LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 434


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


Putra dan Gadis beserta Bruna dan Arthur, sudah berada di dalam sebuah rumah sakit di pusat kota dari villa tempat tinggal Putra beserta keluarga barunya.


Ke empat orang itu juga sudah berada di sebuah ruang prakter dokter yang secara khusus dibuat janji temu dengan dokter tersebut secara khusus. Karena jika ingin mengikuti jadwal praktik dokter tersebut secara reguler, diwaktu janji temu yang dibuat Bruna dengan dokter tersebut bukanlah jadwal praktiknya.


****


Konsultasi dengan seorang dokter kandungan pada rumah sakit yang disambangi oleh Putra, Gadis, Bruna dan Arthur sempat dilakukan.


Dimana Bruna mengatakan kembali jika tujuan kedatangan dirinya dan tiga orang lainnya adalah untuk memeriksakan kondisi Gadis yang belum lama mengalami keguguran.


Lalu beberapa pertanyaan, dokter tersebut tanyakan pada Gadis mengenai apa yang istri Putra itu rasa sampai dengan saat ini. Sampai tiba dimana Gadis diminta untuk berbaring diatas sebuah brankar yang ada di dalam ruang praktek dokter tersebut, guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.


Hanya saja, sesi pemeriksaan Gadis agak terhambat karena Putra.


“Anda memiliki seorang asisten yang seharusnya memahami segala bentuk pemeriksaan yang anda lakukan pada pasien, dan seharusnya juga dia dapat mendeskripsikannya untuk anda setelah ia memeriksakan istri saya. Karena jika tidak, lebih baik anda pecat asisten anda itu dan mencari asisten yang lebih kompeten darinya.“


Karena Putra memiliki sisi posesif yang berlebihan pada Gadis.


“Meskipun anda seorang dokter, tapi anda tetap seorang pria. Dan saya tidak nyaman melihat istri saya disentuh oleh pria lain,” cetus Putra.


****


Atas ucapan Putra tersebut, Gadis merasa sedikit jengkel pada suaminya yang menurut Gadis salah menempatkan keposesifannya—meski ia tahu jika kecemburuan atas keposesifan Putra pada dirinya tidak akan pandang waktu dan tempat datangnya.


Sementara Gadis merasa jengah, Arthur mengulum senyumnya. Lalu Bruna menghela nafas lelahnya dengan samar sambil agak menelengkan kepalanya. Maklum pada sikap Putra sekarang ini. Tapi seperti Gadis, Bruna agak jengah juga. Dan sang dokter yang ada di hadapan lantas menjadi nampak bingung.


“Jika saya tidak diperbolehkan menyentuh istri anda, lalu bagaimana saya dapat memeriksa kondisinya, Tuan Putra? Dan anda tidak sepatutnya cemburu pada saya.”


Dokter bernama Ridwan itu kemudian bicara menanggapi ucapan Putra sebelumnya, yang mengatakan tanpa basa-basi rasa keberatan Putra jika ada pria lain yang menyentuh Gadis.


Masuk akal memang bagi Putra ucapan Dokter Ridwan tersebut.


Namun tetap saja bagi seseorang yang posesif, prinsip yang tidak suka miliknya disentuh oleh orang lain tidak akan bisa lenyap begitu saja.


Dan seperti itulah Putra sekarang, yang walau ucapan Dokter Ridwan masuk akal baginya, tapi ketidakrelaannya atas tubuh Gadis yang pastinya akan tersentuh oleh sang dokter berjenis kelamin pria itu, membuat Putra—katakanlah mempertahankan egonya.


“Aku bukannya cemburu. Aku hanya tidak nyaman melihat ada pria lain yang menyentuh istriku.”


****


Atas ucapan Putra dalam kalimat berbahasa Indonesia tersebut, yang dipahami oleh mereka yang bersamanya, membuat yang mendengarnya ada yang menggeleng menahan geli dan ada juga yang berkesah lelah sambil membatin dalam hatinya.


‘Putra ini kadang cemburunya tidak lihat-lihat dulu. Padahal dokter Ridwan bahkan hampir seusia Vader, dan Putra bisa-bisanya cemburu padanya...‘ Gadis yang membatin serta berkesah juga dalam hatinya. “Sudahlah. Lebih baik dibatalkan saja pemeriksaanku ini.”


Gadis menyuarakan kalimat yang bermakna terganggu dengan sikap Putra, sambil ia hendak beringsut dari brankar pemeriksaan dalam ruang praktek dokter Ridwan yang sedang Gadis duduki itu.


“Cemburumu sedang berada pada saat yang salah Putra,” tambah Gadis.


****


“Sudah, lebih baik kita pulang.” Gadis kembali berujar, dengan wajahnya yang menampakkan jika dirinya terganggu dengan sikap Putra.


“Aku hanya bertanya dan menyuarakan pendapatku sebagai suami dan pria yang mencintaimu, jadi tidak perlu kamu merajuk---“


“Aku bukannya merajuk.”


“Lalu sikap kamu yang seperti ini?---“


“Baiklah, baiklah tidak perlu membesarkan masalah ini...” Dokter Ridwan menginterupsi ditengah percakapan Putra dan Gadis yang lebih nampak seperti sedang adu argumen itu.


Dimana membuat Putra dan Gadis sama-sama terdiam kemudian, lalu sang dokter meminta suster yang merupakan asistennya.


Dan suster asisten Dokter Ridwan itu langsung  lebih mendekat pada brankar pasien yang diduduki Gadis, kemudian menggantikan sang dokter untuk melakukan pemeriksaan pada Gadis.


“Apakah anda ingin mendampingi istri anda dalam pemeriksaan, Tuan Putra?”

__ADS_1


Dokter Ridwan kemudian bertanya pada Putra, ketika Gadis telah berbaring di atas brankar pemeriksaan dalam ruang prakteknya tersebut, dimana Putra langsung menjawab Dokter Ridwan. “Biar adikku saja yang menemani istriku---“


****


“Silahkan duduk, Tuan Putra. Jika anda yang ingin anda tanyakan mengenai kondisi istri anda, silahkan saja... sambil menunggu asisten saya melakukan pemeriksaan lebih detail padanya...”


Dokter Ridwan berujar.


“Terima kasih,” jawab Putra.


Dimana Putra kemudian di kursi yang sebelumnya Gadis duduki, sementara Arthur masih berdiri di tempatnya.


Pria itu tidak diminta Putra untuk keluar saat Gadis sedang diperiksa.


Karena setelah Bruna mendekat pada brankar pasien, asisten Dokter Ridwan langsung menarik tirai yang terpasang pada reling melingkar hingga kemudian area brankar pemeriksaan yang ditempati Gadis tertutup.


“Effect apa saja yang biasanya terjadi pada wanita yang telah mengalami keguguran?... Apakah membahayakan bagi istriku di kemudian hari?” Putra lalu mencetuskan pertanyaan pada Dokter Ridwan, atas kekhawatiran yang Putra miliki dengan apa yang telah menimpa Gadis.


****


“Dari apa yang sempat Nyonya Bruna katakan pada saya, diluar dari luka dan lebam yang Nyonya Gadis miliki karena jatuh dari tangga—dengan istri anda tidak mengalami pendarahan hebat setelah keguguran, kemungkinan hanya akan mengalami gangguan ringan seperti mual, muntah, sakit perut juga demam... tapi kembali lagi pada kekuatan fisik Nyonya Gadis sendiri. Hanya saja jika ada yang masih tertinggal di dalam perutnya, Nyonya Gadis harus menjalani kuretase. Proses medis untuk membersihkan sisa janin yang tertinggal di dalam rahim agar tidak menyebabkan suatu komplikasi di rahim Nyonya Gadis pada kemudian hari. Dan anda tidak perlu khawatir karena hal itu sudah memang biasa dilakukan pada pasien pasca keguguran.”


Dokter Ridwan lalu menjawab pertanyaan Putra dengan penjabaran yang cukup detail dan kiranya dapat Putra pahami.


“Apa istriku masih dapat mengandung lagi walau sudah pernah keguguran seperti ini?...” tanya Putra kemudian.


“Jika memang kondisi rahim Nyonya Gadis baik-baik saja, dan hanya perlu dibersihkan dari sisa janin yang tertinggal, tentu dia bisa mengandung lagi setelah siklus datang bulannya kembali normal.”


“Apa kehamilannya itu nanti akan mengandung resiko?...”


“Seperti yang saya katakan tadi, jika Nyonya Gadis memang baik kondisi rahimnya, kehamilan-kehamilan yang berikutnya akan aman-aman saja. Namun tetap jika memang ingin langsung program hamil setelah keguguran ini, baiknya anda dan Nyonya Gadis kembali lagi kesini dalam dua pekan ke depan---“


"Hem---"


****


“Jika memang tidak terburu-buru dan ingin tahu kondisi kesehatan secara keseluruhan, Nyonya Gadis bisa melakukan pemeriksaan di labolatorium hari ini juga—mesin usg dalam ruang praktek saya ini, hanya dapat memeriksa secara terbatas... dan mengenai rahim Nyonya Gadis andai masih ada sisa janin yang tertinggal, proses kuretase sebaiknya dilakukan secepat mungkin---“


“Cukup lengkap, meski tidak selengkap rumah sakit di Ibukota... Namun untuk medical check up standar, fasilitas lab dalam rumah sakit ini sudah cukup memadai---“


“Hem.“ Putra lalu berdehem samar kemudian manggut-manggut, lalu melirik pada Arthur yang langsung memandangi Putra disaat ia tersadar Putra menoleh padanya.


Arthur tahu makna tolehan Putra padanya itu, karena saat semalam—ia sempat berbincang dengan Putra dan para saudaranya termasuk dengan Ramone dan Danny tentang satu hal. Lalu setelah sebentar melirik pada Arthur, Putra melirik lagi pada Dokter Ridwan.


“Bisa saya meminta secarik kertas?” Putra bertanya pada Dokter bernama Ridwan itu kemudian, yang langsung mengiyakan serta memberikan apa yang Putra minta.


Putra lalu menuliskan sesuatu pada secarik kertas yang diberikan Dokter Ridwan dengan pena milik Putra yang tercantol di saku kemeja yang ia kenakan, kemudian memberikan kertas itu kembali kepada Dokter Ridwan yang sedikit nampak heran.


Dimana sebelum memberikan kertas yang sudah ia tulisi itu pada dokter tersebut, Putra melirik ke arah tempat pemeriksaan Gadis yang masih tertutup itu.


****


“Bagaimana?...” Putra kemudian bersuara seraya bertanya ketika tirai bilik pemeriksaan terbuka.


Bruna yang langsung menjawab Putra, sementara asisten Dokter Ridwan mendekati sang dokter atasannya itu lalu nampak fokus bicara berdua.


“Duduklah.”


Putra berujar seraya berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Gadis serta juga Bruna untuk duduk, sementara Putra akan kembali berdiri seperti sebelumnya.


Kemudian Putra mengarahkan pandangannya pada Dokter Ridwan lagi, setelah ia melihat catatan asistennya. Ada sedikit gelagat yang Putra tangkap, jika dokter tersebut sedang menimbang untuk bicara.


Dimana setelahnya ada rasa was-was dalam hati Putra, namun ia tetap terlihat tenang di permukaan. Hingga rasa was-was Putra menguap saat Dokter Ridwan angkat suara dan memberitahukan secara garis besar kondisi rahim Gadis pasca keguguran setelah diperiksa tadi.


“Tidak ada janin yang tertinggal, jadi Nyonya Gadis tidak perlu menjalani kuretase,“ ucap Dokter Ridwan.


****


‘Syukurlah.’


Putra merasa cukup lega setelah mendengar penuturan Dokter Ridwan tentang kondisi Gadis, dan sampai pemeriksaan dan konsultasi dinyatakan selesai.

__ADS_1


Namun begitu, Putra membatin dalam hatinya. ‘Tapi sepertinya ada sesuatu yang dokter ini hendak katakan, namun ia urung mengatakannya.’


Sementara di permukaan, Putra tak lagi bersuara selain ucapan terima kasih yang ia cetuskan pada Dokter Ridwan serta juga asistennya.


Namun sebelum Gadis dan Bruna beranjak dari duduk mereka, Dokter Ridwan bersuara. Bicara pada Gadis.


“Mohon maaf Nyonya Gadis, ada pemeriksaan yang asisten saya lupa lakukan---“


“Apa itu, Dok?...” tukas Gadis spontan bertanya pada Dokter Ridwan.


“Mengambil sample darah anda---“


“Tapi untuk apa ya, Dok? Maaf, tapi saya pernah jadi perawat, dan rasanya untuk memeriksa kondisi saya yang habis keguguran, pemeriksaan dengan mesin usg kiranya sudah cukup?...”


“Memang benar, tapi saya—katakanlah ingin memiliki informasi dengan selengkapnya sebagai bahan observasi saya juga secara lebih terperinci untuk setiap pasien saya.”


Dokter Ridwan menjawab dengan lugas pertanyaan Gadis yang nampak sedikit heran.


“Lakukan saja...” sambar Putra. “Aku yakin kamu mendengar percakapanku dan Dokter Ridwan tadi? Tentang seberapa baik kondisi kamu jika hamil kembali dalam waktu dekat...“


“Mohon maaf Nyonya Gadis, tapi saya rasa anda berkenan untuk melakukan pengambilan dan pengecekan darah ataupun melakukan pengecekan kondisi tubuh secara total demi kebaikan anda sendiri. Dan lagi sudah terlanjur berada di sini, dituntaskan saja pemeriksaan secara keseluruhan jika memang diperlukan---“


“Ya sudah kalau begitu. Dimana saya akan melakukan pengambilan darah?...”


“Asisten saya akan mengantar Nyonya---“


“Baiklah---“


“Tapi sebelumnya, apa anda semua dapat menunggu diluar? Karena saya ingin berbicara dengan asisten saya sebentar.”


***


***


“Tuan Putra...”


“Iya, dengan saya sendiri.”


“Saya Dokter Ridwan, Tuan...”


“Ah ya, bagaimana?”


“Hasil test darah dan kondisi istri anda secara keseluruhan telah lengkap.”


“Lalu apa hasilnya?”


“Kecurigaan adanya kejanggalan pada rahim istri anda dinyatakan positif, Tuan. Jika memang ada waktu, sebaiknya kita bertemu dan akan lebih leluasa bagi saya menjelaskannya pada anda---“


“Baiklah. Kapan kita dapat bertemu kalau begitu?”


“Terserah Tuan Putra saja, saya akan menyesuaikan---“


“Kalau begitu saya hubungi anda nanti jika saya sudah memastikan waktunya---“


“Baik---“


“Oh ya, lalu bagaimana dengan serbuk teh rempah yang aku berikan tadi, apa juga sudah keluar hasilnya?...”


“Sudah...”


“Apa mengandung sesuatu yang membahayakan?”


“Serbuk itu... ada hubungannya dengan kejanggalan pada rahim Nyonya Gadis, Tuan Putra.”


“Jadi dalam kata lain, serbuk itu bukan teh melainkan racun?...”


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


To be continue.....


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2