
Happy reading ..
◽◽◽◽
“Now the birthday Prince, has to brush his teeth that full of chocolate and go back to sleep .... ( Sekarang Pangeran yang sedang berulang tahun, harus menyikat giginya yang sudah penuh dengan coklat dan kembali tidur ) ..”
Putra yang kini sudah hanya bersama dengan Anthony dan Gadis di kamar Anthony yang baru setelah semua orang kembali ke kamar mereka masing-masing, sudah berjongkok dan mensejajarkan diri dengan Anthony dan meminta bocah tampan itu melakukan apa yang barusan Putra suruh.
“Okay Papa!”
Anthony menyahut riang.
“I’ll go get my tooth brush in our former room!. ( Aku akan mengambil sikat gigiku di kamar kita yang sebelumnya )”
“No need. Go inside your bathroom in this room. There ia a new one inside there also with another bathroom
things. ( Tidak perlu. Pergilah ke kamar mandimu di kamar ini. Ada yang baru didalam sana bersama dengan peralatan kamar mandi lainnya )..”
Putra menunjuk ke satu arah dimana ada satu pintu berwarna biru langit disana, yang sama warna dengan warna biru dalam tema kamar Anthony tersebut.
Anthony pun menoleh dan segera mengangguk.
“Can I take Gadis to see my new bathroom, Papa?.. ( Aku boleh mengajak Gadis melihat kamar mandi baruku, Papa? )..”
“Sure .. ( Tentu ) ..” Jawab Putra disertai dengan anggukan.
“Saya permisi dulu ya Tuan Putra, mau mengantar Tuan Muda Anthony..”
Gadis berguyon saat Anthony sudah menggandeng tangannya untuk diajak melihat kamar mandi baru dalam kamar baru bocah tampan tersebut. Putra pun langsung terkekeh kecil, lalu Putra sedikit-sedikit membereskan sampah-sampah bekas bungkus kado yang berserakan di kamar baru Anthony itu.
****
“Papa!”
Anthony yang sudah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi langsung berseru pada Putra dengan Gadis yang kembali ia gandeng dengan riang.
Putra yang sedang sedikit merapihkan kamar Anthony itu langsung saja menoleh.
“Is your clothes wet?.... ( Apakah pakaianmu basah? )....” Tanya Putra.
“No!. ( Tidak! )”
“Good.. ( Bagus ) .....”
"My pijama is cover by this sweater. But this sweater is not wet also (Piyamaku tertutupi oleh baju hangat ini. Tapi baju hangat ini juga tidak basah)"
"Okay....."
“Seharusnya kamu menunggu aku selesai membantu Anthony jika ingin merapihkan kamar ini”
Gadis yang melihat kamar Anthony sudah cukup rapih itu merasa sedikit tidak enak pada Putra yang merapihkannya sendiri.
“Tidak masalah...”
Putra menampakkan senyumnya.
“Hanya sedikit saja aku rapihkan ..”
“Ya sudah, nanti aku bantu setelah menidurkan Anthony ya?”
“Tidak perlu.. Ini sudah cukup. Biar Pak Abdul atau yang lainnya merapihkan semua ini nanti”
Gadis pun manggut-manggut.
“Now better three of us go for a rest (Sekarang sebaiknya kita bertiga pergi beristirahat)”
Gadis dan Anthony mengangguk bersamaan pada Putra.
Putra dan Gadis mendengus geli melihat Anthony yang nampak sangat senang sekali dan menarik tangan keduanya secara bersamaan.
“You’re not sleeping here? .. It’s quite neat now. ( Kamu tidak tidur disini?.. Sudah sedikit lebih rapih sekarang)” Ucap Putra pada Anthony yang menariknya dan Gadis menuju kamar Putra yang baru.
Anthony berhenti sejenak. Nampak berpikir sembari memperhatikan kamar barunya itu.
‘Hopefully Anth change his mind and he decide to sleep here. ( Semoga saja Anth berubah pikiran dan dia memutuskan untuk tidur di kamar ini)’ Batin Papa Putra yang berharap.
Demi bisa bermesraan dengan Gadis malam ini.
“No”
Ah, tapi sayang Anthony menolak tawaran Putra.
Lesu lagi kan jadinya si Papa.
**
“Have you wash your feet? (Apa kamu sudah cuci kaki?)...” Tanya Putra pada Anthony saat mereka bertiga sudah berada di kamar Putra yang baru saat Anthony hendak naik ke atas ranjang yang ada di dalam kamar tersebut.
Anthony pun langsung mengangguk.
__ADS_1
“You’re not changing your clothes with sleep wear, Gadis? .....”
“( Kamu tidak mengganti pakaianmu dengan pakaian tidur, Gadis? )...”
“I will change ( Aku akan mengganti pakaianku), Anthony ...”
Gadis menjawab pertanyaan Anthony.
“Butuh bantuan?”
“Ih. Kamu nih Putra. Ada Anthony juga”
Gadis spontan mencubit pinggang Putra yang atletis itu seraya mendelik pada Putra yang barusan berbisik jahil padanya.
Putra terkekeh kecil.
“Anth belum paham sekali bahasa negerimu ini”
Gadis mencebik, seraya melirik sebal pada Putra yang cengengesan itu.
“May I use this sweater when I sleep Papa? .... It’s really comfortable. ( Bolehkah aku tetap memakai baju hangat ini saat aku tidur Papa?.... Ini sangat nyaman)”
Suara Anthony membuat Putra menoleh pada bocah tampan itu dan Gadis kemudian melangkah ke dalam walk in closet.
“It’s supposed to wash first before you use it.... (Seharusnya itu dicuci dulu sebelum kamu memakainya)....” Tukas Putra. “But it’s okay if you still want to use it now.... (Tapi tidak apa-apa jika kamu memang masih ingin
memakainya saat ini)....”
Putra yang sudah beringsut ke sisi Anthony pun membelai kepala bocah tampan itu lalu mengecup pucuk kepala Anthony yang kemudian memeluk Putra dengan wajah berseri. “Thank you Papa!....” Ucap Anthony lalu mengecup pipi kanan Putra.
Membuat bibir Putra melengkung ke atas seiring gurat bahagia yang juga nampak di wajahnya, yang melihat kebahagiaan Anthony saat ini. “Very happy, hem? .... (Senang sekali, ya?)....”
Bibir Anthony juga kemudian melengkung sempurna seraya menatap pada Putra lalu Anthony manggut-manggut antusias.
Dan Putra membawa Anthony dalam dekapannya kemudian.
“I love you Anth ....”
“I love you too Papa ....”
*****
Gadis yang sudah mengganti pakaiannya dengan satu set piyama yang tadi dibelikan Putra itu tersenyum melihat interaksi Putra dan Anthony saat ia keluar dari dalam walk in closet di kamar pribadi Putra itu.
‘Aku benar-benar terharu pada rasa sayang Putra yang begitu besar pada Anthony’
“You want me to read you a book?.... Or you want Gadis to do it?. ( Kamu mau aku membacakan sebuah buku untukmu?.... Atau kamu ingin Gadis yang melakukannya? )” Tanya Putra.
Anthony menggelengkan kepalanya.
Lalu Anthony membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah foto yang dibingkai dengan figura indah di dinding atas ranjang Putra.
“Gadis ....”
Anthony memanggil Gadis yang sudah keluar dari walk in closet di kamar pribadi Putra yang baru.
“Come.. (Sini)...”
Anthony mengulurkan tangannya pada Gadis.
Gadis pun menyambut uluran tangan Anthony itu.
“Daddy... Mommy.. This is Gadis .. (Ini Gadis..)” Anthony berbicara sembari menatap pada foto dalam figura yang tertempel di dinding kamar baru Putra, yang seharusnya menjadi kamar kedua orang tua Anthony jika mereka masih hidup.
Gadis menyunggingkan senyumnya sembari menatap Anthony yang ada disisinya, di atas ranjang Putra itu. Sementara Putra masih setengah berbaring di atas kasur, dan hanya menggeser posisi tubuhnya menatap Anthony dan Gadis yang membelakanginya.
“Gadis.. This is my Daddy dan Mommy.” Ucap Anthony seraya menoleh pada Gadis. “My Daddy is handsome and my Mommy is beautiful, right?. (Daddy-ku tampan dan Mommy-ku cantik, bukan?).”
Gadis pun manggut-manggut antusias seraya tersenyum pada Anthony yang juga tersenyum padanya.
Putra masih dalam posisinya dan ia tersenyum melihat Anthony yang seolah memperkenalkan Gadis dengan kedua orang tuanya itu.
“Daddy, Mommy, Gadis is Papa’s Putra girlfriend... (Daddy, Mommy, Gadis ini kekasihnya Papa Putra...)” Ucap Anthony lagi.
Dimana Putra dan Gadis sontak tersenyum geli mendengarnya, lalu keduanya saling lempar tatap sejenak.
“She is beautiful right?. (Dia cantik bukan?).” Puji Anthony seraya tersenyum.
Dan Gadis tersenyum pada Anthony yang sedang menatap foto dalam figura yang ada di dinding tersebut.
“Just like mommy .. (Sama seperti mommy...)” Anthony menyentuh foto tersebut.
Dimana Putra segera bangkit dari posisinya, lalu menggendong Anthony dengan ia yang akhirnya berdiri diatas kasur.
Gadis akhirnya ikut berdiri juga, bersisian dengan Putra yang menggendong Anthony itu.
“And Gadis is nice also.. (Dan Gadis juga baik) ... She cares about me a lot. (Dia sangat menyayangiku).”
Anthony menoleh pada Gadis.
__ADS_1
“Right Gadis?.... (Benar bukan Gadis...)”
Dan Gadis kembali mengangguk sembari tersenyum pada Anthony.
“Of course. (Tentu saja).” Jawab Gadis dengan pasti dan lembut.
“Daddy ... Mommy ...”
Anthony kembali menatap foto kedua orang tuanya, dimana ada gambar dirinya yang juga ada didalam foto tersebut.
“I’m so happy now. Very!. (Aku sangat bahagia sekarang. Sangat!).” Sambung Anthony. “Because Papa Putra and Gadis is love each other, and promise will get marry just like Padre and Madre.. (Karena Papa Putra dan Gadis saling mencintai, dan berjanji padaku akan menikah seperti Padre dan Madre ...)”
Putra dan Gadis sama-sama menarik sudut bibirnya, sembari menatap Anthony yang masih tetap memandangi foto dihadapannya itu.
“Then, I will have a perfect family once again. (Lalu, aku akan memiliki keluarga yang sempurna lagi) .....”
“.........”
“Just like when daddy and mommy still with me (Seperti waktu daddy dan mommy masih bersamaku)”
Dimana Putra spontan mengelus pipi Anthony yang suaranya mulai terdengar sedikit lirih itu.
Gadis juga membelai lembut kepala Anthony.
“Daddy, mommy, please tell the Lord next to you (Daddy, Mommy, tolong katakan pada Tuhan yang ada disampingmu).... Thank you for giving me a lot of daddies and aunt Bruna as my mommy when I moved here. (Terima kasih sudah memberikanku banyak ayah dan bibi Bruna sebagai ibuku saat aku pindah kesini).”
“.........”
“Especially Papa Putra .... (Terutama Papa Putra ....)”
Anthony menoleh pada papa angkatnya itu, sembari menyentuh pelan pipi Putra.
“He cares, loves and protects me that much. (Dia sangat peduli, sayang dan melindungiku).”
Putra menarik lagi sudut bibirnya, namun mata Putra sedikit berkaca-kaca.
“And I know that papa was very sad about what happened to daddy and mommy. I often saw Papa Putra cry, when he was alone seeing our picture. And I know, that’s because he feel guilty to me and to both of you...”
“(Dan aku tahu jika Papa sangat sedih atas apa yang terjadi pada daddy dan mommy. Aku sering melihat Papa Putra menangis, saat dia sedang sendirian memandangi foto kita. Dan aku tahu, kalau dia merasa bersalah padaku dan pada kalian berdua) ...”
Dan Putra tak bisa menahan air matanya terproduksi akibat tenggorokannya yang kini ia rasa tercekat. Tangan Gadis sontak terulur untuk menyeka air mata Putra.
“But I never told him, if I see him cried. (Tapi aku tidak pernah mengatakan padanya, jika aku melihatnya menangis).”
‘Oh Anth....’ Batin Putra.
“Beside, Papa Putra will be shy if he found out that I saw him crying ... (Lagipula, nanti Papa Putra pasti malu jika ia tahu kalau aku melihatnya menangis...)”
Putra dan Gadis pun mendengus geli. Sembari Putra sedikit menyeka air di pelupuk matanya.
“Even Papa ever cry in front of me also .. (Meskipun Papa juga pernah menangis didepanku..)”
“.........”
“And I don’t want Papa will cry or feeling sad again. Because I feel sad if Papa Putra sad.. (Dan aku tidak ingin melihat Papa menangis atau bersedih lagi. Karena aku juga sedih jika Papa Putra bersedih)...”
Anthony tertunduk dan suaranya semakin terdengar lirih. Dimana Putra langsung menarik lembut kepala Anthony kemudian ia hujan pucuk kepala Anthony dengan kecupan.
“Don’t be sad anymore, okay Papa?. (Jangan bersedih lagi, oke Papa?).”
Anthony menatap Putra dan menghapusi air mata yang membasahi pipi Putra. Putra langsung mengangguk seraya tersenyum. Sementara Gadis juga memalingkan wajahnya untuk menghapus air matanya yang ikut turun atas sikap dan ucapan Anthony saat ini.
“Promise?. (Janji?).” Pinta Anthony.
“Promise”
Putra mengangguk lagi.
“Daddy... Mommy... Tell Lord that I fell so much grateful, because he sent Gadis to me and Papa Putra’s life. I’m happy, but I want Papa become more happy. And Gadis can make Papa happy..”
“(Daddy... Mommy... Katakan pada Tuhan kalau aku sangat bersyukur, karena ia mengirimkan Gadis dalam hidupku dan Papa Putra. Aku bahagia, tapi aku mau Papa lebih berbahagia. Dan Gadis dapat membuat Papa bahagia...)”
Anthony mengulurkan satu tangannya pada Gadis, mengkode agar Gadis merapat padanya.
“Thank you Daddy, Mommy.. Thank you for ask Lord for not making me alone in this world. Thank you because I have Papa Putra beside me. And thank you for sending Gadis to help Papa Putra smile a lot now. (Terima kasih Daddy, Mommy.. Terima kasih telah meminta pada Tuhan untuk tidak membuatku sendirian di dunia ini. Terima kasih karena aku punya Papa Putra disampingku. Dan terima kasih karena sudah mengirim Gadis untuk membuat Papa Putra tersenyum lebih banyak sekarang).”
“Oh Anth......”
Putra merengkuh Anthony dalam dekapannya kemudian.
Air mata Putra turun lagi sembari ia kembali menghujani kepala dan wajah Anthony dengan kecupan.
Gadis hanya bisa tersenyum haru melihat apa yang ada dihadapannya saat ini, kemudian mengelus punggung dan membelai kepala Anthony, dan satu tangannya terulur untuk juga membelai kepala Putra, serta menghapus jejak air mata di pipi Putra.
Satu tangan Putra kemudian menangkap tangan Gadis yang baru saja menyeka air matanya, lalu mengecupnya pelan. Dan membawa Gadis untuk juga Putra rengkuh bersama Anthony. Ada senyum yang merekah indah di bibir mungil Anthony. Merasakan jika almarhum kedua orang tuanya ada disini saat ini, dalam diri Putra dan Gadis.
**
To be continue ....
__ADS_1