LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 404


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


Anthony, Bruna, Garret berikut Gadis, sedang menyambangi sebuah desa. Dimana desa tersebut, adalah tempat lahir Gadis dan tempat istri Putra tumbuh dewasa, sebelum pada akhirnya Gadis meninggalkan desa tersebut.


“Kalau begitu-Tuan Gerret-Nyonya Bruna-Nyonya Gadis dan Tuan Muda Anthony tunggu di sini sebentar. Biar saya cari tahu dimana rumah Kepala Desa..” kata Suheil, ketika ia dan para majikannya tersebut telah keluar dari mobil.


“Tidak perlu Suheil..” sergah Gadis.


Dan setelahnya, Gadis langsung kembali berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia secara panjang lebar.


“Aku tidak tahu Kepala Desa yang sekarang apakah sudah diganti atau belum dari saat terakhir aku pergi dari sini.. Tapi meskipun sudah ganti, orang yang menjadi Kepala Desa pengganti, biasanya berasal dari keluarga dari Kepala Desa yang sebelumnya. Karena jabatan itu di sini didapat secara turun temurun.”


***


“Apa.. kalian berdua mengerti apa yang aku katakan tadi?—“


“Heem.. not really. That’s quite long sentences in Indonesian Language ( Heem.. tidak juga sih. Itu kalimat dengan Bahasa Indonesia yang cukup panjang )..”


Bruna yang kemudian duluan menanggapi pertanyaan Gadis, dengan dirinya yang sedikit meringis cengengesan. Dan karena tanggapan Bruna itu, Gadis jadi ikutan meringis cengengesan juga.


“Aku mengerti maksudmu sedikit banyak, Gadis, Dan apa kamu masih mengingat tempat tinggalnya serta jalan untuk sampai ke sana?..” ucap Garret--setelah sebelumnya ia terkekeh kecil melihat sikap Bruna dan Gadis yang sedikit menggelikan.


“Iya aku masih ingat, Gar,” jawab Gadis seraya ia mengangguk. Kemudian Gadis berjalan beriringan bersama Bruna, Garret serta Anthony menuju rumah seorang kepala desa yang menjabat posisi itu saat Gadis meninggalkan desanya tersebut, untuk kabur dari ibu dan saudari tirinya.


***


Gadis berikut Bruna, Garret dan Anthony serta dua orang bodyguard mereka—telah sampai di depan sebuah rumah yang tergolong besar dan bagus untuk ukuran rumah di desa.


“Biar saya yang cek, orangnya ada atau engga—Tuan, Nyonya..” satu bodyguard berinisiatif. Bruna, Garret dan Gadis pun langsung mengiyakan inisiatif salah seorang bodyguard mereka itu.


Lalu tak lama, setelah dipastikan yang bersangkutan ada di tempat—Bruna, Garret dan Gadis termasuk juga Anthony—memasuki rumah orang yang terakhir menjabat sebagai Kepala Desa, saat Gadis meninggalkan desanya tersebut.


Lalu sambutan yang agak riuh dari penghuni rumah terdengar saat mereka mengenali Gadis, sebagai Gadis yang sama yang pernah menjadi warga desa tersebut—namun telah hengkang dari sana sejak beberapa tahun yang lalu, dan karena kini Gadis kembali dengan penampilan yang cukup berbeda—jika dilihat dari apa yang Gadis kenakan, beberapa pemilik rumah lebih kian riuh—hingga banyak pujian yang keluar dari pemilik rumah pada Gadis dengan wajah mereka yang sumringah.


Gadis pun hanya tersenyum selain merendah menanggapinya, setelah ia, Bruna, Garret serta Anthony dipersilahkan masuk dan duduk dengan hormat oleh pemilik rumah. Sekaligus dijamu sangat baik oleh pemilik rumah yang merupakan rumah Kepala Desa yang sama dengan yang terakhir menjabat saat Gadis meninggalkan desanya tersebut, dan kebetulan belum diganti. Sebagaimana yang Gadis ketahui, bahwa posisi Kepala Desa di desanya itu dipegang secara turun-temurun—dan kalau mengingat saat dulu, Kepala Desa akan digantikan saat yang bersangkutan menyerahkan sendiri posisinya kepada yang dipilih.


Itupun tidak akan jauh-jauh.


Yakni, yang menjabat pastinya akan masih ada ikatan keluarga dengan Kepala Desa yang lama.


***


“Maksud kedatangan saya - ke tempat ini, adalah ingin menanyakan - apakah anda mengenal seseorang, yang bernama Baskoro?”


Garret kemudian angkat suara, ketika sang Kepala Desa menanyakan perihal kedatangan Gadis—yang dikira hanya sekedar berkunjung saja.


“Apakah ucapan saya, dapat anda pahami, dengan jelas?”


Garret bicara lagi—seraya bertanya dengan perlahan dengan memandang pada sang Kepala Desa itu, dan Garret usahakan berbicara dengan Bahasa Indonesia sebaik mungkin, meskipun sedikit patah-patah.


***


“Iya, jelas, Tuan,” tanggap sang Kepala Desa atas ucapan Garret sebelumnya yang juga mempertanyakan kejelasan ucapannya, karena meskipun Garret yakin ucapannya dalam Bahasa Indonesia sudah cukup rapi tertata—namun aksen bicaranya sebagai orang luar itu, ia khawatirkan dapat mempersulit orang pribumi yang menjadi lawan bicaranya.


Dan jika memang ucapannya yang Garret rasa telah menggunakan susunan kata sesuai dengan yang sudah ia pelajari dan cukup kuasai dalam waktu dekat masih kurang dipahami oleh orang yang sedang ia ajak bicara saat ini, ada Gadis yang akan memberikan penjelasan ulang tentang maksud perkataannya. “Baik, jika memang, anda memahami, ucapan saya, berarti kita dapat melanjutkan.. pembicaraan kita..” kata Garret lagi.


“Saya kenal dengan Pak Baskoro,” Bapak Kepala Desa kemudian berujar setelah Garret berkata barusan itu. “Seluruh orang di kampung ini tau siapa dia. Tapi saya pribadi hanya sekedar mengenal Pak Baskoro sebagai Tuan Tanah disini, sekaligus suka meminjamkan uang pada warga saya.”


***


Garret mengangguk setelah mendengar penuturan sang Kepala Desa--setelah sehabis bicara sang Kepala desa menanyakan pada Garret selepas memandang pada Gadis sebelumnya, semata-mata ingin memastikan apakah Addison memahami perkataannya barusan—sama seperti apa yang Garret lakukan dan tanyakan sebelumnya pada sang kepala desa tersebut.


“Kamu kenal sama Pak Baskoro, Dis?” celetuk dari istri sang Kepala Desa, dan Gadis langsung menggeleng serta menyanggah dugaan istri Kepala Desa tersebut.


Lalu Gadis mengatakan pada yang bersangkutan, apabila sebenarnya dia hanya mengantar saudara suaminya saja ke sini, tanpa sebelumnya tahu maksud dan tujuan Garret datang ke desanya itu.


“Aku hanya tau dia rentenir saja, Bu, Pak. Dan hanya sekali bertemu, waktu dia datang ke rumah bapak dan ibuku karena ada urusan dengan ibu tiriku. Selebihnya aku tidak terlalu mengenalnya,” jawab Gadis.


***

__ADS_1


“Jadi maksudnya Tuan Ge..rret.. bertanya tentang Pak Baskoro itu, ada apa ya?..”


Sang Kepala Desa lanjut bicara seraya bertanya pada Garret selepas Gadis berbicara.


“Apa Tuan ini kenalannya beliau?.. tapi, sebelumnya, apa Tuan tahu, kalau Pak Baskoro itu sudah meninggal?”


Sang kepala desa kembali bertutur seraya bertanya pada Garret.


Dan Garret menyeringai dalam hatinya, sambil ia membatin. ‘Of course I know he’s dead ( Tentu saja aku tahu dia sudah mati! )’


Senyuman miring nan amat samar kemudian tersungging di bibir Garret.


‘Even know before far time before everyone know ( Bahkan tahu jauh waktu sebelum semua orang mengetahuinya )—‘


Dan senyuman miring nan samar Garret tentunya sarat arti.


Karena bagaimana Garret tidak tahu lebih dulu dari semua orang yang pada akhirnya melihat kebakaran di rumah pria bernama Baskoro--sekaligus pemiliknya yang terbakar di dalam rumah tersebut bersama para tukang pukulnya, karena semua itu terjadi karena ulahnya bersama Putra-Damian dan Addison.


“Gar?..”


Suara lembut Gadis yang menyebut panggilannya, membuat Addison langsung terkesiap. “Yes, Gadis?..” jawab Garret.


“Apa kamu mengerti yang Pak Firman tanyakan tadi?—“


“Ah ya. About whether me who know the man name Baskoro or not? ( Ah iya. Tentang aku yang mengenal pria bernama Baskoro itu atau tidak? )—“


“Iya, Gar..”


***


“I don’t know him,” kata Garret setelah Gadis menjawabnya.


“Garret bilang, dia tidak kenal dengan Baskoro itu.”


Gadis menerjemahkan ucapan Garret yang menggunakan Bahasa Inggris itu kepada sang Kepala Desa berikut istrinya.


“Duh hebat kamu ya, Dis. Jago bahasanya orang londo! Ga sia-sia kamu pergi dari sini. Terus pulang udah jadi orang kaya, sama punya suami londo ganteng begini.”


***


“Tadi kan aku sudah bilang kalau Garret ini saudaranya suami aku. Bukan suami aku, Bu.”


Lalu Gadis menyergah ucapan istri Kepala Desa itu dengan tutur yang santun. Seperti memang sikap Gadis pada orang lain selalunya.


Istri Kepala Desa itu pun langsung cengengesan. “Oh iya, ya. Lupa Ibu, Dis—“


“Terus suami kamu mana, Dis? Kok engga ikut?..” Kepala Desa jadi menyambar bertanya pada Gadis.


Dan Gadis kembali menerbitkan senyum lembutnya, sebelum ia menjawab pertanyaan sang Kepala Desa itu.


“Suamiku sedang ada di urusan di luar negeri, Pak. Makanya tidak bisa ikut dari kemarin, karena belum kembali.”


Kepala Desa dan istrinya ber oh ria saja. Berikut juga menyertakan kembali pujian pada Gadis. “Ya udah kalo gitu, kembali ke tadi itu soal Pak Baskoro.”


Lalu setelahnya, sang Kepala Desa kembali berujar sambil memandang pada Garret.


***


“Kalau tidak kenal, kenapa Tuan tanya soal Pak Baskoro, ya?”


Sang Kepala Desa lalu bertanya pada Garret yang memahami maksud pertanyaan sang Kepala Desa itu pun segera menjawab.


“Ada urusan tertunda saya, dengan pria bernama Baskoro itu, yang ingin saya tuntaskan dengan segera..”


“Kalau saya boleh tau, urusan apa itu ya, Tuan?..”


“Untuk hal itu, akan saya beritahukan, jika anda, bisa melakukan permintaan saya..”


“Apa itu, Tuan?—“


“Berikan saya, daftar orang – orang di daerah ini, yang memiliki hutang.. pada pria bernama Baskoro itu, terutama mereka, yang telah meng-gadaikan surat – surat penting mereka, pada pria itu.. Selanjutnya anda akan tahu bagaimana, ketika saya telah - menerima daftar orang - orang itu..”


***

__ADS_1


Garret tak lama berada di dalam rumah Kepala Desa di daerah kelahiran Gadis itu.


Karena setelah mengatakan apa yang menjadi alasannya datang ke desanya Gadis tersebut, Garret langsung mengajak Bruna, Gadis berikut Anthony untuk beranjak dari sana.


Namun karena Anthony merengek ingin berjalan – jalan ke persawahan yang menarik minatnya dari sejak datang, Garret – Bruna dan Gadis, tidak menyegerakan untuk masuk mobil dan kembali ke villa mereka. Ketiga orang tua angkat Anthony itu, tentunya tidak setegas Putra untuk memberi penolakan pada Anthony, jika memang Putra tidak berkenan. Atau kondisi memang tidak sedang memungkinkan.


Tapi seringnya sih, jika tidak membahayakan atau menyangkut kesenangan Anthony, Putra pasti mengabulkan apapun permintaan Anthony. Selain rasa tak tega untuk mengecewakan Anthony.


Dan seperti itu pula yang dirasakan Gadis, Bruna dan Garret saat ini.


Sulit untuk menolak keinginan Anthony untuk main di persawahan, meskipun akan ada resiko jika pakaian Anthony menjadi sangat kotor.


Bukan masalah besar. Pikir Gadis, Bruna dan Garret—yang langsung mengiyakan permintaan Anthony untuk main ke satu persawahan tersebut, dengan ditemani juga oleh Kepala Desa dan istrinya.


***


“Kamu ini Dis, nikah kok Ibu sama Bapak ga diundang?..”


Istri Kepala Desa yang kini sedang berdiri berhadapan dengan Gadis itu angkat suara, setelah memperhatikan Anthony dan Addison yang sedang turun ke area persawahan.


“Maaf, Bu. Aku ga ada maksud begitu. Mendadak soalnya. Dan lagipula aku dan suamiku memang tidak mengadakan pesta pernikahan yang bagaimana-bagaimana..”


“Tapi kan suami kamu kaya, Dis? Kok ga bikin pesta besar-besaran?..”


Gadis tersenyum saja menanggapi celetukan istri Kepala Desa itu, namun tak lama setelahnya Gadis berkata, “Suamiku sibuk, Bu. Dan lagi juga aku tidak merasa sebuah pesta yang meriah itu penting—“


“Kamu Dis, engga berubah meskipun udah jadi orang kaya sekarang. Tetep rendah hati,” tukas sang istri Kepala Desa.


“Terima kasih, Bu.”


Gadis menjawab santun seraya tersenyum.


***


“Bu Inu sama Madya juga ga tau kamu udah nikah dong ya, Dis?”


Istrinya Kepala Desa itu berkata lagi, lalu Gadis sejenak terdiam. Kemudian Gadis menarik sudut bibirnya, menggeleng didetik berikutnya. “Engga, Bu. Dari sejak aku pergi dari sini, aku udah ga pernah berkomunikasi dengan mereka lagi..”


Istri Kepala Desa itu manggut – manggut setelah mendengar penuturan Gadis.


“Karena kamu bawa kabur uang dan perhiasan mereka ya, Dis?” lalu istri Kepala Desa itu bicara lagi, dimana Gadis langsung terkejut mendengarnya.


“Aku – apa, Bu?..” gugu Gadis dengan ekspresi keterkejutannya.


“Iya, Bu Inu sama Madya cerita ke Ibu dan Bapak soal kamu yang pergi dengan membawa uang dan perhiasan mereka yang harusnya buat bayar utang judi almarhum bapak kamu yang pinjem duit sama Pak Baskoro, karena mau nebus surat tanah mereka yang digadaikan almarhum bapak kamu ke Pak Baskoro itu ..”


“Itu ga benar, Bu ..”


“Ya Ibu sih percaya sama kamu, Dis. Tapi waktu mereka berdua ngadep Ibu dan Bapak, muka mereka ketakutan gitu karena udah ditungguin sama tukang pukulnya Pak Baskoro. Jadi susah juga kalo ga percaya sama mereka—“


***


“Lalu apa kabar mereka, Bu?” tanya Gadis yang sempat terdiam sesaat.


“Jauh dari baik, Dis. Setau Ibu sih, kalo kata Idah – mantu Ibu yang kerja di Puskesmas itu, ibu tiri kamu punya penyakit asma. Jadi seringa bolak – balik periksa, karena kalo kecapean kerja di sawah atau kebun – asmanya kambuh.”


Gadis lalu terdiam tertegun.


“Kamu ga ada niatan mau nemuin mereka mumpung kamu disini, Dis? Sekalian menyelesaikan, kalo emang sebelum kamu pergi dari sini dulu, kalian ada masalah.”


Istri kepala Desa itu berujar seraya bertanya, namun Gadis tidak langsung menjawabnya.


“Nanti aku pikirkan dulu, Bu .. soalnya—“


“Gadis?..” namun sebelum Gadis menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara perempuan terdengar memanggil Gadis dari belakangnya.


“Sari?—“


“Ya ampun, Dis! Kamu kemana aja?! Uwa tuh nyariin kamu udah lama sampe sakit – sakitan saking mau minta maaf sama kamu—“


“Aku—“


“Hayu atuh Dis pulang terus temuin Uwa—“

__ADS_1


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


To be continue..


__ADS_2