
Happy reading .....
***************
Inggris .....
Bang!!!
Suara letusan senjata itu nyaring terdengar di buritan sebuah kapal.
Dimana teriakan melirih sedih langsung terdengar tanpa aba-aba, disaat suara letusan tersebut bersamaan dengan keluarnya satu peluru panas yang langsung masuk ke dalam otak seseorang.
Dan orang yang tertembus kepalanya dengan peluru itupun langsung lunglai ke samping. Tewas, dalam hitungan detik.
Yang ditatap datar oleh penembaknya.
Putra.
Tanpa mempedulikan raungan yang begitu sedih dari seorang bocah di dekatnya.
Apalagi mempedulikan Jaeden yang juga meratapi kematian istrinya itu.
**
“YOU F*****G A**HOLE!!! ( DASAR KAU B****NGAN!!! )” Teriak Jaeden penuh amarah sambil menatap nyalang pada Putra\, setelah istrinya tergolek tak bernyawa di samping anak lelakinya yang meraung sangat sedih dengan air mata yang menganak sungai\, menatapi ibunya sambil memanggil-manggil wanita itu.
“I know ( Aku tahu )”
“Fiooo...”
Jaeden yang sebelumnya berteriak histeris dan meratapi istrinya yang telah ditembak mati oleh Putra, kembali meratap di tempatnya sambil memandangi istrinya itu setelah memaki Putra.
“Mot-heeer...” dan anak laki-laki Jaeden tetap terus saja meratapi ibunya, dimana anak itu dibiarkan mendekati jasad sang ibu oleh anak buah Putra yang melepaskannya.
Setelah Putra memberikan kode melalui gerakan kepalanya itu selepas ia mengeksekusi istri Jaeden, dan melirik pada anak laki-laki Jaeden yang meronta. Sementara Accursio, Garret dan Damian tetap di tempat mereka dengan masing-masing bersikap.
Accursio mendengus berat. Garret dan Damian pun sama seperti Accursio.
Hanya saja Garret dan Damian menyematkan sunggingan miring dan tipis di bibir mereka.
Bukan karena mereka tidak merasa miris melihat jasad seorang wanita yang sudah tergolek tak bernyawa, kebalikannya---Seperti halnya Accursio yang iba, keduanya pun sama.
Garret dan Damian merasa iba pada istri Jaeden yang memang sebenarnya tidak bersalah itu. Namun Garret dan Damian pun tidak bisa menyalahi Putra yang telah menembak mati wanita tersebut.
Karena seperti yang Putra sering bilang, kalau dia ingin membuat Jaeden merasakan apa yang saat itu Rery rasakan. Yakni, melihat istrinya meregang nyawa di depan mata. Karena itu yang pernah Putra dengar dari mulut Anthony. Saat bocah tampan kesayangannya itu meracau dalam tidurnya memanggil sang ayah untuk menolong ibunya.
**
Memang seperti apa yang Garret dan Damian pikirkan, jika Putra memanglah akan membuat Jaeden membayar kembali perbuatannya terutama pada Rery, istri tercintanya Rery serta juga Anthony.
Termasuk mengambil kembali semua hal yang telah Jaeden renggut dari keluarganya Rery yang berada di Inggris dan telah dihabisi Jaeden, berikut para kerabat dekat yang setia pada Rery dan keluarganya.
Dimana rata-rata dari mereka, baik Putra-Damian dan Garret mengenal orang-orang itu.
__ADS_1
**
“I don’t even care if your son call me a monster because I killed his mom.”
( Aku bahkan tidak peduli jika anak lelakimu menyebutku monster karena aku membunuh ibunya )
“You are a monster! ( Kamu memang monster! )” Lalu seruan terdengar dari bocah laki-laki yang tangannya masih terikat sambil ia duduk bersimpuh di samping jasad ibunya itu.
Putra mengulum senyum tipis setelah mendengar seruan anak lelaki Jaeden yang memandangnya penuh dengan kebencian itu.
“If you call him a monster, your father even worst ( Jika kau menyebutnya seorang monster, ayahmu bahkan lebih buruk )” Garret lalu bersuara.
“My father is a good man! ( Ayahku adalah pria yang baik! )”
“Heh!”
Decihan samar namun sinis sontak keluar dari mulut Damian, Garret dan Accursio setelah mendengar seruan anak laki-laki Jaeden yang sedang menangis hebat itu.
**
Sementara Damian, Garret dan Accursio berdecih samar dan sinis, serta memandang remeh pada Jaeden, Putra hanya menyungging miring.
Menatap pada Jaeden sekilas, lalu berjongkok di depan anak laki-laki Jaeden yang masih terus saja menangisi jasad ibunya dengan nampak sangat sedih itu.
“You know why I shoot your mother ( Kau tahu mengapa aku menembak ibumu )? –“
“Because you are a monster ( Karena kamu adalah seorang monster )!” tukas anak lelaki Jaeden dengan penuh amarah pada Putra.
Putra pun mendengus sedetik, dengan lagi menyungging miring. Lalu ia memasukkan pistolnya ke dalam saku mantel panjangnya. “Give me your knife ( Berikan aku pisaumu )”
**
Membuat Jaeden yang kiranya mendengar ucapan Putra itu, langsung saja berteriak histeris. “DON’T TOUCH HIM ( JANGAN SENTUH DIA )!”
Namun Putra mengabaikannya.
Putra masih fokus menatap anak laki-laki Jaeden.
Dengan sebilah pisau pemberian dari Garret yang telah Putra pegang. “You know ( Kau tahu )?...” ucap Putra seraya bertanya.
Dimana Putra masih memandangi anak laki-laki Jaeden tersebut.
“I have a son also. And same as you, he was saw how’s his mother dead in front of his eyes. Shooted ( Aku juga memiliki seorang anak laki-laki. Dan sama sepertimu, dia pun melihat bagaimana ibunya meninggal tepat di depan matanya. Tertembak )...”
Putra menjeda ucapannya sejenak.
“Being shooted ( Ditembak )”
**
“By him ( Olehnya )...” ucap Putra sambil menoleh ke arah Jaeden. “Your father... Which that means, he’s also a monster ( Ayahmu... Yang mana artinya, dia juga seorang monster )” ucap Putra lagi dan kini sudah lagi memandang kepada anak laki-laki Jaeden yang menggelengkan kepalanya, nampak tak percaya dengan perkataan Putra.
“You lie ( Kamu berbohong ) –“
__ADS_1
“Ask him then ( Tanya saja padanya kalau begitu ) –“
“He lied. Right, Father ( Dia berbohong. Benar kan, Ayah )?”
Tepat setelah Putra berucap barusan sambil menoleh dan menunjuk Jaeden dengan pisau yang Putra pegang, anak laki-laki Jaeden itu langsung memandang dan bertanya pada ayahnya.
“He... lied, right?...”
“Tell him, oh ‘good’ father.”
“( Katakan padanya, wahai ayah yang ‘baik’ )”
Putra kemudian memandangi Jaeden yang sedang dipandangi oleh anak laki-lakinya yang bertanya dengan melirih itu.
**
“Dare to lie?”
“( Berani berbohong? )”
Garret yang berdiri tepat dibelakang anak lelaki Jaeden itu berucap sembari juga memandang pada Jaeden sambil Garret memainkan pisau yang sedang ia pegang.
Yang Jaeden tangkap sebagai sebuah ancaman baginya, jika ia berani menggeleng. Lalu mau tidak mau, Jaeden mengangguk lesu. Dan tangisan tersedu-sedu kemudian terdengar lagi dari anak laki-lakinya.
Padahal itu hanya gertakan Garret saja untuk Jaeden yang nampak ketakutan jika anaknya sampai di habisi seperti istrinya yang masih dibiarkan begitu saja di tempatnya tergolek tak bernyawa setelah di tembak mati oleh Putra.
“That’s a good father should do ( Itu yang seharusnya seorang ayah yang baik lakukan )...”
Putra berucap setelah Jaeden mengakui jika ia melakukan apa yang sebelumnya Putra katakan.
“But it won’t change anything. Not change the reality that you made Rery and Madelaine dead because in your hand ( Tapi itu tidak akan merubah apapun. Tidak merubah kenyataan jika Rery dan Madelaine mati di tanganmu ) –“
“No, please, no –“
“And just like what I say, I’ll make you pay for what you have done to them ( Dan seperti apa yang sudah aku katakan, aku akan membuatmu membayar apa yang sudah kau lakukan pada mereka )”
Putra lalu menukas lirihan Jaeden yang bernada memohon itu. Yang hendak pergi ke tempat Putra berada di posisinya, namun Jaeden dipegangi kuat oleh dua anak buah Putra dan saudara-saudaranya itu---saat Putra telah memegang bahu anak laki-lakinya dengan satu tangan Putra.
Sementara satu tangan Putra lainnya masih memegang pisau. “Eye for eye ( Mata untuk mata ), Jaeden Zepeto.” Putra menambahkan.
“NO!...” Teriak Jaeden dengan menatap horor ke arah Putra dan anak laki-lakinya itu.
Srekk!
“Go to your father ( Pergilah ke ayahmu )”
Putra berucap kemudian. Yang mana Putra menggunakan pisaunya itu untuk memutus tali yang mengikat kedua tangan anak laki-laki Jaeden tersebut.
Dimana mata Jaeden membola bahagia, dan anak laki-lakinya itu langsung bangkit dari posisinya untuk menghampiri Jaeden.
‘Go to your father, to give him a farewell ( Pergilah ke ayahmu, untuk berpamitan padanya )’
Hati Putra bermonolog.
__ADS_1
****
To be continue .....