
Happy reading ....
🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵🍵
“Alright... ( Baiklah )...”
Putra tidak meneruskan kata-katanya kala kedua telinganya menangkap suara deru mobil dari arah pekarangan depan Villa mereka.
Hingga membuat Putra langsung saling lempar tatap dengan para saudaranya.
“Tuan ...”
“Coba cek siapa yang Pak Abdul!”
“Biar saya saja Tuan!”
“Iya coba kau cek Suheil!”
“Baik Tuan!”
*****
“You think that is the crook that already find out all of us were back? .. ( Menurutmu itu si baj*ngan yang sudah mengetahui kalau kita sudah kembali kesini? ..... )”
Garret berkata pelan.
“No, I don’t think so! ... he won’t dare!..”
“( Tidak, kurasa bukan!... dia tidak akan berani!.... )”
Putra menanggapi.
“I agree with you Putra! ... ( Aku setuju denganmu Putra! ).....”
Damian menimpali.
“I believe his waiting for us come to him and praise him... ( Aku percaya dia sedang menunggu kita datang padanya untuk mengagungkan nya... ) Cih!”
Damian berkata sinis.
****
“Siapa yang datang Suheil?”
“Sounds like more people come, because I heard a motor cycle machine also. Right?”
“( Sepertinya ada cukup banyak orang yang datang, karena aku juga mendengar suara mesin sepeda motor. Benar kan? )”
Putra dan saudaranya yang lain menanggapi ucapan Addison dengan anggukan, yang berucap sebelum Suheil menjawab pertanyaan Putra. “Jadi siapa yang datang Suheil?”
“Saya kurang tahu, Tuan” Jawab Suheil. “Ada dua mobil dan satu sepeda motor yang belum pernah saya lihat sebelumnya” Sambung Suheil. Putra akhirnya mengayunkan langkah untuk pergi ke bagian depan Villa. Diikuti Addison, Garret dan Damian serta Pak Abdul dan Suheil.
“Orang-orangnya Baskoro?”
“Bukan sepertinya Tuan.. Yang dimotor saya ga pernah liat. Terus mobil yang dipakai juga saya belum pernah liat sebelumnya”
Putra pun mengangguk sembari berjalan.
“Heeemmm.... not bad ( boleh juga )”
“Looks like that he total serious with us! ( Sepertinya dia cukup serius pada kita! )”
Addison dan Damian berkomentar saat melihat sosok yang mereka kenali turun dari salah satu mobil.
__ADS_1
Putra menyunggingkan senyum pada pria yang menampakkan senyumnya pada empat orang yang sudah berdiri di pelataran teras Villa.
**
“Hi! Good evening... ( Selamat sore ).. Handsome guys! ( Para pria tampan! )”
Pria yang baru saja keluar dari mobil yang ditumpanginya itu langsung menyapa Damian, Putra, Garret dan Addison dengan sapaan ramah berikut senyuman di wajahnya.
“You quite fast, Arthur! ( Cepat juga kau, Arthur! )”
“Just trying to get an attention from four great guys”
“( Hanya mencoba mendapatkan perhatian dari empat pria hebat )”
“Cih! As Kisser!* ( Penjilat! )”
Damian dengan celetukan yang disertai kekehannya.
Arthur yang sama sekali tidak merasa tersinggung sedikitpun itu juga ikut terkekeh lalu menyalami empat orang yang sedang berdiri di pelataran sebuah bangunan megah, dengan dua orang pria lain dibelakang mereka.
Putra kemudian memperhatikan orang-orang yang datang bersama Arthur.
Arthur yang sadar jika Putra memperhatikan orang-orang yang dibawanya itu langsung memanggil kesemuanya dan memperkenalkan Putra berikut tiga saudaranya itu pada mereka.
Dan Putra mendengus geli saja kala Arthur yang juga fasih berbahasa Indonesia itu menyebut Putra, Damian, Garret dan Addison sebagai Bos Besar.
Lalu Putra mempersilahkan Arthur berikut lima orang yang bersamanya itu untuk masuk kedalam Villa.
“From what I remember, I only asked you to bring two men ( Seingatku, aku hanya memintamu membawa dua orang saja? )”
“Well, consider that I try to make an improvement? .. ( Yah, anggap saja kalau aku berimprovisasi? ) ..”
Putra mendengus geli lagi mendengar ucapan Arthur yang pribadinya memang nampak sedikit nyeleneh itu.
“However, it’s a big and Luxury place! .. ( Ngomong-ngomong, tempat ini mewah dan besar! ) ..” Ucap Arthur yang terkagum-kagum pada Villa milik Putra dan keluarganya itu.
Enam orang yang datang bersama Arthur pun sama takjubnya dengan Arthur dari sejak memasuki pekarangan Villa yang memang tak berpagar, sampai mereka melihat sebuah bangunan yang berdiri kokoh, besar dan mewah di atas sebuah bukit itu.
“Now you believe how rich we are? ( Sekarang kau percaya betapa kaya rayanya kami? )” Celoteh Putra.
Arthur terkekeh kecil. “Totally believe! ( Benar-benar percaya! )” Sahut Arthur.
Ketakjuban Arthur dan orang orang yang bersamanya masih berlanjut saat Putra mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa kulit yang ada di ruang tamu Villa.
Selain ketakjuban pada bangunan yang disebut Villa namun lebih mirip dengan sebuah kastil kecil jika menurut Arthur, Villa milik pria bernama Putra dan keluarganya ini benar-benar memiliki cita rasa seni tinggi di dalamnya. Bahkan pintu Villa milik Putra dan keluarganya itu begitu artistik desainnya.
Mata Arthur menikmati setiap furniture yang ada di sekelilingnya sekarang. Benar yang dibilang oleh Putra kalau Arthur memang berkecukupan, tapi tidak cukup kaya. Yah, jika Putra membandingkan dengan dirinya dan keluarganya, Arthur rasanya cukup tahu diri setelah datang ke Villa milik Putra ini.
Sofa kulit yang sedang didudukinya ini, Arthur yang paham barang-barang dengan kualitas terbaik, tahu jika sofa tersebut dibuat secara khusus. Dan kulit yang melapisinya adalah kulit dengan kualitas terbaik, termasuk kayu yang menjadi rangka sofa tersebut.
Belum lagi beberapa lukisan yang Arthur tahu juga sebagian diantaranya adalah lukisan antik. Termasuk beberapa barang antik lainnya, yang membuat Arthur cukup bergidik jika membayangkan harganya.
Rasanya beberapa orang dari kalangan atas yang Arthur kenal di Ibukota juga tidak sampai memiliki barang mewah dan antik sebanyak di Villa milik Putra dan keluarganya ini. Arthur sedikit menggelengkan kepalanya karena barang-barang didalam Villa tersebut.
Tidak hanya Arthur yang takjub, tapi lima orang yang bersamanya yang bahkan sampai melongo melihat seisi ruang tamu dalam bangunan yang mereka datangi saat ini. Bahkan figura yang membingkai beberapa foto terukir oleh lapisan emas.
Sesak nafas rasanya, melihat barang-barang yang ada disekeliling mereka itu.
Dan itu baru satu ruangan saja.
Jadi tidak salah jika sejak awal mengenal Danny, Arthur sudah menduga kalau orang yang mempekerjakan Danny menurutnya kala itu, bukanlah orang biasa.
**
__ADS_1
Putra dan ketiga saudaranya itu bukan orang biasa.
Bukan sekedar orang atau keluarga kaya raya lebih tepatnya.
Namun Arthur memang tidak pernah mengetahui empat pria yang nampak elegan itu sebelumnya.
Yang ia tahu, sejak dirinya berurusan dengan Danny, Putra dan keluarganya berkebangsaan Italia.
Hanya saja Arthur merasa sedikit heran, karena dari empat orang pria dihadapannya ini, hanya satu orang saja yang memang terlihat jelas jika pria itu memang orang Italia asli yang meskipun fasih bahasa Inggrisnya, namun aksen Italianya begitu ketara.
Selain dari satu-satunya wanita yang ada di dalam keluarga tersebut yang juga pernah diperkenalkan padanya.
Sementara tiga lainnya, termasuk bocah yang berusia kurang lebih lima atau enam tahunan, berperawakan Inggris asli dengan aksen British yang cukup juga ketara.
Meski Putra sedikit berbeda, karena warna rambutnya yang hitam legam, sewarna dengan alisnya yang nampak menghiasi kedua mata elang Putra yang membuat mata itu nampak tegas dan tajam.
Hingga Arthur punya pendapatnya sendiri yang berdasar dari instingnya, tentang satu keluarga yang meminta Danny membuatkan identitas baru untuk mereka karena sepertinya akan tinggal cukup lama di negeri yang kaya budaya itu.
Tapi apapun itu, siapapun Putra dan keluarganya, yang Arthur tahu dia merasa kalau dia perlu menjadi dekat dengan orang-orang itu. Tadinya ingin sekedar mencari keuntungan dan bisnis saja. Tapi nyatanya setelah lebih kenal, Arthur merasakan kecocokan dan kenyamanan meski baru saja saling mengenal.
Jika ditanya mengapa Arthur juga tidak tahu kenapa bisa merasa seperti itu. Padahal dia bukan orang yang mudah mempercayai orang yang baru ia kenal. Namun empat orang itu, pria bernama Putra terutama, punya aura tersendiri yang membuat Arthur memiliki penilaian lebih atasnya.
***
“If I may know, what for the two people that you have been asked, Sir? ( Jika aku boleh tahu, dua orang yang anda minta sebelumnya itu untuk apa, Tuan? )”
Arthur bertanya pada Putra.
“Before I answer your question, did you get what I asked you beside the men? ( Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, apa kau mendapatkan apa yang kuminta padamu selain dua orang yang kuminta? )”
“Sure, I do ( Tentu saja )”
Arthur mengkode salah seorang yang bersamanya dan memegang sebuah amplop besar di tangannya untuk mendekat.
“Is that information is enough? ( Apa informasi itu cukup? )”
Arthur lanjut berbicara seraya bertanya pada Putra yang sudah menerima dan membuka sekaligus membaca apa yang tercantum di lembaran kertas di dalam amplop tersebut.
Seringai tipis nampak di bibir Putra kemudian. “Suheil!” Panggil Putra pada anak laki-laki Pak Abdul yang juga ada didekatnya itu dan dengan sigap menyahut seraya mendekati sang Tuan yang memanggilnya.
“Saya, Tuan.....”
Suheil menyahut sopan.
“Kau sudah mengecek keberadaan Baskoro di tempat tinggalnya bukan?”
Suheil pun langsung mengangguk dan menyahut dengan suara rendah dan sopan.
“Sudah, Tuan .....”
“Apa dia ada disana?”
“Ada, Tuan .....”
Putra manggut-manggut kemudian dan seringai tipisnya tadi kini mulai kian nampak.
“Let’s play then! ( Ayo kita bermain kalau begitu! )”
Putra menatap satu-satu tiga saudaranya.
***
To be continue ........
__ADS_1