
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia ...
“Ray, “Kau tahu di mana tempat tinggal ibu dan saudari tiri istriku itu, bukan?”
“Sangat tau, Tuan –“
“Pergilah ke sana dan ajak beberapa orang bersamamu kemudian bawa dua wanita itu ke hutan di dekat area pabrik dan lakukan sesunyi mungkin. Kau paham maksudku bukan?”
“Paham, Tuan,”
“Bagus.”
“Ada yang lain lagi, Tuan?”
“Geledah seisi rumahnya, paksa mereka bicara tentang dimana meletakkan surat-surat berharga mereka dan bawa padaku berkas-berkas itu.”
“Baik, Tuan.”
“Sekali lagi, lakukan dengan sesunyi mungkin.”
“Siap, Tuan.”
“Pergilah sekarang.”
“Baik, Tuan.”
“Tetap bawa dua wanita itu ke hutan dekat area pabrik, ada atau tidaknya berkas-berkas seperti yang aku katakan tadi. Dan kabari aku jika kau sudah membawa mereka ke sana.”
“Iya Tuan, siap.”
“Dan satu lagi, Ray,”
“Apa, Tuan? –“
“Buat mereka bicara, tentang kejahatan apa saja yang sudah mereka lakukan pada istriku.”
🔵🔵
“What is it, Putra?...” Damian yang bertanya, ketika ia yang tadinya sempat sudah keluar bersama Garret, Arthur dan Devoss dari ruang kerja utama villa Putra dan keluarga untuk melihat kondisi Putra yang katanya tengah nampak murka berdasarkan laporan dari Pak Abdul, kini sudah kembali berada di ruangan tersebut.
Namun hanya Putra, Garret dan Damian saja yang duduk bersama.
Karena Arthur dan Devoss sedang melakukan tugas dari Putra pada masing-masingnya.
“That two f*ck*n’ women was poisoning Gadis ( Dua wanita keparat itu telah meracuni Gadis )”
Putra lalu langsung menjawab pertanyaan Damian dengan nada suaranya yang terdengar kesal, sambil Putra yang sudah mendudukkan dirinya di salah satu sofa dalam ruangan tempatnya berada itu menuangkan minuman beralkohol yang ada di dalam sebuah botol ke dalam gelasnya.
“What??!!—“
“Made something quite bad in Gadis’ womb ( Menyebabkan sesuatu yang buruk di rahimnya Gadis )...”
Putra yang lanjut berkata itu menukas keterkejutan 2 pria yang sedang bersamanya itu---3 sebenarnya dengan Pak Abdul yang kembali bersiaga di dalam ruang kerja utama tempat 3 tuan dalam villa sedang berada, namun sang kepala pelayan tidak ikut dalam pembicaraan Putra bersama 2 saudara lelakinya itu. Dirinya hanya berdiri siaga, berjaga jika 3 pria yang sedang duduk bersama tersebut, membutuhkan sesuatu.
“Maann...” kesah Damian.
“And your suspicion about the tea is right? ( Dan kecurigaanmu tentang teh itu benar? )”
Garret yang kemudian bertanya. Putra pun langsung mengangguk. “Silver never wrong to detect a poison ( Perak tidak pernah salah untuk mendeteksi racun )” ucap Putra kemudian.
Mengingat jika ia sempat mencelupkan sebuah batangan yang mirip satu bagian sumpit berbahan perak ke dalam bekas minum teh Gadis yang diberikan oleh Madya, dimana ujung batangan perak yang telah dicelupkan Putra ke sisa teh bekas Gadis---tak lama berubah warna.
🔵🔵
Namun begitu, Putra masih ingin meyakini kecurigaannya dengan hasil tes yang lebih terpercaya karena hasil yang didapat Putra pada media perak untuk digunakan sebagai pendeteksi racun pada makanan dan minuman itu, rasanya masih ambigu buat Putra akibat ujung media perak yang digunakan Putra pada teh bekas Gadis itu hanya menghasilkan warna yang bukan hitam.
Makanya Putra belum bulat menyimpulkan jika ada racun yang diberikan saudari tiri Gadis pada teh yang diberikan wanita itu pada istrinya, karena jika memang murni racun---media perak yang Putra gunakan mestinya berubah hitam.
Dan karena merasa ambigu dengan hasil yang ia dapat dari tes yang ia lakukan sendiri yang merupakan tes standar untuk mengecek kandungan racun dalam makanan dan minuman, makanya terbersit dalam otak Putra untuk memeriksakan kandungan dalam teh pemberian saudari tiri Gadis pada istrinya itu dengan bantuan seorang dokter yang Putra berikan imbalan cukup besar.
“I saw the stick, but I don’t see it having a black color at the tip? ( Aku lihat tadi stiknya, tapi aku tidak melihat ujungnya berwarna hitam? )”
Garret lalu berkomentar.
“Not a pure poison and perhaps it just given in small dose ( Bukan murni racun dan mungkin hanya disertakan dalam dosis yang kecil )...”
“........”
“But was given in a periodic since quite long time ago ( Tapi diberikan secara berkala dalam waktu yang sudah cukup lama )—“
“Damned...”
“Why they did that to a woman as kind as Gadis?”
( Kenapa mereka sampai melakukan itu pada seorang wanita sebaik Gadis? )
“There are so many reason for it, which I can say that they’re greedy based on what Gadis ever told me about them when she still live with that two witches ( Banyak alasan untuk itu, yang mana dapat aku katakan jika mereka serakah berdasarkan dari apa yang pernah Gadis ceritakan padaku tentang mereka saat ia masih tinggal bersama dua penyihir itu )”
“And after both of them saw how Gadis now, they’re planning to get what Gadis have in this family. Status and wealthy through you ( Dan setelah mereka berdua melihat bagaimana Gadis sekarang, mereka berencana untuk mendapatkan apa yang Gadis miliki di keluarga ini. Status dan kekayaan melalui dirimu )”
“That’s why Gadis’ step sister try to lure even have guts by trying to give you excitant ( Sebabnya saudari tiri Gadis itu mencoba menggoda bahkan punya keberanian untuk mencoba memberimu obat perangsang )”
Damian kembali berkomentar setelah sebelumnya Garret berkomentar selepas Putra menanggapi keterkejutan Damian dan keheranan Garret atas apa hal yang Putra ucapkan sebelum itu.
“And after get you, they will get rid of Gadis ( Dan setelah mendapatkanmu, mereka akan menyingkirkan Gadis )—“
“Hem.”
“Heh! They’re watch too much dramas.”
Damian lantas mencibir setelah mendengar sahutan Putra yang menanggapi spekulasi Garret.
Putra mendengus sinis kemudian sambil menuangkan kembali minuman beralkohol yang masih ada di dalam sebuah botol, ke dalam gelas miliknya dan langsung menenggaknya.
__ADS_1
🔵🔵
“But cannot dimissive them too, since that two women knows those things like mixing poison or something like that ( Tapi tidak bisa meremehkan mereka juga, karena dua wanita itu mengetahui hal macam mencampurkan racun dan semacamnya )...”
“Which I thought that Gadis’ father death having connection with that 2 witches ( Yang mana aku duga jika kematian ayah Gadis ada hubungannya dengan 2 penyihir itu )—“
“Which also could be, Gadis accident at the stairs also having connection with them ( Yang mana bisa saja juga, kecelakaan Gadis di tangga pun ada hubungannya dengan mereka )...”
Damian kembali mengatakan spekulasinya yang menimpali spekulasi Putra sebelumnya, menanggapi ucapan Garret---dimana setelah Damian mencetuskan spekulasinya itu, Putra pun mengangguk dengan rahangnya yang kembali mengetat.
“I think the same thing too ( Aku pun berpikir hal yang sama )” ucap Putra kemudian. “And if that’s true, I won’t spare their life. Way too much ( Dan jika itu benar, aku tidak akan mengampuni nyawa mereka. Sudah keterlaluan )—“
🔵🔵
Rahang Putra nampak mengeras lagi setelah ia berucap barusan, kemudian pandangannya nampak nanar namun ada kilatan amarah di sana---Putra lalu mengingat perkataan Dokter Ridwan di telepon tadi.
“They’re not only made Gadis almost die, but they’re killed me and Gadis baby and made us ( Mereka tidak hanya membuat Gadis hampir tewas, tapi mereka juga sudah membunuh bayiku dan Gadis dan membuat kami )—“
Tercekat Putra, hingga ia menggantungkan kalimatnya.
“What’s wrong? ( Ada apa? )...” Garret bertanya. Karena sama seperti Damian, ia menyadari jika Putra menggantungkan kalimatnya---dimana tengah ada yang membebani satu saudara lelaki mereka itu karena Putra nampak berat melanjutkan kalimatnya.
“How bad Gadis’ womb condition? ( Seberapa buruk kondisi rahim Gadis? )” tanya Damian dengan menerka jika Putra yang menahan kalimatnya itu, adalah karena alasan seperti yang ia tanyakan barusan.
“Endanger will be hard to get pregnant again ( Terancam jika akan sulit untuk hamil lagi )—“
“That bad???? ( Seburuk itu???? )—“
“Hem. That bad—“
“Very sorry to hear that ( Aku turut prihatin mendengarnya )...”
Damian menyampaikan rasa prihatinnya atas kondisi Gadis, pun pada Putra yang Damian berikut Garret tahu, betapa kecewanya satu saudara mereka itu saat ini.
“And I feel pist off now. Need to vent my anger to that two filthy women ( Dan aku sungguh sangat kesal sekarang. Perlu melampiaskan amarahku kepada dua wanita menjijikkan itu )—“
“The car is ready ( Mobil sudah siap )”
Devoss datang menginterupsi setelah selesai dengan tugas yang diberikan Putra padanya.
Putra pun mengangguk.
“Want to go now? ( Ingin pergi sekarang? )...”
“Later. Wait Ray back here and give report ( Nanti. Tunggu Ray kembali ke sini dan memberikan laporan )—“
“Check that two women in their home? ( Memeriksa dua wanita itu di rumah mereka? )” tukas Damian dan bertanya.
“Hem.” Putra menjawab Damian dengan deheman seraya mengangguk samar.
“Do you really want to vanish them? ( Kau benar ingin melenyapkan mereka? )—“
“More than really ( Lebih dari ingin )—“
🔵🔵
Pak Abdul pun segera menyahut untuk menjawab ucapan Putra tersebut.
“Iya, Tuan.”
“Pergilah beristirahat Pak Abdul. Kami di sini sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi. Pun jika ada, kami dapat mengambil atau melakukannya sendiri.”
“Tidak apa, Tuan—“
“Jangan membantahku Pak Abdul.”
Putra menukas ucapan Pak Abdul yang hendak menyergah ucapannya.
“Baiklah Tuan Putra—“
🔵🔵
“You want to vanish them tonight? ( Kau ingin melenyapkan mereka malam ini? )” tanya Garret pada Putra setelah Pak Abdul undur diri.
“Hem,” jawab Putra, dengan hanya berdehem.
“Then what you going to say to Gadis if she knows you want to out from here by this time?”
( Lalu apa yang akan kau katakan pada Gadis jika dia tahu kau ingin keluar dari sini pada waktu seperti ini? )
Damian yang lalu bertanya.
“I’ll tell her the truth ( Aku akan katakan padanya yang sebenarnya )...”
Putra pun lantas menjawab pertanyaan Damian tersebut.
“That I want to vanish her mother and step sister ( Kalau aku ingin melenyapkan ibu dan saudari tirinya )”
Ucapan Putra terdengar dingin.
“From this world ( Dari dunia ini )”
🔵🔵
Putra masih bertahan di ruang kerja sampai selama kurang lebih satu jam, hingga Ray datang menghadap.
Memilih untuk tetap tinggal di ruang kerja, karena Putra rasanya enggan untuk bertatap muka dengan Gadis.
Bukan apa, pasalnya---emosi Putra sedang cukup naik sekarang. Walau di permukaan ia nampak tenang.
Dan meski Putra berpikir kalau Gadis memang memutuskan untuk tidur bersama Anthony dan Bruna di kamar satu saudarinya itu dan sang suami, tetap Putra malas untuk beranjak dari ruang kerja saat ini.
Nanti saja setelah Ray datang menghadap dan memberi laporan, dimana laporan Rei itu membuat Putra dapat menjalankan rencananya.
Baru Putra akan pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Begitu kiranya pikir Putra. Bukan sengaja untuk menghindari Gadis.
__ADS_1
Hanya lebih kepada ia ingin bicara dengan Gadis, setelah hatinya merasa lega.
Yang mana kelegaan Putra itu, baru kiranya akan muncul setelah ia berhasil menjalankan apa yang begitu ia inginkan saat ini.
Menghabisi ibu dan saudari tiri Gadis.
🔵🔵
Hampir satu jam berlalu, dimana Putra dan 2 saudara lelakinya serta 2 pria yang merupakan orang kepercayaan Putra dan keluarganya---katakanlah begitu---kemudian menoleh ke arah pintu ruang kerja yang terbuka, di saat pintu itu terdengar ada yang mengetuknya.
Ada anak buah Putra dan keluarganya yang bekerja sebagai bodyguard di ambang pintu ruang kerja utama yang terbuka itu.
“Ah, Ray. Masuklah.”
Putra yang mempersilahkan.
“Permisi, Tuan—“
🔵🔵
“Bagaimana, Ray?”
Putra langsung melontarkan pertanyaan pada satu anak buah itu setelah mendekat padanya sehabis dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan tempat Putra dan 4 pria lainnya sedang masih duduk-duduk itu.
Satu anak buah yang bernama Ray itupun pun lantas segera menjawab pertanyaan Putra, dimana ia paham maksud dari pertanyaan Putra tersebut.
“Dua perempuan itu ada di rumahnya, Tuan. Dan kami telah membawa mereka ke tempat yang tadi anda bilang.”
“Hem.“ Putra lalu manggut-manggut dan berdehem samar setelah mendengar jawaban Ray. “Lalu apa yang sudah mereka akui? ...”
“Banyak sekali mereka menjahati Nyonya Gadis, Tuan. dari Nyonya Gadis masih tinggal dengan mereka, sampai baru-baru ini –“
“Apakah itu berhubungan dengan istriku yang jatuh dari tangga? ...”
“Iya ... Tuan –“
“Memang mereka pantas mati,” geram Putra.
Lalu Ray pun angkat suara lagi. “Mohon maaf sebelumnya Tuan, jika anda ingin menghabisi mereka, biar saya yang melakukannya –“
“Tidak. Aku yang akan menghabisi mereka dengan tanganku,“ potong Putra. “Tunggu saja aku di bawah.”
🔵🔵
“A – ada apa ... Putra? ...”
Adalah Gadis yang bertanya dengan gugup serta was-was kala ia melihat isi dari sebuah kotak kayu dan salah satu isi dalam kotak tersebut Putra angkat.
Yang mana Gadis tahu betul benda yang kini sudah Putra pegang itu hingga membuatnya merasa ngeri, walau benda itu masih ditutupi oleh sebuah media berbahan kulit.
“Putra aku bertanya padamu,” ucap Gadis karena Putra belum menjawab pertanyaannya tadi. Selain Gadis penasaran dan dirundung kegelisahan melihat Putra mengeluarkan pisau yang bentuknya seperti pisau militer itu.
“Setelah urusanku selesai baru aku akan bicara padamu.”
Baru setelah Gadis bicara sambil sedikit menarik lengannya agar wajah Putra dan wajahnya berhadapan---Putra angkat suara.
🔵🔵
“Iya tapi ada apa? ... tadi ... saat aku mendatangi kamu ke ruang kerja ... sebelumnya ... jika aku tidak salah ... aku mendengar kamu menyinggung soal ibu dan Madya ...“
Gadis langsung bicara lagi dengan jujur, karena memang sebelum ia sempat terlelap menunggu Putra---Gadis sempat melangkahkan kakinya ke ruang kerja utama. Kemudian mendengar sayup-sayup pembicaraan Putra dengan orang yang bersama suaminya itu di dalam ruang kerja tersebut.
Dan seperti yang Gadis katakan tadi, Gadis mendengar samar jika ibu dan saudari tirinya disebut.
Namun begitu, Gadis kemudian mengurungkan niatnya untuk menghampiri Putra di ruang kerja.
Karena Gadis menyadari jika Putra tidak sedang sendirian di dalam ruang kerja utama. Yang mana Gadis enggan untuk masuk pada akhirnya, walaupun ia penasaran mengapa ibu dan saudari tirinya itu sempat disebut.
Lalu sekarang, setelah mendapati Putra hendak keluar villa di malam begini serta Putra hendak membawa serta sebuah pisau yang pastinya tajam betul dalam dugaan Gadis itu, membuat Gadis jadi teringat tentang ibu dan saudari tirinya yang sempat membuat Putra emosi.
Dan Gadis jadi was-was karenanya.
🔵🔵
“Aku akan melenyapkan mereka.”
Dimana setelah Putra berucap barusan, Gadis terkejut bukan main.
“A-apa?“
Pun was-was Gadis kemudian menjadi sebuah ketakutan kala Putra menegaskan ucapannya.
“Aku akan melenyapkan ibu dan saudari tirimu dari dunia ini karena mereka sudah cukup merugikanku. Jangan coba menghalangiku jika tidak ingin aku berlaku kasar padamu.”
“Me-merugikan –“
“Kembalilah beristirahat –“
🔵🔵
“Putra!”
“.......”
“Tidak Putra! Tunggu!”
“Kembali ke kamar Gadis!”
“Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak akan membiarkan kamu membunuh orang Putra –“
“Silahkan saja jika memang kamu sanggup menahanku ...”
“Tidak Putra! Berhenti! Putraa!! –“
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
To be continue.....
__ADS_1