LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 27


__ADS_3

Happy reading ....


“Can you heal him and make him become normal to interact again? ( Apa kau bisa menyembuhkan dan membuatnya bisa berinteraksi dengan normal kembali? )”


“It depends ( Itu tergantung )”


“On? ( Atas? )”


“If you trust me, then I can try to help your son ( Jika kau percaya padaku, maka aku bisa berusaha untuk menolong anakmu )” Ucap Ilse.


“.........”


“If your answer is yes, then please give some time to try interact with him ( Jika jawabanmu adalah iya, maka aku minta tolong berikan waktu untukku mencoba berinteraksi dengannya )”


“Then try ( Maka cobalah )” Sahut Putra cepat.


“Could all of you waiting outside? ( Apa kalian semua bisa tolong tunggu diluar? )”


“No! ( Tidak! )”


“It means that you don’t trust me ( Itu artinya anda tidak mempercayai saya )”


Addison kemudian menyentuh lengan Putra.


“Let her try, Putra. Beside, you can look Anth now. Seems that he does not look restless just like at the first one”


“( Biarkan dia mencobanya, Putra. Lagipula, kau lihat Anth sekarang. Dia tidak terlihat gelisah seperti sebelumnya )”


Putra terdiam sejenak, sedang menelaah perkataan Addison barusan yang berbisik padanya sembari memandangi Anthony.


Bruna juga memberi anggukan pada Putra, mendukung perkataan Addison. Putra kemudian menimbang – nimbang sembari memperhatikan Psikiater cantik itu sedang mencoba mendekati Anthony dan berinteraksi dengan bocah tersebut.


“Alright then ( Baiklah jika begitu )”


Putra bersuara dan Psikiater bernama Ilse itu menoleh padanya.


“I can give you that chance ( Aku bisa memberikanmu kesempatan itu )”


“Thank you ( Terima kasih )”


“Where should we waiting? ( Dimana kami harus menunggu? )”


“Outside this room ( Diluar ruangan ini )”


“Alright ( Baiklah )”


“You still see us from that window, Sir ( Anda masih bisa melihat kami melalui jendela itu, Tuan )”


“Alright ( Baiklah )”


Putra mengangguk paham.


Ia pun hendak berjalan keluar dari ruangan Ilse bersama Addison dan Bruna.


Namun sebuah tangan mungil yang tiba – tiba menggenggam tangannya, membuat Putra tak jadi melangkah.


Putra spontan menoleh dan Anthony sedang mendongak menatapnya.


Kemudian Putra berjongkok di hadapan Anthony dan berbicara lembut pada bocah itu.


“Do not be afraid, I’m just waiting outside. This Aunt only want to know you ( Jangan takut, aku hanya akan menunggu di luar. Bibi ini hanya ingin berkenalan denganmu )”


Anthony menggeleng pelan.


“What is his name? ( Siapa namanya? )”


Ilse bertanya setelah ia mendekati Anthony dan Putra.


“Anthony”


“Hey Anthony”


Ilse ikut menjongkok kan dirinya didekat Anthony seperti Putra, setelah Putra mengatakan nama bocah tersebut.


Namun Anthony mengabaikan Ilse dan hanya menatap pada Putra.

__ADS_1


“It is okay. Look at her, hem?. She is talking to you ( Tidak apa – apa. Lihat dia, hem?. Dia sedang berbicara padamu )”


Anthony nampak mendengarkan Putra dan ia pun menolehkan kepalanya untuk melihat Ilse.


“I think better you stay here with him, while I try to get an approachment with him ( Saya pikir sebaiknya anda tinggal disini bersamanya, selagi aku mencoba melakukan pendekatan padanya )”


**


Addison dan Bruna menunggu diluar ruangan Ilse saat Putra dan Anthony berada didalam bersama Ilse yang terlihat mencoba dengan sabar untuk berinteraksi dengan Anthony.


“She likes him ( Dia menyukainya )”


“Not really I guess, Anthony look only respons her after Putra talk with him ( Aku rasa tidak juga, Anthony terlihat baru meresponnya setelah ia menoleh pada Putra )”


Bruna memukul pelan lengan Addison.


“It  was not Anth that I’m talking about ( Aku tidak sedang bicara tentang Anth )”


“So? ( Jadi? )”


“That Psychiatrist. Seems that she likes Putra ( Psikiater itu. Sepertinya dia menyukai Putra )”


“Tsk. Why women like to make a rumor? ( Mengapa wanita senang sekali bergunjing? )” Addison geleng – geleng.


Bruna melirik sebal pada Addison. “I am not making a rumor okay?! ( Aku tidak sedang bergunjing oke?! )”


“Ya, ya”


“Women are sensitive, and I can feel it that the Psychiatrist have a tempty to Putra”


“( Wanita itu sensitif, dan aku bisa merasa kalau dia memiliki ketertarikan pada Putra )”


***


Tangan Ilse terulur pada Putra setelah sesi konsultasinya selesai bersama Putra dan Anthony dan kemudian mengantar keduanya untuk keluar dari ruangannya. Lalu Ilse juga menyalami Addison dan Bruna dengan ramah.


Putra, Bruna dan Addison menyambut uluran tangan Ilse lalu berpamitan. Disaat yang sama Damian, Garret dan orang kepercayaan Addison datang menyambangi mereka.


“Is that the Psychiatrist? ( Apakah itu Psikiater nya? )” Tanya Damian dengan cepat sambil celingukan setelah Ilse kembali masuk kedalam ruangannya.


Damian tersenyum lebar.


Rekan sekaligus saudara – saudaranya sudah paham dengan yang ada di otak Casanova satu itu setelah melihat Ilse meski dari jarak yang tidak terlalu dekat.


Insting Casanova Damian itu bisa mengendus keberadaan perempuan cantik berikut matanya yang super jeli pada wanita – wanita cantik dan seksi.


“Damned she is beautiful and sexy! ( Sial dia cantik dan seksi! )”


Putra spontan menginjak kaki Damian.


“Ouch!” Damian mengaduh.


“Do not curse in front of Anth! ( Jangan mengumpat didepan Anth! )”


“Okay, okay. I beg your pardon ( Maafkan aku )” Sahut Damian sambil cengengesan.


Sementara Putra melirik sebal pada Damian, sisanya terkekeh.


Kemudian mereka semua beringsut dari area dalam Rumah Sakit tersebut untuk kembali menuju mobil mereka lalu pulang ke rumah sewaan Addison dan Bruna.


“I feel I would really love to sick if the she is the Doctor ( Aku rasanya senang sekali untuk sakit jika dia adalah Dokternya )”


Putra kembali merasa sebal setelah mendengar celotehan Damian dan sisanya juga terkekeh lagi.


Lalu mereka semua, langsung masuk ke dalam mobil masing – masing dan bergegas pulang.


***


“So, is Anth suit with that Psychiatrist? ( Jadi, apa Anth cocok dengan Psikiater itu? )”


Damian bertanya setelah mereka semua sampai di rumah sewaan Addison dan Bruna yang berukuran sedang itu.


Sementara Bruna sedang menyiapkan makanan untuk mereka semua, karena dia dan Addison belum sampai berpikir untuk mempekerjakan seorang pelayan untuk mereka seperti di Villa. Toh Bruna berpikir rasanya juga mereka hanya akan menyewa rumah tersebut dalam jangka waktu yang pendek.


Orang kepercayaan Addison pun ikut mampir ke rumah Bosnya tersebut.

__ADS_1


“I am so sure that is a hidden mean from your question ( Aku sangat yakin ada maksud tersembunyi di balik pertanyaanmu )”


Damian terkekeh mendengar tuduhan Putra barusan.


Addison dan dua pria lainnya ikut terkekeh terkecuali Putra.


“Ouch! You hurting me, Brother! ( Kau melukai perasaanku, Saudaraku! )”


Damian meledek Putra sembari memegangi dadanya sembari cengengesan.


“Cih!” Decih Putra sebal.


“You know I also concern about Anth condition just like you ( Kau tahu aku juga mengkhawatirkan tentang kondisi Anthony sama sepertimu )”


Putra mendengus saja.


“So if Anth suit with that Psychiatrist, next time I will be very pleased to accompany you and Anth ( Jadi jika memang Anth cocok dengan Psikiater itu, lain kali aku akan dengan senang hati menemanimu dan Anth )”


“Hah! See?! I can predict what is in your mind precisely! ( Lihat kan? Aku bisa menebak apa yang ada di otakmu dengan sangat tepat! )” Sambar Putra.


“Hahaha ..” Damian dan tiga lainnya pun spontan tergelak setelah mendengar ucapan Putra.


“Do not hoping that you can get that Psychiatrist, Dami ( Jangan berharap kau bisa mendapatkan Psikiater itu, Dami )”


Bruna yang datang dari arah dapur untuk mengajak para pria yang sedang duduk – duduk di ruang tamu itu makan, bersuara.


“Why? Is she married woman? ( Kenapa? Apa dia sudah menikah? )” Tanya Damian penasaran. “Maybe she will ask her husband to divorce her if she already meet me ( Mungkin dia akan meminta cerai dari suaminya setelah bertemu denganku ), Hahaha!”


Mereka selain Damian terkekeh saja mendengar serapahan si Casanova satu itu yang mempunyai tingkat percaya diri super tinggi. Tak salah sih, Damian seperti halnya Putra, Addison dan Garret memiliki paras yang tampan.


Di dukung juga dengan tubuh tinggi nan atletis, ditambah dia juga memilik cukup uang untuk hidup senang yang dia bawa dari Inggris dan Italia yang sudah ia ambil semua dari Bank di dua negara tersebut dan ia bawa ke negara


tempatnya tinggal sekarang bersama para saudaranya.


“She has feeling to Putra ( Dia punya rasa pada Putra )”


“Uhuk! Uhuk!” Putra yang sedang menyesap minumannya pun langsung tersedak mendengar ucapan Bruna barusan.


“Really?! ( Benarkah?! )”


Damian nampak sumringah.


“Means that you are one more step to let go your virginity, hem??.. ( Artinya kau selangkah lagi untuk melepaskan keperjakaanmu, hem? )”


“Hahaha!!” Putra pun jadi bahan ledekan para saudaranya.


***


Dua minggu kemudian


Putra dan yang lainnya masih tinggal di Ibukota. Mereka akan tinggal sedikit lama bersama Addison dan Bruna di rumah sewaan mereka.


Setelah pertemuan dan konsultasi Anthony dengan si Psikiater cantik yang bernama Ilse, Putra memutuskan akan melanjutkan soal perawatan Anthony dengan Ilse.


Dan selama sepekan ini Anthony sudah tiga kali bertemu dan konsultasi bersama Ilse, berikut Putra yang selalu mendampingi Anthony.


“You know what Putra? ( Kau tahu Putra? )” Damian berkata pada Putra yang berdiri di luar ruangan Ilse, karena Anthony sudah terlihat mulai terbiasa dengan Psikiater cantik itu.


Sudah merespon, meski belum bersuara. Namun sudah mau menjawab pertanyaan Ilse dengan anggukan dan gelengan.


“Hem?” Sahut Putra.


“I think what Bruna said was right ( Aku pikir yang Bruna katakan itu memang benar )” Ucap Damian lagi.


“About what ? ( Tentang apa? )”


“Her! ( Dia )”


“??”


“That Psychiatrist, Ilse. She has a feeling to you ( Psikiater itu, Ilse. Dia punya perasaan padamu )”


***


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2