
Happy reading...
*********
“Jika tidak salah, katanya kalian ingin membangun pabrik teh di daerah ini ya Putra? ..”
Gadis bertanya kala ia dan Putra sedang duduk bergabung, bercengkrama dengan anggota keluarga mereka yang lainnya selepas makan malam.
Putra mengangguk. “Sedikit agak jauh dari sini ...” ucap Putra kemudian.
Gadis manggut-manggut. “Apa nama daerahnya?...” tanya Gadis lagi.
“Entahlah .. aku tidak terlalu memperhatikan nama daerah letak lahan dimana kami akan membangun pabrik teh itu .. aku hanya hafal daerah dan jalanan menuju kesana ..”
Gadis manggut-manggut.
“Kenapa? ...” tanya Putra pada Gadis.
“Tidak apa-apa. Hanya tanya saja..”
“Pak Abdul yang tahu nama daerahnya...”
“Iya, aku hanya tanya saja kok..”
Putra menarik sudut bibirnya.
“Kamu boleh tidak hanya sekedar bertanya tentang segala hal dalam keluarga ini, Gadis ....”
Putra berucap sembari mengelus kepala Gadis dengan lembut. Mereka yang ada disana hanya sesekali menoleh pada sepasang pengantin baru yang nampak mesra itu dan tersenyum tipis.
“Kamu memiliki hak untuk tahu segala hal tentang keluarga ini karena kamu sudah menjadi bagian di dalamnya. Bahkan hak itu sudah aku berikan sejak dari kita belum menikah. Jadi jangan sungkan untuk bertanya, karena kamu berhak tahu apapun tentang keluarga ini, terlebih sekarang kamu sudah resmi menjadi istriku... Dan itu memberikanmu hak penuh untuk bertanya, jika memang ada hal yang ingin kamu tanyakan.”
“Iya...”
Gadis menganggukkan kepalanya sembari menatap Putra dengan tersenyum. Putra balas tersenyum juga pada istrinya itu.
Kesemua orang itu tidak ikut nimbrung dengan pembicaraan Gadis dan Putra yang menggunakan bahasa Indonesia, karena memang belum paham dengan percakapan panjang yang menggunakan bahasa tersebut.
Begitu pula Ramone yang sedang duduk menonton televisi sambil memangku Anthony.
Ia juga tak masuk campur, meskipun ia cukup paham dengan bahasa Indonesia, walau amat sangat jarang menggunakannya, terlebih sejak sudah lama ia baru kembali ke negara tersebut.
Negara yang kemungkinan besar akan menjadi tempat tinggalnya karena kini ia sudah akan tinggal bersama Putra, anak baptis kesayangan dan yang Ramone banggakan meski jarang juga mereka bertemu sejak kematian ayah Putra.
Namun begitu, komunikasi mereka cukup berjalan lancar, walau saat Putra pindah ke Italia untuk mengikuti almarhum Rery, mereka sudah jarang berkomunikasi.
Selain memang Ramone tahu jika Putra disibukkan untuk membantu Rery membangun semua dari awal sejak Rery memutuskan meninggalkan Inggris tempat dimana keluarga ayah kandung Anthony itu berada, Ramone sendiri juga sibuk dengan bisnis dan ‘kerajaannya’ di Belanda.
Ramone sebenarnya sempat menawarkan bantuannya pada Rery jika Rery ingin kembali ke Inggris dan mempertahankan apa yang seharusnya ia miliki namun terhalang karena Jaeden membuat Rery bermusuhan dengan sang ayah. Dan Rery menolak tawarannya itu, karena Rery ingin memulai lembaran baru hidupnya di Italia.
Jadi Ramone tak pernah membahasnya lagi. Karena sepanjang kehidupan Rery yang baru di Italia, tak ada masalah yang berarti sampai ke telinganya.
Sejalan dengan itu, Ramone pun fokus pada kehidupannya di Belanda dan dengan apa yang ia lakukan disana.
Sampai saat kabar buruk nan mengerikan mengenai kematian Rery dan Madelaine sampai ke telinganya, dan ia benar-benar kehilangan kabar tentang kondisi Putra.
Ramone sangat panik dan khawatir saat itu.
Berita yang sampai pada Ramone jika Rery dan keluarganya tewas dihabisi seseorang yang tidak diketahui siapa oleh penduduk daerah tempat tinggal Rery di Italia.
Selain itu, penduduk setempat seolah tutup mulut dengan apa yang terjadi pada Rery dan keluarganya.
Jadi Ramone cukup merasa panik dan khawatir kala itu, jika semua orang setia Rery juga sudah dihabisi, termasuk juga Putra tanpa terkecuali.
Namun selinting informasi mengatakan Putra yang masih hidup membawa secercah harapan bagi Ramone untuk mencari anak baptisnya itu, hingga pada akhirnya sebuah informasi yang dirasa akurat bagi Ramone tentang Putra membawa dirinya datang ke Indonesia, dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri mengenai informasi tentang anak baptisnya itu.
Ramone lega karena anak baptis kesayangan dan kebanggaannya itu ternyata masih hidup, terlebih lagi Anthony yang Ramone juga sayangi tak ikut menjadi korban pembunuhan masal di mansion pribadi keluarganya di Italia, seperti kedua orang tua kandungnya.
Dan disinilah Ramone sekarang.
Sudah menemukan anak baptisnya dan memutuskan untuk tinggal dan menjadi keluarga dalam arti sebenarnya bersama Putra dan orang-orang almarhum Rery yang masih tersisa dan hidup bersama Putra untuk terus bertahan sampai merasa cukup kuat untuk membalaskan dendam pada orang yang telah menghabisi Rery, istrinya dan orang-orang setia Rery dengan kejam.
Untuk itu Ramone akan dengan senang hati membantu Putra dan para saudara angkatnya itu.
Bahkan Ramone memberikan posisi kepemimpinannya di Belanda pada Putra, yang juga memiliki darah campur negara tersebut dari ibu kandung ibunda Putra yang memang seorang warga negara Belanda.
Sementara darah Indonesia yang mengalir di tubuh Putra adalah keturunan dari kakek kandungnya.
**
“Ah ya, when we can move to our new house? ( Kapan kita bisa pindah ke rumah baru kita? ) ...”
Semua mata yang sedang duduk bercengkrama di ruang santai Villa, kemudian beralih pada Anthony yang barusan mengucapkan sebaris kalimat pertanyaan itu.
Bocah tampan tersebut sudah bergeser dari pangkuan Ramone, dan kini sudah duduk diantara Addison dan Bruna. Anthony kemudian menggigit potongan apel yang ada di atas piring di hadapannya, selepas ia bertanya.
“That house still in preparation Anth ( Rumah itu masih sedang disiapkan Anth ) ...” Garret yang menjawab.
“Beside, we’re not moving to that house ( Lagipula kita bukannya pindah ke rumah itu ) ... This Villa will be our main place to live ( Villa ini akan menjadi tempat tinggal utama kita ), Anth... And the house at the Capital will be occupy only if we go there ( Dan rumah yang ada di Ibukota hanya akan ditempati apabila kita kesana )”
Putra menimpali.
“Yes I get it Papa... ( Iya aku mengerti itu Papa )...”
Anthony pun menyahut.
“I just feel excited to swim in the swimming pool at there ( Aku hanya merasa bersemangat untuk berenang dalam kolam renang yang ada disana ) ...”
Anthony kemudian berucap lagi. Putra dan yang lainnya pun tersenyum.
“I’ll find people to build a swimming pool here at the backyard then... ( Kalau begitu aku akan mencari orang untuk membangun sebuah kolam renang di halaman belakang... )”
“Really? ( Benarkah? ), Papa?!” Anthony nampak begitu sumringah, sampai-sampai dia bangkit dengan cepat dari duduknya lalu langsung menghampiri Putra dan amat bersemangat.
Putra pun manggut-manggut saat Anthony sudah berdiri didepannya sembari menanyakan lagi tentang ucapan sang Papa barusan.
“Yes. Really.”
__ADS_1
“You’re the best Papa! ( Papa memang yang terbaik! )”
“But promise me and all of them ... ( Tapi berjanjilah padaku dan pada mereka semua ... )”
Putra menunjuk para orang tua angkat Anthony yang lain, termasuk pada satu kakek angkat Anthony yang juga sedang mengulas senyuman.
“That you will be more careful and listen to what we said when the swimming pool that I will build here, is ready. ( Bahwa kamu akan lebih berhati hati dan mendengarkan apa yang kami katakan saat kolam renang yang akan ku bangun, telah siap )”
“Yes Papa, I promise.”
“Good ...”
**
“You guys do not have any plan for a Honey Moon? ( Apa kalian tidak memiliki rencana untuk berbulan madu? )..”
Ramone bertanya pada Putra dan Addison kala Gadis dan Bruna telah memisahkan diri dari mereka untuk mengantar Anthony pergi tidur ke kamar pribadi bocah tampan tersebut.
“Not for now.. ( Tidak untuk saat ini )..”
Putra yang menjawab pertanyaan Ramone.
Addison kemudian mengiyakan. Dan Ramone manggut-manggut. Sementara Damian dan Garret tidak berkomentar.
Danny yang juga sudah ikut serta tinggal di dalam Villa, malam ini sedang tidak bermalam disana.
Danny yang bertanggung jawab atas Restoran milik Putra dan keluarganya itu sudah kembali pada pekerjaan utamanya tersebut.
“And have you guys told to your wifes that both of you are pending the Honey Moon? ( Dan apa kalian sudah mengatakan pada istri-istri kalian jika Bulan Madunya ditunda? )”
“Me and Bru already talked about it, and she’s not even asked for that .. ( Aku dan Bruna sudah membicarakan hal ini, dan dia bahkan tidak memintanya ) ..” Addison menjawab lebih dulu pertanyaan Damian barusan.
“And what about Gadis ( Lalu bagaimana dengan Gadis ), Putra?..” gantian Garret yang bertanya.
“I haven’t discuss that with her actually.. ( Aku sebenarnya belum membahas hal itu dengannya )..”
“Well I think that you should to talk about it with her .. ( Yah aku rasa kau harus membicarakan hal itu dengannya ) ..”
“Yeah, could be Gadis had a wish for it.. And I think you have to ponder it if she has a willing to do the Honey Moon.. ( bisa saja Gadis memiliki keinginan untuk itu.. Dan aku pikir kau harus mempertimbangkannya jika ia memang ingin berbulan madu ) ..”
“I will talk to her about that after this.. ( Aku akan bicara padanya setelah ini )..” sahut Putra pada Ramone yang barusan memberikan saran padanya. “I will reconsider if Gadis really wants to go for a Honey Moon ( Aku akan mempertimbangkan kembali jika Gadis memang sangat ingin pergi berbulan madu )”
“Her presence really make some effect to you, right Zoon?.. ( Kehadirannya benar-benar memberikan pengaruh padamu, ya Nak? )..”
Ramone tersenyum sembari menepuk-nepuk pelan pundak Putra.
“She is ( Iya ) ..” jawab Putra pada ayah baptisnya itu seraya manggut-manggut.
Untuk sesaat para pria itu kemudian terdiam dan saling menyesap batang nikotin di selipan tangan mereka.
Sementara Ramone menyesap cerutunya. Lima pria itu sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing sejenak.
“However, talk to Gadis about this Honey Moon thing.. and if the Honey Moon still pending then there is something that you have to do, Zoon ( Bagaimanapun, bicarakan dengan Gadis soal Bulan Madu itu.. dan jika memang tetap ditunda maka ada hal lain yang harus kau lakukan, Nak ) ..”
“What is it? ( Apa itu? )” tanya Putra pada Ramone.
**
Putra tidak langsung masuk ke kamar pribadinya dan Gadis saat ia telah selesai mengobrol dengan empat pria lainnya di teras halaman belakang Villa tadi.
Putra lebih dahulu memasuki kamar Anthony, dimana si pemilik kamar sudah nampak pulas dalam tidurnya.
Jadi Putra hanya sekedar melihat Anthony dan memberikan bocah tampan tersebut kecupan selamat malam dan selamat tidur seperti selalunya.
Setelahnya, barulah Putra menyusul Gadis di kamar mereka melalui pintu penghubung antara kamar Anthony dengan kamar pribadi Putra dan Gadis. Putra menarik sudut bibirnya saat melihat Gadis sedang merapihkan ranjang mereka.
“Apa Nyonya Putra sudah ingin tidur? ..” ucap Putra yang mendekap Gadis dari belakangnya.
“Tentu saja,” sahut Gadis.
“Benarkah?”
“Iya benar lah.”
Putra kemudian membalikkan tubuh Gadis agar menghadapnya.
“Hoaamm. Lihat kan aku sudah mengantuk ini?” Gadis menguap didepan Putra.
Putra mengulum senyumnya. Ia tahu itu hanya akal-akalan Gadis saja agar tidak ‘diserang’ olehnya.
“Aku lihat matamu masih segar.”
“Mataku sudah sangat sayu ini,” sahut Gadis.
“Begitukah?”
“Hummmm..”
“Ya sudah..”
“Jadi, aku tidur duluan ya?”
“Tidurlah. Aku kan masih dapat ‘melakukannya’ meskipun kamu tidur,” celoteh Putra.
Gadis dengan cepat mendelik pada Putra. “Itu namanya memperkosa.”
Putra pun langsung terkekeh geli mendengar ucapan Gadis itu. “Mana ada suami yang memperkosa istrinya sendiri?”
“Ya kalau kamu melakukannya tanpa permisi, itu sama saja memperkosa walaupun aku ini sudah menjadi istri sahmu! Suami istri itu kan harus saling menghargai pendapat untuk segala hal?!” cerocos Gadis.
Lagi-lagi Putra terkekeh geli mendengar cerocosan Gadis yang orangnya sedang merungut saat ini, sambil menatap padanya.
Putra manggut-manggut kemudian. “Kalau begitu ..” Putra langsung mengunci tubuh Gadis dan merebahkannya di atas ranjang. “Aku ‘lakukan’ saat kamu masih sadar.”
“Putra!” Gadis segera memekik saat Putra sudah berada diatasnya kini. Sekaligus Gadis meronta kecil dibawah kukungan suaminya itu.
“Sstt, kamu ini berisik sekali.”
__ADS_1
Putra meletakkan telunjuknya di bibir Gadis.
“Habisnya kamu..”
Gadis mencebik lagi.
“Kenapa memang denganku, hem?”
Putra menatap Gadis dengan tersenyum jahil.
“Ya itu..”
“Itu apa, hem?”
Putra masih menggoda Gadis.
“Yaa itu lah!.. Jangan pura-pura tidak mengerti.”
Gadis kembali meronta kecil untuk membebaskan diri dari kukungan suaminya yang wajahnya sedang sedikit mesum itu.
“Minggir, aku mau tidur ini!!”
Gadis mencoba menyingkirkan tubuh Putra dari atasnya.
Namun sayangnya tubuh Putra terlalu kokoh mengukungnya.
“Ya sudah aku tiduri kalau begitu. Pasti nyenyak tidur kamu.”
“Nyenyak kepalamu.. yang ada badanku akan sakit kalau kamu tiduri!”
Putra terkekeh lagi. Dan didetik berikutnya Putra membungkam bibir Gadis yang melayangkan protes-protes kecil padanya itu.
“Aku mencintaimu.”
Putra berucap selepas mencium Gadis.
“Apa kamu sedang merayuku?..”
Putra mendengus geli lalu mencubit gemas hidung Gadis.
“Mencurigai suamimu sekali, hem? ..”
“Memang patut aku curigai kalau kamu sudah berlaku manis saat kita sedang berduaan begini.”
“Kamu ini. Sekalipun begitu kan wajar saja merayu dan meminta hak batinku sebagai suami pada istriku?..”
“Iya memang, hakmu. Tapi rayuanmu itu selalu mengarah pada hal ‘itu’. Lagipula apa kamu tidak bosan kalau sering melakukan itu?”
“Tentu saja tidak.” ucap Putra. “Terlalu nikmat, mana mungkin aku bosan?” lalu Putra terkekeh.
“Dasar mesum!” Gadis pun mencebik lagi.
“Aku kan mesum pada istriku.”
Cup!.
Putra mengecup bibir Gadis. Lalu Putra bergeser dari atas Gadis, kemudian memposisikan dirinya untuk berbaring di atas ranjang.
“Kemarilah.” Putra menepuk-nepuk pelan pada bantal yang ada didekatnya. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Gadis pun beringsut ke tempat yang ditepuk Putra.
“Ada apa? ..”
“Apa kamu ingin pergi berbulan madu?”
“Kenapa bertanya padaku? ..” tukas Gadis.
“Ya memang harus aku tanyakan. Biasanya wanita mengharapkan sebuah bulan madu setelah pernikahan?”
Putra menyampirkan rambut Gadis ke belakang telinga istrinya itu.
“Dan kita memang belum sempat membicarakan soal itu bukan?” sambung Putra.
“Iya memang kita belum membicarakan soal itu.” Sahut Gadis. “Tapi aku tidak sampai memikir soal Bulan Madu.”
Gadis kemudian beringsut untuk mendekap Putra yang langsung juga mendekap balik Gadis.
“Bisa menikah denganmu saja aku sudah bahagia.” Sambung Gadis.
Putra merasakan hangat yang menyeruak dalam hatinya atas ucapan Gadis.
“Aku rasa itu tidak perlu lah Putra.” Ucap Gadis lagi. “Lagipula bukankah kamu masih punya banyak urusan yang belum diselesaikan disini. Kamu dan saudara-saudaramu kan mau membangun Pabrik, dan pasti banyak urusan lainnya juga. Rasanya akan egois sekali kalau kita pergi berbulan madu.. Belum lagi jika harus meninggalkan Anthony. Tidak perlu ah kita berbulan madu.”
Gadis mengeratkan dekapannya pada Putra.
“Nanti saja, kalau sudah senggang, atau segala urusanmu sudah selesai, mungkin kita semua bisa merencanakan sebuah liburan?”
Kemudian Gadis sedikit mendongak untuk menatap pada Putra.
“Ya?” Gadis meminta persetujuan kecil atas idenya.
“Ya sudah kalau begitu.”
Putra pun mengangguk seraya tersenyum pada Gadis.
“Gadis..”
“Ya?..” sahut Gadis pada Putra yang sedang menatapnya cukup serius.
“Aku akan pergi untuk sementara waktu.”
**
To be continue ..
Semoga tetep enjoy.
__ADS_1