
Happy reading ....
Indonesia,
“I want Papa now, Padre ..”
“Anth –“
Addison bersimpuh di sisi ranjang.
“Papa will be back soon here right after he punished that bad guy ( Papa akan segera kembali tepat setelah ia menghukum orang jahat itu )” ucap Addison dengan lembut pada Anthony kemudian.
Meski dirinya juga sedang sedikit mengkhawatirkan kondisi Putra yang kabar terbarunya belum ia dengar lagi, namun Addison tetap mencoba berpikir positif agar dia juga dapat menenangkan Anthony.
“But-but, Papa got shot ( Tetapi-tetapi, Papa tertembak )”
“And ( Dan )-“
Addison hendak lagi berucap untuk menanggapi lirihan Anthony, namun terjeda karena kedatangan Pak Abdul.
“Tuan, telepon yang ada di dalam ruangan dalam ruang kerja berbunyi-“ ucap Pak Abdul pada semua orang yang ada di kamar pribadi Anthony melalui Ramone, setelah Addison membawa bocah tampan itu langsung ke kamarnya kala Anthony pingsan.
“What was Pak Abdul said, Opa? .. is that te-le-pon means phone ( Apa yang Pak Abdul baru saja katakan, Opa? .. apakah itu maksudnya adalah telepon )?”
Ramone hendak menyahut pada Pak Abdul, namun Anthony sudah keburu menyambar untuk bertanya selepas Pak Abdul bicara.
“Y-a-“
Ramone ragu-ragu menjawab, tapi ..
“Papa!”
Anthony berseru.
“Anth!”
“Anthony!”
Semua orang terkejut karena Anthony dengan cepat turun dari tempat tidur pribadinya dan langsung berlari menuju pintu keluar.
Ramone dan Addison yang dengan cepat mengejar Anthony-karena keduanya yang yakin jika itu adalah telepon dari Inggris, khawatir ada kabar kurang baik tentang Putra.
“Hopefully everything are okay at there ( Semoga semua baik-baik saja disana ) –“
Ramone yang mengejar Anthony itu berbicara sambil saling tatap dengan Addison yang lebih dulu melangkah cepat untuk mengejar Anthony, daripada Bruna dan Gadis yang diekori juga oleh Pak Abdul.
“Ya, hope so ( semoga saja )” tukas Addison, sambil ia dan Ramone yang melangkah lebar untuk mengejar Anthony.
“Anth, wait ( tunggu )!”
Ramone dan Addison sama berseru untuk menyergah Anthony yang sudah masuk ke ruang tersembunyi dalam ruang kerja Villa, dan hendak menyambar telepon yang merupakan telepon rahasia yang dibahasakan dengan telepon saluran aman, yang kini masih terdengar berdering itu.
“Let me pick that first ( Biar aku yang menerimanya terlebih dahulu )” ucap Ramone pada Anthony.
“It’s off ( Sudah mati )” lirih Anthony kala deringan telepon di dalam ruang tersembunyi telah berhenti.
***
Inggris,
“Thom, connect me with Villa ( Thom, hubungkan aku dengan Villa ) ---“ ( Putra ).
“I think they’re still having rest ( Aku rasa mereka masih beristirahat ), Putra ..” ( Garret ).
__ADS_1
“I know .. But my heart feel so perturb about Anth ( Aku tahu .. Tetapi hatiku merasa sangat gelisah tentang Anth ) ..” ( Putra ).
“.......”
“Connect me with Villa now ( Hubungkan aku dengan Villa sekarang ), Thom.” ( Putra ).
***
“No one received the call ( Tidak ada yang menerima panggilan ), Boss-“
Thomas yang sedang menempelkan gagang telepon di telinganya itu berbicara pada Putra.
“Heemm,” gumam Putra.
“Do you want me to try again, Boss?”
“( Anda ingin saya mencobanya lagi, Bos )?
Thomas berucap seraya bertanya pada Putra. “Let me ( Biar aku saja )” jawab Putra.
Sambil Putra mengulurkan tangannya agar Thomas memberikan gagang telepon yang sedang Thomas pegang itu, padanya. Dan Thomas pun langsung mengopernya pada Putra yang sudah berada didekatnya.
Setelahnya, Putra mendudukkan diri di atas kursi yang diberikan oleh salah seorang anak buahnya dan menekan kembali beberapa tombol yang terhubung dengan gagang telepon yang sedang Putra pegang itu.
***
Indonesia,
Anthony yang tadi menangkap ucapan Pak Abdul pada Ramone itu memang nampak antusias sekali untuk pergi ke ruang kerja Villa untuk mengangkat gagang dari telepon yang berada di dalam ruang tersembunyi di ruang kerja tersebut.
Yang mana deringannya kian terdengar jelas sejak dari ruangan di depan Villa, karena ruang kerja berikut ruangan tersembunyi di dalamnya itu dalam keadaan terbuka-setelah tadi semua orang nampak panik hengkang dari area ruang kerja akibat Anthony yang mendadak pingsan.
“Anth, wait ( tunggu )!”
“Let me pick that first ( Biar aku yang menerimanya terlebih dahulu )”
Ramone berucap sambil mendekat ke telepon untuk mendahului Anthony.
“It’s off ( Sudah mati )” lirih Anthony kala deringan telepon di dalam ruang tersembunyi telah berhenti.
Addison pun bersimpuh di dekat Anthony yang nampak muram itu. “That could be wasn’t Papa, because ( Itu mungkin bukan Papa, karena )-“
“If that wasn’t Papa ... then it means Papa is not okay because he was been ... shoo-ted ( Jika itu bukan Papa ... maka itu berarti Papa tidak sedang baik-baik saja karena dia telah ... ter-tembak )”
“No ( Tidak )...” tukas Bruna.
Istri Addison itu juga ikut bersimpuh bersama suaminya di dekat Anthony.
“Don’t think like that ( Jangan berpikir seperti itu ), hem? ...” imbuh Bruna.
“Call Papa please ( Tolong hubungi Papa ) ...”
Anthony mengiba. Sambil ia menatap memelas pada Ramone, Addison dan Bruna.
“Plea-seee ...” Anthony mulai menangis lagi.
Membuat Ramone, Addison dan Bruna saling tatap sejenak. Sementara Gadis merengkuh lembut Anthony untuk menenangkannya.
“Okay, let’s call Papa ( Baiklah, kita hubungi Papa ), hem? ...” ucap Addison pada Anthony.
Tanpa harus mendengarkan penjelasan Bruna, Addison sudah bisa mengambil sikap. Ia teringat kala datang untuk pertama kali ke Villa-Putra, Damian, Bruna termasuk Garret menceritakan kondisi Anthony yang memprihatinkan akibat trauma atas apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Dan kehisterisan Anthony tadi, Addison khawatirkan akan memicu trauma Anthony lagi.
__ADS_1
Jadi untuk mencegah hal itu terjadi, Addison mengambil sikap, dengan mengiyakan permintaan Anthony untuk menghubungi Putra.
“Come ( Kemari ) ...” Addison berdiri dan menggandeng Anthony untuk lebih mendekat pada pesawat telepon saluran rahasia mereka itu, dan mendudukkan Anthony di atas meja tempat pesawat telepon itu berada.
“Let me ( Biarkan aku ), Padre-“
Anthony meminta gagang telepon, agar ia saja yang memegang saat Addison hendak meraihnya, jadi-pikir Anthony, biar Padrenya itu yang menekan nomor-nomor yang ia belum tahu, dan nanti setelah selesai Addison menekan nomor, Anthony dapat langsung bicara tanpa menunggu lagi karena tak sabar dan ketakutan jika Putra sedang tidak baik-baik saja.
Addison pun tersenyum dan mengangguk.
Namun tepat saat Anthony hendak meraih gagang telepon, pesawat telepon yang ada di dalam ruangan tersembunyi itu kembali berdering.
***
Inggris,
“Do you want me to try again, Boss?”
“( Anda ingin saya mencobanya lagi, Bos )?
Thomas berucap seraya bertanya pada Putra.
“Let me ( Biar aku saja )” jawab Putra.
“Are you okay, Putra?...” tanya Damian karena ia melihat Putra sedikit menarik nafas.
“Do you feel congest ( Apa kau merasa sesak )?”
Yona yang juga melihat Putra sedikit menarik nafas itu ikut bertanya.
Putra menggeleng.
“I’m okay-“ jawab Putra. “Just a little bit sore ( Hanya sedikit pegal )...”
Sambil Putra sedikit mengangkat tangan yang sama sisinya dengan luka bekas peluru yang ada di pinggangnya.
***
“Let me help you ( Biar aku bantu ), Boss,” ucap Thomas meminta ijin pada Putra, agar ia saja yang membantu menghubungkan Putra dengan Villa dengan menekan beberapa tombol.
“Thanks, Thom,” sahut Putra seraya ia mengangguk.
“You are welcome, Boss-“ Thomas pun menjawab ucapan terima kasih Putra.
Lalu Thomas segera menekan beberapa tombol yang sudah ia hafal.
Putra mengangguk samar, setelah Thomas selesai menekan tombol-tombol tersebut.
“T ---“ Putra hendak berucap pada Thomas, karena ia ingin meminta dibuatkan kopi sambil menunggu telepon tersambung.
Namun ucapannya tergantung, dengan Putra yang kemudian nampak terpaku di tempatnya.
“Papa? ---“
“Anth? ....”
“PAPAAA!!!! ....”
Dan di detik berikutnya pekikan nyaring terdengar dari seberang telepon berikut isakan yang seketika membuat hati Putra mencelos.
***
To be continue .....
__ADS_1