
Happy reading ...
Salisbury, Inggris
“I try my best to get back home soon ( Aku akan berusaha sebaik yang dapat aku lakukan untuk pulang dengan segera )....” gumam Putra.
Yang telah berada di dalam kamar pribadinya pada Mansion miliknya dan almarhum kedua orang tua Putra, selepas ia dan para saudara berikut orang-orangnya menyerbu sebuah markas organisasi kriminal berikut membantai habis semua orang yang berada di dalamnya hingga tidak ada satupun yang bernyawa.
Putra mengusap lembut wajah dua orang tercintanya dalam foto seraya ia tersenyum.
“But live well, if I never be home to both of you ( Tapi hiduplah dengan baik, jika aku tidak pernah bisa pulang pada kalian berdua ) ...”
Putra tersenyum lagi, sambil masih memandangi foto dalam pigura yang sedang ia pegang itu lalu mengusap pelan kaca yang melindungi foto di dalamnya.
“Love you both ( Mencintai kalian berdua ) ... That much ( Sangat ) ...”
**
“Did you sleep well, Boss? ( Apa tidur anda nyenyak, Boss? ) ...”
Thomas langsung menyapa Putra saat ia yang hendak turun ke lantai bawah berpapasan dengan Putra yang sudah juga nampak hendak pergi ke lantai bawah juga dimana Putra telah terlihat rapih kembali dan lumayan terlihat lebih segar, meski hanya mengenakan atasan rajut tebal dengan kerah halter neck dan celana panjang bahan.
“Not bad ( Lumayan ), Thom ...”
“Good to hear that, Boss ( Senang mendengarnya, Bos ) ...”
“And how about you? ( Dan bagaimana denganmu ), Thom? ...” gantian Putra yang bertanya pada Thomas.
“I sleep well too, Boss ( Aku juga tidur dengan baik, Bos ) ...”
“Good to hear it too ( Senang juga mendengarnya )” ucap Putra.
Lalu Putra dan Thomas bersama turun ke lantai bawah Mansion lama milik Putra dan almarhum kedua orang tuanya itu.
**
Sudah ada Garret di lantai bawah yang sedang berdiri di dekat jendela pada satu bagian dalam Mansion lama Putra. Dan Garret langsung menoleh ke arah sebelah kirinya saat ia mendengar derap langkah santai di telinganya. Kemudian Garret langsung saja menyapa dua orang yang kini sudah menghampiri dirinya itu.
“Seems that we can’t go anywhere right now ( Sepertinya kita tidak dapat kemana-mana sekarang ini )” ucap Garret pada Putra dan Thomas.
“I believe so ( Aku rasa seperti itu )”
Thomas mengiyakan.
“The blizzard is quite rush...”
“( Badai saljunya lumayan lebat )...”
Lalu Thomas kembali berbicara. Putra dan Garret manggut-manggut.
**
“Was Dev, Dami and Hiz woke up already? ( Apakah Dev, Dami dan Hiz sudah bangun? )”
Putra bertanya pada Garret setelah ia berikut Garret serta Thomas telah mengambil tempat untuk duduk di ruang keluarga dalam Mansion.
“Seems not yet ( Sepertinya belum ) ..”
Garret menjawab.
“I haven’t seen anyone when I get here, except your three maids ( Aku belum melihat siapapun saat aku turun kesini, selain tiga pelayanmu ) ..”
Garret lanjut bicara.
“And our bodyguards ( Dan para pengawal kita ) ..”
Kemudian Putra manggut-manggut setelah mendengar ucapan Garret.
“Have you eat ( Apa kau sudah makan? ), Gar?”
Putra lalu bertanya pada Garret yang langsung menggeleng santai.
“I’m waiting all of you ( Aku menunggu kalian semua )” jawab Garret.
“Let’s eat first then. I get hungry already ( Ayo kita makan duluan saja kalau begitu. Aku sudah merasa lapar ) ....”
“Okay ....”
Garret pun mengiyakan ajakan Putra untuk makan duluan meski Damian serta Devoss belum nampak keluar dari kamar mereka.
“Come ( Ayo ), Thom!” Ajak Putra pada Thomas.
“Yes Sir...” jawab Thomas.
***
“Were three of you have eat already? ( Apa kalian bertiga sudah makan? )” tanya Putra-saat ia berikut Garret dan Thomas telah berada di ruang makan dalam Mansion pribadinya dan almarhum kedua orang tuanya itu, pada tiga orang maid yang sebelumnya tidak tinggal dalam Mansion sebelum Putra datang.
Dan sekarang, ketiga maid tersebut diminta Putra untuk tinggal saja di dalam Mansion lama miliknya dan keluarganya itu.
__ADS_1
Dimana ketiga maid yang merupakan satu keluarga itu menyetujui permintaan Putra untuk tinggal di dalam Mansion tersebut, meskipun nantinya Putra akan lama tidak berada di sana.
“Three of us already eat Sir. Thank you for asking ( Kami bertiga sudah makan Tuan. Terima kasih sudah bertanya )” Salah satu maid yang berjenis kelamin pria itu mewakili dua orang lainnya yang merupakan istri dan anak perempuannya untuk menjawab pertanyaan Putra barusan.
“Good then ( Bagus jika begitu )”
Putra menanggapi, sembari ia mengambil tempat pada kursi meja makan yang telah ditarik oleh maid pria yang berusia paruh baya itu.
“Thank you ( Terima kasih )” ucap Putra.
“My pleasure Sir ( Dengan senang hati Tuan )”
Maid pria paruh baya itu menjawab ucapan terima kasih Putra padanya dengan sopan.
“Are they eat already too or not? ( Mereka sudah makan juga atau belum? )” tanya Putra pada maid yang bersangkutan, sambil menunjuk ke arah luar.
Dimana tadi Putra melihat beberapa anak buahnya seliweran di bagian luar bangunan utama Mansion.
“Already Sir ( Sudah Tuan ) ---”
Maid pria paruh baya itu pun langsung menjawab dengan sigap.
"All of them are already eat ( Mereka semua sudah makan )..."
“Good then.”
Putra menanggapi.
“Tell them for not staying quite long outside ( Katakan pada mereka untuk tidak terlalu lama berada di luar ) ---“
Lalu Putra berbicara lagi.
“For at least until the blizzard is calm ( Setidaknya sampai badai salju reda )”
Putra menyambung ucapannya. Dan maid pria paruh baya yang kini mulai melayani Putra, Garret serta Thomas yang hendak makan itupun mengangguk, menyahut mengiyakan.
“And give them everything what they need ( Dan berikan mereka apa yang mereka butuhkan ) .....”
Putra berbicara sambil memandang pada tiga maid yang sedang melayaninya, Garret dan Thomas saat ini.
“And that obtain to three of you also. Let me know if you three need anything ( Dan itu berlaku juga untuk kalian bertiga. Beritahu aku jika kalian bertiga membutuhkan sesuatu )....“
Putra berkata dengan ramah pada tiga maid - nya itu.
“Don’t be bashful to me ( Jangan merasa sungkan padaku )”
Tiga maid tersebut yang telah selesai menyajikan beberapa hidangan untuk Putra, Garret dan Thomas serta sekaligus melayani tiga orang pria tersebut sampai piring Putra, Garret dan Thomas telah terisi makanan, kemudian berdiri berjajar di dekat Putra.
Lalu dengan serempak, ketiga maid tersebut sedikit merundukkan tubuh dan kepala mereka di hadapan Putra.
“Thank you Mister Putra ...”
Ketiga maid tersebut menyahut dengan tulus.
“Thank you for your kindness since me and my wife worked here ... Your parents will be very happy if they were still here, to see how you become a gentleman right now, kindly righteous without seeing fur. ”
“( Terima kasih untuk kebaikan anda sejak aku dan istriku bekerja disini ... Orang tua anda pasti akan sangat bahagia jika mereka masih ada disini, melihat bagaimana anda menjadi seorang pria terhormat dan berbudi baik tanpa pandang bulu )”
Putra kemudian mendengus geli.
“I’m not that good ( Aku tidak sebaik itu ), Sam.”
Kemudian Putra berbicara. Dan tiga orang maid - nya itu pun tersenyum.
“Yes you are Mister Putra ( Anda memang sebaik itu Tuan Putra )” maid wanita paruh baya yang bersuara.
“Thank you, Carol ...” sahut Putra, setelah menarik sudut bibirnya dan tersenyum tulus. “Thank you for being patience to me long time ago while I was ‘sick’ ( Terima kasih sudah bersabar denganku dahulu saat aku sedang ‘sakit’ ) ...”
Putra berkata pada maid wanita paruh baya tersebut dengan menatapnya ramah, dan maid tersebut mengangguk seraya tersenyum lembut pada Putra.
“Hello everyone ( Halo semuanya )....”
Sebuah suara menginterupsi dari dekat pintu ruang makan yang terbuka lebar.
Suara Damian, dan ia, Devoss serta Hiz muncul bersamaan di ruang makan.
Membuat mereka semua yang berada di ruang makan sontak menoleh ke arah sumber suara.
“Mister Damian, Mister Devoss. Sir....”
Tiga maid yang sudah hafal siapa-siapa saja orang-orang inti yang berada disekeliling Putra itu langsung menyapa Damian serta Devoss berikut Hiz yang baru saja muncul di ruang makan tersebut.
Hanya ketiganya belum tahu nama Hiz, jadi kata ‘Tuan’ saja yang mereka ucapkan saat menyapa Hiz.
“His name is Hizkia ( Namanya Hizkia )” Putra lalu memperkenalkan Hiz pada tiga maid - nya tersebut.
Hiz tersenyum tipis, namun menampakkan keramahan pada ketiga maid Putra yang baru saja memberi hormat padanya dengan sedikit menundukkan kepala.
“Hello again....”
__ADS_1
Hiz menyapa ketiga maid tersebut, dimana yang dua telah ia temui saat dia datang semalam.
Namun Hiz tidak sempat memperkenalkan dirinya, karena ia langsung berbicara pada Thomas.
“This is Sam, Carol, and their daughter Carel ( Ini Sam, Carol dan anak perempuan mereka Carel )....”
Putra pun memperkenalkan tiga maid - nya itu pada Hiz. Yang ditanggapi Hiz dengan anggukkan seraya kembali menunjukkan senyum keramahannya.
Kemudian Hiz mengambil tempat seperti Damian dan Devoss pada salah satu kursi meja makan.
Dan ketiga maid tersebut segera melayani tiga orang pria yang baru saja bergabung itu untuk makan, seperti mereka melayani Putra, Garret dan Devoss sebelumnya.
“Clean up your dirty brain Mister Dami ( Bersihkan otak kotormu Tuan Dami )....” celetuk Putra yang menyadari bahwa salah satu saudaranya itu cukup memperhatikan satu maid yang merupakan seorang wanita muda, anak dari sepasang maid Putra yang bernama Sam dan Carol setelah ketiganya undur diri dari ruang makan.
“Well, I need a warm in this very cold weather ( Yah, aku membutuhkan sebuah kehangatan dalam cuaca yang sangat dingin ini )”
Damian terkekeh kecil sebelum ia menyahut dengan entengnya sindiran Putra barusan. “Cih. Hood! ( Dasar buaya darat! )”
Lalu enam pria yang berada dalam ruang makan itu tertawa bersama.
****
Putra, Damian, Garret, Devoss, Hiz dan Thomas melipir ke sebuah ruangan dimana ada perapian disana, dalam Mansion lama milik Putra dan almarhum kedua orang tuanya, saat mereka telah selesai mengisi perut di ruang makan.
Badai salju yang terjadi di luar saat ini, membuat suhu udara tentunya menjadi lebih dingin daripada saat turun salju biasa.
Jadi ke enam orang tersebut memilih berkumpul di ruangan yang memiliki perapian di dalamnya, selain kamar mereka yang memiliki penghangat ruangan.
“Did Sio called yesterday ( Apa Sio menghubungi kemarin ), Thom?” tanya Putra pada Thomas.
“He did Boss ( Beliau menghubungi Tuan )” jawab Thomas.
“And what did Sio said? ( Dan apa yang Sio katakan? )”
“Mister Accursio said, seems that man name Jaeden is going back to England. Maybe he fly over from Italy by today ( Tuan Accursio mengatakan, sepertinya pria bernama Jaeden itu akan kembali ke Inggris. Mungkin dia akan terbang dari Italia hari ini )....” Thomas menjawab lagi dengan lugas pada Putra.
“I see ( Begitu )....”
Putra menggumam.
“Then we have to move again before that moth**rfuck*r arrive at England ( Jika seperti itu kita harus lekas bergerak lagi sebelum si keparat itu tiba di Inggris ) ---“
Kemudian Putra berbicara dengan tegas.
“I’m afraid that is impossible to do ( Hal itu tidak mungkin untuk dilakukan menurutku )....”
Damian menginterupsi.
“I don’t think that we can get out today, if this blizzard won’t stop before evening ( Aku rasa kita tidak dapat kemana-mana hari ini, jika badai salju ini belum berhenti sebelum sore )....”
Damian berucap sambil ia duduk dengan sebatang rokok yang telah tersulut ujungnya, memandang pada Putra.
“Heem.”
Putra berdehem dengan pelan.
“Was there any warn for this blizzard? ( Apa ada peringatan untuk badai ini? )” ucap Putra seraya bertanya kemudian. Mereka yang berada bersama Putra mengendikkan bahu mereka.
“Well news last night was said about this blizzard.... But there’s no warn further than that ( Semalam memang ada pemberitahuan soal badai salju ini.... Namun tidak ada peringatan lebih jauh tentang hal itu )”
“Then it would be okay to get out ( Kalau begitu tidak masalah untuk keluar )....” pungkas Putra.
“Better we wait for tomorrow ( Lebih baik kita menunggu besok saja )”
Garret berkomentar.
“Cannot ( Tidak bisa )”
Putra langsung menyambar.
“I want to ‘take care’ Gaines and those others traitors right before that moth**rfuck*r arrives.”
“( Aku ingin ‘mengurus’ Gaines dan para pengkhianat lainnya tepat sebelum si keparat itu sampai )”
Putra menegaskan.
“Beside, I want to come by and say Hi to Freya....”
“( Lagipula, aku ingin mampir dan menyapa Freya )....”
Putra kembali terucap. Lalu tersenyum misterius. Dimana Lima orang yang bersamanya itu sama-sama memperhatikan Putra.
‘Only God knows, what in Putra’s brain if his make that expression ( Hanya Tuhan yang tahu, apa yang ada di otak Putra jika dia sudah menunjukkan ekspresi seperti itu )’
Damian dan Garret yang lebih mengenal Putra diantara tiga lainnya, membatin dengan pikiran yang kurang lebih sama karena melihat ekspresi Putra dengan senyuman misteriusnya itu.
****
To be continue....
__ADS_1