
Happy reading ...
🎑🎑🎑🎑🎑🎑🎑
Belanda, Eropa ..
‘Look, I know you feel wroth now ( Aku tahu, kau sedang gusar sekarang )....’
Addison berbicara dari sebrang telpon, dimana Putra masih mendengarkan salah satu saudaranya itu berbicara dan menyampaikan pendapatnya.
‘But you can’t go face Jaeden at Ravenna with not enough preparation ( Tapi kau tidak bisa begitu saja menghadapi Jaeden di Ravenna tanpa persiapan yang cukup )....’
“I think, now I can get enough preparation Ad ( Aku rasa, sekarang aku sudah bisa mendapatkan cukup persiapan Ad )” Tukas Putra. “Did Hiz told you the time that mtherfucker will go to Ravenna? .... ( Apakah Hiz mengatakan padamu kapan waktunya si bjingan itu akan pergi ke Ravenna? ) ....”
‘Hiz haven’t know when it exactly. But he said it could be by days .... ( Hiz tidak tahu pasti kapan waktunya. Tetapi dia mengatakan kemungkinan dalam beberapa hari ini ) ....’
“Then I will welcome him at Ravenna. ( Maka aku akan menyambutnya di Ravenna )” Ucap Putra. “If there’s no blizzard here, then I will fly over Italy right away from here. ( Jika tidak ada badai disini, maka aku akan pergi ke Italia langsung dari sini dengan segera )”
‘Listen Putra ( Dengar Putra ) ---‘
“Is Gadis still there? ( Apakah Gadis masih disana? ) ....”
Seolah menghiraukan Addison, karena Putra tahu jika saudara angkatnya itu pasti akan terus mencoba untuk membujuknya agar merubah keputusan, Putra pun langsung mengalihkan topik dengan menanyakan Gadis sebelum Addison menyelesaikan kalimatnya.
‘Ya she’s still here. ( Iya dia masih disini )’
Indonesia..**
Gadis, Bruna dan Addison hendak melangkah untuk keluar dari ruang kerja utama dalam Villa, namun langkah mereka dijeda saat mendengar suara dering dari telepon yang memiliki saluran rahasia tersebut.
Triingggg ....
“Maybe it’s Hiz again?.... ( Mungkin itu Hiz lagi? )....”
“Could be.... ( Mungkin saja )....”
“And what if it’s Putra? .... ( Dan bagaimana jika itu Putra? ) ....”
“Then I will tell him about what Hiz was said. ( Maka aku akan mengatakannya tentang apa yang dikatakan oleh Hiz )”
Addison berucap pasti sembari menatap Bruna dan Gadis bergantian.
“Don’t want to talk it with Dami first, before we tell Putra? ( Tidak mau membicarakannya dulu dengan Dami, sebelum kita memberitahu Putra? ) ....” Kata Bruna.
“I’m afraid it can’t. If Putra knows we put off giving any information to him, he will be pissed off. ( Aku rasa tidak bisa. Jika Putra tahu kita menunda informasi untuk disampaikan padanya, dia akan marah )”
Bruna pun mengiyakan ucapan Addison.
“It’s about Anth, moreover. Connecting with our main aim and everything, you know. ( Terlebih lagi ini, soal Anth. Berhubungan dengan tujuan utama kita dan segalanya, kau tahu itu )”
“.......”
“Putra will get in big anger if we hold to tell him about this ( Putra akan murka jika kita tidak lekas memberitahukannya )....”
“Ya you’re right ( kau benar ) ....” Bruna pun menghembuskan nafas frustasi. Dan Add melangkahkan kaki untuk segera menerima panggilan yang masuk ke saluran rahasia mereka.
“Ad,” Gadis bersuara.
“Yes?” Sahut Addison.
“If it’s Putra, tell him I want to talk ( Jika itu Putra, katakan padanya aku ingin bicara ) ....” Pinta Gadis, dan Addison pun mengangguk.
***
Addison berbicara panjang lebar dengan Putra di telepon.
“But you can’t go face Jaeden at Ravenna with not enough preparation ( Tapi kau tidak bisa begitu saja menghadapi Jaeden di Ravenna tanpa persiapan yang cukup )....”
Tampak di mata Bruna dan Gadis ada perdebatan dari perbedaan pendapat antara Addison dan Putra.
Tapi kedua wanita itu tidak ada yang menginterupsi, hanya tetap memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama setiap ucapan Addison pada Putra di telepon.
Dimana Bruna dan Gadis dapat menangkap kesimpulan, jika Putra berniat untuk melakukan sesuatu yang beresiko, dan Addison sedang berusaha membujuk Putra agar mengurungkan niatnya.
“Listen Putra ( Dengar Putra ) ---“
Addison terdengar berbicara lagi, namun kemudian dia terdiam. Tak lama ia mengangguk seolah Putra dapat melihatnya.
“Ya she’s still here. ( Iya dia masih disini )” Ucap Addison sembari menoleh ke tempat Bruna dan Gadis berdiri. “Wait ( Tunggu )”
Addison menatap Gadis.
“Putra wants to talk with you, Gadis.”
“( Putra ingin berbicara denganmu, Gadis )”
Lalu Addison mengarahkan gagang telepon kepada Gadis.
“Persuade him to get back here from Netherland ( Bujuk dia untuk kembali kesini dari Belanda )”
__ADS_1
Addison berbisik pada Gadis, sambil menutup satu lubang di gagang telepon.
Gadis yang tadi sempat menangkap dari ucapan Addison bahwa Putra sepertinya akan pergi ke tempat mereka sebelum Putra dan para saudara, serta satu saudarinya itu datang ke Indonesia pun menjawab ucapan Addison dengan anggukan.
“I will go to see Anth’s first and wake up Dami also Danny ( Aku akan melihat Anth dulu dan membangunkan Dami juga Danny )....” Ucap Bruna pada Gadis dan Addison yang langsung menganggukkan kepala mereka.
“I’ll waiting at there ( Aku akan menunggu disana )” Gantian Addison yang berucap pada Gadis sembari menunjuk sofa di ruang kerja yang terlihat dari sudut ruang rahasia tempatnya berdiri, saat Bruna sudah mengayunkan langkahnya untuk keluar dari ruang rahasia dan ruang kerja tersebut.
Gadis pun mengangguk lagi.
***
Belanda, Eropa ..
‘Putra ..’
Suara dari sebrang telepon membuat bibir Putra melengkung ke atas.
“Halo istriku, Gadis ..”
Kerinduan Putra pada Gadis sedikit menguap setelah mendengar suara dari istrinya itu.
Ramone beranjak dari tempatnya, untuk memberi ruang bagi Putra yang mungkin ingin berbicara secara privasi dengan Gadis, meski Putra tidak meminta Ramone untuk pergi dari tempatnya.
Namun Ramone tahu diri, karena mungkin Putra ingin bermesraan dengan Gadis walau hanya lewat suara, selain dia juga sudah ingin mengistirahatkan dirinya. “Say my greeting for her, also to all, especially my grandson ( Sampaikan salamku padanya, juga pada semua, terutama cucu lelakiku )”
Begitu ucapan Ramone pada Putra, sebelum ia beringsut ke atas ranjang pribadinya dan merebahkan tubuhnya disana.
“I will ( Akan aku sampaikan ) ....”
Putra menyahut mengiyakan ucapan Ramone, setelah sebelumnya ia meminta Gadis untuk menunggu sejenak.
“Vader titip salam untukmu serta yang lainnya, termasuk juga Anth....”
Lalu Putra kembali berbicara pada Gadis, setelah Ramone pergi dari hadapannya.
‘Sampaikan salamku juga untuknya....’ Sahut Gadis. ‘Bagaimana kabarmu?’
Setelahnya Gadis bertanya pada Putra.
“Aku baik,” jawab Putra. “Kamu sendiri?”
Putra balik bertanya pada Gadis.
‘Kurang baik, karena merindukan suamiku.’
Dimana Putra kembali menarik sudut bibirnya selepas mendengar ucapan Gadis. “Akupun merindukanmu.”
‘Maka dari itu segeralah pulang,’ sahut Gadis. ‘Anthony juga setiap hari menanyakan mu. Apa kamu tidak kasihan pada kami yang merindukanmu ini?’
Tidak terdengar sahutan dari Gadis di seberang telepon.
“Gadis....”
Lalu terdengar helaan nafas Gadis dari seberang sana, tak berapa lama. ‘Aku dan Bruna kebetulan berpapasan saat Ad keluar dari kamar untuk menerima panggilan di telepon ini ....’
Setelahnya Gadis berbicara.
‘Kami berpikir jika itu kamu yang menghubungi, karena kami memang sudah menanti telepon darimu, berhubung Bruna bilang tidak bisa menghubungi kamu di tempat Tuan Ramone ....’
“Vader, Gadis,” sela Putra.
‘Iya Vader maksudku,’ sahut Gadis.
“Biasakanlah memanggil Vader dengan sebutan itu, jangan lagi memanggilnya dengan embel-embel Tuan....”
Gadis manggut-manggut, seolah Putra dapat melihatnya.
‘Iya ....’ ucap Gadis. ‘Tadinya aku ingin membangunkan Anthony untuk sarapan, tapi karena aku sangat menantikan kabar darimu dan Bruna mengajakku untuk menyusul Ad, jadi aku juga masuk kesini ....’
Lalu Gadis melanjutkan penjelasannya.
‘Ternyata bukan kamu yang menghubungi, melainkan orang yang tadi Ad bilang....” Kata Gadis lagi. “Karena Ad dan Bru langsung membahasnya jadi aku mendengarkan ....’
“.....”
‘Tapi aku memang benar merindukanmu....’
“Aku tahu itu...”
‘Maka pulanglah dengan segera Putra...’
“Aku akan pulang dengan segera jika semuanya sudah selesai, se--”
‘Maksudku secepatnya....’
Gadis memotong ucapan Putra.
‘Jangan pergi ke Italia....’
“Gadis....”
__ADS_1
‘Aku mohon ....’
Gadis mengiba.
‘Setelah urusanmu di Belanda selesai, kembalilah kesini dahulu setidaknya, Putra ....’
“Gadis....”
‘Tolonglah ....’
Gadis tahu Putra akan bersikeras dengan apa yang sudah menjadi keinginan suaminya itu.
Terlebih soal Anthony, dimana hal-hal yang berhubungan dengan bocah tampan itu akan secara otomatis berhubungan dengan tujuan utama Putra dan para saudaranya, tujuan yang merupakan dendam Putra pada orang yang telah menghabisi orang tua Anthony dan para saudaranya di Ravenna.
Jadi Gadis yang khawatir jika Putra akan pergi ke Italia untuk menghadapi orang tersebut, mencoba membujuk Putra dengan mengiba, agar suaminya itu bisa luluh atas permintaannya untuk segera kembali menemuinya dan Anthony di tempat mereka sekarang, di Villa yang menjadi rumah mereka. Karena Gadis khawatir, juga takut, jika hal buruk menimpa Putra, dan ia tidak bisa bertemu lagi dengan suaminya itu.
“Aku pasti kembali, Gadis.... Tenanglah, hem? ....” Putra berkata dengan tenang.
‘Aku akan tenang, jika kamu berjanji akan langsung kembali kesini setelah dari Belanda, tanpa pergi ke Italia sana ....’
Gadis dengan cepat menyambar dengan ocehan bernada kekhawatiran bercampur gusarnya.
‘Berjanjilah padaku, Putra....’
“Ini kesempatanku Gadis.... Untuk menghabisi orang yang membunuh orang tua Anth dan para saudaraku dengan tanganku sendiri....”
‘Tapi Putra....’
“Mohon, mengertilah....”
‘Aku mengerti, tapi aku ingin kamu kembali kesini dulu, Putra .... Tidakkah kamu memikirkan ku, memikirkan Anthony? ....’
Putra menghela pelan nafasnya. “Hey, tenangkan dirimu, Nyonya Putra.”
Putra berucap dengan tenangnya pada Gadis kemudian.
‘Janji ya, setelah selesai di Belanda kamu akan pulang kesini? Demi aku, demi Anthony....’
“Dengar....” Putra berkata. “Aku akan baik-baik saja, Gadis....”
‘Ta—‘
“Sekarang lebih baik kamu lihatlah Anth, dia mungkin sudah bangun dan mencarimu.”
Putra mengalihkan pembicaraan.
‘Iya, ta –‘
“Apa Ad masih berada didekatmu?”
‘Iya masih.’
“Berikan telepon ini padanya kalau begitu ....”
Putra melipat bibirnya.
“Peluk cium ku untuk Anth, dan untukmu. Sekarang berikan teleponnya pada Ad, hem?”
Putra tak ingin lagi berdebat dengan Gadis.
Bukannya sudah tidak ingin berbicara dengan Gadis lebih lama, tapi Putra rasanya tidak tahan mendengar Gadis yang mengiba padanya.
Hal itu membuat Putra menjadi dilema, tapi Putra juga ingin menyelesaikan urusannya dengan pembunuh Rery dengan segera. Menghabisi pria bernama Jaeden itu tentunya, dengan tangan Putra sendiri.
“Aku mencintaimu, Gadis. Aku pasti pulang, hem?....”
Terdengar helaan nafas frustasi Gadis dari sebrang telepon.
“Berikan teleponnya pada Ad, ya? ....” Pinta Putra. “Dan pergilah sarapan.... Jangan sampai tidak....”
Gadis terdengar menghembuskan nafas frustasinya lagi.
‘Iya....’ Lalu sahutan dari Gadis terdengar tak berapa lama, dengan nada suara yang sendu.
Putra menarik sudut bibirnya.
“I love you, Gadis,” ucap Putra.
‘Aku juga mencintaimu, Putra....’
“Panggilkan Ad ....” Ucap Putra.
‘Baiklah....’ Gadis mengiyakan.
‘Maaf, Gadis....’
Putra membatin sendu.
‘Putra,’ Suara Addison dari sebrang telepon, tak berapa lama setelah Gadis mengiyakan permintaan Putra untuk memberikan telepon kembali pada Addison.
Putra yang sempat melamun itu terkesiap sesaat. “Ad,” sahut Putra kemudian. “I still go on with my plan ( Aku akan tetap pada rencanaku )” Ucap Putra dengan pasti.
__ADS_1
*
To be continue ..*