
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia,
“Nyonya Gadis dan Nyonya Bruna, bisa menunggu di sini sebentar? Karena saya ingin mengecek apakah Nyonya Gadis bisa langsung melakukan tes darah atau tidak.”
“Oh iya, Suster.” Gadis mengiyakan ucapan seorang perawat yang merupakan asisten dari dokter yang selama ini menjadi tempat Gadis memeriksa dan berkonsultasi saat dirinya masih hamil.
Kemudian Gadis mengulang kembali ucapan suster tersebut kepada Bruna dengan menggunakan bahasa Inggris, setelah suster itu undur diri dari hadapan keduanya.
Karena barangkali Bruna agak kesulitan menangkap maksud ucapan asisten dari dokter yang bernama Ridwan itu yang barusan bicara dengan agak cepat. Dimana sejauh yang Gadis tahu, Bruna yang bisa dikatakan sudah paham bahasa Indonesia itu, sampai dengan saat ini—dapat memahami kalimat dalam bahasa Indonesia apabila yang berbicara menyampaikannya dengan tidak cepat.
“Bru?..” tegur Gadis karena ternyata Bruna tidak memperhatikan ucapannya.
“Yes, Gadis?..”
Bruna yang terkesiap karena ia sedang melamun itu segera menyahut kala mendengar teguran Gadis yang juga menyentuh lengannya.
“Ada apa?” tanya Gadis.
“Oh, nothing. I just try to remember something that Anth was asked ( bukan apa-apa. Aku hanya mencoba mengingat sesuatu yang Anth minta )..”
“Mungkin Putra ingat?”
Gadis berkomentar, dan Bruna yang paham kalimat singkat Gadis itu pun mengiyakan.
Kemudian Gadis mengajak Bruna untuk menghampiri Putra.
“Asisten Dokter Ridwan masih mengecek apakah aku dapat langsung melakukan tes darah, atau harus menunggu karena ada pasien lain yang melakukan pemeriksaan di lab. Jadi mungkin tidak apa-apa jika ingin menghampiri Putra sekarang?”
Gadis berujar dalam bahasa Indonesia, yang ia lakukan spontan saja. Lalu kemudian menyadari jika ia sedang bicara dengan Bruna, yang memang sudah paham bahasa Indonesia—namun Gadis seringnya berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan Bruna.
“Ah, I mean ( maksudku )—“
“It’s okay, I can understand what you just said.”
( Tidak mengapa, aku mengerti apa yang tadi kamu katakan )
Gadis hendak mengulang ucapannya dalam bahasa Inggris, namun Bruna yang paham ucapan Gadis dalam bahasa Indonesia tadi, menyergahnya.
Gadis tersenyum dan mengangguk.
“Um.. kita dapat bertanya, pada Putra, nanti,” ucap Bruna kemudian, dengan menggunakan bahasa Indonesia yang masih terdengar agak terbata.
“Okay.” Gadis pun mengiyakan ucapan Bruna tersebut, dimana keduanya kemudian duduk di kursi tunggu rumah sakit pada satu sudut yang tak jauh dari lab dalam rumah sakit di Pusat Kota tempat villa mereka berada.
🔵
“Nyonya Gadis—“
“Iya, Sus?”
Gadis menyahut ketika asisten Dokter Ridwan telah kembali berada dihadapannya dan Bruna.
“Mohon menunggu sekitar 3 menitan ya?..” ucap suster yang merupakan asisten Dokter Ridwan itu. “Ada satu orang yang sedang melalukan pengecekan di dalam, tapi sudah akan selesai.”
“Iya, Suster—“
🔵
Gadis dan Bruna tetap duduk di kursi tunggu pasien dekat lab, sementara asisten Dokter Ridwan kembali lagi ke dalam ruangan tempat Gadis hendak melakukan tes darah tersebut. Dimana Gadis dan Bruna kemudian sama-sama mengedarkan pandangan mereka pada apa yang ada disekeliling dua wanita cantik yang menjadi pusat perhatian orang-orang yang menangkap keduanya di mata mereka.
“What is it, Gadis?..”
Pertanyaan tercetus dari Bruna, karena ia mendengar Gadis menghela agak berat nafasnya.
“Are you mind about what Putra did to your step mother and sister? ( Apa kamu kepikiran tentang apa yang sudah Putra lakukan kepada ibu dan saudari tirimu? )”
“No, Bru.. eum well I’m mind with that, but.. being here, makes me remember for the first time I check my pregnancy.. but now.. I don’t have it anymore ( Tidak, Bru.. eum yah aku kepikiran sih soal itu, tapi.. berada di sini, membuat aku teringat untuk yang pertama kalinya aku memeriksakan kehamilanku.. tapi sekarang.. aku sudah tak memilikinya lagi )..”
Gadis berucap sendu, menjawab pertanyaan Bruna tadi. Dimana Bruna langsung meraih satu tangan Gadis, seraya tersenyum.
“There’s another chance to have it again ( Akan ada kesempatan lain untuk mendapatkannya lagi )” hibur Bruna.
Dimana Bruna paham maksud perkataan Gadis tadi. Lalu Gadis mengangguk seraya tersenyum pada wanita yang bisa dikatakan adalah saudari iparnya itu.
__ADS_1
“Beside, I’m sure Putra is so salacious when there’s only you and him inside you guys room ( Lagipula, aku yakin Putra sangat cabul padamu saat kalian hanya berduaan di dalam kamar )..” seloroh Bruna.
Gadis pun terkekeh kecil setelah mendengar selorohan Bruna tentang sikap Putra pada Gadis tersebut.
🔵
Gadis dan Bruna tadinya hendak lagi berbincang, namun tak jadi karena kemudian asisten Dokter Ridwan muncul lagi untuk mempersilahkan Gadis masuk ke dalam lab—dan meminta juga agar Bruna diperbolehkan untuk masuk ke dalam lab tersebut guna mendampinginya.
“Mohon maaf jika aku begitu menyita waktu anda, Doctor.”
Sementara Gadis dan Bruna sudah tidak lagi berada di depan ruang praktik Dokter Ridwan, tak lama setelah Gadis dan Bruna berjalan menuju lab bersama asisten sang dokter—Putra, Arthur dan dokter itu sendiri, masuk kembali ke ruangan sang dokter.
Dimana selama beberapa menit kemudian, percakapan yang didominasi oleh Putra dan Dokter Ridwan berlangsung—dengan Dokter Ridwan menyampaikan sesuatu tentang sebuah kecurigaan atas kondisi Gadis yang sebenarnya pada Putra, yang memang sebelumnya tidak disampaikan oleh dokter tersebut saat Gadis dan Bruna masih di dalam ruang prakteknya.
“Kalau begitu, seharusnya istriku langsung saja menjalankan tes secara keseluruhan di lab untuk memastikannya dengan cepat..“ komentar Putra setelah Dokter Ridwan menjelaskan kecurigaannya pada kondisi rahim Gadis. Yang langsung ditanggapi oleh dokter tersebut.
“Saya ingin menyarankan itu memang. Jika anda setuju saya akan langsung menghubungi asisten saya di lab untuk melakukan sejumlah tes lain yang diperlukan, lalu anda silahkan menandatangani surat ijin tindakan pada Nyonya Gadis terkait beberapa pemeriksaan yang akan dirinya lakukan di lab serta rincian biayanya pun tertera di sini –“
“Aku mengijinkan. Hubungi saja asisten anda dan berikan berkas itu pada saya untuk saya tanda tangani...”
“Baik, Tuan Putra.”
🔵
“Saya butuh bantuan anda untuk tahu kandungan yang ada di dalam serbuk teh ini. Aku mencurigai ada kandungan zat lain di dalamnya dan bukan zat yang bagus karena cairan dari rendaman serbuk ini-mungkin, sudah aku cek dan ada perubahan warna di alat perak yang aku gunakan untuk memeriksanya... hanya saja aku tidak bisa memastikan kandungan apa sebenarnya yang tercampur dalam serbuk teh ini.”
Lalu setelah pembicaraan perihal kondisi Gadis dan pemeriksaan yang akan dilakukan oleh istrinya itu, Putra selanjutnya mengatakan maksudnya yang ingin berbicara secara pribadi dengan Dokter Ridwan dengan Arthur yang mendampinginya. Dimana setelah mengatakan maksud dan keinginannya secara lugas pada sang dokter, akhirnya Putra dan Dokter Ridwan mencapai sebuah kesepakatan.
“Baiklah kalau begitu... saya akan langsung melakukan pengecekan pada serbuk ini dan segera melaporkan hasilnya pada anda,Tuan Putra –“
“Senang bekerjasama dengan anda, Dokter Ridwan... selebihnya silahkan berbincang dengan Arthur, karena aku ingin melihat istriku sekarang...”
Putra lalu berujar seraya ia mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Dokter Ridwan, dan bicara pada Arthur setelahnya.
“Ar, berikan nomor telefon villa padanya agar dapat langsung menghubungi setelah hasil pemeriksaan dari serbuk itu keluar...”
“Yes, Boss...“
🔵
Putra yang sudah beberapa belas menit lalu telah sampai di depan lab, berdiri bersandar pada dinding lab tersebut.
Kemudian Putra menegakkan tubuhnya, saat ia mendengar suara Gadis bersamaan dengan pintu lab terbuka.
“Sudah selesai semua atau masih menunggu untuk melakukan tes lain?”
Putra lalu bertanya, ketika Gadis dan Bruna telah ada di hadapannya. Termasuk juga asistennya Dokter Ridwan.
“Sudah selesai, Tuan.” Asisten Dokter Ridwan yang menjawab.
Putra pun mengangguk menanggapi jawaban suster tersebut.
“Terima kasih, Nona,” ucap Putra kemudian pada sang suster.
Dimana Gadis dan Bruna pun mengucapkan terima kasihnya juga pada suster yang merupakan asistennya Dokter Ridwan itu.
🔵
“Kenapa aku harus melakukan tes lain di lab selain tes darah?” tanya Gadis pada Putra saat keduanya telah berada di dalam mobil dan hendak kembali ke villa.
Dan Putra lantas menjawabnya.
“Saat kamu berjalan ke lab tadi, Dokter Ridwan menyarankan padaku agar selagi di sini sebaiknya kamu sekaligus saja menjalankan serangkaian tes kesehatan.” Begitu Putra menjawab.
“Tapi kenapa tidak kamu diskusikan dengan aku dulu? –“
“Apa pemeriksaan yang kamu lakukan tadi begitu melelahkan? –“
“Ya tidak.” Gadis menukas ucapan Putra. “Tapi setidaknya kamu bicara dulu denganku tentang tes yang aku jalani tadi –“
“Apa kamu berdiskusi dulu padaku saat memutuskan mengajak ibu dan saudari tirimu tinggal di villa? Jangan jadikan aku yang sulit dihubungi menjadi alasan untuk itu, karena pada kenyataannya kamu sudah membawa ibu tirimu ke villa sebelum kamu coba meminta ijin padaku...”
🔵
“Ya sudah, aku salah. Puas?...”
Enggan berdebat dengan Putra, Gadis coba mengalah.
__ADS_1
Selain memang sedikit banyak, ia mengakui dirinya salah dengan terburu membawa ibu tirinya ke villa.
Namun masih ada sebal Gadis pada Putra, yang seringkali menyindir dirinya.
Seperti sekarang ini, contohnya.
“Kamu sadar atas kesalahanmu itu, tapi bertahan merajuk padaku—“
“Aku tidak merasa sedang merajuk—“
“Lalu sikapmu yang dingin padaku sejak aku mengusir dua wanita itu, apa? Terkesan mempersalahkanku yang mengusir dua wanita itu—“
“Yang mengganggu itu cara kamu mengusir mereka, Putra. Kamu begitu kasar. Sadar tidak sih?—“
“Sangat sadar.”
“Kamu terlalu kejam, Putra—“
“Dan kamu terlalu naif—“
“Naif?—“
“Ya?—“
“Bagian mana kenaifan aku atas dasar aku yang berniat memberi pertolongan pada orang yang walaupun pernah memperlakukan aku kurang baik, tapi sedikit banyak dia juga pernah mengurusku?”
“Maka dari itu aku menyebutmu naif, Gadis.” Putra dengan cepat menanggapi ucapan Gadis yang wajahnya nampak tak terima sekarang ini karena Putra yang mengatakan jika Gadis adalah seorang yang naif. “Bisa-bisanya kamu menolong seseorang yang lebih banyak merugikan kamu hanya karena dirinya berlagak sakit di depanmu—“
“Ibu tidak berlagak sakit. Bruna juga sudah memeriksanya dan memang ibu tiriku itu mengidap asma.”
“Hanya asma. Dan aku rasa ringan saja mengingat aku lihat wajah ibu tirimu itu nampak segar saat aku melihatnya di villa—“
“Ibu kan sudah pergi berobat ke dokter spesialis... jadi obat yang didapatnya jauh lebih baik daripada yang dia dapat di Puskesmas. Kamu terlalu berpikir buruk, Putra—“
“Aku bukan berpikir buruk, tapi aku dapat merasakan jika seseorang memiliki gelagat yang mencurigakan—“
“Hanya berdasarkan perasaan kamu, kan?...” Gadis dan Putra saling menukas ucapan.
“Firasatku tidak pernah salah. Termasuk hal buruk yang terjadi pada kamu belakangan ini ada kaitannya dengan ibu dan saudari tirimu itu—“
“Apa kamu punya bukti?—“
“Aku akan mencari tahu dan pasti aku dapat bukti jika dua wanita itu memang punya niat buruk padamu—“
“Dan sebelum bukti itu kamu dapatkan, berhenti kamu berpikir buruk tentang mereka sekalipun kamu bilang kalau Madya telah menggoda kamu?—“
“Apa yang aku katakan tentang saudari tirimu yang macam wanita murahan itu karena aku sendiri yang mengalaminya. Tapi ucapanmu terkesan meragukanku. Kamu pikir aku mengada-ngada?—“
“Aku tidak—“
“Sudahlah—“
“Maksudku—“
“Aku katakan, sudah. Maka diamlah. Aku ingin ketenangan sampai tiba di villa...”
Gadis pun memutuskan untuk diam setelah ucapan Putra tersebut yang terkesan begitu dingin, dan lagi Putra sudah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang ia duduki dan sudah juga memejamkan matanya.
Dimana Putra baru mau membuka matanya, saat ia merasakan mobil yang ditumpanginya itu telah berhenti. Dan suara Gadis terdengar bersamaan dengan tangannya yang menyentuh lengan Putra, dimana Gadis mengatakan jika mereka sudah sampai di villa.
Putra yang memang tak tidur itu langsung membuka matanya saat Gadis menyentuh lengannya dan bersuara.
Namun Putra tak memberi sahutannya pada Gadis.
Putra diam seribu bahasa, dan membiarkan Gadis berjalan di depannya bersama Bruna menuju ke ruangan dalam villa.
Dimana Gadis dan Bruna kemudian memisahkan diri saat sudah berada di lantai dua, karena Bruna akan pergi ke kamarnya dan Addison.
Gadis mengarahkan kakinya menuju kamarnya dan Putra, dengan Putra yang berjalan di belakangnya. Namun langkah Gadis kemudian terhenti, saat ia menyadari jika Putra berbelok arah----berjalan ke arah ruang kerja.
“Putra—“
“Pergi ke kamar dan jangan menggangguku.”
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
To be continue...
__ADS_1