
Happy reading .....
**********************
England,
“I give you some time to enjoy all of these with your eyes, while you said how dumb you are to yourself ( Kuberi kau waktu untuk menikmati semua ini dengan matamu, sambil kau katakan pada dirimu sendiri betapa tololnya kau ini )”
Adalah Putra yang barusan berkata itu, kala ia sedang berada di dalam sebuah ruangan yang merupakan tempat tersembunyi dan amat sangat rahasia sekali di dalam mansion milik keluarga almarhum Rery secara turun – temurun.
Sebuah ruangan yang berisikan begitu banyak barang – barang yang jika dihitung dengan nominal, sungguhlah lebih dari fantastis nilainya. Karena ruangan tempat Putra berada saat ini bersama Accursio serta beberapa orang yang bersamanya termasuk Jaeden yang memang sengaja ingin Putra tunjukkan apa yang ada di dalam ruangan tersebut, adalah sebuah ruangan yang merupakan tempat penyimpanan harta turun temurun keluarga Kingsley Smith yang hanya diketahui oleh orang – orang tertentu.
Sebuah ruangan berikut isinya, yang membuat Jaeden tak habis-habis merutuki dirinya sendiri yang sampai tidak menemukan tanda-tanda akan adanya sebuah ruang rahasia berisikan harta karun milik keluarga Kingsley Smith secara turun temurun itu.
Padahal Jaeden sudah beberapa kali menggeledah kamar pribadi almarhum Rery pada sebuah paviliun khusus dalam mansion megah milik keluarga Kingsley Smith tersebut, untuk mencari barang-barang berharga lain dalam bentuk apapun selain dari yang ia temukan di dalam sebuah brankas tersembunyi pada dinding yang ditutupi oleh sebuah lukisan.
Namun nihil hasil.
Meskipun kunci dari keberadaan ruang harta karun yang terhubung dengan kamar almarhum Rery tersebut ada di sekitar meja kerja Rery, dan Jaeden juga ingat jika dia sudah menggeledah secara seksama meja kerja dalam kamar lama almarhum Rery itu, tapi Jaeden tidak pernah menemukan misteri dari ruang harta karun yang Putra tunjukkan serta mengajaknya masuk tersebut dari meja kerja Rery.
‘ARGH!’
Jaeden menggeram tajam dalam hatinya.
Dimana tumpukan harta karun yang tersusun dengan apik serta tersembunyi dalam satu ruangan itu, sungguhlah membuat Jaeden merasa hampir gila karena tidak mengetahui hal itu sebelum Putra menunjukkan padanya.
Ya, bagaimana Jaeden tidak merasa dirinya hampir gila? ...
Kalau selama ini dia berjalan di atas tumpukan harta karun yang tidak pernah ia duga keberadaannya. Yang seharusnya bisa dia miliki tanpa harus bersusah-susah mencari sekutu sana-sini dan menghabiskan uang yang banyak untuk menyewa orang-orang yang ia pergunakan untuk menghabisi setiap orang yang tetap setia pada Kingsley dan Rery, dan merampas juga semua harta milik orang-orang setianya Kingsley dan Rery itu.
Semata-mata Jaeden lakukan untuk dapat mengeluarkan dan membuat semua harta kepemilikan Kingsley dan Rery yang ia tahu tersimpan di sebuah lembaga keuangan dengan perlindungan yang cukup ketat peraturan untuk mengeluarkannya.
Bahkan ia sampai menyambangi Ravenna untuk merampas surat wasiat Kingsley Smith yang asli dari Rery, yang bahkan setelah ia dapatkan pun, surat wasiat itu sudah tak berguna karena Rery telah mengambil atas nama surat wasiat tersebut yang kemudian Rery perbaharui dan ia titipkan pada Putra kemudian.
****
‘VERY DAMNED ( SUNGGUH SIAL )!!..’
__ADS_1
Sekali lagi Jaeden merutuk tajam dalam hatinya.
Atas kesialannya yang sangat besar itu.
Teramat sangat sial, karena dia sampai harus menyambangi Rery ke Ravenna untuk surat wasiat Kingsley yang isinya hanya menuliskan keberadaan harta benda pribadi dan keluarganya yang terlihat di permukaan.
Lalu saat Rery menolak untuk bekerjasama dan menyerahkan surat wasiat milik Kingsley Smith selaku ayah kandung Rery itu, Jaeden membunuhnya berikut sang istri yang melindungi suaminya kala pertama Jaeden hendak menembak di kali pertama.
Hal yang Jaeden lakukan setelah sebelumnya menyuruh para anak buahnya yang sebagian besar adalah penjahat itu untuk menghabisi lebih dulu orang-orang setia Rery yang sedang ada di saat yan sama kedatangannya untuk merampas surat wasiat Kingsley Smith yang hendak Jaeden rubah isinya dengan segala rencana yang ia miliki.
****
Mencoba membunuh satu-satunya ahli waris setelah Rery tewas di tangannya pun juga sudah coba Jaeden untuk lakukan, yakni menenggelamkan Anthony dengan cara yang cukup kejam untuk menghabisi seorang anak kecil yang di tenggelamkan di perairan dalam dengan kondisi tubuh terikat ketat. Termasuk ke dalam rentetan kesialan Jaeden.
Jika saja ia dapat menemukan ruang harta karun turun temurun ini sebelum Putra menunjukkan padanya, hal repot sampai ia menyambangi Rery ke Ravenna dan membunuh ahli waris Kingsley Smith ketiga yang adalah ayah kandung Rery rasanya mungkin tidak akan Jaeden lakukan.
Dan kesialan paling nahas yang Jaeden rasa sekarang ini adalah dia tidak sampai harus berhadapan dengan seorang Putra Vinson Junior yang sudah nampak sekali ingin menghabisinya di dalam sorot mata tajam nan dingin yang tersirat di mata pria itu setiap kali ia memandang pada Jaeden.
Yang walau nampak tenang wajah dan pembawaannya, namun Jaeden dapat merasakan---selain ia pernah mendengar jika pria ini adalah pelindung utama Rery yang kuat.
Namun kala itu Jaeden menganggap sepele rumor itu, walaupun ia sering berpapasan dengan Putra saat Rery masih tinggal bersama ayah kandungnya dalam mansion megah Kingsley Smith yang sempat Jaeden rampas dan kuasai itu.
Tapi Jaeden abaikan hal itu, karena ia sedang fokus menghasut Kingsley Smith ketiga untuk menekan Rery bahkan hilang kepercayaan pada anak kandungnya tersebut.
‘I supposed to kill him that time ( Aku seharusnya sudah membunuhnya kala itu )’ Jaeden membatin geram memandang pada Putra, yang sempat ia sepelekan itu. ‘But I will kill you badly once I have a chance ( Tapi akan aku bunuh kau dengan brutal saat aku memiliki kesempatan )’
Jaeden masih membatin geram pada Putra yang sedang menatapnya dingin itu.
‘Then I will totally conquer all of this ( Lalu aku akan sepenuhnya menguasai semua ini )’
****
Harapan Jaeden serta ia sedang mencari celah untuk bisa melepaskan dirinya dari tawanan Putra, sambil sempat-sempatnya Jaeden menyusun rencana di otaknya untuk apa yang akan dia lakukan setelah ia bisa kabur dari Putra berikut anak buah dari pria itu.
Hal sial bagi Jaeden yang ia rutuki, yakni harta karun Kingsley Smith yang ada di dalam mansion megahnya itu membuat Jaeden berapi-api untuk bisa kabur lalu menjalankan rangkaian rencananya. Keberadaan harta karun yang terlambat ia ketahui tersebut membuatnya geram sendiri.
Namun bagaimanapun rencana Jaeden, rasanya semua itu percuma----karena sungguh sulit baginya mendapat celah untuk kabur. Dan merutuk lagi saat ia merasa mungkin ia hanya bisa melihat dan menyesal saja, tanpa punya kesempatan untuk mendapatkan semua harta karun milik keluarga almarhum Rery yang dimiliki secara turun-temurun itu.
__ADS_1
Karena kemudian suara Putra memecah fokusnya yang sedang berpikir untuk melarikan diri, membunuh Putra, lalu menguasai harta karun keluarga Kingsley Smith yang terhampar di hadapannya itu.
“Because beside of this, I have another surprise for you ( Karena setelah ini, aku memiliki kejutan lain untukmu ) ...” ucap Putra melanjutkan kalimat yang sebelumnya ia katakan pada Jaeden sambil Putra menyeringai tajam memandang pada Jaeden sambil ia berucap barusan.
Membuat Jaeden yang sedang mencari celah untuk kabur itu memiliki atensi lebih pada kalimat Putra yang menyinggung soal kejutan, hingga Jaeden mengernyit.
Putra masih menyeringai tajam. Kemudian Putra memerintahkan untuk menyeret Jaeden keluar dari ruang harta karun tersebut.
****
“You think you smart ( Kau pikir kau pintar ), heh? ...”
Putra melirik saat mendengar Jaeden menggumam, ketika ia sedang berdiri di depan pria itu dan berbicara dengan Devoss serta Accursio untuk menggerakkan anak buah mereka atas rencana selanjutnya yang akan dijalankan setelah dari mansion milik Kingsley Smith.
“But not that smart ( Tetapi tidak sepintar itu )!” Suara Jaeden terdengar lagi, lebih jelas.
Bersamaan dengan,
“PUTRA!”
“BOSS!”
Suara teriakan dari kubu Putra terdengar serempak.
“Now put away all of your guns or I blow his head ( Sekarang buang senjata kalian semua atau aku ledakkan kepalanya )!”
Jaeden memerintahkan kepada semua orang yang ada dihadapannya itu dengan sudah menjegal leher Putra dengan satu tangannya, lalu satu tangan Jaeden yang lain telah menempelkan ujung senjata ke satu sisi kepala Putra.
“You won’t be able to get away ( Kau tidak akan bisa kabur ), Jaeden Zepeto ...” ucap Putra tenang.
“Ho yeah? ...” remeh Jaeden.
BANG!
Suara letusan senjata terdengar kemudian.
******
__ADS_1
To be continue ..