LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 42


__ADS_3

Happy reading ..


******************


“A - sk Gadis to stay with me in our house here before we go ( Min – ta Gadis untuk tinggal bersamaku di rumah kita yang ada disini sebelum kita pergi )”


“Heeemm??????”


Mata Putra langsung membelalak selepas mendengar permintaan Anthony.


 “Wh – at did you say? (Ka – mu bilang apa barusan?)”


Putra rasanya tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Sementara Danny spontan terkekeh.


Dan Putra melirik jengkel pada Danny. Kemudian kembali lagi pada Anthony.


“I - will miss her (Aku – akan merindukannya). S – o before we are going back to our house before, Gadis can stay with us right? (Ja – di sebelum kita semua kembali ke rumah kita sebelumnya, Gadis bisa tinggal bersama kita dulu


kan?)”


Dengan polosnya Anthony berucap.


Membuat  Putra mengusap tengkuknya atas permintaan Anthony. “Ca-n you Papa? As-k Gadis to stay with us before we go? (Bi-sa tidak Papa? Min-ta Gadis tinggal bersama kita sebelum kita pergi?)”


“Eum ...”


“Ca-n you? (Bi-sa tidak?)”


Putra serba salah. Permintaan Anthony yang ia rasa tidak masuk akal itu membuatnya pusing sendiri.


“Anth ..” Putra mengusap sayang kepala Anthony. “I’m so sorry if what I will say probably dissapoint you (Aku minta maaf jika apa yang akan aku katakan ini mungkin akan mengecewakanmu)”


“.....”


“But Anth, we can’t ask Gadis for that”


“(Tetapi Anth, kita tidak bisa begitu saja meminta Gadis untuk melakukan itu)”


“W-hy? (Ke-napa?)” Tanya Anthony dengan polosnya. Putra menyunggingkan senyum teduhnya.


“Look, Gadis must be has a family. Has her own home. That is also not polite if we ask her like that. Beside, we just known her”


“(Begini, Gadis pasti memiliki keluarga. Memiliki rumahnya sendiri. Dan lagi tidak sopan juga kita harus bertanya seperti itu padanya. Lagipula, kita juga baru mengenalnya)”


“B-ut Gadis is so nice (Te-tapi Gadis itu sangat baik)” Ucap Anthony polos.


“She is (Iya memang)” Putra pun mengangguk pasti.


“Then? (Lalu?)”


“Same with what Gadis means to us, new person around us. That’s how the way us for her. You understand what I mean, hem?”


“(Sama seperti halnya kita menganggap Gadis adalah orang baru didekat kita, begitu juga yang ia rasa pada kita. Kamu paham maksudku, hem?)”


Putra menjelaskan pelan – pelan pada Anthony. Memilah kata yang sekiranya dapat dicerna oleh Anthony.


Namun Anthony menggeleng. Membuat Putra sedikit meringis. Memikirkan lagi kata – kata yang bisa Anthony lebih pahami.


“Gadis just known us, if we ask her to stay with us, I’m afraid that she will feel offended. You don’t want if Gadis feel like that to us, don’t you?”


“(Gadis baru saja mengenal kita, jika kita bertanya apakah dia mau tinggal dengan kita, aku khawatir jika dia akan tersinggung nanti. Kamu tidak ingin dia merasa seperti itu pada kita, bukan?)”


“.....”


“A little bit not polite”


“(Sedikit kurang sopan)”


“.....”


“You don’t want Gadis avoiding you because she feel offended, right?”


“(Kamu tidak ingin Gadis menjauhimu karena ia merasa tersinggung, bukan?)”


Anthony menggeleng.


Putra tersenyum sembari mengusap kepala Anthony lagi.


“I know you are a good Boy (Aku tahu kau anak baik)” Ucap Putra


Anthony ikut tersenyum, termasuk juga Danny.


“Don’t be sad (Jangan bersedih), ya?” Ucap Putra lagi. “I promise that I will still to take you to meet Gadis every week (Aku janji kalau aku akan tetap membawamu untuk menemui Gadis setiap minggunya)”


“Re-ally Papa?... (Be-narkah Papa?)..”


Putra mengangguk dengan tersenyum.


“Bu-t can I ask Gadis to accompany me everyday before we leave?”


“(Ta-pi bisakah aku meminta Gadis untuk menemaniku setiap hari sebelum kita pergi?)”


Putra tidak langsung menjawab. “I am not sure that she had a lot of time to spend with you (Aku tidak yakin jika ia memiliki banyak waktu untuk bersamamu)”


“Wh-y? (Ke-napa?)”


“She is working, remember?. Beside...”

__ADS_1


“(Dia kan bekerja, ingat?. Lagipula...)”


Putra menggantungkan kalimatnya.


"Be-side what, Papa? (La-gipula apa, Papa?)"


“Beside, Gadis is an aspiring nun. So I guess that she has some rules to obey?”


“(Lagipula, Gadis itu calon biarawati. Jadi aku pikir ada beberapa peraturan yang harus ia patuhi)”


“Wh-at is.. aspiring nun? (Apa itu calon biarawati?)”


“A God servant (Pelayan Tuhan)”


Anthony manggut – manggut,


‘Even I really wish she won’t (Meski aku sangat berharap dia tidak akan)’


***


Danny sudah memarkirkan mobilnya di halaman Rumah Sakit. Lalu ketiganya langsung keluar dari mobil dan memasuki area Rumah Sakit. Anthony meminta untuk tidak digendong, maka Putra mengabulkannya.


Namun Putra tetap menggandeng tangan Anthony saat berjalan.


“Ma-y I walk by myself, Papa? ..... (Bo-lehkah aku berjalan sendiri, Papa?).....”


“Yes, sure” Sahut Putra. “But don’t run or walk too fast (Tetapi jangan berlari atau berjalan terlalu cepat)”


“Ye-s, Papa (I-ya, Papa)” Anthony menganggukkan kepala.


***


Putra dan Danny tersenyum saja melihat Anthony yang berjalan didepan mereka dengan semangat menuju ruang khusus perawat.


“Anth really likes that nurse (Anth benar – benar menyukai perawat itu)” Ucap Danny dan Putra manggut – manggut.


“He is”


“Don’t you want to consider it? (Tidakkah kau mau mempertimbangkannya?)”


“Consider about what? (Mempertimbangkan tentang apa?)”


“To get a little bit closer with that nurse (Untuk mendekati perawat itu)”


Putra terkekeh kecil.


“How can I try to get closer with an aspiring nun?”


“(Bagaimana aku bisa mendekati calon biarawati?)”


“How if she is not an aspiring nun? (Bagaimana jika ia bukan seorang calon biarawati?)” Danny balik bertanya.


“Since when you have become a Want To Know person, hem? (Sejak kapan kau menjadi orang Yang Sangat Ingin Tahu, hem?)”


“But you have fond of her don’t you? (Tetapi kau menyukainya iya kan?)”


Putra tak menjawab pertanyaan Danny yang merupakan ledekan baginya itu.


“Silence means yes (Diam berarti iya)”


“Mind your own business (Urus urusanmu sendiri)”


Danny terkekeh lagi.


***


“By the way, Putra (Ngomong – ngomong, Putra)” Ucap Danny.


Putra hanya menjawab dengan hem – man saja.


“You really don’t want continue Anth consultation with Doctor Ilse? (Kau benar – benar tidak ingin melanjutkan sesi konsultasi Anth dengan Dokter Ilse?)”


Pertanyaan Danny membuat Putra memelankan langkah. “I think Anth don’t need that anymore now (Aku pikir Anth sudah tidak membutuhkannya lagi sekarang)” Sahut Putra.


“Ya you were right (Ya kau benar)” Danny manggut – manggut.


“Beside, last time I met her she made me a little bit upset of the way she treat Anth (Lagipula, terakhir aku bertemu dengannya dia membuatku sedikit kesal atas sikapnya pada Anthony)”


Danny manggut – manggut.


“And if Anth need consultation, I think Nurse Gadis is more suit for Anth (Dan jika memang Anth butuh konsultasi, aku pikir Suster Gadis itu lebih cocok untuk Anth)”


Putra mengangkat alisnya pada Danny hingga membuat Danny spontan terkekeh. “See, you really fond of that nurse (Lihat, kau itu memang menyukai perawat itu)” Celetuk Danny.


“Hahahaha! ..” Putra tergelak sembari mempercepat langkahnya untuk mengejar Anthony yang mulai berlari saat sudah hampir sampai ke ruangan khusus perawat tempat Gadis biasa berada.


***


Putra mengembangkan senyum tampannya secara otomatis pada seorang wanita yang berjalan dari luar ruangan sambil menggandeng Anthony. Senyum Putra makin mengembang saat wanita itu balas tersenyum padanya. Danny meledek dengan dehemannya.


“Selamat siang Tuan Putra, Tuan Danny”


“Selamat siang Nona Gadis” Sahut Danny


“Apa kabar?”


“Kabarku baik” Sahut Danny “Tuan Putra bahkan lebih baik lagi”


Dan sukses membuat Putra mendelik padanya. Sementara Gadis hanya tersenyum saja.

__ADS_1


“Aku pikir kemarin kita sudah sepakat untuk saling memanggil nama”


Putra berbicara.


“Ah, iya saya lupa”


“Juga menggunakan aku”


Gadis terkekeh kecil. “Itupun lupa”


“Aku maafkan”


Gadis terkekeh lagi.


Putra kembali mengembangkan senyumnya.


“Mari”


Putra mengajak Gadis untuk berjalan. Dan Gadis pun langsung mengangguk dan kemudian ia mengambil langkah duluan bersama Anthony. Putra dan Danny mengekori di belakang Anthony yang digandeng Gadis.


Anthony nampak sekali terlihat senang bertemu lagi dengan Gadis. Terlihat tangannya yang tertaut dengan tangan Gadis itu diayunkan kedepan dan belakang saat dia berjalan dengan Gadis. Entah siapa yang mengayunkan tangan tersebut, yang jelas ada harap yang muncul dalam hati seseorang untuk menggandeng tangan perawat yang sedang berjalan dengan Anthony tersebut.


“I know you are thinking about hold her hand (Aku tahu kau sedang berpikir untuk memegang tangannya)”


Danny mulai lagi dengan ledekannya pada Putra.


“Nosy (Usil)”


“Hahaha!!”


“Putra ..” Putra sontak menghentikan langkahnya saat Gadis berhenti berjalan dan berbalik menghadapnya.


“Ya?”


“Kita mau makan dimana?”


“Kamu yang menentukan saja”


“Masa aku terus yang menentukan?”


“Aku kan belum mengenal sekali kota ini, termasuk tempat – tempat yang sekiranya bagus untuk dikunjungi, termasuk Restoran”


“Sepertinya anda .....”


“Kamu”


“Maaf, belum terbiasa”


“Maka biasakanlah”


Gadis mendengus geli namun kemudian ia mengangguk.


“Iya”


“Bukankah kamu seharusnya mendampingi Dokter Retno untuk memeriksa pasien Suster Gadis?”


Sebuah suara membuat Gadis yang tadinya berbicara dengan Putra menoleh ke sumber suara tersebut.


“Dokter Ilse, selamat siang”


Gadis menyapa dengan ramah dan sopan pada Ilse yang sudah berdiri dihadapannya itu.


Namun Ilse mengabaikan sapaan Gadis.


“Putra .. how are you (Apa kabarmu?)”


Ilse melemparkan senyumnya pada Putra.


“I'm good, Thank you” Sahut Putra sewajarnya.


Ilse masih mempertahankan senyumnya, lalu berjongkok dihadapan Anthony.


“Hi Anthony. How are you? (Hai Anthony. Apa kabarmu?)” Ilse bertanya dengan sangat lembut pada Anthony, namun sayangnya bocah tersebut tidak menjawab sapaan Ilse.


“Anthony, Doctor Ilse asked you (Anthony, Dokter Ilse bertanya padamu)”


“....”


“You have to answer her (Kamu harus menjawabnya)”


“Gadis were right Anth, you need to answer when someone asked you”


“(Gadis benar Anth, kamu harus menjawab saat seseorang bertanya padamu)”


Putra ikut menimpali.


“I-m good... (A-ku baik ..)”


“Glad to hear it ... (Senang mendengarnya)”


Anthony melengoskan wajahnya dari Dokter Ilse. Membuat Dokter itu sekilas nampak kecewa, namun tetap menarik sudut bibirnya.


Lalu Ilse kembali berdiri.


“Ga-dis... can we go now? (Ga-dis... bisa kita pergi sekarang?)”


“Su... (Ten...)”


“I’m afraid she can’t (Aku rasa dia tidak bisa)”

__ADS_1


***


To be continue ..


__ADS_2