
Happy reading..
*************
“Ini.. siapa? ..” Tanya Gadis ragu-ragu saat melihat sebuah foto seorang wanita cantik dengan rambut berkepang dalam dompet Putra.
“Cinta pertamaku..”
Putra berucap tenang, namun hati Gadis kebalikannya.
‘Cinta pertamanya?...’ Batin Gadis.
“Boleh kuminta dompetku?...”
Putra berucap sembari menengadahkan tangannya pada Gadis.
Gadis meletakkan dompet Putra di atas telapak tangan pria itu, namun Gadis tak berbicara apa-apa.
Putra mengulas senyuman.
Lalu Putra membuka laci meja kerjanya, dan menyimpan dompet tersebut di dalamnya.
“Pergilah tidur duluan...”
“Iya....”
Gadis menjawab Putra dengan samar suara, nyaris tak terdengar.
“Aku ingin membersihkan diri dahulu” Ucap Putra. Lalu ia melangkah menjauh dari Gadis, menuju kamar mandi.
****
Cinta pertamaku..
“Cih!” Gadis berdecih sinis saat ia mengingat ucapan Putra soal Gadis pada foto dalam dompet Putra, yang terpampang di tempat foto dompet tersebut.
Namun hati Gadis juga menjadi murung.
“Katanya mencintaiku, tapi foto cinta pertamanya masih dia simpan dalam dompetnya. Menyebalkan sekali!”
Gadis sedang menggerutu dalam gumamannya. Ia sudah berada di atas ranjang saat ini. Hati Gadis sedang cukup tak karuan.
‘Dia anggap apa aku ini?!’ Kemudian Gadis hanya berbicara dalam hatinya sembari menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan berat.
****
Putra sudah menyelesaikan urusannya dalam kamar mandi. Dan matanya langsung saja terarah ke ranjang, dimana Gadis nampak sedang duduk bersandar di dashboardnya.
“Belum tidur?...” Tanya Putra, sembari ia melepas jubah tidurnya lalu Putra letakkan di sanggahan ujung ranjang.
“Ini sudah mau tidur,” Jawab Gadis dengan suara yang terdengar ketus sembari melorotkan dirinya.
Putra tersenyum tipis, sembari ia beringsut ke atas ranjang dimana Gadis sudah berbaring memunggunginya.
Sungguh berbanding terbalik dengan sikap Gadis yang begitu mesra saat di meja kerja tadi. Putra sudah menaiki ranjang, dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Gadis.
Namun Putra tidak langsung menidurkan dirinya.
Putra langsung mendekat dan meletakkan satu tangannya ke perut Gadis, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Gadis yang bergeming, tak membalikkan badannya.
“Tidak mau mengucapkan selamat malam padaku, hem?”
Putra bersuara, namun tak ada sahutan dari Gadis. Bahkan bergerak pun tidak.
“Kamu cemburu?”
Sebuah ucapan bernada pertanyaan kemudian terlontar dari mulut Putra saat ia sudah mendekap tubuh Gadis.
“Cinta pertamaku itu Layla namanya ...”
“Aku tidak bertanya!”
Tahu-tahu Gadis menyambar, saat Putra berbicara lagi.
Gadis masih dalam posisinya saat menyambar ucapan Putra.
Bergeming, dengan nada suara yang masih ketus.
“Jadi benar kamu cemburu?”
“Aku mengantuk!...”
Gadis menyahut ketus tanpa menjawab pertanyaan Putra.
Dimana Putra menyunggingkan senyumannya.
“Tidak perlu cemburu pada cinta pertamaku...” Ucap Putra.
“Sudah aku bilang aku mengantuk dan aku tidak tertarik mendengar cerita tentang wanita cinta pertamamu itu!”
“Galak sekali ...”
“Dan juga singkirkan tanganmu dari perutku dan tidurlah di tempatmu!”
Sembari Gadis berusaha menyingkirkan tangan Putra dari perutnya.
“Aku tidak mau ...”
“Aku mau tidur dan kamu menggangguku!”
“Biar saja ...” Ucap Putra dengan nada suaranya yang terdengar tenang saja.
“Menjauhlah!”
Gadis menggerakkan pundaknya, kode jika ia tidak ingin Putra menempel dengannya.
“Tidak mau ... Sebelum kamu menjawab pertanyaanku tadi... Apa kamu cemburu?...”
Putra mengulang pertanyaannya.
Dan Gadis bergeming lagi.
“Gadis...”
“Menurutmu?!”
Sembari Gadis kembali menggerakan tubuhnya, agar Putra melepas dekapannya.
Namun tentu saja, meski Gadis sedikit mengeluarkan tenaganya agar dekapan erat Putra terlepas darinya, tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan Putra yang kokoh tubuh dan tenaganya juga.
“Kamu tidak perlu cemburu pada cinta pertamaku itu .... Dia sudah tiada ....” Ucap Putra.
Putra mendengar Gadis menghela nafasnya. “Tapi kamu masih mencintainya?”
“Aku akan selalu mencintainya”
“Apa kamu sadar ucapanmu barusan menyakitiku, Putra?....”
Suara Gadis kini terdengar pelan dan lirih.
“Enteng saja kamu berbicara jika kamu masih mencintai cinta pertamamu itu padaku .... Meski ia sudah tiada, dan kamu bersamaku, tetap saja hatiku sakit mendengar orang yang aku cintai masih mencintai dan akan selalu mencintai cinta pertamamu itu”
“Tapi aku juga mencintaimu” Tukas Putra.
Gadis berdecih pelan. Decihan yang terdengar sinis namun juga lirih.
“Lebih baik kita berpisah saja ....”
Gadis berucap lirih kemudian.
Dengan dirinya yang tidak mau membalikkan badannya untuk menghadap Putra.
Karena sebulir air mata sudah lolos dari mata Gadis saat ini.
Hati Gadis rasa tercubit mendengar pengakuan Putra tentang cinta pertamanya.
“Aku tidak mau hidup bersama seseorang yang mencintai wanita lain dalam hatinya, meski ia juga memiliki cinta untukku ....”
Dimana Putra akhirnya langsung menggerakkan tubuh Gadis agar berbalik menghadapnya.
Hingga tubuh Gadis sukses Putra balikkan dan sudah saling berhadapan dengannya kini.
__ADS_1
Namun Gadis menundukkan wajahnya, tak mau menatap Putra. “Hey....”
Putra meraih dagu Gadis, namun dengan cepat ditepiskan oleh Gadis yang seolah tak ingin disentuh olehnya.
“Kamu marah padaku, Gadis?....”
Putra bertanya, namun Gadis tak menjawab.
Putra pun mengulas senyuman. “Kamu ini....”
Lalu membawa Gadis dalam dekapan, meski Gadis sempat menolak untuk Putra dekap.
“Jangan cemburu ....”
Putra berucap pelan sembari mendekap Gadis.
“Masa cemburu dengan calon mertua perempuanmu?....” Sambung Putra.
“Apa?....”
Dimana Gadis langsung mendongakkan wajahnya dan menatap Putra yang sedang tersenyum sembari menghapus jejak air mata di pipi Gadis.
“How mawkish you are ( Cengeng sekali kamu ini ) ....”
“Tadi kamu bilang apa?! ....”
Gadis bangkit dari posisinya, sedikit mendorong tubuh Putra yang orangnya mendengus geli kemudian.
“Aku bilang, kamu cengeng sekali ....”
“Bukan itu! .... Yang sebelumnya” Cecar Gadis.
“Tentang wanita cinta pertamaku yang fotonya tersemat dalam dompetku? ....”
Gadis mengangguk ragu-ragu, sementara Putra senyam-senyum saja.
“Layla namanya. Ibuku ....”
“Be-benarkah?....”
“Hu’um....”
Putra yang sudah bangkit dan memposisikan dirinya lagi berhadapan dengan Gadis yang terduduk di atas ranjang mereka itu pun manggut-manggut.
“Jadi kamu tidak perlu cemburu ....”
Putra berucap sembari mesam-mesem pada Gadis.
“Ouch!” Putra memekik pelan saat Gadis mencubit tepat di dadanya.
“Rasakan!”
Gadis merutuk pada Putra yang mengusap-usap dadanya, karena cubitan kecil Gadis itu terasa menyakitkan.
Gadis sudah menyilangkan tangan di dadanya sembari menatap sebal pada Putra yang tersenyum lebar malahan setelah sempat meringis.
“Tega sekali ....” Putra memasang wajah memelas, berikut suaranya yang dibuat demikian.
“Salahmu sendiri yang mengerjaiku!”
Gadis pun mencebik.
Lalu Putra terkekeh kecil.
“Jadi seperti itu ya jika kamu cemburu? ....”
Putra tersenyum jahil.
“Hem?”
Gadis membuang mukanya.
“Huh!”
“Gadis.... Gadis....” Putra membawa Gadis dalam dekapannya.
“Aku membencimu” Gadis memukul dada Putra dengan kepalan tangannya.
Gadis masih memukul-mukul dada Putra dengan wajahnya yang memerah. Antara malu, dan kesal juga.
“Kamu sangat menyebalkan, Putra! ....”
“Tapi tampan ....”
“Tapi tetap saja menyebalkan!” Ketus Gadis.
“Tapi kamu mencintai pria menyebalkan yang tampan ini bukan, hem? ....”
Putra mengurai dekapannya, dan menyentuh kembali dagu Gadis agar wajah wanita itu berhadapan dengan wajahnya.
Seberkas senyum jahil masih tampak di wajah Putra.
“Katakan kamu mencintaiku, Gadis” Pinta Putra kemudian.
“Tidak mau ....”
Cup!
Putra sudah mendaratkan bibirnya di bibir Gadis dengan cepat.
Tak hanya sebentar, karena tengkuk Gadis Putra tahan dengan kedua tangannya.
“Kiss me ( Cium aku )....”
Putra mengurai ciumannya sesaat, karena Gadis tak membalas ciumannya tadi.
Lalu Putra menempelkan lagi bibirnya pada bibir Gadis, kemudian me**gutnya perlahan dan lembut.
Hingga tak berapa lama Gadis mengatupkan kedua kelopak matanya\, dan menerima ciuman Putra yang sudah disertai pa**tan-pa**tan lembut yang membuat Gadis terbuai.
Dimana Putra dan Gadis akhirnya terhanyut dalam buaian ciuman yang memabukkan, sampai rasanya tak ingin saling melepaskan.
Beberapa saat kemudian Gadis nampak meronta, karena ia sudah habis nafas rasanya.
Sementara Putra masih ingin terus dan terus mencecap bibir Gadis yang sudah ia kuasai bahkan lidah Putra sudah menelusuri bagian dalam mulut Gadis dan bertukar saliva.
Gadis memang terbuai, Putra memang lihai membuatnya terbuai hanya dengan ciuman dan pa**tan mesra.
Namun Gadis pada akhirnya melepaskan bibirnya yang tertaut dengan bibir Putra, saat ia rasa sudah benar-benar sulit bernafas, karena Putra seolah tak mau melepasnya atau bahkan menjeda.
Putra tersenyum kecil, memandangi Gadis yang sedang malu-malu menatapnya dengan nafas keduanya yang sedikit tersengal.
Putra masih memasang senyumannya, jemarinya menyelipkan rambut ke belakang telinga Gadis.
Lalu jemari itu kemudian menelusup lagi ke tengkuk Gadis, hendak me**gut kembali bibir Gadis yang selalu membuat Putra ketagihan untuk mencecapnya.
“A-aku mau ke kamar mandi....” Seketika Gadis merasa gugup dan langsung bangkit berdiri dari ranjang dengan tergesa.
Putra mengulum senyumnya saja, sembari menggeleng geli karena sadar atas kegugupan Gadis.
***
“Oh I almost forgot! ( Oh aku hampir lupa! )”
Putra teringat akan sesuatu, setelah Gadis masuk ke dalam kamar mandi.
Putra pun kemudian beringsut dari ranjang dan kembali menuju meja kerjanya.
“Putra?”
Gadis memanggil pelan Putra yang nampak sedang berdiri di dekat meja kerja dengan memegang sesuatu yang tak dapat jelas Gadis lihat dari tempatnya berdiri, setelah menutup pintu kamar mandi selepas ia keluar dari sana.
“Ini ....”
Putra yang sudah berjalan menghampiri Gadis kemudian menyodorkan sebuah kotak persegi berbahan kulit sintetis pada Gadis.
“Untukmu ....”
Gadis menatap sekilas kotak tersebut, lalu menatap Putra.
“Kamu sudah membelikan aku banyak perhiasan loh Putra ... Itu saja belum aku pakai” Ucap Gadis.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab Gadis berbicara seperti itu. Pasalnya kotak persegi berbahan kulit sintetis yang disodorkan Putra padanya memang seperti kotak perhiasan.
“Buka saja terlebih dahulu .... jika suka pakailah ...... jika tidak ya simpan saja ...”
Gadis mengangguk lalu tersenyum dan menerima kotak yang seperti sebuah kotak perhiasan yang disodorkan Putra padanya.
“Apa kamu menyukainya? ...”
Putra bertanya saat Gadis sudah membuka kotak pemberiannya.
“Ini cantik sekali” Kalimat pujian langsung keluar dari mulut Gadis saat ia menemukan sebuah kalung emas dengan liontin inisial dimana ada dua huruf yang terpatri dengan menempel satu sama lain.
“Suka?”
Gadis pun langsung mengangguk antusias dengan tersenyum melihat kalung emas dengan liontin inisal P.G.
Putra tersenyum puas karena Gadis menyukai hadiahnya. “Aku pakaikan ya? ...”
“Iya”
“Balikkan tubuhmu”
Lalu Gadis berbalik badan, dan Putra memasangkan kalung inisial tersebut di leher Gadis.
“Terima kasih ya Putra? ....”
“Sama-sama...”
Lalu Putra merengkuh tubuh Gadis dari belakang dan meletakkan dagunya di atas salah satu pundak Gadis.
“Aku senang kamu menyukainya ...” Ucap Putra lembut.
“Aku sangat menyukainya .....”
Cup!
“Terima kasih sekali lagi .....” Ucap Gadis setelah mengecup pipi Putra.
“Cium aku di bibir sayangku Gadis... kebetulan bibirku kering ...”
“Kamu ini.....”
Gadis geleng-geleng saja sembari mendengus geli mendengar ucapan Putra yang sering sekali frontal jika menyangkut kemesraan saat bersamanya.
Didetik berikutnya, Gadis melepaskan tautan tangan Putra dari perutnya.
Gadis kemudian berbalik dan menghadap pada Putra, lalu kedua tangannya menangkup kedua pipi Putra.
Ditarik sedikit wajah Putra agak kebawah, lalu Gadis berjinjit dan memberikan sebuah kecupan manis di bibir Putra.
Hanya sebuah kecupan saja yang Gadis ingin berikan pada Putra. Namun sayang, rencana Gadis itu gagal, karena Putra tak membiarkan tautan bibir Gadis di bibirnya lepas begitu saja.
Walau sempat terkesiap, namun akhirnya Gadis membalas pa*tan Putra di bibirnya, hingga nafas keduanya mulai memburu, bahkan tubuh Gadis sudah terdorong pelan dan terdesak di tiang ranjang yang terbuat dari kayu kenari atau walnut*.
Putra masih intens me**gut bibir Gadis dan sudah melesakkan lidahnya ke dalam mulut Gadis.
Karena jika Putra sudah mendapatkan bibir Gadis, Putra enggan sekali untuk melepasnya.
Mata Gadis terpejam saat ia dan Putra saling bertukar saliva, hingga tahu-tahu keduanya sudah berada di atas ranjang dengan tubuh saling menempel tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Nafas Gadis terdengar memburu saat Putra mengurai ciumannya.
Ibu jari Putra bergerak membelai sensual bibir Gadis yang sudah nampak bengkak itu, karena ulahnya.
Putra yang sudah berada rapat dengan tubuh Gadis memandangi wajah Gadis dengan begitu intensnya.
Gadis menggigit bibir bawahnya dan hal itu kiranya memicu hasrat Putra, apalagi sore tadi sempat tak ter-luapkan dan membuat Putra merasakan sakit di dua kepala.
Tak berapa lama, Putra kembali menempelkan bibirnya pada bibir Gadis dan kembali bergerak dengan lihai menelusuri bibir Gadis.
Dari mulai ciuman penuh kelembutan hingga akhirnya ciuman lembut Putra itu menjadi lu**tan rakus saat Putra merasakan gejolak kelakian yang mulai mendominasi dengan kuatnya.
Putra sadar sekali jika dirinya egois. Ia belum menikahi Gadis, namun sudah beberapa kali ia membuat Gadis menerima untuk mereguk kenikmatan surga dunia di atas ranjang bersamanya.
Putra memang tidak pernah memaksa Gadis, tapi Putra tahu dengan pasti jika Gadis juga tak kuasa atau mungkin tidak tega menolaknya jika Putra sudah memberikan tanda jika ia ingin melakukan ‘penyatuan’ berbalut peluh dalam kenikmatan dengan Gadis.
Dan rasanya keegoisan Putra sudah kiranya kian mendominasi, karena gejolak gair*h sudah menguasai diri Putra saat ini.
Buktinya, tangan Putra sudah menelusup tanpa permisi ke balik atasan piyama Gadis, dan meremat lembut satu dari dua bongkahan yang sangat Putra sukai.
Dimana rematan Putra itu membuat Gadis nampak mulai bergerak dengan gelisah.
Dan Putra tak membuang waktu untuk memanfaatkannya.
Ciuman Putra sudah turun ke leher Gadis, dan tangan Putra sudah mulai melepaskan kaitan kancing piyama Gadis.
Baru beberapa kali memang, Putra melakukan keintiman dengan Gadis.
Namun bibir dan tangan Putra kini sudah lihai melakukan tugasnya masing-masing jika sudah se-intim ini dengan Gadis.
Perlahan tapi pasti, atasan piyama Gadis yang sudah terbuka sepenuhnya itu Putra sibak-kan. Lalu mengangkat sedikit tubuh Gadis tanpa melepaskan pa**tannya di bibir Gadis yang tampak pasrah saja dengan apa yang dilakukan Putra padanya, setelah bibir Putra yang sempat sampai di leher Gadis itu kini sudah kembali menyerang bibir Gadis.
Atasan piyama Gadis sudah Putra lempar dengan sembarang. Tubuh Gadis tidak langsung di rebahkan, karena masih ada sesuatu yang menghalangi indahnya dua pegunungan milik Gadis.
Dan beberapa detik kemudian, tangan lihai Putra sudah melepaskan kaitan penutup pegunungan dan dengan cepat Putra tanggalkan, lalu seperti atasan piyama Gadis, penutup pegunungan itu pun Putra lempar dengan sembarang.
Sudah terpampang dengan nyata, indahnya dua pegunungan yang kemudian langsung Putra mainkan secara bergantian.
Membuat si pemilik dua pegunungan itu pun terpejam erat sembari tangannya mencengkram rambut Putra. “Put-ra ...”
Gadis melirih, merasakan sensasi geli yang membuatnya gelisah tak karuan.
Sudah, Putra sudah tak tahan. Ingin segera melakukan penyatuan, sebelum lagi ada gangguan seperti saat sore tadi di kamar mandi.
Atau mungkin Gadis tiba-tiba tersadar dan menghindar, menjadikan keberadaan Anthony yang berada di kamar sebelah sebagai alasan.
Jadi, untuk mencegah itu terjadi, sisa pakaian yang melekat di tubuh Gadis pun Putra segera tanggalkan, lalu Putra menanggalkan pakaiannya sendiri.
Putra tak mau mengambil resiko seperti sore tadi, hingga kedua kepalanya kesakitan.
Sesaat mata Putra dan Gadis saling memaku, dan dalam sesaat itu tangan Putra merayap dari mulai wajah hingga ke perut Gadis.
Mengusap kulit halus Gadis itu dengan penuh damba.
Lepas dari sesaat Putra kembali meraup bibir Gadis. Bertempo pelan.
Hanya diawal saja tapi.
Karena intensitas penyatuan bibir sepasang kekasih itu semakin meningkat tajam seiring detik berjalan.
“Put-ra ....” Gadis melirih lagi saat merasakan sesuatu yang mendesak masuk ke ‘garasi’ hangatnya. Hingga sepersekian detik ‘garasi’ hangat milik Gadis itu sudah terasa penuh Gadis rasakan.
Putra tersenyum setelah ia berhasil melakukan ‘penyatuan’ dengan Gadis. Rasa sakit di dua kepalanya yang sempat ia rasakan sore tadi, kini terbayar sudah.
Putra mengecup pipi Gadis setelah mengurai ciuman pada bibir Gadis.
Putra belum menggerakkan tubuhnya yang sudah tertaut lekat dengan Gadis.
Putra masih menghujani Gadis dengan kecupan-kecupan dari mulai pipi hingga ke dada Gadis dan membuat satu dua tanda disana.
Baru setelahnya, Putra menggerakkan tubuhnya diatas Gadis.
Hujanan tempo pelan mulai Putra lancarkan.
Putra mengangkat sedikit tubuhnya tanpa menghentikan hujaman bertempo lambat yang ia lakukan demi melihat wajah cantik Gadis yang sedang pasrah dibawahnya.
Namun sebagaimana Putra\, mata Gadis sudah terselimuti oleh kabut hasr*t untuk menggapai kenikmatan yang tiada tara. Lalu mata Gadis kembali terpejam\, seiring dengan de**han sensual yang lolos dari mulut Gadis saat Putra menaikkan tempo hentakan-nya.
Namun Gadis tak men**sah sempurna\, karena ia menahan suaranya akibat khawatir jika nanti Anthony akan mendengar de**hannya tersebut lalu bocah itu terbangun dari tidurnya yang pulas\, andainya Gadis melepas begitu saja suaranya akibat tak bisa membendung rasa nikmat yang tidak bisa Gadis pungkiri kala Putra sedang menghentaknya saat ini.
Putra sudah hampir sampai pada ujung gelombang kenikmatan yang tiada tara. Gadis pun sama.
Hujaman makin Putra percepat dan tak lama peluru menembak tepat sasaran, dimana Gadis merasakan sesuatu yang hangat telah berada didalamnya sesaat setelah ia mencapai pelepasannya.
Putra pun ambruk diatas Gadis setelahnya, namun menahan tubuhnya dengan kaki dan tangan.
Dada Gadis nampak naik turun, begitu juga dengan Putra.
Ah, dada Author juga ikutan naik turun jadinya ... 😝
***
__ADS_1
To be continue ...