horrible pain that you ever felt in your life? (Rasa sakit yang seperti apa yang pernah begitu menyakitkan kau rasa dalam hidupmu?)...” gumam Putra.


Yang memang secara kasat, kalimatnya tidak terlalu jelas terdengar bagi telinga mereka yang sedang tak awas.


Karena Putra berbicara sambil menyelipkan sebatang rokok di sepasang bibirnya, lalu menyulut ujung rokok tersebut.


“Appearance can be deceptive you know? (Kau tahu jika air tenang menghanyutkan?) ..”


Damian berucap, dan tersenyum miring sambil memandang pada pria pongah tersebut yang melihat pada Damian dengan dahinya yang mengkerut.

__ADS_1


“But ‘the calm water’ in front of you not only deceptive but also drowned (Tapi ‘air tenang’ dihadapanmu ini tidak hanya menghanyutkan namun juga menenggelamkan)” lanjut Damian.


“I asked, What the most horrible pain that you ever felt in your life? ( Aku tadi bertanya, rasa sakit yang seperti apa yang pernah begitu menyakitkan kau rasa dalam hidupmu?) ..” Putra mengulang kembali ucapannya yang berupa pertanyaannya tadi yang dimaksudkan pada pria pongah tersebut.


Pria pongah itu bungkam. Otaknya sedang menelaah maksud pertanyaan Putra padanya tersebut.


“Gar ..” panggil Putra pada Garret, tanpa menunggu pria pongah itu menjawab pertanyaannya.


“Here, Boss!”


Garret yang sudah menyeringai itu menyahut dengan selorohan.


“Don’t you think he looks tired after talking that much? (Bukankah menurutmu dia terlihat lelah setelah bicara begitu banyak?)..” ucap Putra, sambil dengan santai menyesap batangan nikotinnya.


“Hemmm.” Garret berjalan mendekat pada Putra yang masih duduk santai di tempatnya. “Seems that you’re right (Sepertinya kau benar)” kata Garret.


Garret pun itu berlagak memperhatikan si pria pongah itu dengan khawatir.


“Then, what are you waiting for? (Lalu apa yang kau tunggu?)—“ tukas Putra. “Give him an injection to ‘allay’ (Berikan dia suntikan untuk ‘menenangkan’)....”


Dan seringai tampak di wajah Putra setelah kalimat terakhirnya tersebut.


“Sure.” Sahut Garret yang juga ikut menyeringai. “What a hance, I bring it in my pocket (Kebetulan, aku membawanya di sakuku)....”


Garret mengeluarkan sebuah benda yang mirip dengan sebuah kantung militer berbahan parasut berukuran kecil dan terlihat tipis.


Kemudian Garret mengeluarkan sebuah alat yang merupakan sebuah suntikan berukuran kecil, dari salah satu bagian kantung parasut tersebut.


Garret kemudian memasukkan kantung parasut kembali ke sakunya setelah satu suntikan yang berisikan cairan dia pegang sambil mendekati pria pongah yang kini nampak waspada.


Pria pongah itu spontan bergerak, namun tak berarti karena pundaknya ditahan kuat oleh Devoss dan Richard dan Garret dengan cepat menusukkan jarum pada suntikan yang ia pegang ke leher pria pongah tersebut.


“What’s that, morphine? (Apa itu, morfin?), heh?!” kata si pria pongah dengan wajah yang kembali meremehkan.


“You’ll know it soon (Kau akan tahu sebentar lagi)..” ucap Putra sambil mengangkat pergelangan tangan kanannya dan melirik arloji yang melingkar disana.


“You guys may put away your hands from him (Kalian sudah bisa menjauhkan tangan kalian darinya)”


Garret bersuara, berbicara pada Devoss dan Richard setelah satu menit telah dirasa berlalu. Putra menambah seringainya, saat melihat raut wajah si pria pongah nampak seperti kebingungan.


Damian dan Garret yang paham situasi juga ikut menyeringai. Sisanya memperhatikan si pria pongah yang wajahnya tadi bingung, kini perlahan nampak panik.


“Why? You feel that your body is numbing now? (Kenapa? Kau merasakan tubuhmu kebas sekarang?)” ucap Putra yang telah berdiri dari duduknya, dan mematikan rokoknya di dalam asbak.


Lalu tangannya mengkode pada ke arah Jules dan Hiz, untuk membawa rekan si pria pongah itu mendekat padanya, dan diletakkan berhadapan dengan si pria pongah temannya itu yang tidak bersuara, meski ia sedang terlihat mencoba untuk itu.


Setiap detiknya kemudian guratan panik terlihat di wajah si pria pongah yang sepertinya juga kesulitan menggerakkan tubuhnya, walau dia dalam keadaan sadar. Tubuhnya hampir ambruk karena menjadi kaku setelah tadi sempat kebas.


Richard dan Stan yang kini menopangnya. Putra sudah berdiri didekat dua orang yang menjadi sanderanya dan rombongan. Lalu Putra menaikkan satu kakinya ke atas meja yang berada dekat dengannya juga. Menaikkan sedikit celananya, dan mengambil pisau miliknya yang terikat pada sarungnya di kaki Putra.


“You asked what thing that my brother was injected to you right? (Kau tadi bertanya apa yang saudaraku suntikkan padamu tadi, bukan?)..” ucap Putra. “Tell him (Katakan padanya), Gar.”


“Well, in essence, you will keep consious to feel some pain without doing nothing, not even screaming (Yah, pada intinya, kau akan tetap sadar untuk merasakan kesakitan tanpa mampu berbuat apa-apa, sekalipun berteriak)”


“Open his mouth (Buka mulutnya)” titah Putra diujung ucapan Garret tadi. Dimana Devoss langsung memegangi kepala si pria pongah tersebut dan Richard membuka mulut pria pongah tersebut sampai benar-benar menganga.


‘AARRGGHH!!’


Sebuah teriakan amat sangat kencang dari rasa sakit yang terasa menyengat tubuh seorang pria yang baru saja mendapatkan sebuah eksekusi menyakitkan sekaligus mengerikan yang dilakukan Putra padanya.


Yang mana teriakan kesakitan yang teramat karena rasa sakit yang tak terperi itu hanya mampu si pria-yang adalah pria yang sedari tadi begitu pongah dan meremehkan Putra, hanya bisa ia teriak-kan dalam hatinya saja.


Dan refleksi teriakan dalam hatinya, berikut yang teramat sangat sedang si pria pongah itu rasakan adalah air yang keluar dari matanya, serta wajahnya yang merah padam akibat harus menanggung sakit yang begitu terperi saat ini ..


Saat Putra menggunakan pisau miliknya, untuk memotong setengah lidah dari si pria pongah tersebut tanpa sedikitpun terlihat ada iba di ekspresi wajah Putra yang tenang dan sangat datar itu saat ia melakukan eksekusi mengerikan dengan tangannya sendiri.


♦♦♦♦


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2