LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 424


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“Suaminya Gadis galak banget, Bu. Tapi gantengnya bukan main aslinya, ya ampun!! –“


“Eh iya Mad, tadi kalo ibu ga salah denger, kamu bilang kamu udah pernah ketemu sama dia sebelumnya? –“


“Iya. Kan aku udah pernah ngomong sama Ibu pas pertama kali aku dateng ke sini abis liat foto kawinannya itu si Gadis, kalo aku kayaknya pernah ketemu sama suaminya itu ...”


“Kapan? –“


“Udah agak lama sih, Bu. Tapi laki – laki ganteng yang aku temuin, ga bakal aku lupa mukanya. Apalagi suaminya si Gadis itu ... ganteng banget! Aku bener – bener jatuh cinta sama dia kayaknya, Bu! Mana kaya banget lagi!–“


“Ya udah, langsung kamu deketin dia terus setiap ada kesempatan. Jangan disia – siain! –“


“Tapi dia galak banget, Bu! ... Tadi aja aku diusir begitu –“


“Ya karna dia belum kenal kamu! Atau engga karena ada Gadis makanya dia begitu sama kamu sikapnya –“


“Bisa jadi sih ya, Bu? –“


“Pokoknya kamu pepet dia terus. Si Gadis kan sok lembut tuh orangnya? Nah kamu juga manis – manis lah sama suaminya si Gadis itu. Masa kamu kalah sama si Gadis?? ...”


“Iya tapi caranya gimana, Bu??? –“


“Gampang itu sih!”


“Gampangnya???”


“Kamu pake baju yang bagus yang kasih liat nih badan kamu yang bagus. Dia pulang kan pasti ngarep dapet ‘jatah’ dari si Gadis? Nah si Gadis lagi begitu keadaannya, ga mungkin bisa layanin suaminya. Kesempatan itu buat kamu. Kamu ada bawa baju yang seksi ga? –“


“Aku pake baju apaan juga terlihat seksi, Bu –“


“Ih yang menggoda maksud Ibu. Yang bikin ngiler lalaki.”


“Ada, Bu. Aku emang ada bawa baju yang seksi banget karena emang niat buat godain laki – laki londo yang pertama yang kita kira kalo dia itu suaminya Gadis –“


“Nah ya udah, nanti malem liat situasi. Kan ga mungkin suaminya si Gadis ngerem di kamar seharian? Trus ibu liat ada ruangan kayak kantor gitu di sini, jadi ada kemungkinan suaminya Gadis itu bakal ngurusin sesuatu di sana.”


“Kalo gitu, nanti aku akan awasin terus gerak – gerik suaminya Gadis itu ... nanti pas dia lagi sendirian, aku akan mengeluarkan jurus menggoda aku yang ga bakal bisa dia tolak apalagi setelah ngeliat badan aku yang seksi ini –“


“Pasti tergoda dia sama anak Ibu yang cantik dan seksi ini! Lagian, mana ada kucing nolak dikasih ikan??? –“


🍁🍁


“Alright then, Gar. Everyone, talk to you guys later ( Baiklah jikalau begitu, Gar. Semua, kita bicara lagi nanti ) ...”


Putra yang sebelumnya berbicara dengan empat orang pria yang berada di ruang kerja ketika Putra memasuki ruangan tersebut, kemudian bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada empat pria tersebut --- setelah Putra mencukupkan dirinya bercakap dengan Damian, Garret, Arthur dan Devoss tentang beberapa hal.


Lalu dikala langkah Putra sudah dekat ke kamar pribadinya dan Gadis dan kebetulan kamar Anthony bersebelahan dengan kamarnya dan Gadis itu, Putra jadi teringat pada bocah tampan kesayangannya itu, dan memutuskan untuk mampir dulu ke kamar Anthony sebelum kembali ke kamarnya.


Toh kamar pribadi Putra dan Gadis dapat dicapai dari dalam kamar Anthony juga yang memiliki pintu penghubung antara dua kamar tersebut.


Namun saat Putra sudah kian dekat dengan kamarnya dan Gadis serta kamar Anthony yang tepat berada bersebelahan dengan kamarnya dan Gadis itu, Putra sedikit mengernyit.


🍁🍁


Pintu kamar pribadinya dan Gadis terbuka, makanya ia lantas spontan mengernyit.


Pasalnya, Putra merasa menutup rapat pintu kamarnya dan Gadis itu, saat ia keluar tadi.


‘Apa Gadis keluar kamar? ...’


Putra membatin sambil celingukan.


Hendak berbalik arah, namun karena mendengar suara dari kamarnya dan Gadis itu, Putra pun langsung meneruskan langkah ke dalam kamarnya dan Gadis tersebut.


Menunda dulu dirinya, yang sebelumnya hendak menyambangi Anthony, di kamar pribadi bocah tampan kesayangannya itu.


“Apa kau tidak faham peringatanku tadi?! ...”


Dan saat Putra telah berada di ambang pintu kamarnya dan Gadis tersebut, Putra langsung saja berseru dengan wajah kesal.

__ADS_1


Sambil Putra menatap tajam kepada seseorang selain Gadis yang ada di sana.


Dan seruan tiba – tiba Putra itu membuat Gadis berikut seseorang yang bersamanya terkejut bersamaan.


Bahkan Bruna dan Anthony yang berada di kamar sebelah, juga mendengar seruan Putra tersebut --- dan keduanya tak lama juga langsung muncul setelah pintu penghubung antara kamar Putra – Gadis dengan kamar Anthony terbuka.


“Papa –“


“Putra.”


Suara Anthony dan Bruna terdengar dalam waktu yang bersamaan.


Termasuk juga suara Gadis.


“Putra dia hanya –“


“Kau tidak aku perkenankan masuk ke kamarku tanpa seijinku! Apa itu kurang jelas untuk kau pahami?! Atau memang kau tuli?!”


Namun Putra seolah mengabaikan tiga orang yang bersuara itu, karena Putra kembali mencetuskan seruan yang menampakkan ketidaksukaannya.


“Ma – maaf ... Tuan ...” orang yang membuat Putra nampak kesal itu bersuara dengan agak takut – takut. “Aku ... hanya ingin ... membantu Gadis aja ... karena Gadis kan habis kena musibah dan harus banyak istirahat –“


“Disini ada cukup pelayan untuk melayaninya,” tukas Putra sinis.


“Iya ... tapi aku ...”


“Papa –“


“Keluar kau.”


Putra memberikan penegasan pada orang yang sedang ia pandangi dengan tajam itu.


🍁🍁


Putra mengarahkan telunjuknya sembari berucap datar pada seseorang yang membuatnya kesal itu. Yang mana orang itu adalah Madya, setelah Anthony mendekat pada Putra dan memegang tangan Papa Putranya itu. Namun seolah tidak peduli dengan seruan Putra, Madya masih bertahan di posisinya.


Kalau sebelumnya ia nampak terkejut dan takut – takut, kini saudari tiri Gadis itu berani memandang pada Putra dengan melemparkan senyumannya pada Putra, yang Madya anggap adalah senyuman terbaiknya.


“Aku minta maaf, Tuan ...”


Bahkan masih berani Madya bicara pada Putra yang jelas telah mengusirnya.


“Mad –“


“Eum ... siapa nama suami kamu, Dis? ...“


Namun keburu Madya kembali bersuara.


“Oh iya! Putra! Aku minta maaf ya,Tuan Putra ... bukan maksud aku lancang ... aku kan hanya memberi perhatian pada Gadis karena aku khawatir pada dia ...”


🍁🍁


Putra menarik nafasnya dengan agak berat, menahan geramnya karena ada Anthony.


Pada Madya yang bukannya langsung pergi dari hadapannya, namun malah bicara lagi dengan suara lembut dan manja yang dibuat – buat.


“Tuan Putra jangan galak – galak padaku ... aku kan saudarinya Gadis? ... berarti kita keluarga kan? –“


“Ke – lu – ar,” tukas Putra yang menekankan betul suaranya sambil memandang tajam pada Madya dan kembali Putra mengarahkan telunjuknya ke arah pintu kamarnya dan Gadis.


“Iya, iya aku keluar ...” sahut Madya. “Tapi kalau –“


“Keluar sekarang kubilang!” sambar Putra dengan seruan karena ia tak bisa menahan lebih lama geramnya menghadapi Madya yang Putra anggap banyak bicara.


Dan karena nada seruan Putra lebih tinggi dari sebelumnya, Madya baru menjadi takut dan tanpa ba – bi – bu lagi langsung menyegerakan dirinya dari kamar Putra dan Gadis.


Sementara Anthony, Gadis dan Bruna yang sempat berjengkit mengendikkan bahu mereka karena terkejut juga mendengar seruan Putra yang lebih tinggi nadanya --- terpaku saja di tempat mereka.


Dan setelah Madya keluar dari kamar Putra dan Gadis, Bruna yang sudah mendekat pada Putra dan berdiri sambil memegang pundak Anthony, menepuk – nepuk pelan satu lengan Putra.


“Hold on your temper or you may get high blood pressure ( Jaga emosimu atau kau bisa terkena darah tinggi ) ...” ucap Bruna kemudian dengan mengulum senyumnya, pada Putra yang sudah beralih memandanginya, Anthony serta Gadis.


Putra mendengus kasar kemudian, lalu menggerutu.


“Molto noioso!” ucap Putra dalam bahasa Italia.

__ADS_1


Dan Bruna tersenyum geli kemudian.


“Did I shock you, Prince? ...” ucap Putra dengan suaranya yang kini melembut, pada Anthony yang ia usap penuh perasaan pucuk kepalanya dengan Putra yang sedikit merundukkan tubuhnya --- dan Anthony pun langsung menjawabnya.


“A little bit, Papa.”


Putra tersenyum kemudian setelah mendengar jawaban Anthony yang langsung Putra balas.


“Well I’m sorry then –“


“It’s okay, Papa.”


Anthony menukas ucapan Putra, seraya ia tersenyum.


Putra mengacak gemas rambut Anthony setelah mendengar sahutan Anthony pada permintaan maafnya, dengan Putra yang tetap masih tersenyum pada Anthony.


“Well –“


“Maaf ya, Putra ...”


Bruna hendak angkat suara tadinya, tapi keduluan Gadis.


“Madya tahu – tahu masuk begitu saja tak lama sebelum kamu kembali dari ruang kerja, tanpa aku sempat mencegah dia –“


“Hhh ...”


Putra menukas ucapan Gadis dengan kesahan berat.


“Jika sekali lagi dia berani masuk ke kamar ini dengan lancangnya, aku tidak akan segan mengusir dia dan ibunya dari sini tak peduli waktu andai hari ini dia kembali mengulangi sikap kurang ajarnya itu. Dan aku tidak akan mempedulikan protesmu –“


“Iya, Putra –“


“Tapi tetap juga, mereka harus hengkang dari sini besok pagi –“


‘Aduh gawat!’


Seseorang yang mendengar ucapan Putra dari luar kamar pria itu dan Gadis, langsung membatin panik di tempatnya.


Adalah Madya yang membatin dengan rencana di kepalanya itu, dimana keberadaannya yang menguping dari luar kamar Gadis dan Putra sambil merapatkan punggungnya di salah satu bagian dinding kamar pribadi Putra dan Gadis dan berdiri dengan sangat hati – hati di sana --- tidak disadari oleh Putra dan tiga orang lainnya yang sedang bersamanya.


‘Aku harus buru – buru bilang ke ibu ini! harus cepet ketemu cara buat naklukkin itu suaminya Gadis hari ini juga! Pokoknya malam ini, suami Gadis harus bisa berada dalam pelukanku!’ batin Madya. ‘Ibu pasti punya cara buat itu! untuk bikin suaminya si Gadis menyentuhku, baru nanti dia pasti ketagihan sama servisku terus si Gadis sialan itu bakal ditendang dari rumah ini, dan aku yang akan gantiin posisinya! ...’


Madya pun menggegaskan langkahnya untuk pergi dari tempatnya menguping dan langsung menemui ibunya di kamar yang mereka tempati dalam villa milik Putra dan keluarga barunya itu. Namun Madya juga tidak menyadari, jika ada sepasang mata yang secara kebetulan menangkap gerak – gerik wanita itu yang nampak mencurigakan. ‘Kalo aku ga salah tebak, itu saudari tirinya Nyonya Gadis, kayaknya abis nguping? ...’


Adalah Pak Abdul yang memperhatikan Madya itu dari tempatnya berada yang hendak menyambangi Putra untuk menanyakan apa salah seorang tuannya itu membutuhkan sesuatu, sambil matanya terus memperhatikan Madya yang sudah menuruni tangga yang berbeda dari arah Pak Abdul mencapai lantai dua villa yang dekat dengan kamar para majikan.


“Pak Ab – dul? ...”


“Eh, Madam. Maaf, saya tidak memperhatikan ...”


Pak Abdul segera meminta maaf selepas ia terkesiap, pada Bruna yang menegurnya dan tidak Pak Abdul sadari kedatangan satu nyonyanya yang sudah berada di dekatnya itu.


“Pak Ab – dul ... sedang apa? ...” tanya Bruna lagi.


“Oh, itu Madam ... anu ... eeng ...”


“Pak Ab – dul, silahkan bicara dengan, bahasa Indonesia. Saya ... sudah cukup paham ...”


“Oh iya Madam, saya lupa –“


“Pak Ab – dul ... ada perlu, dengan saya? ...”


“Oh, engga Madam. Itu eeng ...” gugu Pak Abdul. ‘Duh sampe lupa aku ke sini mau ngapain gara – gara merhatiin itu saudari tirinya Nyonya Gadis!’


Sambil kepala pelayan villa Putra dan keluarganya itu membatin seraya sedikit merutuki dirinya.


“Tadi ibu tirinya Nyonya Gadis, cari anaknya. Dan kalo saya ga salah liat, tadi dia naik ke lantai ini –“


“Ah ya. Wanita muda itu ... memang tadi ada di kamar Putra and Gadis ... tetapi ... dia sudah pergi ... eum ... sedari tadi ...”


‘Bener dugaan aku, kalo saudari tirinya Nyonya Gadis itu abis nguping omongan dari kamar Tuan Putra dan Nyonya Gadis ...’


Pak Abdul membatin lagi.


‘Aku bilang ga ya sama Tuan Putra soal ini? ...’

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


Bersambung ...


__ADS_2