LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 368


__ADS_3

Happy reading .....


***************


England....


“Open. So he can see if I’m not just saying a rubbish just like him ( Buka. Jadi dia dapat melihat jika aku tidak sekedar berbicara omong kosong seperti dirinya )....”


Adalah Putra yang berucap seraya memberikan perintah pada beberapa anak buah yang ada di dekatnya itu, yang telah membawa dua orang dimana kedua orang tersebut telah ditawan oleh mereka sebelumnya.


Sesuai dengan perintah Putra tentunya.


Beberapa anak buah yang berada di dekat Putra itu, langsung mengangguk dan dengan sigap juga membuka kain yang menutupi kepala dua orang yang adalah ibu dan anak itu.


“FATHER!”


Seorang bocah yang kira – kira seusia Anthony itu langsung berteriak ketika penutup kepalanya dibuka, dan matanya melihat ke arah Jaeden.


“JAY!” Jaeden pun sama berteriak seperti bocah tersebut.


“JAEDEN!”


“FIO!”


Setelahnya, Jaeden saling berteriak dengan wanita yang berada di samping bocah yang ia panggil Jay itu. Sambil ketiga orang tersebut sama – sama menggerakkan tubuh mereka untuk bangkit dari posisinya masing – masing untuk saling menghampiri.


Namun ketiganya urung tertahan di tempat mereka masing – masing, karena anak buah Putra menahan ketiga orang tersebut agar tetap di tempat mereka.


Dengan anak buah Putra yang nampak sedikit mengasari dua orang yang adalah istri dan anaknya Jaeden, yang pria itu sembunyikan sejak ia merencanakan untuk masuk ke dalam keluarga Kingsley Smith.


Jaeden nampak geram, lalu setelahnya ia berteriak. “LET THEM GO! ( LEPASKAN MEREKA! )”


⚓⚓⚓


Putra hanya memperhatikan saja kegusaran Jaeden dari tempatnya.


Dan Putra terdiam sambil ia menelisik raut wajah Jaeden setelah pria itu berteriak tadi.


Setelahnya, Jaeden yang nampak gusar itu dan meronta di tempatnya ketika istri dan anaknya kembali ditekan bahunya untuk tetap diam bahkan nampak di mata Jaeden kedua bahu istri dan anaknya itu dicengkram oleh anak buah Putra, bahkan dibentak juga agar diam.


Yang Putra diamkan perlakuan anak buahnya itu atas nama melakukan tugas mereka. Toh anak buahnya tersebut tidak melakukan kekerasan fisik juga pada anak dan istri Jaeden, yang memang mereka juga tidak berani bertindak seenaknya tanpa perintah jelas dari Putra dan para saudaranya.


Dimana perintahnya adalah, hanya untuk menawan kedua orang itu sampai Putra dan para saudaranya datang. Tanpa ada embel – embel lainnya. Dan untuk hal itu, para anak buah Putra dan para saudaranya tersebut paham.


Para bos mereka orang yang sangat jelas jika memberi perintah.


Terutama satu orang yang telah dianggap bos besar.


Yakni pria yang selalu mereka dengar dipanggil dengan sebutan Putra.


Yang entah bagi para anak buah itu, apakah ‘Putra’ merupakan nama asli dari bos besar mereka tersebut atau hanya sebuah nama sebutan saja.


Di telinga mereka yang merupakan orang Eropa, nama ‘Putra’ terdengar asing pengejaannya.


Namun jika beranggapan kalau Putra bukanlah orang Inggris, mengapa aksen bicaranya cukup British?


Tetapi jika ditelisik dari perawakannya, sungguh Putra tidak seperti orang Inggris atau Eropa pada umumnya. Kulitnya putih, namun tidak sepucat rata – rata warna kulit orang Eropa.


Lalu rambutnya hitam legam, dengan bola mata berwarna cokelat muda namun tidak umum. Karena ada bintik emas, hijau dan cokelat di tengahnya. Hingga jika sekilas diperhatikan, bola mata Putra seolah dapat berubah warna dalam sekejap apabila terkena cahaya.


Sungguh misterius, semisterius aura yang rasanya keluar dari pria yang sudah dianggap sebagai bos besar itu.


Nampak tenang di luar, namun bisa membuat perencanaan dengan begitu cepat. Selain kemampuannya menembak tepat sasaran serta cepatnya gerakan Putra yang sebagian anak buahnya pernah lihat macam seorang pembunuh bayaran berkaliber tinggi.


Jangan lupakan kekuatan pukulannya yang nampak ia layangkan dengan biasa, namun Jaeden bisa sampai muntah darah walau sesaat. Lalu selentingan rumor dari beberapa rekan kerja mereka yang katanya pernah mendengar rumor tentang siapa Putra pun membuat para anak buah Putra dan saudara – saudaranya itu, sungguh berhati – hati dalam bertindak perihal perintah yang mereka dapatkan dari empat tuan mereka tersebut, terutama Putra.


⚓⚓⚓


“I don’t know how’s Rery, Madelaine and Anthony condition that day ( Aku tidak tahu bagaimana kondisi Rery, Madelaine dan Anthony hari itu )....” ucap Putra setelah secuil drama antara Jaeden dengan istri dan anak lelakinya terjadi beberapa detik yang lalu di depan mata Putra dan kawanan.


Setelah Putra juga menangkap tatapan Jaeden pada anak dan istrinya itu yang menyiratkan kekhawatiran yang besar di dirinya akan nasib dua orang yang dirasa Putra sangat mengena arti keduanya di hati Jaeden.


“But I’m sure that I can make you feel some kind of Dejavu of that day ( Tetapi aku yakin jika aku dapat membuatmu merasakan Dejavu akan hari itu )”


Namun Putra tidak mau mempedulikan perasaan Jaeden.


Yang ada, interaksi antara Jaeden serta istri dan anaknya itu malah membuat Putra membayangkan keadaan Rery beserta istrinya, Madelaine dan Anthony di hari dimana Jaeden mengeksekusi ketiganya di dua tempat yang berbeda.


Meskipun Anthony pada akhirnya terselamatkan.


Namun tetap bocah tampan tersayangnya Putra dan para saudara serta satu saudarinya, berikut sang istri --- sempat hampir hilang nyawa gara – gara Jaeden.

__ADS_1


Meskipun Anthony hidup dan sehat – sehat saja sekarang, namun tetap --- Anthony sempat mencapai kondisi yang memilukan hatinya. Dan untuk itu, Putra tidak terima jika Jaeden belum mendapatkan  balasan darinya untuk semua yang telah pria itu lakukan hingga banyak nyawa orang – orang yang Putra cintai, kasihi dan perhatikan --- Jaeden hilangkan dengan begitu teganya.


Jadi walaupun istri dan anak lelaki Jaeden itu telah berderai air mata selain keduanya nampak ketakutan, Putra tidak mempedulikannya. Hatinya sudah kadung hampa pada rasa iba atas anak dan istri Jaeden, meski keduanya terhitung tidak bersalah sebenarnya.


Tapi Madelaine dan Anthony juga sama. Kedua orang itu tidak ada salahnya pada Jaeden.


Toh Madelaine tetap Jaeden tembak juga, dan Anthony coba dihabisinya juga.


Begitu pikir Putra.


“Blame your husband, to make you and your son in this position. Just like what he did to my beloved brother and his family, I will do the same thing too ( Salahkan suamimu, yang membuatmu serta anakmu ini berada pada posisimu sekarang. Seperti apa yang telah dia lakukan kepada saudaraku yang terkasih berikut keluarganya, akupun akan melakukan hal yang sama ) ---“


⚓⚓⚓


“Come, let’s go up. I want to see the ocean from the top of this ship. And take our ‘special guest’ and his fam also ( Ayo, kita ke atas. Aku ingin melihat lautan dari atas kapal ini. Dan ajak  ‘tamu spesial’ kita ini dan juga keluarganya ) ---“


“JAE!”


“FATHER!”


Kembali istri dan anak Jaeden itu memekik dan memandang pada Jaeden sekilas kala mereka dipaksa untuk berdiri dari posisinya, dengan keadaan tangan mereka yang terikat ke belakang juga.


“JAY! FIO!”


“What a soap opera ( Macam opera sabun )....”


Damian mencibir sinis melihat interaksi Jaeden dan istri serta anaknya itu.


⚓⚓⚓


Damian berikut Garret dan Accursio kemudian mengikuti langkah Putra yang sudah meniti tangga kayu untuk sampai ke bagian atas kapal yang terbuka. Berjalan di ruang antara Jaeden yang berada di belakang mereka, dan anak serta istri Jaeden yang telah lebih dulu dipaksa berjalan di belakang Putra.


“I wonder what Putra will do with that woman and the boy ( Aku penasaran apa yang akan Putra lakukan pada wanita dan anak laki – laki itu )”


Accursio yang berjalan bersisian dengan Damian itu berbisik sambil menatap ke arah depannya.


Damian menyungging miring.


“Whatever it is, mean or not. I will support every decision he made on behalf of Rery – Madelaine - our family and brothers, and Anth ( Apapun itu, kejam atau tidak. Aku akan mendukung setiap keputusan yang dia buat atas nama Rery – Madelaine – keluarga serta para saudara seperjuangan, dan Anth )....” Damian berkomentar kemudian.


⚓⚓⚓


Putra sudah berada di buritan kapal, dengan dirinya yang berdiri tegak menghadap lautan dengan kedua tangannya yang ia tautkan ke belakang.


Putra bersuara.


“Because our brothers and fams who already become victim of your greedy and cruelty, can see freely from up above, how the way I make you pay to what you have to them. Especially Rery and Madelaine ( Karena para saudara dan keluarga kami yang sudah menjadi korban atas keserakahan dan kekejamanmu, dapat melihat dengan lebih leluasa dari atas sana, bagaimana aku akan membuatmu membayar atas apa yang telah kau lakukan pada mereka. Terutama Rery dan Madelaine )....”


Putra berbalik dan menatap Jaeden dengan datar dan dingin.


“Now, after that four nails,  I want your fingers too. Your life after ( Sekarang, setelah empat kukumu, aku menginginkan jari – jarimu juga. Nyawamu setelahnya )”


“NO! PLEASE! I BEG ON YOU! ( TIDAK! TOLONG! AKU MOHON PADAMU! )....”


Teriakan kencang istri Jaeden memecah di atas buritan kapal sambil menangis memohon pada Putra yang telah berjongkok dan siap memotong satu per satu jari Jaeden.


Putra melirik datar ke arah istri Jaeden itu sambil tetap memegang sebuah pisau miliknya di tangan.


“My sister in law, must be begging also just like you when your husband want to execute my big brother ( Kakak iparku, pasti juga memohon sepertimu saat suamimu hendak mengeksekusi kakakku )” ucap Putra.


Dan di detik berikutnya....


SLASH!


“AARRGGHH”


Suara lengkingan kesakitan terdengar tak lama Putra berucap, seiring ia mengayunkan pisaunya yang kemudian satu ibu jari Jaeden.


“JAEEE!!!”


“FATHEERR!!!”


“Seeing your son screaming, I remember our boy. Anthony, Rery’s son ( Melihat anak lelakimu berteriak, aku mengingat anak lelaki kami. Anthony, anak kandungnya Rery ) ----“


SLASH!


“AARRGGHH”


Ayunan kedua pisau Putra, kembali membuat teriakan Jaeden berikut anak istrinya menggema saat satu jari tangan Jaeden kembali diputus Putra dengan menggunakan pisau super tajam miliknya. Tidak lagi menggunakan alat potong jari dan lidah yang biasanya dibawa oleh Garret.


⚓⚓⚓

__ADS_1


“Don’t cry, beautiful ( Jangan menangis, cantik )....”


Suara Accursio terdengar, sambil mendekati istri Jaeden yang terisak hebat bersama anak lelakinya yang menyaksikan Putra sedang menyiksa perlahan suaminya itu.


“If you want to be with me ( Jika kamu berkenan untuk bersamaku )-“


“DON’T TOUCH HER! ( JANGAN SENTUH DIA! )”


Jaeden berteriak, meski tangannya terasa begitu sakit, namun Accursio yang di mata Jaeden seolah akan melecehkan istrinya itu, membuat Jaeden mengabaikan rasa sakit yang menjalar di tangannya.


Menyergah Accursio yang memposisikan dirinya berjongkok di samping istrinya yang wajahnya sudah banjir air mata.


“I never touched Madelaine.... Please ( Aku tidak pernah menyentuh Madelaine.... Tolonglah )....” lalu Jaeden beralih memandang Putra seraya ia melirih, dengan tatapan memelas pada Putra.


“Your hands not, but your bullet ‘through’ Madelaine ( Tanganmu memang tidak, tapi pelurumu ‘menyapa’ Madelaine )” tanggap Putra.


Dimana kemudian ia berdiri, lalu melangkah menjauhi Jaeden dan mendekati anak serta istri Jaeden.


“And now my bullet will ‘through’ inside her ( Dan sekarang peluruku akan menyapa tubuhnya )” Putra mengarahkan pistolnya ke istri Jaeden. “Or him? ( Atau dia? )”


“No... please... no...”


Istri Jaeden menggeleng antusias dalam ketakutan dan ketidak berdayaannya saat Putra menodongkan satu pistol lain ke arah anaknya, setelah mengoper pisaunya pada Garret.


“Or both ( Atau keduanya saja lah )-“


“NO!” Teriak Jaeden di kala Putra seperti sudah akan siap mengeksekusi dua orang yang berarti untuknya itu.


“Better just the kid. This lady looks ‘warm’ ( Sebaiknya anak itu saja. Wanita ini terlihat ‘hangat’ )...”


Kemudian Damian bersuara, dengan menyeringai.


Dimana ucapan Damian membuat gusar Jaeden yang merasa lagi – lagi istrinya itu dilecehkan, walau hanya dengan kata – kata.


Semakin gusar dan juga geram Jaeden, kala Accursio terdengar menimpali pelecahan ucapan dari Damian pada istrinya itu.


Dan Putra membiarkan, karena ia tahu ----- dua saudaranya itu, hanya ingin meledek Jaeden yang berekspresi sangat tidak senang.


“I agree. Maybe we can bet after this to get ‘her warm’ ( Aku setuju. Mungkin kita bisa bertaruh setelah ini untuk mendapatkan ‘kehangatannya’ )-“


“Haha!...”


Damian tergelak.


“That’s ( Itu )-“


*“F*K YOU!”


Namun sebelum Damian meneruskan kalimatnya,


BRUGH!


Tubuhnya ditabrak Jaeden hingga Damian terjatuh di atas lantai buritan kapal bersama dengan Jaeden yang langsung di cengkram kuat oleh para anak buah yang kecolongan dengan aksi Jaeden yang menyerang Damian.


Dimana Damian langsung menjadi nampak geram, lalu Jaeden ia ambil alih dari anak buahnya dan Damian pukuli dengan membabi buta kemudian.


Ditinju wajah dan perutnya, lalu saat Jaeden ambruk --- ditendangi tubuh Jaeden tanpa ampun oleh Damian.


“Hold yourself ( Tahan dirimu ), Dami...”


Yang kemudian suara Putra menghentikan aksi Damian yang menghajar Jaeden itu.


“Remember we want to make him feel just like what Rery was felt ( Ingat kita ingin membuatnya merasakan apa yang Rery rasakan )-“


“No...”


“To see Madelaine dying in front of him ( Melihat Madelaine meregang nyawa di depannya )-“


“Motheer-“


“Ja-e-“


“Don’t...”


Tiga orang langsung melirih memelas, ketika ujung pistol Putra sudah benar-benar menempel di satu sisi kepala istri Jaeden.


Yang Putra tak pedulikan, tatapan dan lirihan memelas ketiganya yang mengharapkan belas kasihan serta pengampunan.


Bang!!!


⚓⚓⚓⚓⚓⚓

__ADS_1


To be continue......


__ADS_2