LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 453


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indo ..


“Putra,” adalah Gadis yang bersuara.


“Masuklah Gadis. Aku sudah cukup lelah menghadapimu.“


Dan Putra langsung menyambar bicara, sambil Putra kini berbalik dan membelakangi Gadis.


Hendak mengayunkan langkah untuk masuk ke area dalam kamar. Bahkan Putra berpikir untuk mengambil jaket di lemari jika Gadis masih bersikukuh berada di balkon kamar pribadi mereka itu, namun langkah Putra spontan terhenti saat suara Gadis kemudian ia dengar lagi, menyambar ucapan Putra.


“Aku minta maaf untuk itu, dan memang jika kamu sudah bosan menghadapiku atau tidak lagi ingin berada dekat denganku .. Kita bercerai saja kalau begitu –“


“Kamu ingin menceraikanku?—“


“Terserah kamu atau aku yang mengajukan perceraian—“


“Aku tidak akan pernah menceraikanmu—“


“Tapi Putra—“


Sret.


♣♣♣♣


“Pergilah tidur,” ucap Putra setelah Gadis yang menyergah ucapannya itu bergeser dari tempatnya berdiri di balkon lalu mengejar Putra, yang Putra manfaatkan hal tersebut untuk menarik Gadis lebih masuk ke area dalam kamar mereka dan Putra segera menutup pintu penghubung ruang tidur dan balkon pada kamar pribadinya dan Gadis itu.


“Aku mana mungkin bisa tidur sebelum menyelesaikan—“


“Tidak ada yang perlu diselesaikan .. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah naik ke tempat tidur dan berhenti bicara, karena sejak kemarin kamu membuat tidur Anth terganggu karena pekikanmu itu ..”


Putra kembali lagi menyambar ucapan Gadis. Sambil ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur.


Namun tertahan, karena Gadis memegang lengan Putra dan memaksa suaminya untuk berbalik lalu berdiri berhadapan dengannya.


♣♣♣♣


“Kenapa tidak mau menceraikanku, sementara kamu jelas-jelas dengan telak mengatakan kamu sudah bosan padaku dan tidak mau lagi berdekatan denganku?“ Gadis langsung berkata lagi seraya bertanya pada Putra, ketika ia dan suaminya itu sudah saling berhadapan, dan Putra tidak membalas ucapannya.


Putra menatap saja Gadis yang juga sedang menatapnya. Melihat jika mata Gadis sudah nampak berkaca-kaca, dengan ekspresi wajah Gadis yang jelas sedang menunggu jawaban Putra atas pertanyaannya tadi----namun setelah beberapa detik, Putra belum memberikan jawabannya pada pertanyaan Gadis tersebut.


“Aku minta maaf jika aku begitu menyinggungmu dengan sikapku yang kamu anggap membela ibu dan Madya ..”


Jadi Gadis yang kemudian mengambil kesempatan lagi untuk bicara.


“Aku bukannya berniat membela mereka ..”


Suara Gadis mulai melirih. Dan Putra tetap diam saja. Namun mata Putra masih lekat memperhatikan wajah Gadis yang masih lanjut bicara.


“Aku hanya tidak mau melihat kamu melakukan kejahatan. Apalagi sampai menghilangkan nyawa orang .. tapi maaf, jika sikapku menyinggungmu .. dan aku tidak menyalahkanmu untuk itu .. dan .. kalau karena itu .. perasaan cinta kamu ke aku hilang .. aku terima Putra ..“


Gadis kian melirih.


“Kamu tidak akan memberi kesempatan .. kepada orang yang mengecewakan kamu .. itu kan, yang kamu pernah bilang padaku? ..” Air di netra Gadis, mulai nampak kentara. “Dan aku .. sudah mengecewakan kamu karena sikapku yang kamu bilang naif dan bodoh karena membela mereka ..”


Sebulir airmata Gadis turun ke pipinya tak lama kemudian.


“Dan kamu begitu marah, sampai tidak sudi lagi tidur di kamar yang sama denganku .. dan pergi untuk menghibur diri kamu yang mungkin sudah merasa muak padaku ..”


Gadis menghapus sebulir airmatanya yang lolos dari pelupuk.


“Jika memang seperti itu .. kamu lepaskan saja aku Putra .. untuk apa kamu mempertahankan perempuan yang sudah membuat kamu merasa muak? ..“


Gadis lalu tertunduk. Dan tak lagi terdengar ucapan keluar dari mulutnya.


Hanya isakan, yang terdengar begitu pelan kemudian.


“Kamu sudah selesai bicara? Atau masih ada lagi yang ingin kamu sampaikan padaku? ..”


Suara Putra lalu terdengar. “Karena jika kamu sudah selesai, aku ingin bertanya.“


Dimana Gadis yang tadinya tertunduk itu, kemudian mengangkat kepalanya dan menatap kepada Putra lagi.


Dengan Putra yang kemudian lanjut berkata seraya bertanya.


“Apa yang membuat kamu memintaku menceraikanmu?”


"Karena aku merasa kamu sudah tidak menginginkanku,"


"Begitu?--"


“Aku .. mungkin sudah sangat menyinggung kamu .. tapi kata – kata dan sikap kamu dari kemarin juga melukai hati aku, Putra .. kamu bahkan .. mengatakan akan mencari hiburan diluar, setelah kamu bilang bosan dan tidak mau ada di dekatku—“


“Lalu apa yang ada di pikiran kamu itu, hem?”


“Apa menurutmu yang dipikirkan seorang istri .. yang mendengar ucapan dari mulut suaminya, seperti yang kamu bilang padaku ..”


Gadis kemudian menjawab pertanyaan Putra.


“Lalu suaminya pergi meninggalkan istrinya begitu saja dan kembali di waktu yang bahkan sudah lewat tengah malam dengan bau alkohol yang menyeruak, lalu ..”


Gadis menggantungkan kalimatnya.


“Mendapati pakaian suaminya .. dengan harum parfum lain selain parfumnya .. parfum wanita .. namun bukan parfum istrinya—“


“Berikan tanganmu,” tukas Putra.


Sambil Putra memposisikan tangannya menggantung di udara, meminta Gadis memberikan tangan istrinya itu, agar diletakkan di atas telapak tangannya.

__ADS_1


“Heu? ..” Gadis sedikit terhenyak.


Menatap sedikit heran pada Putra.


Yang kemudian menggerakkan satu tangannya yang sempat ia gantungkan di udara untuk menerima tangan Gadis yang tidak juga istrinya itu berikan, dimana Putra yang akhirnya meraih tangan Gadis yang tak kunjung sampai di atas telapaknya.


Dan satu tangan Putra, berada di balik satu kantung atasan piyama yang pria itu kenakan.


♣♣♣♣


Ssss.


Lalu didetik berikutnya, tangan Putra yang berada di balik piyama yang ia kenakan itu----ia keluarkan dari sana.


Dengan sebuah benda yang Putra genggam, kemudian dengan cepat ia basahi bagian dalam pergelangan tangan Gadis yang sudah Putra pegang itu----dengan cairan yang berada dalam benda berbahan kaca yang Putra telah keluarkan dari kantung atasan piyamanya tersebut.


“Harum ini yang kamu dapati di pakaianku? ..”


Putra langsung berucap----seraya bertanya, setelah ia menyemprotkan sedikit isi cairan dari dalam botol yang ia pegang, ke bagian dalam pergelangan tangan Gadis itu. Yang kemudian Putra dekatkan tangan Gadis yang terkena semprotan cairan tersebut ke hidung si empunya tangan.


Dimana Gadis mengendusi pergelangan tangannya sendiri, lalu mengernyit heran dengan bergumam dan tergugu. “I-ya? ..“ gugu Gadis. “Ja-di parfum ini? ..”


Sambil juga Gadis memandangi Putra yang tersenyum miring di tempatnya.


♣♣♣♣


“Want to go to bar downstair, or at this floor lounge? (Ingin pergi ke bar bawah, atau di ruang santai eksklusif pada lantai ini?)..”


“Lounge.”


----


“Good evening, Sir. Welcome to our place—“


“What the best this place has?”


“You say it, Sir. We’ll get it for you.”


----


“Beside the high quality drink, we also have high quality ladies company. Mind to see them, Sir’? ( Selain minuman dengan kualitas yang sangat bagus, kami juga memiliki wanita-wanita yang berkualitas tinggi untuk menemani. Apakah anda berkenan untuk melihat mereka, Tuan-Tuan? )”


“Show us then ( Tunjukkan pada kami kalau begitu )”


“Yes, Sir..”


----


“Seriously? (Kau serius?)..”


“I just want to see if there’s any woman who more beautiful than Gadis (Aku hanya ingin melihat apakah ada wanita yang lebih cantik dari Gadis)..”


“Then what? You’re going to ‘sleep’ with her if there’s a woman here who more beautiful than your wife here? (Lalu apa? Kau akan ‘tidur’ dengannya jika ada wanita yang lebih cantik dari istrimu disini?)—“


“Don’t be that reckless just because you feel upset to Gadis, I remind you.”


(Jangan menjadi gegabah hanya karena kau sedang kesal pada Gadis, aku mengingatkanmu)


----


“Dia, duduk di sampingku.”


“Ah, anda bisa berbahasa Indonesia ternyata, Tuan.”


“Kau sudah tahu aku dapat berbahasa Indonesia sekarang, jadi tidak usah banyak berbasa-basi.”


“Baik Tuan, maafkan saya jika sudah membuat anda tidak nyaman—“


----


“Halo Tuan, nama saya—“


“Aku tidak peduli siapa namamu—“


“Kalau begitu saya tuangkan minuman untuk anda.”


----


“Kemari, lebih dekat padaku..”


“Tentu, Tuan. Kalau saya boleh tau, nama Tuan—“


“Kau membawa serta parfummu?..”


“Anda menyukainya? Jika ingin mengendusi lagi harum saya—“


“Jawab saja pertanyaanku. Apa kau membawa serta parfummu dalam tasmu itu?—“


“Eum, iya .. saya membawanya, Tuan—“


“Berikan padaku sekarang.”


“I-ya—“


----


“Ini, aku beli parfummu.”


“Heu?—“


“Jumlah ini cukup untuk mengganti parfummu, bukan?”

__ADS_1


“I-iya cukup Tuan .. bahkan lebih dari cukup—“


“Dan ini bayaranmu untuk menemaniku.”


“Tidak perlu anda memberikannya sekarang kok, Tuan .. nanti saja setelah kita—“


“Ambil dan segera menjauh dariku.”


“Heu?”


“Ar, kembalikan dia kepada mucikarinya—“


“Okay?—“


“I’m done here. Three of you feel free if want to stay and have fun in this place more longer. I’m going back to villa (Aku sudah selesai disini. Kalian bertiga silahkan saja jika ingin tinggal dan bersenang-senang di tempat ini lebih lama. Aku akan kembali ke villa)”


♣♣♣♣


“Ja-di maksud kamu .. kamu—“


“Memberikanmu pelajaran, agar tidak lagi membantahku.”


Putra berkata datar menukas ucapan Gadis, sambil menahan senyumnya.


“Sehingga kamu dapat merasakan gusarnya hatiku karena tingkah menyebalkanmu kemarin, dengan kamu gusar memikirkan jika aku menghabiskan waktu berbagi kehangatan dengan wanita lain ..”


Putra berkata datar. “Sekarang jika tidak ingin aku mengerjaimu lagi, lebih baik patuhi ucapanku.” Putra menambahkan. “Pergilah beristirahat sekarang, karena sekesal-kesalnya suamimu ini  pada kamu, dia begitu mencintai kamu hingga tak sampai hati untuk mengkhianatimu, Nyonya Putra.”


Dengan wajahnya yang tak lagi ketat. Menatap Gadis dengan iba yang bercampur rasa gelinya juga, dimana kini istrinya itu sedang menatap Putra dengan ekspresi yang sungguh dirasa menggelikan bagi Putra, padahal mata Gadis sudah basah.


“Ayo, lekas beristirahat, karena akupun sudah mengantuk.”


Putra kembali berujar, namun tak mendapat jawaban dari Gadis.


Yang orangnya kemudian melirih frustasi sambil menutupi wajahnya dengan tangan.


Gadis lega karena Putra tidak mengkhianatinya, namun rasanya kaki Gadis lemas juga karena lelah menahan gemuruh rasa was – was dan gelisah jika Putra mengkhianatinya. “Ya Tuhaaan ..” Gadis melirih, lalu mulai terisak. “Tega sekali .. kamu mengerjaiku sampai seperti ini, Putraa—“


“Salahmu yang terlalu banyak membantahku dan membuatku jadi sangat kesal ..”


Putra menukas ucapan Gadis dan berkata dengan datar.


Namun begitu, Putra sedang tersenyum geli di tempatnya.


Menatap pada Gadis yang sedang bersimpuh sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.


Terisak, macam seorang anak kecil yang habis dijahili oleh teman mainnya.


♣♣♣♣


“Selain naif dan bodoh ..” ucap Putra yang pada akhirnya jadi merundukkan tubuhnya----setengah bersimpuh di depan Gadis yang tidak kunjung berhenti terisak dan menutupi wajahnya itu.


Namun setelah Gadis mendengar suara Putra jadi begitu dekat, Gadis pada akhirnya membuka tangannya. Memandang pada Putra yang wajahnya kini sudah kian dekat dengan wajahnya.


“Kamu ini penangis sekali,” tambah Putra.


“Bagaimana aku tidak menangis kalau apa yang sudah kamu lakukan sudah membuat aku hampir gila karena takut kamu mengkhianatiku?”


“Bukankah kamu mengancam akan meninggalkanku? ..” Putra langsung membalas ucapan Gadis.


“Ya aku kan—“


“Bangunlah,” tukas Putra.


Sekaligus tangan Putra memegangi kedua lengan Gadis yang wajahnya sudah cukup basah. Lalu Putra membantu Gadis berdiri.


“Aku sudah sangat mengantuk.”


Lalu Putra berkata lagi, sambil tangannya ia lepaskan dari kedua lengan Gadis lalu berbalik.


Dan menggerakkan kakinya untuk pergi ke ranjang pribadinya dan Gadis.


Namun baru selangkah Putra ambil, ia berhenti sambil memiringkan tubuhnya dan menatap pada Gadis serta langsung berkata, “Masih ingin membantahku?—“


♣♣♣♣


Gadis langsung menggeleng lemah ketika ucapan bernada tanya dari Putra itu tercetus dari mulut suaminya. “Aku tidak bermaksud membantah kamu—“


“Lalu kenapa masih bergeming di tempatmu?”


“Aku ..”


Gadis menyahut pada Putra, namun menggantungkan ucapannya. Nampak ragu – ragu memandang pada Putra, yang sedang menelisiknya.


Menunggu Gadis meneruskan kata – katanya, dimana Gadis nampak tengah ragu itu. Namun Putra terlihat sabar menunggu Gadis meneruskan kata-katanya.


♣♣♣♣


“Apa kamu benar .. tidak bermain wanita dengan kamu mencari hiburan di ibukota? ..”


Tak lama kemudian Gadis pun kembali bicara. Dimana ucapan Gadis membuat Putra mengulum senyumnya.


Hanya saja Gadis tidak melihat senyum geli Putra itu, karena setelah bertanya Gadis lalu nampak menunduk. Kemudian langsung mengangkat kepalanya, ketika suara Putra terdengar lagi.


“Periksa sendiri.” Dengan Putra yang kini berdiri tegak di hadapan Gadis yang kemudian meneguk salivanya. “Apakah ada tanda – tanda mencurigakan di tubuhku ..”


Karena sekarang, kancing atasan piyama Putra sudah terbuka semua.


Memberikan sajian dada bidang dengan otot atletis menggiurkan, yang sungguh Gadis rindukan bersandar di sana.


♣♣♣♣♣♣♣♣♣

__ADS_1


To be continue ..


Terima kasih masih setia.


__ADS_2