
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia,
“Hati – hati Gadis! Perhatikan keselamatanmu!”
Putra berseru tajam kepada Gadis karena istrinya itu menuruni tangga villa dengan tergesa.
Dan Putra menilainya tidak hati – hati.
Membuat Putra yang sedang sangat geram pada saudari tiri istrinya itu karena tingkah dan tertangkap basah oleh Putra berusaha menjebak Putra, bertambah geramnya melihat Gadis yang menuruni tangga villa dengan tidak hati – hati dalam pandangan Putra itu.
Walau geram Putra pada Gadis tidak seserius kegeramannya pada Madya.
Putra yang berseru itu karena sedikit terkejut mendengar seruan Bruna dan keluarganya yang lain saat Gadis melangkah turun dari lantai atas.
Semata – mata karena Putra khawatir jika Gadis akan terjatuh lagi, meskipun tidak jatuh dari ujung lantai atas seperti sebelumnya.
Apalagi keadaan Gadis yang Putra tahu masih belum stabil akibat keguguran. Makanya Putra sedikit geram pada istrinya itu. Membuat Gadis yang menyadari sorot tajam Putra, juga ekspresi kesal yang nampak di wajah suaminya itu sambil memandang padanya -- menjadi gugup seketika.
Dimana Gadis langsung meminta maaf dengan agak melirih dan terbata.
Serta takut – takut memandang pada Putra yang sebelumnya sambil suaminya itu berseru, sudah bergerak cepat untuk menyambangi Gadis yang Putra tangkap dengan tangkas tubuhnya.
Setelah Putra dengan cepat menghempaskan Madya dari cengkeramannya dan memberi perintah pada para bodyguard yang sudah berkumpul karena mendengar misuh – misuh suara Putra yang memang sangat keras itu, agar ada yang memegangi Madya.
Gadis yang berada dalam rengkuhan Putra dimana tangan Putra memegangi pinggang Gadis dengan cekatan itu, kemudian teralih dengan suara lirihan Madya yang mencoba memohon pada Gadis agar membantunya.
“Tapi ini ada apa, Putraaa???..“ Gadis yang sempat melirik Madya dengan prihatin itu kemudian memberanikan dirinya untuk bertanya pada Putra yang nampak sangat geram sekarang. Karena pertanyaan Gadis yang sepintas lalu sambil ia menuruni tangga kala Putra berseru padanya dan memberikan peringatan agar Gadis berhati-hati.
****
“BAWA KELUAR IBU DARI J*LANG INI BERIKUT BARANG – BARANG MEREKA!” alih – alih menjawab Gadis, Putra berseru lagi dengan kencangnya.
Sampai suara Putra itu menggema di lantai bawah villa tempatnya berada sekarang. Membuat orang – orang yang ada di sekitarnya lumayan terkaget, bahkan sampai mengendik.
“Ba – baik, Tuan..”
Yang menjawab adalah para pekerja yang sedikit tergagap menjawab Putra.
Lalu beberapa dari mereka langsung bergerak cepat untuk melaksanakan perintah Putra.
Para asisten rumah tangga, langsung mengikuti Pak Abdul yang paling cepat undur diri untuk melaksanakan perintah Putra tersebut.
Sementara dari kubu bodyguard, dua orang mengikuti langkah Pak Abdul dan para asisten rumah tangga, ketika mereka mendapat kode mata dan gerakan kepala dari Arthur.
Dimana pria itu juga sudah datang buru - buru ke tempat Putra berada, begitu juga Devoss – saat mendengar suara Putra yang berteriak memanggil Pak Abdul, kala Arthur dan Devoss memang sedang berada di ruang kerja lantai bawah villa.
****
“Putraa.. jawab aku ini ada apaa???..“ lepas para pekerja telah bergegas untuk melaksanakan perintah kerasnya Putra, Gadis kembali bersuara.
Dan suara Gadis yang bertanya dengan melirih itu, membuat Putra yang tadinya sedang menatap tajam ke arah para pekerjanya yang bergerak tergesa untuk melaksanakan perintahnya, langsung menoleh kepada Gadis.
Lalu didetik berikutnya Putra langsung bersuara menjawab pertanyaan Gadis yang wajahnya nampak panik serta juga bingung.
“Saudari tirimu yang menjijikkan ini telah mencoba menggodaku –“
“A.. pa?..“
Gadis langsung menukas dan langsung terperangah setelah mendengar jawaban Putra.
****
“Bahkan dia memasukkan obat yang aku terka adalah obat perangsang ke dalam kopiku!” Putra segera lagi berbicara kala Gadis terperangah untuk yang pertama kalinya. Dimana setelah Putra mengatakan kalimatnya barusan, Gadis terperangah untuk yang kedua kalinya.
Gadis menggeleng tak percaya sambil menutup mulutnya. Memandangi Putra sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Madya yang sudah tidak lagi meronta dan histeris minta dilepaskan akibat dipegangi dengan kuat oleh satu bodyguard mereka.
__ADS_1
Bahkan Madya dipaksa dan ditahan untuk bersimpuh.
Dan saudari tiri Gadis itu sudah menangis sambil melirih memohon ampun.
Juga meminta Gadis untuk menolongnya.
****
“Benarkah itu Madya? –“
“Hanya satu persen penjahat yang akan mengakui kejahatannya jika sedang diadili,” sambar Putra saat Gadis bertanya pada Madya terkait ucapannya yang mengatakan apa yang telah diperbuat saudari tirinya itu hingga Putra jadi begitu geram.
Gadis langsung terdiam.
“Dan kau hanya penjahat bodoh yang mencampurkan obat murahan yang juga sama murahannya seperti dirimu ke dalam minuman yang terdeteksi hanya dengan melihat warnanya saja.”
Putra kembali berujar sambil menunjuk Madya.
Lalu Bruna dan Garret serta juga Arthur dan Devoss yang mendengar dan memahami ucapan Putra dalam bahasa Indonesia itu menggelengkan kepala mereka.
Rasa prihatin mereka pada Madya, berubah menjadi penilaian yang rendah pada Madya – karena baik Bruna, Garret Arthur dan Devoss – tahu betul jika ucapan Putra bukanlah sekedar ucapan saja.
“How dare ( Berani sekali )..” Bruna bergumam sinis, sambil juga memandang sinis pada Madya. Termasuk juga Devoss yang ikut bergumam bersamaan dengan Bruna.
“No wonder mister Putra treat her like that ( Tidak heran Tuan Putra memperlakukannya seperti itu )”
“Huum.” Arthur yang mendengar gumaman Devoss itu bergumam mengiyakan apa yang Devoss katakan dalam gumamannya.
“Kamu meragukan ucapanku?” ucapan Putra pada Gadis yang ia pandangi saat Bruna dan Devoss sama menggumam. Tidak meninggi, namun ucapan Putra pada Gadis yang berupa pertanyaan itu terkesan dingin.
Gadis langsung menggeleng gugup selepas Putra bertanya seperti itu padanya.
“A-ku percaya padamu..” ucap Gadis kemudian dengan tergugu. “Aku hanya –“
“LEPAS AKU BILANG!” Suara seruan kencang memotong ucapan Gadis yang hendak melanjutkan perkataannya pada Putra.
Membuat mereka yang mendengar seruan kencang dari seorang wanita itu spontan mengalihkan pandangannya ke arah seruan itu berasal.
Lalu dibelakang ibunya dan dua pria berbadan kekar itu, ada para asisten rumah tangga villa yang dua diantaranya membawa sebuah tas di masing-masing tangannya.
****
“MADYA!” ibu tiri Gadis langsung saja memekik setelah ia mendapati anak perempuannya yang wajahnya sudah amat basah serta juga memelas dengan posisi Madya yang sedang dipaksa dan ditahan untuk bersimpuh.
“Ibuu..”
Madya lalu melirih merengek pada ibunya yang langsung melotot dan mencecar tajam pada Gadis.
“DIS INI APA-APAAN?! KURANG AJAR KAMU-AKHH! –“
Sayangnya, cecaran ibu tiri Gadis pada istri Putra itu terhenti karena tangan Putra sudah berada di lehernya.
“IBUU!! –“
“PUTRA!”
Yang mana tindakan Putra itu sontak membuat Gadis dan Madya berseru memekik secara spontan.
“JAGA UCAPANMU PADA ISTRIKU JIKA TIDAK MAU KUPOTONG LIDAHMU!” Peringatan keras dari Putra keluar dengan geram dan menggelegar dari mulutnya saat satu tangan Putra sudah mencengkeram leher ibu tiri Gadis. Mengabaikan seru pekikan Gadis dan Madya.
Baru setelah Gadis melirih dan menyergah Putra sambil memegangi tangan Putra yang sedang mencengkeram leher ibu tiri istrinya itu, serta juga suara Gadis yang memelas memohon agar Putra membebaskan ibu tirinya tersebut dari cekikan – Putra melepaskan cengkeraman tangannya dari leher ibu tiri Gadis.
“Uhuk! Uhuk!”
Ibu tiri Gadis terbatuk sambil memegangi lehernya setelah Putra melepaskannya.
“TENDANG MEREKA KE JALANAN SEKARANG JUGA!” suara Putra yang menggelegar terdengar lagi, saat ia melepaskan cekikannya pada leher ibu tiri Gadis.
“Baik Tuan Putra,” para bodyguard yang lekas menjawab Putra dengan sigap. Sementara para asisten rumah tangga hanya diam menunduk.
__ADS_1
****
“Dis, tolong, Dis ...” Ibu dan saudari tiri Gadis sama melirih ketika mereka sudah dipaksa dengan ditarik oleh empat orang bodyguard Putra dan keluarganya, dimana per dua bodyguard memegangi tangan kedua wanita itu di masing – masing sisinya – dan dua asisten rumah tangga yang masing – masing memegangi tas yang merupakan milik ibu dan saudari Gadis--mengekori para bodyguard yang sedang menyeret dua wanita itu menjauh dari hadapan Putra.
Gadis yang percaya pada ucapan Putra tentang apa yang sudah Madya lakukan hingga Putra menjadi geram seperti sekarang, tetap merasa iba kepada dua orang yang ia kenal itu—karena pernah hidup bersama, meski keduanya kerap kali bersikap seenaknya pada Gadis, bahkan semena-mena—namun sikap si ibu tiri saat bertemu Gadis yang sudah melupakan sikap keduanya dimasa lalu, membuat Gadis percaya jika keduanya telah berubah, hingga sekarang melihat ibu dan saudari tirinya disuruh pergi dari villa dengan cara yang menyedihkan—membuat Gadis merasa iba.
“Putra—“
“Jauhkan mereka dari kediaman ini dan jangan sampai mereka kembali atau mendekat! Tinggalkan saja mereka di jalanan! Dan jangan sampai aku tahu ada dari kalian yang menolong mereka!”
Putra keburu bicara saat Gadis hendak berkata padanya.
“Dis tolong! Ini pasti ada salah paham! Iya kan, Madyaa?—“
“Iyaa Diis ... suamimu hanya salah paham—“
“Saudari tirimu sudah bersikap macam ****** kepadaku saat di ruang kerja utama tadi bahkan sudah berniat memberikanku obat perangsang. Kau mau percaya mereka yang mengatakan ini sebuah kesalahpahaman?—“
“Aku—“
“Kau tidak perhatikan pakaian saudari tirimu yang macam pelacur itu?!“ tukas Putra setengah menggeram dan merendahkan Madya dengan sangat.
“Aku percaya pada kamu, Putra—“
“Lalu mengapa kamu memandangiku seperti tadi???”
“Tapi setidaknya katakan pada tukang pukul kamu jangan memperlakukan ibu dan Madya sekasar itu—“
****
“Lagipula, di jam seperti ini diluar sudah cukup gelap ... jika kamu mengusir mereka sekarang, daerah di sini sudah sangat sepi dan membahayakan—“
“Aku tidak peduli.”
Putra menukas cepat ucapan Gadis.
“Tutup pintunya itu. Aku muak mendengar suara mereka.”
Lalu dengan cepat juga Putra berkata lagi memberikan perintah.
Dimana Devoss yang juga paham bahasa Indonesia itu, yang kemudian berinisiatif melangkah untuk melakukan perintah Putra.
Karena Pak Abdul dan dua asisten rumah tangga lainnya sedang menemani para bodyguard untuk membawa ibu dan saudari tiri Gadis keluar dari villa.
Lalu dua asisten rumah tangga lainnya, telah diminta Pak Abdul untuk standby di dapur—guna menyiapkan makan malam yang sudah mulai harus menata meja makan yang akan digunakan oleh para majikan mereka.
Berikut orang-orang yang dipersilahkan duduk bergabung bersama para penghuni inti villa Putra dan keluarganya tersebut, yakni Arthur dan Devoss.
****
“Tidak ada kabar tentang penemuan dua jasad semalam. Jadi aku rasa dua wanita yang seharusnya tidak pernah kamu ajak ke tempat tinggal kita itu sudah duduk manis di rumah mereka sekarang.”
Putra berkata datar ketika ia sudah berada di dalam mobil bersama Gadis di sampingnya pada kursi penumpang pada keesokan harinya.
“Dan berhenti mengkhawatirkan dua orang yang tak pantas kamu pikirkan itu.”
Putra lanjut berkata setelah Gadis tak lagi nampak gelisah di sampingnya sambil seringkali menoleh ke arah belakang kaca mobil yang sedang ia tumpangi bersama Putra dan hendak pergi ke rumah sakit.
Gadis kemudian terpaku sambil tertunduk dalam duduknya.
“Maaf ...” ucap Gadis kemudian. “Tapi sekurang ajarnya Madya pada kamu, tidak perlu sampai mengusirnya dan ibu dengan cara yang hina seperti itu—“
“Tsk!” tukas Putra dengan berdecak. “Aku heran denganmu. Jelas-jelas waktu itu kamu bercerita padaku tentang betapa semena-menanya mereka padamu, tapi sekarang kamu malah peduli pada mereka—“
“Kan sudah aku katakan, saat aku bertemu ibu tiriku itu, dia bahkan tidak tahu kalau aku sudah menikah dengan seorang laki-laki kaya. Lalu dia memohon padaku untuk tinggal kembali bersamanya dan terlihat sedih saat aku menolak—“
“Heh,” tukas Putra lagi. “Terdengar seperti sebuah skenario bagiku.”
*******
__ADS_1
To be continue..