LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 116


__ADS_3

Happy reading.....


******************


Gadis menghembuskan nafas lega, setelah Putra keluar dari kamar tempat Gadis berada saat ini. Dimana yang sebenarnya, kamar yang sedang Gadis tempati ini adalah kamar pribadi milik Putra.


“Senang sekali ya anda menggodaku, Tuan Putra?”


Gadis menggumam sebal sepeninggal Putra.


“Sekaligus membantumu melepas gaunmu pun aku tidak keberatan ....”


“Cepat keluar dari kamar ini, Putra!”


“Hahahahaha!..”


Namun tak lama sebuah senyuman terbersit dibibir Gadis yang melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, saat Gadis teringat lagi kala Putra menggodanya lalu tergelak kemudian sembari Putra keluar dari kamarnya sendiri karena diusir Gadis.


“Aku rasa Putra itu bukan hanya keturunan penyihir, tapi juga punya kepribadian ganda! Bahkan lebih mungkin.... “


Gadis menggumam lagi.


“Kadang wajahmu begitu dingin dan menyeramkan! ..  Tapi kadang begitu manis dan membuat jantungku berdebar tak karuan!”


Gadis mendengus geli kemudian sembari menggelengkan kepalanya saat sudah memasuki kamar mandi dalam kamar pribadi Putra dan menutup pintunya.


“Dasar Papa Putra! .... Kenapalah aku bisa jatuh cinta padanya..”


***


Putra yang akhirnya tidak bisa tidur itu memilih untuk pergi ke bagian belakang kediamannya dan keluarga yang berada di Ibukota itu.


Jika Putra mengatakan pada Gadis bahwa kediamannya di Ibukota itu kecil, ya sebenarnya tidak juga. Toh, walau hanya satu lantai saja rumah tersebut, tapi memiliki tanah yang cukup luas juga.


Pekarangan berumput yang tertata rapih itu bisa muat untuk memarkir tiga atau empat mobil ukuran standar. Dan punya garasi tertutup yang walau hanya muat satu mobil, namun masih ada ruang jika pun ada mobil yang terparkir di dalamnya.


Memang bangunan tersebut hanya memiliki tiga kamar tidur saja, namun ukuran kamarnya bisa dikatakan cukup luas, meski tidak ada walk in closet di dalamnya. Hanya kamar mandi dalam saja di tiap kamar. Diluar itu ada satu kamar pembantu di bagian belakang, berikut kamar mandi.


Dan sebenarnya jika dihitung, rumah tersebut memiliki lima kamar. Hanya saja dua dari kamar tersebut dialokasikan sebagai ruangan lain, yakni ruang kerja dan ruang olahraga, meskipun hanya ada dua samsak tinju besar yang


tergantung  serta satu samsak kecil di kamar yang dijadikan ruang olahraga tersebut.


Tapi alasan mengapa Putra mengatakan rumah tersebut kecil, ya wajar saja karena Putra selalunya tinggal di sebuah mansion saat di Inggris. Jangankan mansion milik keluarga almarhum Rery, mansion yang di tinggali Putra dan orang tuanya di Inggris saja bisa empat kali lipat besarnya dari rumah yang berada di Ibukota tersebut.


Bahkan tempat tinggal Putra di Ravenna yang ditempati bersama beberapa saudaranya saat masih lengkap saja berlantai dua dan memiliki taman berfasilitas barbekyu dan kolam renang, yang bagian tamannya saja hampir seluas tempat tinggalnya di Ibukota ini. Meskipun hitungannya tempat tinggal Putra di Ravenna adalah kawasan pedesaan.


***


‘Aku penasaran, apa yang membuat Gadis sampai memiliki dua pekerjaan?...’


Putra yang sulit untuk tidur itupun akhirnya pergi ke ruangan yang dijadikan ruang olahraga dan mulai mengayunkan tangannya bergantian memukuli sebuah samsak besar dengan kepalannya, hanya untuk sekedar mengencangkan otot-otot atletis lengan Putra.


‘Memang sih penghasilannya sebagai perawat tidak seberapa meskipun terkadang Gadis bekerja ekstra di Saint’ Batin Putra. ‘Apa untuk membayar rumah sewaannya yang buruk itu??  Karena penghasilannya sebagai perawat kurang mencukupi?...’ Batin Putra lagi.


Putra membatin dengan tetap memfokuskan kepalannya pada samsak.


‘Tapi yang kulihat dalam laporan yang Ar berikan, penghasilan Gadis sebagai perawat masih cukup untuk biaya hidupnya sehari-hari setelah dipotong sewa rumah setiap bulannya...Meski tidak banyak’


Otak tampan Putra sedang berpikir di sela latihannya.


‘Tapi dia bekerja lagi sebagai Lady Singer di JP untuk apa, ya? ... Jika hanya sekedar untuk gaya hidup rasanya tidak..... Karena dari yang kulihat selama ini, gaya hidup Gadis sederhana saja ... terlalu sederhana bahkan ...’


Putra berhenti sejenak.


‘Lalu untuk apa uang yang Gadis dapat dari penghasilannya sebagai Lady Singer yang dua kali lipat dari penghasilannya di Saint??’


Buk!


‘Nantilah kutanyakan pada Gadis soal itu’


Putra kembali melanjutkan latihannya.


‘Mungkin saja Gadis memiliki hutang pada seseorang?? ...’


Bak!


Buk!


‘Baiknya aku menanyakan segala hal tentang dirinya saat Gadis bangun nanti. Aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama karena menduga-duga. Dan semoga saja Gadis juga jujur tentang segalanya padaku tanpa tak menutupi apapun lagi tentang dirinya’


Bak!


“Ada yang ingin aku bicarakan lagi denganmu ..” 


Putra teringat sebaris kalimat yang tadi Gadis ucapkan.


Buk!


‘Mungkin saja hal itu yang tadi ingin ia bicarakan denganku. Mungkin Gadis memang hendak menceritakan segala tentangnya padaku’

__ADS_1


Putra kemudian meneruskan latihannya.


***


Putra memegangi samsak tinju yang ia pakai untuk latihan hingga samsak besar yang tergantung itu berhenti bergerak setelah Putra merasa cukup dengan latihannya. Titik – titik keringat sudah melintas di wajah dan tubuh Putra.


“Haahhh.... panas sekali....”


Putra melepas kaos yang ia kenakan yang terasa basah akibat rembesan keringatnya itu.


“Mungkin aku bisa tidur setelah mandi....”


***


‘Haish, aku sampai lupa jika Gadis menempati kamarku saat ini ...’


Putra sudah melangkahkan kakinya keluar dari ruang olahraga.


‘Semoga saja kamar Dami dan Garret tidak dikunci, karena aku tidak melihat kunci duplikat kamar mereka juga saat aku mencari kunci kamar Ad dan Bruna ...’


Putra melangkahkan kakinya menuju kamar Damian dan Garret.


‘Haus sekali ...’


Putra melewati kamar Damian dan Garret yang tak berada jauh dari ruang olahraga dan melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air minum.


Dan Putra mengernyitkan dahinya saat mendengar suara dari arah dapur.


***


“Aduuuh...”


Suara mengaduh yang lebih mengacu pada keluhan terdengar dari atas ranjang dengan kaki kayu jati.


“Ck!”


Menyusul suara decakan seperti sedang sebal atas sesuatu.


Dimana seorang wanita nampak terlihat sulit tidur, kemudian bangkit dari posisinya yang sedang berbaring itu.


“Selalu seperti ini jika aku berada di tempat yang baru!...”


Itu Gadis, yang sedari tadi sudah berusaha tidur setelah membersihkan wajahnya dengan seadanya di kamar mandi Putra, mengingat tidak ada pembersih make – up di rumah Putra itu.


Namun Gadis tetap membersihkan seluruh make – up nya dengan sabun yang tersedia, hingga polos kembali wajahnya.


Gadis menghela kasar nafasnya. Tadi ia sudah menarik selimut dan berusaha terpejam setelah bebersih dan mengganti gaunnya dengan salah satu bathrobe yang tergantung di salah satu bagian dinding kering kamar mandi Putra. Lalu langsung naik ke ranjang Putra setelah keluar dari kamar mandi.


“Haah! Penyakitku pada tempat baru ini menyusahkan sekali!”


Lagi – lagi Gadis berkeluh kesah sendiri. Lelah sendiri setelah mencoba tertidur dan membolak – balikkan tubuhnya di atas ranjang, namun ternyata tetap saja ia sulit tertidur karena penyakitnya akan tempat asing itu.


Saat pertama datang ke Ibukota dan mengontrak rumah pun penyakit Gadis akan tempat baru itu pun cukup merepotkannya, karena selama berhari – hari Gadis sulit untuk tidur dengan nyenyak.


Gadis sendiri juga heran pada penyakitnya itu. Hal itu sudah Gadis alami sejak kecil jika ia berada di tempat yang baru. Namun dulu, sebelum ayahnya meninggal dan sebelum Gadis pindah ke Ibukota, penyakit anehnya itu tidak


terlalu merepotkan Gadis.


Karena ayahnya akan senantiasa menemani Gadis sampai ia benar – benar terlelap jika mereka pergi ke suatu tempat dan harus menginap.


Gadis mendengus sekali lagi.


“Putra punya persediaan susu tidak ya?....”


Gadis pun beringsut dari posisinya.


***


Gadis membuka pintu kamar yang sedang ia tempati itu dengan pelan. Melongokkan sedikit kepalanya.


‘Sepertinya Putra sudah tidur’


Gadis membatin, seraya melirik pada Bathrobe yang ia kenakan.


‘Lebih baik kupastikan lagi jika Putra tidak ada saat aku keluar kamar. Entah bagaimana jadinya jika ia melihatku keluar hanya dengan mengenakan jubah mandi ini ... Bisa – bisa ...’


Gadis menepuk – nepuk pelan pipinya kemudian, sesaat sebuah pikiran yang tidak – tidak melintas di otak cantik Gadis.


‘Ah, ya Tuhaannn... apa – apaan otakku ini?!’


Kemudian Gadis kembali melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar yang ia buka sedikit.


‘Aman sepertinya’


Gadis pun melebarkan pintu kamar lalu keluar dari sana dan menutup pintu perlahan, meski pintu tersebut tidak mengeluarkan suara saat dibuka.


‘Tidak ada orang lain lagi kan, di rumah ini sekarang? ...’ Batin Gadis sembari ia celingukan saat sudah keluar dari kamar namun ia terdiam berdiri sejenak di depan pintu kamar tersebut.


Lalu Gadis celingukan lagi sebentar.

__ADS_1


‘Dua penjaga itu kan berjaga diluar ya?’ Gadis manggut – manggut kemudian. ‘Sepertinya iya...’


Gadis merapihkan bathrobe yang ia kenakan lalu mulai berjalan pelan menuju dapur.


***


‘Putra tidur dimana ya? ...’ Batin Gadis bertanya – tanya, karena ruangan yang ia lewati untuk sampai di dapur kosong.


Gadis kembali celingukan.


‘Mungkin di kamarnya Tuan Dami dan Garret...’


Gadis mengangkat pelan bahunya.


‘Atau mungkin di kamar lain... Eh tapi Putra bilang hanya ada tiga kamar disini ...’


Gadis kembali mengangkat pelan bahunya.


‘Mungkin saja kamar Tuan Dami dan Garret tidak terkunci seperti kamar Nyonya Bruna ...’


Gadis pun melanjutkan untuk melangkah menuju dapur, setelah sebelumnya celingukan lagi sebentar.


***


‘Siapa yang sedang berada di dapur?’


Putra mengernyitkan dahinya saat mendengar suara dari arah dapur.


'Mungkin mereka haus sepertiku'


Putra mengira dalam hatinya jika itu adalah salah seorang penjaga yang hendak mengambil minum di dapur.


Putra melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dapur.


Dimana Putra langsung tertegun di tempatnya setelah dirinya sampai ke dapur Kediamannya itu.


‘Gadis...’


Dimana Putra begitu fokus menatap sosok yang menggunakan bathrobe yang nampak sedang hendak mengambil sesuatu dari dalam kulkas.


“Untung ada...”


Suara dari sosok yang Putra temukan sedang merundukkan tubuhnya itu terdengar seiring dengan kotak susu yang sudah digenggam oleh sosok tersebut.


Sosok yang merunduk tadi itu membuat Putra meneguk spontan salivanya. Karena sebuah bongkahan yang terbungkus rapi dalam bathrobe yang sosok itu pakai, meski bathrobe itu sendiri cukup panjang dikenakan oleh tubuh sosok yang sedang Putra tatap dari belakang itu tercetak cukup nyata terlihat di mata Putra meski sebentar saja.


“Tuhanku!”


Sosok itu memekik seiring tubuhnya yang berjengkit akibat terkejut setengah mati.


“Pu – Putra ...” Itu Gadis. Sosok yang berada di dalam dapur yang sedang fokus Putra tatap dan perhatikan gerak - geriknya.


Yang nampak terkejut bukan main kala Gadis menemukan sosok pria yang adalah Putra, sudah berdiri di belakangnya saat ia sudah mengambil sekotak susu dari kulkas dan sudah menutup pintu kulkas tersebut.


Bahkan kotak susu yang Gadis pegang terlepas dari pegangannya. Namun Putra melangkah dengan cepat untuk menangkap kotak susu yang terlepas dari tangan Gadis itu agar tidak sampai menyentuh lantai dan pasti akan seketika rusak kotak karton dari susu tersebut dan isinya akan mengotori lantai dapur di bawah kaki Gadis.


“Ah, ma – maaf......”


Gadis yang seketika menyadari jika ia melepaskan kotak susu yang ia pegang itu, spontan merundukkan tubuhnya, kala Putra yang dengan cepat menangkap kotak susu tersebut sedikit berjongkok di depannya.


Alih – alih bangkit dengan segera, Putra malah tertegun lagi.


Pasalnya, ada  pabrik susu yang berjarak tidak jauh dari wajahnya kini.


Pabrik susu yang tertutup kain berbulu berwarna biru donker itu tercetak begitu jelas bentuknya.


Betapa bundarnya pabrik susu tersebut meski kain berbulu itu cukup tebal menutupinya.


Serta, Pabrik susu tersebut nampak sesak karena Gadis yang mengikat tali bathrobe yang ia kenakan itu dengan kencang, setelah memposisikan bathrobe tersebut agar tidak kelonggaran di tubuhnya.


Putra meneguk kasar salivanya.


‘Apa Tuhan sedang mengujiku???? ....’


Putra membatin, seiring tangannya yang gatal hendak melonggarkan bathrobe yang Gadis kenakan.


‘Damned!’ Rutuk Putra dalam hati pada dirinya sendiri.


Merasakan sesuatu yang tadi sudah tenang di bawah sana setelah berlatih dengan samsak yang semata - mata mengalihkannya agar tidak bangun dengan sempurna.


Tapi kini, melihat Gadis dengan mengenakan bathrobe miliknya, lalu posisi Gadis sebelumnya yang merunduk hingga Putra bisa melihat sekilas namun jelas bentuk bongkahan belakang Gadis.


Lalu sekarang, pabrik susu cap nona Gadis sudah sedekat ini pula. Sungguh membuat Putra junior lebih gelisah dari sebelumnya. Dan sepertinya juga, si junior sudah mulai lancang menggeliat untuk berdiri perlahan, tapi pasti.


😁


***


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2