
Happy reading..
Putra dan semua orang yang datang bersamanya disambut dengan sangat baik dan diperlakukan dengan sangat hormat saat sudah sampai di sebuah Hotel Ikonik di Ibukota Negara tempat Putra dan keluarganya tinggali sekarang ini.
Jajaran pria berbadan tegap berpotongan Bodyguard dengan pakaian safari berdiri dengan rapih dan menundukkan kepala mereka saat Putra dan rombongan menapakkan kaki di pelataran lobi utama hotel tersebut. Dimana beberapa dari Bodyguard tersebut mengawal dari sejak mobil Putra dan rombongan memasuki area hotel.
Dan seorang pria bule berpakaian rapih serta perlente, sudah nampak berdiri tegap dengan tersenyum penuh keramahan saat Putra dan rombongan melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke lobi utama hotel tersebut.
Lalu pria tersebut menyapa seraya memberikan hormat pada Putra dan rombongannya.
“Allow me introduce myself, my name is Devoss. I’m Mister Ramone’s assistant. What an honor to meet all of you ( Ijinkan saya memperkenalkan diri saya, Perkenalkan nama saya Devoss. Saya asistennya Tuan Ramone. Devoss.
Sungguh sebuah kehormatan untuk bertemu dengan kalian semua )”
Pria berpakaian rapih itu berbicara dengan sopan pada para tamu yang telah ditunggunya untuk disambut dengan sangat baik sesuai perintah dari Bos pria tersebut, seraya memperkenalkan dirinya.
Dua orang wanita dengan pakaian yang sama, ada di belakang pria berpakaian rapih yang menyambut Putra dan rombongannya itu, yang barusan memperkenalkan dirinya.
“Thank you ( Terima kasih ) ...”
Putra menjawab pada pria berpakaian rapih yang memperkenalkan dirinya sebagai Devoss, mewakili mereka yang bersamanya.
“Mister Ramone has been waiting ( Tuan Ramone sudah menunggu )” Ucap Devoss. “This way, please.... ( Silahkan, lewat sini ... )” Devoss pun mengarahkan Putra dan rombongan menuju tempat dimana ayah baptis Putra sudah menunggunya.
Putra pun mengangguk, lalu mengekori Devoss bersama dengan Gadis yang berada disisinya, sementara Anthony berada dalam gendongan Damian, dimana bocah tersebut sedang antusias menunjuk beberapa bagian hotel dengan antusias.
***
Putra tersenyum lebar, kala ia sudah di bawa ke sebuah ruangan di bagian atas hotel tersebut.
Sebuah ruangan yang nampaknya dipesan khusus oleh ayah baptis Putra yang bernama Ramone Zeeman itu untuk acara pertemuan yang akan disertai jamuan untuk anak Baptisnya beserta mereka yang Putra katakan sebagai keluarga.
“Mijn trotse Zoon ... ( Putra kebanggaanku ) ....” Ramone berucap dengan menggunakan bahasa Belanda sembari melihat pada Putra dan membuka lebar tangannya.
“Peetvader .... ( Ayah baptis )...”
Putra langsung berhambur untuk memberikan pelukan antar lelaki dengan ayah Baptisnya itu.
Namun Ramone Zeeman segera mengurai pelukannya dengan Putra saat matanya tertuju ke arah Damian yang sedang menggendong Anthony.
“Hij ..... ( Dia ) ....” Mata Ramone seolah terpaku pada bocah yang berada dalam gendongan Damian itu. Putra mengulas senyuman di bibirnya sembari juga memperhatikan arah kemana Ramone sedang berjalan.
“Ja, het Anthony ( Iya, itu Anthony )...” Ucap Putra.
Ramone segera menoleh cepat pada Putra.
“Oh mijn God ... ( Oh Tuhan ) .... Anthony...”
Lalu kembali menatap pada Anthony dengan menangkup wajah bocah tampan tersebut dengan wajah yang sangat menggambarkan keterkejutan.
“Say greeting to my Godfather, Anth .... ( Sapalah ayah baptis ku, Anth ).....”
Putra yang sudah berdiri didekat Ramone dan Anthony yang masih digendong oleh Damian itu berucap seraya tersenyum.
“Hello, nice to meet you Papa’s Putra Godfather ... ( senang bertemu denganmu ayah baptis nya Papa Putra ) ...”
Anthony menyapa Ramone dengan menggemaskan pada pria paruh baya yang wajahnya nampak sangat terkejut itu.
“Oh Anthony ....”
Ramone lalu menghujani wajah Anthony dengan kecupan.
“Herinner je me niet meer?.... ( Tidakkah kamu ingat padaku? ) ....”
Ramone berucap dengan menggunakan bahasa Belanda pada Anthony dengan mata berkaca-kaca.
“Ah, I beg your pardon .... I mean, do you remember me? ( Ah, maafkan aku .... Maksudku, apa kamu mengingatku? ) ....”
“I don’t think so... ( Aku rasa dia tidak ingat )...” Tukas Putra bersamaan dengan Anthony yang menggeleng pada Ramone.
“Ah ya, you must be not remember about me .... last time I came to visit you when you were about three years?... ( kamu pasti tidak ingat padaku ... terakhir aku mengunjungimu saat kamu berusia sekitar tiga tahun? ) ...”
Ramone menoleh pada Putra yang mengiyakan dengan anggukan. Lalu Ramone beralih lagi pada Anthony.
“But how?... ( Tapi bagaimana? ) ...”
Ramone menoleh lagi pada Putra, seolah meminta penjelasan.
“I thought he was.... ( Aku pikir ia )...”
“Long story ( Ceritanya panjang )” Sambar Putra.
Ramone langsung menganggukkan kepalanya. Lalu beralih pada Anthony.
Ramone tersenyum pada Anthony, dengan kedua tangannya membingkai wajah bocah tersebut dengan menatap haru.
“You don’t know how happy and relief I am to see that you are okay ( Kamu tidak tahu betapa bahagia dan leganya aku dapat melihatmu baik-baik saja ) , Anthony....”
Ramone berkata dengan tulus pada Anthony.
“Do you mind?..... ( Apa kamu tidak keberatan? ).....”
__ADS_1
Ramone menanyakan kesediaan Anthony untuk ia gendong.
“This old man still strong enough to carry you.... ( Pak tua ini masih cukup kuat untuk menggendongmu ) ....” Ucap Ramone.
Anthony langsung saja melirik pada Putra.
Dan Putra menganggukkan pelan kepalanya pada Anthony yang kemudian mau beralih kepada Ramone dari gendongan Damian.
“Oh mijn kleinzoon ..... ( Oh cucuku ) ......”
Ramone berucap kala Anthony sudah berada dalam gendongannya.
“How handsome you are now ( Betapa tampannya kamu sekarang ) ...”
Ramone memuji Anthony dengan wajahnya yang sumringah.
“I’m very handsome right? ... ( Aku sangat tampan bukan? ) ...”
Ramone segera terkekeh dan tersenyum lebar pada Anthony, begitupun semua orang yang ada bersamanya saat ini.
“Of course you are .... ( Tentu saja kamu sangat tampan )...”
Satu tangan Ramone terulur ke kepala Anthony lalu mengelus rambutnya.
“Come, there are a lot of food that you can try ( Ayo, ada banyak makanan yang bisa kamu coba )”
“Vader ...”
Putra memanggil Ramone.
“Ja?”
“I want to introduce another four person to you ... ( Aku ingin memperkenalkan empat orang lagi padamu ) ...”
Kepala Ramone segera tertoleh pada Putra, lalu pada Arthur, Addison, Bruna dan Danny, dimana Putra sudah berdiri didekat keempat orang tersebut.
“Oh mijn God.... ( Oh Tuhan ) .. I’m so enchanted by this handsome boy until I become irreverent ..... ( Aku sangat tersihir oleh ketampanan anak ini sampai aku menjadi kurang sopan ) ..... forgive me ( maafkan aku )... Hello, I’m
Ramone ( Halo, aku Ramone )”
Ramone sudah berbalik untuk menyapa Arthur, Addison, Bruna dan Danny bergantian.
Ramone juga menyalami Gadis, Damian dan Garret yang sudah lebih dulu ia kenal semalam.
***
“Oh my, I’m more than just happy to see Anthony, after I meet you also, and know that still the rest of you are still alive after I heard what happened in Ravenna..... ( Aku rasanya lebih dari hanya berbahagia melihat Anthony,
setelah aku bertemu denganmu, dan ternyata ada sebagian dari kalian yang masih tersisa ) ....”
Devoss yang merupakan asisten pribadi yang adalah juga tangan kanan Ramone selama ini juga ikut duduk bersama Bos dan para tamunya.
Frans, si pemilik Pub, juga sudah bergabung bersama mereka.
Pria itu datang menyusul tepat saat jamuan kecil-kecilan yang dibuat Ramone untuk Putra dan rombongannya hendak dimulai.
Sementara Anthony, sedang diajak berkeliling oleh beberapa orang andalan Ramone di lantai yang sama tempat jamuan yang diadakan Ramone secara privasi berada.
Satu lantai yang sengaja disewa Ramone setiap kali ia menginap di hotel tersebut, karena Ramone sangat tertutup.
“Whereas I was thought that Anthony was also slained just like Rery and Madelaine..... ( Padahal aku mengira jika Anthony juga ikut tewas seperti Rery dan Madelaine ) .....”
Putra menarik sudut bibirnya. Dia dan lainnya masih mendengarkan Ramone berbicara, sembari sesekali menyesap batangan nikotin di bibir mereka.
“I really can’t imagine what Anthony has been through ..... ( Aku sungguh tidak dapat membayangkan apa yang Anthony sudah lewati ).....”
Ramone menggeleng miris.
“But Anth is strong kid ..... ( Tapi Anth anak yang kuat ) .....”
Putra berucap.
“Yes he is ..... ( Itu benar ).....”
Addison, Damian dan Garret menimpali ucapan Putra.
Ramone manggut-manggut.
“I believe he is..... and thanks God that he has all of you.....”
“( Aku percaya dia anak yang kuat..... dan syukurlah karena dia memiliki kalian ).....”
“.......”
“Especially you Putra..... ( Terutama kau Putra ) ...”
“I’m the one who feel very grateful that I didn’t lose Anth also. Even Jaeden try to kill him and make Anth’s body unable to find by drowned him at the sea .... and even Anth has to stay in comma for some killing times for me, then wake with a very big trauma ...”
“( Aku yang merasa bersyukur untuk tidak kehilangan Anth juga. Meskipun Jaeden mencoba membunuhnya dan membuat tubuh Anth untuk tidak dapat ditemukan dengan menenggelamkannya di laut ..... dan meskipun Anth sempat koma dalam beberapa waktu yang menyiksa untukku, lalu bangun dengan trauma yang sangat besar )
.....”
__ADS_1
“Hish! That bastaard- ( B*jingan itu )”
Ramone nampak sangat geram.
“I’m so sorry that I didn’t give hand all this time after you all left Ravenna..... I didn’t have a full of information that time. My movement was quite determinate, because there’s a trouble that threat my life in Netherland which I also have to concentrate to handle it .....”
“( Aku sungguh mohon maaf karena tidak bisa membantu selama ini setelah kalian meninggalkan Ravenna ..... Aku tidak dapat informasi lengkap saat itu. Gerakku sedang sangat terbatas, karena satu masalah yang mengancam nyawaku di Belanda yang mana aku harus berkonsentrasi pada hal tersebut untuk aku urus )”
Ramone menunjukkan gurat penyesalan di ucapan dan raut wajahnya.
“And after I clear up all things in Netherland, I try to find some information from Ravenna. Actually I want to come there by myself, but my condition was unable to do that...... so I try to send some men to Ravenna..... but what they get is only information that Rery and his family, also his men were slayed”
“( Dan setelah aku membereskan semua masalah di Netherland, aku mencoba untuk mencari informasi dari Ravenna. Aku ingin datang sendiri kesana sebenarnya, tapi kondisiku tidak memungkinkan untuk pergi ..... jadi aku
mencoba mengirim beberapa orang ke Ravenna ..... tapi yang mereka dapat hanyalah informasi bahwa Rery dan keluarganya, termasuk orang-orangnya telah dibantai ) .....”
“I’m the one who asked people around Rery’s Mansion and all of them who knows Rery, also about the tragedy that befall to Rery and all, for keep silence to every stranger out of Ravenna ..... ( Aku yang meminta orang-orang di sekitar Mansion Rery dan semua yang mengenal Rery, termasuk tentang tragedi yang terjadi pada Rery dan semuanya, untuk bungkam pada setiap orang asing yang datang ke Ravenna ) .....”
Addison bersuara.
Ramone manggut-manggut.
“Seems that they put a big respect to all of you ..... ( Mereka tampak sangat menghormati kalian ) .....”
“Rery was made and gave many things to help those people live in welfare. That’s why ..... and full respect of them, because they were people who knows how to thank you, beside they are nice people”
“( Rery melakukan dan memberikan banyak hal untuk membantu mereka hidup sejahtera. Itulah sebabnya mereka dapat diajak bekerja sama..... dan hormat pada mereka, karena mereka adalah orang-orang yang tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih, selain memang mereka adalah orang-orang yang baik )”
Putra menanggapi ucapan Ramone.
Ramone tersenyum dan kembali manggut-manggut.
“And I think that I have plan to give some gifts for those people who saved my grandson”
“( Dan aku berpikir kalau aku punya rencana untuk memberikan hadiah pada orang-orang yang sudah menyelamatkan cucuku )”
“Also give a gifts for my lady ..... because she has big share in Anth’s condition now..... ( Juga berikan hadiah pada kekasihku ..... karena dia punya andil yang sangat besar pada kondisi Anth sekarang ) .....”
“Oh my pleasure ( Oh dengan senang hati ) ..... I will give my suitor a very beautiful gift ..... ( Aku akan memberikan calon menantuku itu hadiah yang sangat indah ) ....”
“You have two suitor ..... ( Kau punya dua calon menantu ).....”
Putra menimpali.
“Be fair ..... ( Harus adil ) .....”
“Ah ya of course! ( Ah iya tentu saja! )” Ramone tergelak kemudian.
Orang-orang yang bersama Ramone pun terkekeh.
“What a blessed life I have now. I have more sons and two suitor, and a grandson to accompany my old time .....
( Betapa terberkahinya hidupku ini sekarang. Aku punya tambahan anak laki-laki dan dua menantu, dan seorang cucu untuk menemani masa tuaku ).....”
Ramone nampak berbinar.
“Get retired then ..... ( Pensiun lah kalau begitu ) .....”
Putra berceloteh pada Ramone.
“Hahahaha! I already thinking about that ( Aku sudah memikirkan hal itu )”
“Good. You can live with us than you have to stay alone at Netherland with only your Bodyguards and maids (
Bagus. Kau bisa tinggal bersama kami daripada kau tinggal sendiri di Belanda bersama para pengawal pribadi dan pelayan mu )”
“You absolutely right ..... I don’t want to become rusty and die with no family around me which I don’t have there ..... ( Kau sangat benar ..... Aku tidak ingin menua dan mati tanpa keluarga yang mana memang tidak aku miliki disana ) .....”
“Good if you think like that..... ( Bagus jika kau berpikir seperti itu ) ..... I believe you have some of competent guys, who you can choose one to replace your place ( Aku percaya kau memiliki beberapa orang yang kompeten, yang salah satunya bisa kau pilih untuk menggantikan tempatmu ) .....”
Ramone tersenyum penuh arti.
“I already have one..... ( Aku sudah punya pilihan ).....”
“That guy, right? ( Dia, kan? )” Putra menunjuk pada Devoss yang orangnya kemudian mengulas senyuman.
“I’m afraid that I’m far away from worthy to replace Mister Ramone place, Mister Putra ..... ( Rasanya aku jauh dari kata layak untuk menggantikan tempat Tuan Ramone, Tuan Putra ) .....”
“My insting said that you are eligible ( Insting ku merasa kau layak )”
“There is someone way who more eligible ... ( Ada orang lain yang sangat lebih layak ).....”
“Him? ..... ( Dia? ) .....”
Putra menunjuk pada Frans yang mengulas senyuman lebar sembari geleng-geleng.
“You ( Kau )”
Ramone menyematkan sebuah cincin yang tadinya bertengger di salah satu jarinya ke salah satu jari Putra.
“I choose you ( Aku memilihmu )”
__ADS_1
*****
To be continue ....