
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indo ..
“Apa ada kemungkinan mereka berdua selamat, Ray? ...”
“Dari bagaimana mereka jatoh, engga mungkin mereka selamat, Tuan. Masih ada batu – batu besar dan tebing curam juga di bawah sana.”
“Lalu di bawah sana, jurang yang sangat dalam atau berujung?”
“Berujung sih, Tuan. Tapi jaraknya dari atas sini lumayan jauh,”
◽◽◽◽
“Ujungnya dapat dilalui orang? ...”
“Bisa sih Tuan, tapi medannya sulit. Dan memang setahu saya jarang sekali ada orang yang sampai ke bawah sana, kecuali orang kurang kerjaan ...”
“Jadi ada kemungkinan jasad dua wanita keparat itu akan tergolek begitu saja di sana tanpa ada yang menemukan? ...”
“Iya, Tuan. Terkecuali ada yang ingin membangun sesuatu di daerah itu dalam waktu dekat, saya yakin betul tubuh dua perempuan itu engga akan ada yang menemukannya sampai mereka menjadi tulang belulang. Soalnya buat orang – orang di daerah sini, tempat itu dianggap angker, Tuan –“
“Ang – apa? –“
“Angker, Tuan.”
“Apa itu?”
“Em itu .. oh .. keramat, Tuan. Tempat Jin buang anak –“
“Jin? ..”
“Pokoknya itu Tuan, tempat yang banyak tuahnya, banyak hantunya –“
“Heemm.” Putra lalu manggut – manggut kecil. “Ya sudah kalau begitu. Biarkan saja mereka di sana –“
◽◽◽◽
“We’re off now ( Kita pergi sekarang )?”
Damian bertanya pada Putra setelah satu saudaranya itu selesai bicara dengan satu anak buah mereka dan telah berbalik badan.
Dimana Putra langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan Damian tersebut, sambil Putra berjalan menjauh dari tempatnya berada sekarang. Lalu Damian dan Devoss berjalan bersisian dengannya.
Sementara beberapa anak buah Putra dan keluarganya yang ada, berjalan di belakang 3 pria itu. Lalu dua diantaranya berlari kecil mendahului Putra, Damian dan Devoss ketika 3 pria tersebut telah dekat dengan mobil yang tadi Putra dan Damian tumpangi. Yang kemudian dibukakan pintunya oleh 2 anak buah yang berlari kecil mendahului Putra, Damian dan Devoss.
“Terima kasih, Ray. Dan kau langsung temui aku di ruang kerja utama setelah sampai di villa nanti,” ucap Putra pada satu anak buah yang ia sebut namanya itu, yang langsung menyahut mengiyakan ucapan Putra tersebut.
Baru kemudian Putra masuk ke dalam mobil yang langsung melaju ketika Putra, Damian dan Devoss telah mengambil tempat di dalamnya.
◽◽◽◽
Keadaan villa sudah nampak sepi ketika ia dan rombongannya sampai. “Selamat datang, Tuan – Tuan ..” namun ada Pak Abdul yang menyambut Putra berikut Damian dan Devoss saat tiga pria itu keluar dari mobil yang mereka tumpangi.
“Bukankah aku memintamu untuk beristirahat, Pak Abdul? .. Apa kau ingin mengikuti jejak istriku yang mulai sering membantah perkataanku?” jawab Putra setelah Pak Abdul menyapanya, Damian dan Devoss – dan kepala art di villa Putra dan keluarganya itu langsung menundukkan kepalanya seraya meminta maaf kepada Putra.
“Maafkan saya, Tuan Putra .. Saya tidak bermaksud membantah ucapan anda, Tuan,” kata Pak Abdul. “Tapi ada hal yang ingin saya sampaikan pada Tuan, terkait ibu dan saudari tiri Nyonya Gadis.”
“Apa itu?” Putra pun langsung merespons ucapan Pak Abdul. “Namun apapun itu, aku rasa sudah tidak penting lagi karena aku sudah membinasakan keduanya,” ucap Putra lagi, membuat Pak Abdul spontan jadi menatap ke satu tuannya itu.
Putra tersenyum tipis saja pada kepala art dalam villanya dan keluarga, yang nampak terkejut mendengar ucapannya.
“Atau lebih tepatnya, aku sudah membunuh mereka berdua.”
Putra lalu memperjelas ucapannya.
“Tapi setidaknya, saya rasa saya masih tetap harus melaporkan ini.” Pak Abdul yang sempat tercengang setelah mendengar ucapan Putra tentang membinasakan ibu dan saudari tiri Gadis yang kemudian di perjelas itu pun berbicara lagi dengan nampak tenang.
Karena walau sempat terkejut dan tercengang mendengar ucapan Putra yang kemudian memperjelas maksud ucapannya tentang ‘membinasakan’, Pak Abdul yang sudah kian memahami siapa dan bagaimana tuannya itu, telah memahaminya sepersekian detik setelah ia terkejut.
Putra lalu mengulas senyuman tipisnya sekali lagi setelah Pak Abdul bicara dengan nampak tenang kemudian.
Merasa dirinya tak salah memilih orang untuk bekerja dengannya, dimana orang tersebut sudah Putra baca kadar kesetiaannya.
◽◽◽◽
Putra lalu meminta Pak Abdul menyampaikan apa yang ingin kepala asisten rumah tangganya itu sampaikan padanya.
“Tri dan Minah gelisah akan nasib mereka yang sudah mengaku kalau mereka mengenali ibu dan saudari tiri Nyonya Gadis saat mereka masih kerja sama Baskoro, yang mana saya sudah laporkan pada Tuan –“
“Kenapa mereka harus merasa gelisah?” tukas Putra seraya bertanya pada Pak Abdul.
“Mereka khawatir akan dipecat, karena sempat bungkam ketika ibu dan saudari tiri Nyonya Gadis ada di sini .. dan Tuan belum mengatakan apa – apa pada saya mengenai nasib mereka di sini setelah saya menyampaikan informasi itu pada anda, Tuan ..” jawab Pak Abdul.
“Katakan pada mereka tidak perlu gelisah dan khawatir karena aku tidak akan memecat mereka.”
Putra langsung merespons ucapan Pak Abdul yang menjawab pertanyaannya itu dengan sedikit panjang.
“Lagipula mereka sempat bungkam karena khawatir menyinggung istriku, bukan?”
Putra lanjut bicara, lalu setelah ucapannya barusan --- Pak Abdul langsung mengangguk dan menyahut.
◽◽◽◽
Selesai bicara dengan Pak Abdul yang kemudian Putra perintahkan untuk melanjutkan istirahatnya, Putra segera berjalan menuju ke ruang kerja utama villa tanpa pergi dahulu ke dalam kamarnya dan Gadis.
Damian dan Devoss mengekori Putra, meski ia sudah menyuruh 2 orang itu untuk beristirahat saja lebih dulu daripada dirinya. Namun baik Damian dan Devoss mengatakan jika diri mereka tak mengantuk, pun tak merasa lelah dan mengatakan juga jika ingin membasahi kerongkongan mereka dengan whiskey.
Dan karena koleksi minuman beralkohol mereka ada di ruang kerja utama, maka tempat itu juga menjadi tujuan Damian dan Devoss seperti Putra.
“You’re back.”
Garret tak lama masuk ke ruang kerja utama, tak lama setelah Putra masuk bersama Damian dan Devoss.
“Anth with Bru now ( Anth bersama Bru sekarang ) –“
__ADS_1
“Also with Gadis ( Juga bersama Gadis )? –“
“No, Gadis at you both room ( Tidak, Gadis di kamar kalian berdua )”
Putra lalu mengangguk setelah mendengar jawaban Garret barusan.
◽◽◽◽
“Was Anth disturb ( Apa Anth sempat terganggu )?”
Putra kembali mencetuskan pertanyaan pada Garret.
“Not at all –“
“Good then,“ tukas Putra. “Vader is in his room?”
“Yes ..” jawab Garret pada Putra yang bertanya tentang Ramone. “He was with me looking Anth, but then I asked him to take a rest –“
◽◽◽◽
Putra manggut – manggut kecil setelah mendengar ucapan Garret soal Ramone.
Lalu Putra menuang minuman dari dalam botol yang sudah dikeluarkan Damian dari lemari penyimpanan ragam minuman beralkohol yang ada di ruang kerja utama.
“You’re not go to your room and meet Gadis ( Kau tidak pergi ke kamarmu dan menemui Gadis )?” Garret bertanya pada Putra yang langsung menjawabnya.
“Later –“
◽◽◽◽
Percakapan Putra dan Garret lalu terhenti, ketika suara ketukan di pintu ruangan tempat mereka berada terdengar. Dimana ada satu anak buah mereka yang berdiri di ambang pintu ruangan tersebut.
“Masuklah Ray ..”
Putra lalu mempersilahkan satu anak buahnya itu untuk masuk ke dalam ruang kerja utama.
Ray lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut dan mendekati Putra.
“Kau terbiasa dengan minuman beralkohol, Ray? ..” tanya Putra pada satu anak buahnya itu.
“Kadang – kadang aja saya minum bir, Tuan.”
“Ambil gelas di dalam rak, dan ikutlah minum bersama kami.”
“Terima kasih, Tuan. Tapi saya rasanya ga pantes duduk bareng Tuan – Tuan semua.”
“Jika kau tidak ingin minum whiskey ini, di dalam lemari pendingin ada beer kaleng. Dan tetap aku meminta kau duduk bersama kami di sini, karena aku ingin membahas sesuatu denganmu.”
“Baik, Tuan –“
◽◽◽◽
Mengikuti ucapan Putra yang bagi Ray adalah perintah, ia lalu berjalan menuju sebuah lemari pendingin berukuran kecil dan mengambil sekaleng bir dari dalamnya, karena Ray tetap merasa risih kalau harus minum minuman yang sama dengan para tuannya.
Setelahnya, Ray mengambil tempat pada ruang di sofa yang telah disediakan untuknya, tidak hanya oleh Putra, tapi oleh Damian dan Garret juga. Berikut Devoss. “Kau yakin tidak ingin mencoba whiskey ini, Ray? ..” cetus Putra.
“Engga, Tuan, terima kasih,” jawab Ray. Putra pun mengangguk samar seraya ia tersenyum tipis, setelah mendengar jawaban Ray. Kemudian Putra mempersilahkan Ray untuk bersantai sejenak dan menikmati birnya.
“Tentu, Tuan Putra. Katakan saja apa tugasnya –“
“Cari beberapa orang yang kerjanya biasa menagih hutang, lalu minta mereka datang ke rumah lama istriku dan berlagak mencari dua wanita yang sudah mati itu. Lalu buat seolah keduanya melarikan diri dari orang tempat mereka berhutang.”
◽◽◽◽
“Apa kau paham maksudku, Ray?”
“Iya, saya paham, Tuan Putra.” Ray menjawab cepat.
“Tapi pastikan mereka bukanlah orang – orang yang banyak bicara.”
“Iya, Tuan. Kebetulan saya ada kenalan orang – orang macam itu. Pokoknya mereka penting duit aja. Asal bayarannya cocok, mereka cuma akan melakukan seperti yang diperintahkan,” jawab Ray atas ucapan Putra barusan.
“Itu bagus. Kau beritahu saja berapa bayaran mereka,” sahut Putra. “You understand what I just asked him to right ( Kau paham apa yang aku minta dia untuk lakukan bukan ), Dev? ..” Putra lalu bicara pada Devoss yang Putra tahu kalau salah seorang orang kepercayaan Ramone itu paham bahasa Indonesia dengan cukup baik.
Devoss lalu langsung menyahut dan mengangguk mengiyakan. Putra pun mengangguk sekali, setelah menerima jawaban Devoss.
“Then you mind to handle this ( Maka kau bersedia untuk menangani ini )?”
“Ya, sure.”
“Nanti setelah kau mencapai kesepakatan dengan kenalanmu untuk diberi tugas tadi, kau katakan nominal bayaran mereka pada Devoss.”
Putra lalu beralih lagi pada Ray yang langsung menyahut, seraya mengangguk mengiyakan ucapan Putra tersebut.
“Dan satu lagi, kau ataupun para bodyguard yang lain, jangan ada yang terlihat di desa kelahiran istriku itu saat para kenalanmu itu beraksi melakukan pekerjaan mereka. Cukup memantau dari jarak tertentu.”
“Baik, Tuan Putra. Saya sudah paham sepenuhnya.”
◽◽◽◽
Kala malam kian larut, bahkan pagi bisa dikatakan telah menjelang --- meski keadaan di luar villa masih gelap, dan Putra merasa jika sudah saatnya ia pergi ke kamar pribadinya dan Gadis --- ia pun memutuskan untuk hengkang dari ruang kerja utama.
Pun dengan 3 pria yang sedang bersama Putra dalam ruang kerja utama, yang juga akan hengkang dari ruangan tersebut. Dimana ketiganya sudah cukup banyak mengkonsumsi whiskey dan sudah mulai merasa mengantuk.
Putra, Damian, Garretdan Devoss bersama – sama keluar dari ruang kerja utama villa, lalu berpisah untuk pergi ke kamar masing – masing.
Dimana tak selang berapa lama ketika Putra sudah masuk ke dalam kamar pribadinya dan Gadis, istrinya itu nampak duduk bersandar di atas ranjang mereka.
Lalu Putra dan Gadis saling tatap. Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya.
Putra dan Gadis lalu lantas sama membatin.
‘Apa Gadis tidak tidur sama sekali dan sengaja menungguku untuk mengajak berdebat lagi? –‘
‘Apa Putra baru kembali karena mengurus jasad ibu dan Madya? Tapi apa secepat itu mereka di angkat dari jurang itu? Baiknya aku tanyakan sekarang atau tidak ya? Namun Putra nampak lelah –‘
◽◽◽◽
__ADS_1
Menganggap jika Gadis kembali bersikap acuh padanya, Putra lalu meneruskan langkahnya menuju kamar mandi dalam kamar pribadinya dan Gadis dengan tetap bungkam.
Selain ia malas jika ujungnya dia menegur Gadis adalah dengan mereka kembali berdebat, Putra juga merasa ingin segera membersihkan wajah dan tubuhnya. Dan merasa perlu juga mengguyur kepalanya dengan air kucuran shower.
Agar redam semua emosinya, dan tidak menanggapi Gadis dengan geram dan sinis seperti saat di tempat Putra mengeksekusi ibu dan saudari tiri istrinya itu --- apabila Gadis masih ingin membahas dengan segala kenaifannya, tentang apa yang sudah Putra lakukan pada dua wanita itu.
Yang mana sebenarnya, Putra punya rasa tak teganya juga pada Gadis. Sadar, jika Putra cukup memberikan syok pada psikis Gadis. ‘Jika Gadis tidak menjadi sangat naif tentang 2 wanita keparat itu, sampai berani bahkan dia mengancamku, aku tidak akan terprovokasi dan menjadi sesinis itu padanya ..’
Putra membatin sambil ia melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar mandi di kamar pribadinya dan Gadis. Yang memiliki pintu penghubung dengan walk in closetnya.
Dimana setelah Putra menghabiskan kurang lebih 20 menit di dalam kamar mandi, ia langsung masuk ke dalam walk in closet dan berpakaian dengan pakaian rumahan.
Kemudian Putra melenggang dari dalam walk in closet. Berniat untuk meletakkan sebuah map yang ia terima dari tangan anak buahnya yang telah kembali dari ibukota, beberapa belas menit sebelum Putra memutuskan untuk kembali ke kamar pribadinya dan Gadis.
Dimana map tersebut sudah dimasukkan beberapa berkas lain yang Putra terima dari anak buahnya yang lain, hasil menggeledah rumah lama Gadis.
Hanya saja, saat masuk ke kamar pribadinya dan mendapati Gadis terjaga, Putra terus memegang map tersebut yang tadinya saat masuk kamar ia ingin letakkan langsung di atas meja kerjanya dalam kamar, sampai ia menyadarinya di kamar mandi.
“Nanti, setelah jasad ibu dan Madya kamu minta anak buah kamu angkat dari jurang tempat mereka .. jatuh .. kirim saja jasad mereka ke desa kelahiranku. Dan biarkan aku mengurus pemakaman mereka.“ Suara Gadis terdengar, saat Putra telah duduk di kursi meja kerjanya.
◽◽◽◽
“Kamu tidak perlu mengurus apa – apa.”
Awalnya Putra santai saja menanggapi Gadis.
Hingga tak berapa lama kemudian suara Putra jadi sedikit meninggi sambil ia menatap agak tajam pada Gadis.
“Berhenti Merutukiku!”
Namun begitu, Gadis tak serta merta gentar menghadapi Putra yang ia sadari sudah memandangnya dengan mulai nampak geram.
“Bagaimana aku tidak merutuki kamu .. kalau setelah dengan kejam kamu membunuh ibu dan Madya .. kamu membiarkan saja jasad mereka terbengkalai –“
“Mereka pantas untuk itu! ..“
Dimana didetik – detik berikutnya, Putra dan Gadis terlibat perdebatan yang agak sengit.
“Kamu katakan aku kejam, tak berperasaan dan congkak .. heh! .. lalu setelah kamu ketahui kelakuan menjijikkan dan sial ibu dan saudari tirimu itu, apa bisa aku yang merutukimu sekarang? .. bahwa selain naif .. kamu begitu bodoh, Gadis.”
Hingga pada akhirnya, kalimat itu keluar dari mulut Putra yang pandangannya seperti tajamnya ucapan Putra pada Gadis barusan.
◽◽◽◽
“Silahkan menghubungi sendiri Dokter Ridwan, jika kamu merasa aku layaknya orang yang kurang pekerjaan membuat laporan palsu seperti itu,” ucap Putra saat Gadis sudah tak lagi antusias berdebat dengannya.
“Ya – Tu – han ..” Dimana Putra berucap, saat Gadis sudah fokus membaca berkas – berkas yang dilemparkan Putra padanya. Sambil Gadis melirih.
“Dan surat – surat kepemilikan tanah dan rumah orang tuamu itu, ditemukan di almari ibu tirimu yang brengsek itu! Dimana semua itu hanya sebentar saja lepas dari tangannya, karena saudari tirimu yang murahan sudah menjadi pelacur pribadinya rentenir menjijikkan yang sudah aku bunuh itu, sebagai penebus surat – surat itu. Tapi kamu? .. heh! Percaya bahwa kamu ditukar untuk menebus semua itu! Padahal kamu dianggap macam benda untuk mereka jual pada pria menjijikkan bernama Baskoro itu.”
Putra merepet lagi dengan geramnya yang cukup menggebu.
Sementara Gadis masih termangu dengan matanya yang sudah memproduksi airmata, menatap berkas – berkas yang satu per satu ia baca dan perhatikan detailnya sambil juga Gadis dengarkan setiap ucapan Putra.
“Itulah mengapa tidak ada nama orang tuamu atau bahkan ibu tiri sialanmu di daftar orang – orang yang menggadaikan surat tanah dan rumah mereka pada si Baskoro itu! yang daftarnya kepala desa kelahiranmu berikan pada Garret dan Arthur.”
◽◽◽◽
“Putra .. aku –“
“Kamu begitu naiif Gadis ..”
Putra menukas saat Gadis menoleh padanya dan hendak bicara padanya dengan mata Gadis yang sudah nampak dibasahi dengan linangan air mata.
“Dan kenaifanmu itu membuatmu menjadi begitu bodoh.” Putra menutup pembicaraannya dan Gadis yang cukup menguras emosinya itu, dengan kalimat tajam.
Dimana Putra langsung berbalik badan dan keluar cepat dari kamar pribadinya dan Gadis.
Meninggalkan begitu saja Gadis yang menangis tersedu, dengan sikap Putra yang seolah tak mau peduli lagi pada istrinya itu.
◽◽◽◽
Beberapa jam telah berlalu dari perdebatannya dan Putra, yang bahkan suaminya itu tidak menampakkan dirinya saat waktu sarapan.
Yang Gadis dengar dari laporan art di villa, jika Putra menempati salah satu kamar tamu. Dan menitipkan pesan jika suaminya itu tidak mau diganggu.
Gadis positif thinking, mungkin Putra ingin mendapatkan tidur yang cukup.
Dan Gadis memaklumi kalau Putra sedang enggan berada di kamar mereka bersamanya.
Jadi Gadis bersabar saja dahulu, menunggu Putra datang lagi ke kamar mereka. Dan nanti saat suaminya itu muncul, Gadis akan mengajaknya bicara baik – baik serta juga akan meminta maaf pada Putra.
Namun apa yang Gadis rencanakan, dimana hatinya merasa lega ketika melihat kemunculan Putra di kamar mereka kembali kala hari telah siang, tidak dapat Gadis realisasikan.
Karena selain Putra diam seribu bahasa saat memasuki kamar pribadi mereka itu, Putra berjalan lurus saja menuju walk in closet dalam kamarnya dan Gadis.
Bahkan tanpa menoleh sedikit pun pada Gadis yang sedang duduk di sofa dan berdiri kemudian setelah melihat Putra muncul di kamar mereka. Membuat Gadis jadi berkesah sedikit berat.
“Putra,” Namun Gadis tak patah arang. Ia tak lama menyusul Putra ke dalam walk in closet dalam kamar mereka itu.
◽◽◽◽
Gadis yang berharap bisa bicara dengan Putra dan meminta maaf pada suaminya itu, kemudian harus menunda rencananya tersebut.
Karena Putra nampak sedang berganti pakaian yang cukup rapih.
“Kamu .. mau pergi? –“
“Ya.” Putra menyahut. Namun singkat saja dan terdengar agak ketus.
“Kemana? –“
“Mencari hiburan –“
“Mencari .. hiburan?? –“
“Kamu nikmati saja waktumu, karena aku juga tidak berencana pulang malam ini.”
__ADS_1
◽◽◽◽◽◽◽◽
To be continue ......