
Happy reading..
******************
Bandung, Jawa-Barat, Indonesia,
Villa Putra dan keluarga,
“Papa don’t dieee ( Papa jangan meninggaaal ) –“ Anthony terisak hebat.
“Anth!”
“Ya Tuhan Anthony.”
Ramone, Addison, Bruna dan Gadis dibuat terkejut lagi oleh Anthony yang kemudian tak sadarkan diri setelah sempat histeris dan menangis sampai terisak hebat.
Sontak, kekhawatiran jelas terukir di wajah ke empat orang dewasa yang sedang bersama Anthony tersebut atas apa yang menimpa si bocah tampan itu sekarang.
Dan tak lama, beberapa bodyguard yang sedang berjaga di Villa juga masuk dengan tergopoh-gopoh karena mendengar suara teriakan dari dalam Villa.
Termasuk juga lima orang asisten rumah tangga yang datang tergopoh, karena paviliun mereka berada tepat di belakang Villa yang letaknya tak jauh dari bagian ruang kerja.
Kesemua pekerja di Villa itu nampak panik, hingga kemudian Ramone meminta mereka kembali ke tempat mereka, kecuali asisten rumah tangga yang satu orang telah ditunjuk Ramone untuk siaga jika saja Ramone dan para keluarganya itu membutuhkan sesuatu sehubungan dengan Anthony.
Namun begitu, para asisten rumah tangga Villa bersikeras akan ikut terjaga bersama majikan mereka, karena majikan muda mereka sedang dalam kondisi yang kurang baik. Yang mana, lima asisten rumah tangga itu sama khawatirnya dengan para majikan dewasa tentang kondisi Anthony yang mereka sayangi.
**
Addison yang memang sudah memegang Anthony itu langsung dengan sigap mengangkat tubuh Anthony yang sedang tak sadarkan diri itu dan melangkah lebar menuju kamar pribadi bocah kesayangan semua orang di keluarga mereka itu, dengan diikuti oleh Bruna, Gadis dan Ramone dibelakang Addison.
“Pelan-pelan Gadis,” ucap Ramone pada Gadis yang berjalan tergesa. “Kamu ada kemungkinan sedang hamil saat ini.”
“Iya Vader –“
Gadis menyahut.
“Aku hanya ingin membukakan pintu kamar Anthony agar Ad dapat langsung masuk dan merebahkan Anthony di atas tempat tidur..”
“Biar aku saja.”
**
Ramone telah membukakan pintu kamar pribadi Anthony dan menahannya agar Addison yang sedang menggendong tubuh Anthony itu dapat masuk dengan leluasa. Sementara Bruna kemudian berjalan cepat mendahului Addison, dan bergerak cepat ke arah tempat tidur Anthony untuk membuat ranjang dan bantalnya menjadi nyaman untuk Anthony.
Setelahnya, Addison pun membaringkan tubuh Anthony dengan hati-hati di atas ranjang bocah tampan yang sedang tidak sadarkan diri itu. Lalu Addison langsung berjongkok di sisi ranjang dengan Ramone yang berdiri merunduk dibelakangnya, sementara Bruna mengambil tempat ditepian ranjang dan mengusap-usap tangan Anthony untuk mencoba membuat Anthony sadar.
Gadis yang tadi langsung masuk ke dalam walk in closet pribadi Anthony dalam kamarnya tersebut saat Addison hendak meletakkan Anthony di atas tempat tidurnya, kini telah berjalan mendekat menuju ke tempat tidur Anthony.
Gadis membawa sebotol minyak kayu putih di tangannya.
__ADS_1
“Excuse me, Vader, Ad,” ucap Gadis pada kedua pria tersebut, karena ia hendak mendekat pada Anthony.
Ramone dan Addison pun sedikit bergeser dari tempat mereka untuk memberikan ruang pada Gadis demi mencoba untuk menyadarkan Anthony.
**
“Anthony-“
Gadis memanggil Anthony dengan lembut-sambil ia mendekatkan ujung atas botol minyak kayu putih ke hidung Anthony, setelah Bruna sudah mengecek kondisi tubuh Anthony sebelumnya, sambil juga terus memanggil Anthony.
Bruna yang memang seorang Dokter meski tidak memiliki gelar resmi itu, tahu dasar-dasar untuk menangani orang yang pingsan. Jadi Bruna dapat berkolaborasi bersama Gadis yang memang seorang perawat itu. “Anth-“ Bruna, Addison dan Ramone juga ikut terus memanggil-manggil nama Anthony.
**
“Pa-paa ..”
Lirihan kecil yang terdengar dari mulut Anthony sontak menciptakan kelegaan pada wajah semua orang.
“Anth-“
“PAPA!!”
**
“Hey Anth, look at me ( lihat aku )-“
Bruna langsung merengkuh tubuh Anthony yang setelah sadar langsung menyentak bangun memekik kencang memanggil Putra.
Lalu Bruna menenangkan Anthony, dan Gadis begitu juga dengan Gadis yang kemudian duduk di belakang Anthony.
“Papa is okay-“
Bruna berucap sambil memeluk lembut Anthony.
“Trust me ( Percayalah padaku ).”
**
Gadis memberikan minuman hangat untuk Anthony yang telah ia mintakan salah seorang asisten rumah tangga Villa untuk membuatnya, agar tubuh Anthony tidak lagi lemas.
“I want Pa-paa ( Aku ingin Pa-paa )-“ lirih Anthony.
“Papa will comeback soon ( Papa akan kembali secepatnya )”
“I want Papa now, Padre ..” tukas Anthony yang sekaligus melirih dan terdengar merengek sedih itu.
“Anth –“
Addison bersimpuh di sisi ranjang.
__ADS_1
“Papa will be back soon here right after he punished that bad guy ( Papa akan segera kembali tepat setelah ia menghukum orang jahat itu )”
Addison pun berkata dengan lembut.
Meski dirinya juga sedang sedikit mengkhawatirkan kondisi Putra yang kabar terbarunya belum ia dengar lagi, namun Addison tetap mencoba berpikir positif agar dia juga dapat menenangkan Anthony.
“But-but, Papa got shot ( Tetapi-tetapi, Papa tertembak )”
“And ( Dan )-“
Addison hendak lagi berbicara, namun terpotong karena Pak Abdul datang dengan sedikit tergesa dan memberitahukan sesuatu pada semua orang yang ada di dalam kamar pribadi Anthony melalui Ramone, yang mengerti bahasa Indonesia, dan yang paling dekat jaraknya saat Pak Abdul datang.
“Tuan, telepon yang ada di dalam ruangan dalam ruang kerja berbunyi-“ ucap Pak Abdul.
“What was Pak Abdul said, Opa? .. is that te-le-pon means phone ( Apa yang Pak Abdul baru saja katakan, Opa? .. apakah itu maksudnya adalah telepon )?”
“Y-a-“
Ramone ragu-ragu menjawab.
“Papa!”
“Anth!”
“Anthony!”
Semua orang terkejut karena Anthony dengan cepat turun dari tempat tidur pribadinya dan langsung berlari menuju pintu keluar.
Ramone dan Addison yang dengan cepat mengejar Anthony-karena keduanya yang yakin jika itu adalah telepon dari Inggris, khawatir ada kabar kurang baik tentang Putra.
**
London, Inggris,
“Thom, connect me with Villa ( Thom, hubungkan aku dengan Villa ) ---“
Putra menolak tawaran untuk duduk dari mereka yang berada di hadapannya itu, yang sempat terkejut melihat Putra yang terluka itu-walau sudah ditangani dan diobati, tahu-tahu muncul dan seperti ia tidak kenapa-kenapa.
“I think they’re still having rest ( Aku rasa mereka masih beristirahat ), Putra ..” Garret berkomentar.
Putra mengangguk, lalu berucap,
“I know .. But my heart feel so perturb about Anth ( Aku tahu .. Tetapi hatiku merasa sangat gelisah tentang Anth ) ..”
Kemudian Putra menoleh lagi pada Thomas.
“Connect me with Villa now ( Hubungkan aku dengan Villa sekarang ), Thom.”
****
__ADS_1
To be continue ..
Salam enjoy.