LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 261


__ADS_3

Happy reading ...


***************


Salisbury, England


“I want to ‘take care’ Gaines and those others traitors right before that moth**rfuck*r arrives.”


“( Aku ingin ‘mengurus’ Gaines dan para pengkhianat lainnya tepat sebelum si keparat itu sampai )”


Putra menegaskan.


“Beside, I want to come by and say Hi to Freya....”


“( Lagipula, aku ingin mampir dan menyapa Freya )....”


Putra kembali berucap. Lalu ia tersenyum, namun senyumnya nampak misterius.


‘Only God knows, what in Putra’s brain if his make that expression ( Hanya Tuhan yang tahu, apa yang ada di otak Putra jika dia sudah menunjukkan ekspresi seperti itu )’


Damian dan Garret yang lebih mengenal Putra diantara tiga lainnya, membatin dengan pikiran yang kurang lebih sama karena melihat ekspresi Putra dengan senyuman misteriusnya itu.


“But still we can’t push to go outside by now if the blizzard still not calm yet. And if already calm, for at least we have to wait until tomorrow regarding the bold snow will cover the road.”


“( Tapi tetap saja kita tidak dapat pergi ke luar sekarang ini jika badai saljunya masih belum reda. Dan jikapun sudah, setidaknya kita harus menunggu sampai besok pagi karena salju tebal pasti akan menutupi jalanan )”


Damian berkomentar, dan lainnya pun mengiyakan.


“Dami was right ( Dami benar )” timpal Garret.


“If that moth**rfuck*r arrives here before I clean up those traitors and his allies\, then I have to make another plan—“


“( Jika si keparat itu keburu tiba disini sebelum aku membersihkan para pengkhianat itu berikut para sekutunya, maka aku harus membuat rencana yang lain )—“


Putra yang sekarang berkomentar.


“That will be bothering me you know? ( Dan hal itu akan merepotkan-ku tahu? )”


“We know ( Kami tahu )....”


Garret yang menyahut, dan lainnya mengangguk mengiyakan.


“But it will be risky to ride in this condition ( Tapi juga akan beresiko jika berkendara dalam kondisi seperti ini )”


“I couldn’t agree more ( Aku sependapat dengan itu )....” tukas Hiz. “For at least wait for few hours ahead ( Setidaknya tunggu saja selama beberapa jam ke depan )”


“Well, we’ll see later then ( Yah kalau begitu, kita lihat saja nanti )” ucap Putra.


**


“Dev ....”


“Yes?”


Devoss segera menyahut saat Putra memanggilnya.


“I want to make a call ( Aku ingin menelepon ) ....” ucap Putra.


Meskipun tempat dirinya berada berikut lima orang pria yang bersamanya adalah milik Putra, dan dia katakanlah – Sang Pemimpin saat ini, namun Putra tetap mengedepankan etika.


Setidaknya pada orang-orang yang dekat dengannya.


Dan karena tempat telepon dengan saluran rahasia ada di kamar Devoss, maka Putra meminta ijin terlebih dahulu pada Devoss yang menempati kamar di mana telepon dengan saluran rahasia itu terpasang.


Devoss mengangguk.


“Please, then ( Silahkan saja )”

__ADS_1


Devoss pun mempersilahkan.


Dan Putra segera berdiri dari duduknya.


***


“Both of you want to go with me? I want to make a call to Villa ( Kalian berdua mau ikut denganku? Aku hendak menghubungi Villa )....” ucap Putra sambil memandang pada Damian dan Garret.


“Heemm....” Garret dan Damian sama-sama berdehem dalam. “You go first ( Kau duluan saja )” ucap Damian kemudian.


“Alright then..”


Setelahnya Putra undur diri dari hadapan lima orang pria yang sedang bersamanya sekarang ini.


***


Putra langsung meraih gagang ponsel dengan saluran rahasia yang terpasang di kamar Devoss.


‘I can’t wait to hear Anth’s and Gadis’s voice. Oh how I miss both of them that much! ( Aku tidak sabar untuk mendengar suara Anth dan Gadis. Oh betapa aku merindukan keduanya! )...’


Putra membatin sambil tersenyum saat memutar menekan beberapa tombol pada bagian badan pesawat telepon khusus yang gagangnya telah ia angkat dari tempatnya saat ini.


Putra sudah tersenyum-senyum sendiri dari sejak mengangkat gagang telepon dari tempatnya, serta sampai setelah selesai menekan beberapa tombol angka pada badan pesawat telepon.


Kini Putra menunggu panggilannya di terima dari nomor yang ia hubungi saat ini.


‘Maybe they’re were doing something away from the work room ( Mungkin mereka sedang melakukan sesuatu yang jauh dari ruang kerja ), heemm...’


***


Putra yang tadi nampak sumringah bahkan senyum-senyum saat hendak menghubungi saluran rahasia yang berada di dalam Villa tempat tinggal barunya di sebuah negeri yang kaya budaya itu, perlahan mulai gelisah karena sudah tiga kali Putra menghubungi kesana namun tak panggilan teleponnya tak kunjung menyambung.


Putra berkali-kali melirik jam yang tertempel pada dinding dalam kamar yang Devoss tempati pada Mansion milik Putra dan almarhum kedua orang tuanya itu. Dan kegelisahannya kini mulai merambat kepada kegusaran, kala di-panggilan ke empat, panggilan teleponnya tidak juga tersambung.


‘What’s going on? ( Apa yang terjadi? )’ batin Putra yang gelisah dan mulai gusar.


“Sit!*”


“Putra?...”


Didetik dimana putra mengumpat, Damian dan Garret telah menyusul Putra ke kamar Devoss.


***


“What’s wrong? ( Ada apa? )...” Garret dan Damian yang mendengar Putra mengumpat sekaligus nampak gelisah dan gusar itu sontak bertanya.


“I can’t contact Villa ( Aku tidak dapat menghubungi Villa )...”


“Really? ( Benarkah? )...”


Garret yang bertanya.


“I’ve been tried for four times ( Aku sudah mencoba sebanyak empat kali )”


“Let me try ( Biar aku yang mencoba )...” ucap Damian sambil meraih gagang telepon yang tadi diletakkan dengan sedikit kasar oleh Putra kala ia mengumpat, disaat Damian dan Garret menyambanginya.


Damian pun menekan beberapa tombol angka yang sama seperti yang sebelumnya Putra tekan.


*****


Damian tak lama menggeleng, setelah ia mencoba menghubungi nomor saluran khusus pada Villa mereka yang berada di Indo.


“Ah, call number at the restaurant! ( hubungi nomor yang ada di restoran! )” pekik Putra yang teringat akan satu saluran yang dipasang Addison sejak sebelum salah satu saudaranya itu bertemu kembali dengan Putra, Damian, Garret dan Bruna berikut Anthony selepas mereka pergi dan berpisah di Ravenna.


“The line on there was already being off, remember? ( Saluran disana sudah dimatikan, ingat? ) ....”


Damian berujar sambil meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya.

__ADS_1


“Sit!*” umpat Putra lagi.


“How about calling Arthur?”


“( Bagaimana kalau coba menghubungi Arthur? )”


Garret mencetuskan ide.


“Arthur has no kind of this line yet ( Arthur belum memiliki saluran kita yang seperti ini ) ....”


Putra yang menjawab.


“Ah, ya!”


Garret berkesah.


“The other way is, we have to try to call the common number of our Villa to try to make contact with them at there ...”


“( Cara lainnya adalah, kita harus menghubungi nomor Villa yang biasa untuk mencoba menghubungi mereka yang ada disana ) ...”


***


Putra dengan cepat beranjak dari tempatnya dan melangkah untuk keluar dari kamar Devoss.


“What are you going to do ( Apa yang hendak kau lakukan ), Putra?”


Damian bertanya pada Putra yang nampak terburu-buru itu, seraya ia bangkit juga dari duduknya.


Begitu juga dengan Garret yang ikut bangkit dari duduknya.


“I’m going to find some place or maybe public phone to make an international call ...”


“( Aku akan mencari tempat atau mungkin telepon umum untuk membuat panggilan internasional )”


“Don’t you have a common phone here? ( Apa kau tidak memiliki telepon yang biasa disini? ) ...” tanya Garret.


Putra menggeleng. “I already make it off when my parents died ( Aku sudah mematikannya saat orang tuaku tiada )”


Damian dan Garret sama-sama menghela nafas frustasi.


“But you can’t go in this kind of weather situation ( Tapi kau tidak bisa pergi dalam kondisi cuaca yang seperti ini ), Putra.”


Damian berujar.


“I can. I don’t care about the weather as long as I can make sure that everyone at our Villa is okay right now ( Aku bisa. Aku tidak perduli dengan cuaca selama aku dapat memastikan jika semua orang di Villa kita baik-baik saja saat ini )”


***


To be continue ...


Mohon maaf othor ucapkan bagi kalian para pembaca novel ini, untuk update yang kemungkinan sangat slow sampai akhir bulan, karena othor sedang mengejar target jumlah kata di karya on going  othor satunya lagi.


Jadi harap maklum dan salam enjoy.


Terima kasih untuk kalian yang masih setia.


***


Selama menunggu update karya ini, monggo mampir ke karya-karya Emaknya Queen yang lain jika berkenan.


Noted: Jika kalian penikmat novel series, tiga novel othor dibawah ini bisa jadi pilihan. Dan tiga novel dibawah adalah spin off dari karya ‘Life Of A Man’ ini.


Genre: Romantis + Action + Komedi.


Karya No. 1&2 sudah tamat.


Terima kasih sekali lagi.

__ADS_1



__ADS_2