LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 176


__ADS_3

Happy reading ..


‘My poor junior .. ( junior ku yang malang ) ..’ Putra hanya bisa membatin pasrah saja, dan menahan h*srat kelakiannya yang tidak dapat ia salurkan saat ini pada Gadis, dikarenakan ada Anthony yang sudah pulas tertidur dengan mendekap Gadis dan begitu juga sebaliknya.


Putra menghela nafasnya pendek, namun sudut bibirnya kemudian melengkung ke atas sembari memperhatikan kedua orang yang sudah pulas terlelap di atas ranjang kamar Hotel tersebut. Putra masuk ke dalam walk in closet, lalu mengganti pakaiannya. Kemudian ia membasuh wajah dan membersihkan gigi serta mulutnya yang sedikit bau alkohol itu, dan bergabung ke atas ranjang bersama Anthony dan Gadis setelahnya.


‘Tomorrow is a big day, not only for Ad dan Bru but also for us ( Besok adalah hari besar, tidak hanya untuk Ad dan Bru, tetapi juga untuk kita ) , Gadis’


***


Esok hari ...


Pemandangan seperti saat semalam sebelum Putra memejamkan matanya masih sama.


Anthony dan Gadis nampak masih pulas terlelap di sisi Putra yang tidur dibagian pinggir ranjang yang berlawanan dengan Gadis, mengapit Anthony yang tertidur dengan wajah tenang bak malaikat menggemaskan.


Seulas senyuman teduh, terbit di sudut bibir Putra.


Lalu Putra memiringkan tubuhnya untuk meraih arloji miliknya di atas nakas, yang Putra lepaskan sebelum ia tidur.


“Sepertinya aku yang sangat tidak sabar...”


Putra menggumam saat ia melihat waktu di arlojinya.


Pasalnya Putra baru tidur beberapa jam saja, mungkin hanya tiga jam dan langit masih nampak gelap di luar sana. Putra kembali ke posisi awalnya setelah ia meletakkan kembali arlojinya ke atas nakas yang berada di sampingnya.


‘Lebih baik aku melanjutkan tidur dengan cukup agar esok hari mataku tidak berkantung dan membuat wajah tampanku ini menjadi tidak sedap dipandang...’


Putra kembali lagi mengulas senyuman, lalu mendekap pelan tubuh Anthony.


Dan Putra mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya lagi.


**


Detik berjalan ...


“Selamat pagi Papa, selamat pagi Gadis”


Anthony langsung menyapa kedua orang yang berbaring mengapitnya, saat bocah tampan tersebut telah terbangun dari tidurnya.


“Selamat pagi Anth...”


“Selamat pagi Anthony...”


Putra dan Gadis sama-sama membalas sapaan Anthony yang terdengar riang itu, yang ditambah kecupan singkat di pipi keduanya.


Tanpa menunggu Putra dan Gadis benar-benar bangkit dari posisi mereka, Anthony dengan cepat beringsut dari atas ranjang lalu langsung menuju kamar mandi.


Gadis yang sudah mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang hanya geleng-geleng dan tersenyum saja melihat tingkah Anthony pagi ini. Sementara Putra masih mendekap bantal di bawah kepalanya.


“Anthony” Gadis memanggil Anthony tepat sebelum Anthony menutup pintu kamar mandi. Dan Anthony tak jadi menutup pintu kamar mandi. Dan bocah tampan itu langsung menyahut pada Gadis yang memanggilnya barusan.


“If you offered to bathe me, well I don’t want it Gadis ... ( Jika kamu menawariku untuk memandikan ku, aku tidak mau Gadis )...”


Anthony langsung berujar.


Gadis langsung menarik sudut bibirnya ke atas.


Gadis kemudian beringsut perlahan dari atas ranjang.


“I just want to offer a help to prepare a warm water for you, Prince...”


( Aku hanya ingin menawarkan bantuan untuk menyiapkan air hangat untukmu, Pangeran ... )


Gadis merundukkan sedikit tubuhnya saat ia sudah dekat dengan Anthony. “I don’t think it’s necessary. I can prepare it myself Gadis. ( Aku rasa itu tidak perlu. Aku dapat menyiapkan nya sendiri Gadis )” Papar Anthony.


“Alright then. ( Baiklah kalau begitu ) ...”


Gadis mengiyakan sembari mengusap pelan kepala Anthony.


“Don’t be long okay?. ( Jangan lama-lama ya? ) ...” Ucap Gadis.


“Okay” Sahut Anthony.


Lalu bocah tampan tersebut segera masuk kembali ke kamar mandi.


**


“Lebih baik kamu memandikan ku saja nanti”


Gadis segera menoleh ke sumber suara saat Anthony telah masuk ke kamar mandi.


Dimana si pemilik suara masih bergeming di posisi tidurnya yang setengah telungkup dengan mata terpejam dan mendekap bantal di bawah kepalanya.


“Kontrol pikiranmu saat sedang memandangiku”


Suara dari sosok yang sedang ditatap Gadis dari tempatnya itu terdengar lagi.


“Wah, apa Tuan Putra sedang melindur?” Ledek Gadis. Lalu ia mendekat ke sisi tempat dimana si pemilik suara sedikit serak namun seksi itu berada. “Akh!”


Baru saja Gadis ingin menusuk gemas pipi Putra dengan telunjuknya, namun dirinya sudah keburu di tarik oleh Putra, hingga tubuhnya terjatuh di atas kasur ranjang.

__ADS_1


“Sepertinya aku menangkap gelagat jika anda ingin mendapat pelukan pagi hari dariku, Nona Gadis?. Bukan begitu?”


Putra yang sebenarnya memang sudah bangun saat Anthony mengecup pipinya dan memberikan ucapan selamat pagi padanya, kini telah mengukung Gadis dalam pelukannya.


Gadis terkekeh geli, saat Putra menghujaninya dengan kecupan gemas sembari mendekapnya erat. “Putra, geli...” Gadis meronta manja. Menggeser kepala Putra dengan tangannya agar berhenti mengecup wajah dan lehernya.


Namun Putra belum mau menghentikan aksinya menghujani wajah dan leher Gadis dengan kecupan gemas.


“Siapa suruh meninggalkanku tidur, hem? ...”


“Habis kamu lama sekali kembali”


“Saat aku kembali pun kamu tidak terbangun?...”


Putra sudah menghentikan hujan kecupannya di wajah dan leher Gadis, lalu membalikkan tubuh Gadis agar menghadapnya.


“Ya aku kan mengantuk dan juga lelah karena acara bridal shower kemarin ...”Ucap Gadis. Putra merengkuh erat tubuh Gadis.


“Ya sudah tidur lagi. Aku juga masih mengantuk” Putra mengeratkan lagi dekapannya pada Gadis, bahkan satu kakinya ia topangkan di atas satu paha Gadis.


Membuat Gadis kembali meronta manja sekaligus mencebik. “Iih, Putra! ... lepas!” Ronta Gadis.


“Tidak mau!...”


Putra masih mempertahankan kukungannya.


“Putra”


Gadis merengek kecil.


“Aku malu kalau nanti dipergoki Anthony saat kita sedang seperti ini”


“Masa bodoh ...”


“Putra! Ih!”


“Ouch!” Putra sedikit meringis karena merasakan perih di perutnya.


“Rasakan! ...”


Gadis meledek Putra.


“Berani sekali mencubit ku, hem? ...”


“Salahmu sendiri!”


Gadis memencet gemas hidung Putra.


“Sudah ah, aku serius ini” Ucap Gadis kemudian sembari mencoba membebaskan diri dari kukungan Putra. “Aku harus menyiapkan pakaian untuk Anthony sebelum dia selesai mandi”


Gadis kembali terkekeh karena Putra membentuk lucu bibirnya.


Cup!


Gadis memberikan satu kecupan singkat di bibir Putra.


“Apa itu?” Tukas Putra.


“Ya ciuman selamat pagi”


“Hish!” Putra nampak tak puas.


Putra mendengus kecil sembari mengangkat tubuhnya hingga membuat Gadis berada di bawahnya.


Membuat Gadis terbelalak atas aksi Putra padanya saat ini. “Put- hmphh...” Belum sempat Gadis lanjut berbicara, Putra sudah membungkam nya dengan ciuman.


“Begitu baru benar ...”


Putra menyeringai jahil sembari menatap Gadis, yang sedikit tersengal akibat serangan bibir tiba-tiba darinya.


“Dasar Papa mesuumm!!” Pekik Gadis yang sebal pada pria yang kemudian beringsut seolah tanpa dosa dari atasnya dan tergelak.


***


“Oh iya Putra...” Ucap Gadis kala ia dan Putra telah rapih dan bersiap untuk pergi ke Restoran Hotel untuk sarapan bersama dengan yang lainnya. Anthony juga masih ada di kamar mereka, dan menunggu Putra serta Gadis untuk pergi bersama ke Restoran guna mengisi perut mereka. Putra pun langsung menyahut.


“Ada apa?...” Sahut Putra seraya bertanya pada Gadis.


“Kemarin Suster Neni dan lainnya mendapat pakaian untuk para pengiring wanita, tapi kok aku tidak diberikan ya?”


Putra mengulas senyuman. “Untukmu berbeda ...”


Gadis sedikit mengernyit.


“Kenapa begitu?...”


“Sudahlah, nanti tinggal mengenakan saja”


Putra langsung menggandeng tangan Gadis dan mengkode agar Anthony bangkit dari duduknya karena dia dan Gadis telah siap untuk keluar dari kamar dan pergi ke Restoran Hotel.


***

__ADS_1


“Lalu dimana gaun untukku?” Tanya Gadis lagi saat mereka sudah keluar dari kamar hotel tempat dia, Putra dan Anthony tinggali sejak kemarin, saat Putra sedang menutup pintunya.


“Sudah di letakkan di Gereja” Jawab Putra santai pada Gadis.


“Kenapa diletakkan disana?. Kenapa tidak diantarkan kesini saja?. Nanti aku tidak sempat berdandan bagaimana?”


“Nanti ada yang akan membantu memoles wajahmu ...”


Putra kembali menjawab santai dengan menggandeng Anthony di satu tangannya, dan meraih pinggang Gadis dengan tangannya yang lain.


“Kenapa sih harus repot begitu?... membuang uang saja ... aku kan bisa berdandan sendiri. Lagipula yang menikah itu Bruna, kenapa aku harus memakai jasa perias juga sih? ...”


Gadis berceloteh. Dimana Putra mengulum senyumnya.


“She’s so chatty right ( Dia cerewet sekali benar kan ), Anth?”


Putra tak menjawab pertanyaan Gadis barusan.


Malah beralih ke Anthony yang terkekeh kecil mendengar selorohan Putra, yang Anthony tahu itu ditujukan untuk Gadis.


Pakk!


Satu pukulan ringan di lengan Putra mendarat dari tangan Gadis.


“And mean. ( Dan galak )” Cetus Putra, setelah mendapat pukulan dari Gadis pada lengannya barusan.


Anthony terkikik dan Gadis mencebik.


“Aku mengerti ya ucapan kamu ke Anthony, Putra!”


Gadis mendelik pada Putra yang cengengesan.


“Enak saja mengatakan aku galak”


Gadis berucap sebal.


“Tidak berkaca diri!” Cibir Gadis dengan merungut. “Padahal sendirinya galak kalau sedang marah ...”


“Terus saja mencibirku...” Tukas Putra. “Kucium didepan orang banyak nanti. Lihat saja ...” Sambungnya.


Gadis mencebik lagi.


‘Memang kamu akan aku cium dihadapan orang banyak saat di Gereja nanti, Gadis...’


**


“I think the Brides must go now ... Women need a preparation you know?... ( Aku rasa pengantinnya harus berangkat sekarang... Wanita butuh persiapan kalian tahu bukan?... )” Ramone berucap selepas sesi sarapan bersama Putra dan lainnya.


Tidak ada satu orang pun yang tak datang ke Restoran untuk sarapan bersama, termasuk mereka yang tetap tinggal dalam pesta nakal saat Putra dan Addison meninggalkan pesta tersebut.


Meskipun para pria lajang yang semalam berada dalam pesta nakal tidak masuk ke kamar mereka masing-masing sendirian, namun mereka tetap membangunkan diri mereka walau muka bantal masih cukup terlihat di wajah para pria selain Putra dan Addison.


Putra dan Addison sama-sama mendengus geli saat para pria dengan wajah bantal itu datang satu-satu dan sedikit terlambat datang untuk sarapan.


Pasalnya Putra dan Addison paham betul penyebab para pria hidung belang termasuk Ramone datang terlambat untuk sarapan.


Sementara Gadis dan Bruna tidak melontarkan pertanyaan apapun pada mereka yang terlambat. Gadis berpikir mungkin saja para pria yang menggelar acara pesta semalam tidur sangat larut.


Sementara Bruna yang sudah paham tabiat para pria yang beberapa diantara mereka adalah saudara angkatnya itu malas berkomentar.


“Then with who that I go to the church Papa? ... ( Lalu dengan siapa aku pergi ke Gereja Papa?... )” Anthony bertanya saat mereka mulai bangkit dari duduknya satu per satu.


“With me of course, and those men ( Tentu saja denganku, dan para pria ini )”


“Okay”


Anthony menyahut riang.


“How many suits that already prepared for me Papa? ... Two weddings means... ( Berapa setelan jas yang disiapkan untukku Papa? ... Dua pernikahan berarti... )”


“Anthony bilang apa?...” Tanya Gadis saat Anthony tidak melanjutkan ucapannya.


‘Oh my tongue... ( Aduh aku keceplosan ... )’ Batin Anthony. Ia segera menutup mulutnya, saat Putra menoleh dengan cepat padanya, seraya mendelik pada dirinya.


Putra segera berdehem. “Come, better you and Bruna prepare to go to the Church before us ... ( Ayo, lebih baik kamu dan Bruna bersiap untuk pergi ke Gereja duluan sebelum kami ... )”


Gadis pun segera juga mengangguk selepas Putra berbicara. Dan tak bertanya lebih jauh tentang ucapan Anthony yang tak terlalu Gadis dengar dengan jelas, karena bocah tampan tersebut berbicara dengan sedikit makanan yang masih ada di mulutnya.


Putra masih di tempatnya saat Gadis sudah menggandeng tangan Bruna untuk kembali ke kamar dan mengambil segala keperluan mereka untuk acara pernikahan.


“You almost ruined the surprise boy ... ( Kamu hampir saja mengacaukan kejutan nya nak... )”


“Hehe, sorry Papa ... I’m too excited ... ( maaf Papa, aku terlalu bersemangat ... )”


Anthony cengengesan dan Putra serta mereka yang belum benar-benar beranjak dari tempatnya, mendengus geli sembari mengulum senyum.


‘Semoga saja Gadis tidak memperhatikan soal ucapan Anthony tadi. Karena aku benar-benar ingin menjadikan momen nanti sebagai suatu kejutan untuknya...’


Putra membatin dengan sekuncup bahagia dalam asa yang saat ini menyelubungi hatinya.


'Aku sudah tidak sabar'

__ADS_1


**


To be continue ..


__ADS_2