LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 143


__ADS_3

Happy reading ..


*********************


“Eeuhh ..” Lenguhan samar dari seorang wanita yang berada dipangkuan Putra itu terdengar begitu tipis, namun tetap bisa Putra dengar.


Seketika itu juga, darah kelakian Putra pun berdesir. Sebenarnya, bibir Putra ingin turun lagi melewati leher wanita yang berada di pangkuannya itu.


Namun Putra urungkan, dan ia menggerakkan kembali bibirnya ke atas, untuk meraup lagi bibir Gadis. Gejolak kelakian Putra, sedang Putra tahan sekuat tenaga.


Putra yang kadang rumit pikirannya itu, rasanya tidak mau jika Gadis mengira ia hanya tertarik pada tubuh wanita itu saja. Ya memang, setelah melihat, apalagi sudah merasakan setiap jengkal tubuh Gadis dan sudah dua kali


menyatukan dirinya dengan Gadis diatas ranjang, Putra bukan hanya tertarik pada Gadis, tapi sudah menggilainya.


Ya orangnya, tanpa mau munafik, ya tubuh Gadis juga.


Padahal jika Putra menuntun Gadis atau memberi kode jika Putra sedang menginginkan wanita yang dicintainya itu untuk merajut cinta dipadu peluh yang diselimuti kenikmatan, rasanya Gadis tidak akan menolak.


Toh Putra tahu persis jika Gadis mencintainya dan terlebih Putra pasti akan menikahi Gadis. Tapi tidak, Putra menyabarkan dirinya saja untuk saat ini.  Meski yah, Putra sedikit merasa kurang nyaman untuk menahan hasratnya tersebut pada Gadis saat ini.


*****


“Gadis.....” Putra mengurai raupan bibirnya pada Gadis, meski rela tidak rela juga.


“Hmm?..” Jawaban Gadis yang seperti itu malah membuat Putra sejenak menahan nafasnya.


Ditambah Gadis yang memandangnya dengan tersenyum dan mengusap bibir Putra dengan ibu jarinya itu, membuat otak Putra terbagi menjadi dua kubu.


“Sudah mengantuk?”


Putra akhirnya mengajukan pertanyaan agar ada bahasan, hingga otak mesumnya teralihkan.


“Sedikit, tapi aku masih penasaran perihal Anthony yang aku tanyakan tadi” Jawab Gadis. “Aku juga ingin tahu, apa saja kesukaan Anthony tanpa terkecuali, termasuk hobinya”


“Ingin aku ceritakan sekarang?”


“Hu’um”


“Baiklah...”


“Apa kamu ingin tetap memangkuku seperti ini Putra?..” Tanya Gadis  karena Putra tidak memberi aba-aba agar Gadis bergeser, malah Putra menaikkan lalu meluruskan kakinya dengan Gadis yang memang masih duduk diatas kedua paha Putra itu.


“Kenapa?...” Putra malah balik bertanya pada Gadis. “Kamu tidak nyaman?” Tanyanya lagi pada Gadis.


Gadis menggeleng pelan. “Aku hanya takut kamu keberatan saja dengan bobot badanku, lalu kakimu keram”


Putra mendengus geli. “Tubuhmu bahkan terasa seperti bulu angsa yang ada didalam bantal ini”


Putra menepuk-nepuk bantal tidur yang ada disampingnya.


Gadis terkekeh kecil.


“By the way (Ngomong-ngomong), Gadis .... Apa kamu ingin menikah di Gereja? ..”


“Terserah padamu saja, Putra...” Jawab Gadis.


“Jangan terserah padaku, Gadis .... Sudah kubilang, katakan keinginanmu padaku, terlebih soal pernikahan.. Aku akan mewujudkan keinginan bahkan mimpimu, jika memang aku mampu....”


“Kalau ternyata keinginanku adalah sesuatu yang kamu tidak mampu, bagaimana?”


“Kamu ini selalu, sering sekali memotong ucapanku” Protes Putra, namun ia tersenyum dengan dua jarinya yang menjepit pelan dagu Gadis.


“Hehe, maaf ...” Kekeh Gadis.


“Aku akan mewujudkan keinginan bahkan mimpimu, jika memang aku mampu....”


Putra mengulang ucapannya.


“Dan aku yakin aku mampu mewujudkannya” Sembari Putra menatap Gadis dengan yakin.


Dan Gadis menarik sudut bibirnya keatas.


“Iya aku percaya....”


“Jadi, apa kamu ingin menikah di Gereja dengan upacara yang sakral?”


“Di Gereja atau di Catatan Sipil, bagiku sama saja....” Jawab Gadis. “Terserah padamu saja....”


Gadis kemudian merangkul Putra dan menyembunyikan wajahnya disatu sisi bagian pundak Putra.


Putra pun balas merangkul Gadis yang sepertinya nampak sendu itu.


“Ada apa? ....”


Gadis tidak menyahut, hanya gelengan kepalanya saja yang Putra rasa.


“Ada yang sedang mengganggu perasaanmu? ....” Putra kembali bertanya.


“Tidak ada ....” Jawab Gadis pelan.


“Tapi kenapa wajahmu menjadi muram begini?”


Putra bertanya lagi, setelah mengurai rangkulan Gadis.


“Bruna ingin pernikahannya dan Ad dilaksanakan di Gereja, hanya sekedar upacara saja. Bruna juga tidak menginginkan pesta, tapi Ad dan kami semua akan membuatkan kejutan untuk Bruna. Itu impian Bruna, bisa menikah di Gereja dengan momen yang sakral bersama Ad ....”


“Libatkan aku dalam persiapan pestanya kalau begitu?!. Ya?!”


Wajah Gadis yang tadinya sedikit muram pun berubah antusias.

__ADS_1


Putra mengangguk dengan tersenyum.


“Setiap wanita pasti memiliki pesta pernikahan impian”


Putra kembali berbicara.


“Bruna punya impiannya sendiri. Masa kamu tidak punya?” Kata Putra seraya bertanya.


“Ya sebenarnya punya....”


“Katakan kalau begitu. Jika ingin pesta yang meriah, akan aku buatkan. Jika perlu, aku undang seluruh orang yang ada di Ibukota ini....”


Gadis sontak saja tergelak.


“Aku bicara serius....”


Putra mencebik.


“Malah tertawa....”


Gadis menyelesaikan gelakannya dulu sebelum bicara.


“Habis, kamu ini ada-ada saja....”


“Ya siapa tahu itu mimpimu?” Sahut Putra.


“Buang-buang uang saja. Lagipula, aku ini bukan tokoh publik ataupun anak pejabat”


“Memang tokoh publik dan anak pejabat saja, yang dapat menyelenggarakan pesta pernikahan yang meriah dan megah?”


Putra kembali mencebik.


“Aku dan saudara-saudaraku pun bisa!....”


Putra memasang wajah pongah, yang membuat Gadis terkekeh kecil. “Iya, iya aku percaya” Ujar Gadis kemudian, sambil menyelesaikan kekehannya.


Putra menarik sudut bibirnya, sembari memperhatikan Gadis yang sedang terkekeh itu. “Jadi, pernikahan yang bagaimana yang kamu inginkan, Gadis?....”


Putra mengusap sebelah pipi Gadis.


"Heemm?..."


“Aku hanya ingin dapat menikah, dengan ayahku yang mendampingiku, lalu memberikanku pada calon suamiku, pria yang aku cintai dan yang mencintaiku tentunya .... Lalu menyaksikanku mengikat janji dengan orang yang aku cintai itu”


“..........”


“Hanya itu keinginanku....”


Gadis kemudian menundukkan kepalanya.


“Yang tidak mungkin terwujud....” Lirih Gadis.


Sembari Putra mengelus kepala dan punggung Gadis.


“Untuk yang satu itu, aku tidak akan pernah dapat mewujudkannya....”


“Tidak perlu dipikirkan....”


Gadis mengurai dekapan Putra, lalu menatap pria itu dengan tersenyum.


“Maaf ya?”


Wajah Putra nampak menyesal.


“Sudah kubilang tidak perlu dipikirkan ....” Tangan Gadis terulur untuk menyentuh wajah Putra denga bibirnya yang


masih tersenyum.


“Tapi kamu tetap mau menikah denganku bukan?” Celoteh Putra. “Nanti, karena aku tidak dapat mewujudkan keinginanmu itu, kamu akan menjadikannya alasan untuk menarik diri dariku”


Putra memasang raut wajah bak Anthony yang sedang merajuk.


“Ya ampuunn.... Lucu sekali wajahmu jika seperti ini....”


Gadis sampai gemas melihat wajah Putra itu sampai kedua tangannya mencubit pipi Putra lalu menggoyang-goyangkannya.


Putra mematri senyum tampannya dan menatap lekat Gadis.


Lalu kedua tangan Putra meraih tangan Gadis yang sedang mencubit pipinya itu.


“Sakitkah? ....”


Putra menggeleng tanpa menghilangkan senyumnya.


Putra hanya sedang terpesona, pada senyuman Gadis disela kekehannya.


Tahukah Gadis, jika senyuman yang menghiasi wajah bahagianya yang nampak di mata seperti saat ini, membuat Putra merasa gemas selain bahagia?.


“Aku ingin kamu selalu bahagia seperti ini Gadis....” Ucap Putra tulus sembari mengusap pipi Gadis. “Dan semoga saja, seperti halnya dirimu, juga Anth untukku, aku bisa menjadi sumber kebahagiaanmu”


Cup!


Hingga sesaat Putra membeku, karena Gadis tahu-tahu mengecup bibirnya lebih dulu.


“Kamu, adalah poros kebahagiaanku sekarang, Putra”


Dan rasanya, jantung Putra seolah menggila mendengar ucapan mesra Gadis yang mesra dan mendayu barusan.


Putra mematung, saat Gadis kembali lebih dulu menempelkan bibirnya pada bibir Putra, karena tak hanya sekedar menempelkan bibirnya atau mengecup singkat saja, tapi Gadis memanjakan bibir Putra dengan mel*matnya lembut.

__ADS_1


Putra sampai memejamkan matanya menikmati bibir Gadis yang sedang memanjakan bibirnya itu. Namun saat Gadis hendak melepaskan tautan bibirnya di bibir Putra, tangan Putra dengan cepat menahannya. Tengkuk Gadis sudah diraih Putra, dan membuat bibir Gadis tetap menempel dibibirnya.


Kalau tadi Gadis yang memanjakan bibir Putra, kini giliran Putra. Bibir Gadis Putra pagut dengan lembut namun seolah menuntut, memaksa agar bibir Gadis tidak lepas dari pagutan bibirnya itu. Satu tangan Putra kemudian merayap ke punggung Gadis, lalu mendorong nya pelan agar lebih rapat dengan Putra.


Gadis yang sempat terkesiap kala Putra menarik tengkuknya demi menahan kepalanya agar pagutan bibir keduanya tidak terlepas, kemudian memejamkan matanya dan membalas segala bentuk sentuhan bibir Putra di bibirnya.


Entah sadar atau tidak, Gadis kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Putra.


Deru nafas yang tadinya samar kini mulai terdengar. Putra seolah mengunci Gadis tanpa memberikannya celah untuk lepas.


Gadis pun tidak nampak hendak menahan Putra menghentikan aksinya, karena mereka dalam posisi yang sangat intim, meskipun hanya saling membalas pagutan bibir masing-masing.


Lagi-lagi Gadis terbuai. Permainan bibir Putra dibibirnya itu seolah selalu mampu menghipnotis Gadis untuk bisa pasrah pada perlakuan Putra. Putra yang katanya sama seperti dirinya yang baru merasakan ciuman seorang lawan jenis, nyatanya bagi Gadis nampak begitu lihat mem*gut bibirnya dari sejak awal Putra melakukannya.


Sementara Gadis terbuai oleh permainan bibir Putra, Putra sendiri mulai tak mampu menguasai dirinya. Intuisi lelakinya kini sudah perlahan tapi pasti bekerja.


Bibirnya yang bermain cukup lama di bibir Gadis itu kini perlahan bergerak ke dagu lalu turun ke leher Gadis.


Kemudian lenguhan samar Gadis lolos lagi dari mulutnya, saat Putra memberikan tanda kepemilikannya disana.


Bibir Putra menciumi leher jenjang Gadis kemudian, dan tangan Putra menelusup nakal ke balik atasan piyama Gadis, mengusap lembut di sekitar pinggang belakang Gadis, dan merasakan kulit mulus pinggang belakang Gadis di telapak tangannya.


Merasakan jika Gadis meremang akibat ulah tangan nakalnya itu, saat Putra merasakan pori-pori di kulit mulus yang sedang ia usap-usap itu terasa di telapak tangannya. Tangan nakal Putra tak berhenti sampai di tempatnya berada sekarang.


Tangan Putra sudah bergerak ke atas, kini mengusap lembut keseluruhan tubuh bagian atas belakang Gadis. Tadinya, Putra tidak ingin bertindak lebih jauh lagi. Hanya keintiman seperti ini saja dengan Gadis rasanya sudah cukup, meski Putra sedikit tersiksa.


Daripada Gadis menganggapnya jika hanya menginginkan tubuh Gadis saja. Tapi saat ini, jujur, ya Putra menginginkannya. Kembali tenggelam dalam tubuh Gadis yang memabukkan baginya. Tapi sedang sekuat tenaga Putra tahan.


Sekali lagi,


Tadinya.


Hingga entah wanita itu sadar atau tidak, Gadis menggeliat kecil saat Putra mengusap punggung dan pinggang belakangnya.


Dimana bagian tubuh Gadis yang berada diatas pangkuan Putra, mendesak si adik kecil yang dipaksa Putra untuk tidak bertumbuh saat ini, malah mengeras hanya karena sedikit gerakan dari Gadis.


Suhu tubuh Putra kian memanas. Merutuk dalam hatinya. Ingin melepaskan Gadis dan menggeser wanita itu dari pangkuannya, tapi Putra tidak rela. Bibir Putra kembali bergerilya, ke leher Gadis yang dihadapannya hingga sampai ke telinga Gadis.


Kembali lagi ke bibir Gadis, dan kembali memag*tnya seperti saat awal. Lembut namun seper sekian detik menjadi begitu memburu. Hingga tangan Putra sampai menekan bongkahan gempal Gadis yang membuat wajah Gadis bak sebuah apel merah.


Mungkin Gadis menyadari, ada yang sudah sangat mengeras di bawah sana. Minta dibebaskan, kemudian dimanjakan. Putra kemudian melepaskan pag*tan bibirnya dari bibir Gadis. Nafasnya dan nafas Gadis terdengar pendek-pendek.


Putra tak berucap apa-apa, hanya menatap Gadis saja.


Namun tatapan Putra dengan mata yang sudah sayu dan berkabut pada Gadis itu, seolah sebuah permintaan ijin pada Gadis untuk berbuat lebih jauh, dari yang baru saja mereka lakukan. Gadis juga bungkam.


Tapi netra Gadis fokus pada netra Putra yang sedang menatapnya dengan sangat intens dan mendamba itu.


Dan Gadis sedikit banyak paham maksud tatapan Putra padanya itu saat ini. Tanpa kata, Gadis menempelkan bibir Putra padanya, dengan satu tangannya yang memegang tengkuk Putra.


Membuat Putra meruntuhkan benteng dirinya, atas gejolak yang sudah mengabuti mata dan menyelimuti seluruh tubuhnya saat ini.


Gadis yang lebih dulu menempelkan bibirnya pada Putra itu, Putra anggap sebagai ijin untuk dirinya berbuat lebih jauh lagi.


**


Mata Putra dan Gadis sudah berada pada satu garis lurus, kala Putra sudah mengukung Gadis yang sudah Putra pindahkan dari pangkuannya, dan sudah ia rebahkan di atas ranjang.


Putra merunduk, lalu menggulirkan kecupan-kecupan lembut di wajah Gadis, hingga berakhir di leher wanita itu. Kemudian Putra menatap Gadis-nya lagi, tanpa kata, tapi Gadis paham, itu permintaan ijin Putra, untuk melepaskan apa yang melekat di tubuh Gadis saat ini.


Gadis sadar ini salah, tak seharusnya ia mengulang apa yang disebut dosa sebelum terikat pernikahan dengan seorang pria. Bahkan ini bukan yang pertama kalinya bagi Gadis dan Putra. Ini juga bukan budaya orang-orang di Negerinya.


Walaupun seribu persen Gadis yakin Putra akan menikahinya.


Di Negeri dimana Putra lahir dan hidup sebelumnya mungkin bercinta dengan lawan jenis yang bukan pasangan sahnya sudah biasa.


Tapi tidak di Negeri dimana Gadis lahir, tumbuh dan hidup selama ini.


Namun mau bagaimana?, Putra adalah pria yang Gadis cintai. Hingga Gadis rasanya enggan melawan keinginan, bahwa dirinya juga menginginkan Putra sebesar Putra menginginkannya jika sudah sampai sejauh ini.


“Boleh? ......”


Suara Putra yang sudah sangat serak itu membuat Gadis kembali menatap dalam netra Putra.


Dan tangan Putra bergerak dengan terampil membuka satu per satu kancing piyama Gadis setelah anggukan Gadis berikan.


Hingga sampai tak ada lagi kain yang melekat di tubuh Putra dan Gadis, dan suara lantunan dari kenikmatan yang dirasakan oleh dua insan yang sedang memacu gejolak duniawi di atas ranjang itu tercetus, saling bersahutan.


“Ga-dis,.....”


Putra melantunkan nama Gadis saat gelombang kenikmatan hendak menghantamnya, setelah bergerak cukup lama di atas Gadis.


Merasakan juga jemari Gadis yang mencengkram punggungnya, dan membuat Putra menambah tempo gerakannya di atas Gadis.


Dimana Gadis bergerak mengikuti ayunan tubuh Putra hingga akhirnya gelombang kenikmatan itu datang menghampiri keduanya, dan mengerang di saat yang hampir bersamaan.


Lalu suara lantunan nafas yang terdengar berat mengudara disertai detakan dari dua jantung yang terasa sangat cepat. Putra ambruk di atas tubuh Gadis, namun masih belum melepaskan dirinya yang sedang dipeluk oleh Gadis.


“Maaf ya....” Ucap Putra dengan nafasnya yang masih terdengar pendek-pendek, dan wajahnya ia sembunyikan di ceruk leher Gadis. “Tersilap.....”


“Silap itu hanya sekali setahu aku ..”


Gadis langsung saja menyambar ucapan Putra barusan.


Sontak membuat Putra yang masih bersandar manja di ceruk leher Gadis itu terkekeh.


“Habis... nikmat....”


**

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2