LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 78


__ADS_3

Happy reading....


**********************


“Seperti ini cara kami ‘mengurus’ semua orang yang mencoba mengganggu kami” Putra berbicara sembari bersandar di Chevrolet Impala 1962 milik Rery yang ia kendarai malam ini.


“........”


“Apa kau paham?”


“Pa-paham..”


“Baguslah jika kau paham”


Putra menyungging miring. Tak bicara lagi, hanya menatap kobaran api yang berada tak jauh dari tempatnya, Garret, Addison, Damian, berikut Arthur dan orang-orang yang datang bersama Putra dan para saudara lelakinya itu, termasuk tiga orang yang tidak sampai dihabisi oleh Putra.


Kemudian Putra masuk kedalam mobil yang tadi ia kendarai setelah memastikan bangunan yang tadi ia datangi itu sudah terbakar secara keseluruhan, berikut beberapa jasad yang sudah lebih dulu dihabisi, juga si pemilik bangunan yang sedang dilahap api yang sudah menantang langit itu.


***


“Kalian berdua tetap disini hingga sampai semua itu rata dengan tanah”


Putra berbicara pada dua orang anak buahnya yang tadi ikut dengan mengendarai sepeda motor berboncengan.


“Siap Bos”


“Tapi jika nanti kiranya sudah ada orang yang mulai berdatangan ke tempat ini, kalian pergi dengan segera dari sini dan kembali ke Villa milik kami”


“Baik Bos”


“Setelah ini, kalian periksa dan pastikan lagi sekeliling tempat ini. Sekaligus pastikan tak ada yang melihat kalian saat meninggalkan tempat ini”


“Siap Bos. Kami paham”


***


“Anthony sudah tidur?”


Putra bertanya pada Pak Abdul yang sudah berdiri menunggu Putra, Addison, Damian dan Garret kembali saat asisten terpercaya mereka itu mendengar suara mobil milik para majikannya yang memasuki pekarangan Villa.


Putra masih berada di dalam mobil bersama Addison saja, karena Arthur mengendarai mobil dari seseorang yang Putra dan para saudara lelakinya itu bawa dari tiga orang yang tidak mereka habisi saat di rumah Baskoro tadi.


Pak Abdul yang menghampiri Putra yang masih berada didalam mobil itu kemudian mengangguk.


“Sudah Tuan” Jawab Pak Abdul yang merasa sedikit heran, setelah sempat melirik ada satu mobil lain yang ikut serta dan mobil itu rasanya pernah dirinya lihat di suatu tempat.


“Bruna?”


“Madam Bruna ada di kamar Tuan, bersama Tuan Muda Anthony, namun beliau belum tidur Tuan”


Putra yang masih duduk di balik kemudi mobil yang ia kendarai itu pun manggut-manggut mendengar jawaban Pak Abdul.


Sementara mobil yang dikendarai Damian dengan Garret dan Suheil serta dua orang lain di dalamnya sudah melaju ke area belakang Villa, diikuti satu mobil yang dikendarai Arthur.


“Apa Ibu Marsih sudah tidur?”


“Belum Tuan, dia masih ada di dalam malah. Saya yang menyuruhnya tinggal, karena takut Madam Bruna membutuhkan sesuatu, sekaligus menunggu anda semua kembali”


“Baiklah”


“Apa anda membutuhkan sesuatu Tuan Putra?”


“Minta Ibu Marsih untuk menjaga Anthony sebentar, dan Pak Abdul katakan pada Bruna untuk mendatangi kami di Istal dengan membawa peralatannya”


“Baik Tuan”


“Jika Pak Abdul kesulitan menjelaskannya pada Bruna tentang apa yang aku katakan barusan, panggil Suheil untuk ikut bersamamu berbicara pada Bruna”


“Tidak mengapa Tuan, saya bisa menyampaikannya pada Madam. Lagipula Madam sudah mulai sedikit paham bahasa Indonesia sepatah dua patah kata”


“Ya sudah”


***


A Flashback


“Bagaimana? ...”


( Putra menatap Dalu yang nampak sangat ketakutan setelah melihat Garret memotong satu-satu jari Baskoro tanpa ampun hingga pria buncit itu tak sadarkan diri. Yang entah mati atau hanya karena terlalu syok ).


“Apa kau mau merasakannya juga?”


“Ti – tidak! ... tidak! jangan!”


( Dalu langsung saja menggeleng panik. Kepalanya sudah dibebaskan Arthur dari cengkraman Arthur ).

__ADS_1


( Disaat yang sama, dimana Garret mendekat pada Putra yang sedang berdiri di hadapan Dalu ).


“Is he get a turn too? (Apa dia mendapat giliran juga?)”


( Garret bertanya pada Putra, sembari ia menyeringai ).


( Putra kemudian meletakkan tangannya di bahu Garret, lalu berbisik pelan di telinga saudaranya itu. Putra kembali menyeringai  setelah selesai berbisik di telinga Garret, sembari menatap lagi Dalu yang sudah panik dan ketakutan dengan teramat sangat ).


 ( Lalu Garret sedikit merundukkan tubuhnya, sembari ia mendekatkan alat yang tadi ia gunakan untuk memotong ujung jari – jari Baskoro kedekat tangan Dalu yang menggeleng-geleng sangat takut itu, bahkan Dalu mencoba bergerak mundur dengan menyentakkan kursi yang ia duduki dengan kondisinya yang terikat itu ).


( Namun tangan Garret dengan cepat menahan tindakan Dalu tersebut, masih dengan menyeringai  ).


( Dalu terus menggeleng – geleng dan melirih tak karuan seraya memohon ampun saat Garret memegang tangannya ).


( Bahkan Dalu mencoba menarik tangannya yang dicengkram Garret sembari melemparkan tatapan memohon belas kasihan pada Garret yang sedang menyeringai menatapnya itu ).


“Ja-...”


( Jalu melirih ).


( Belum sempat Dalu menyelesaikan kalimat mengibanya, namun... )


Klik!


( Suara sebuah alat yang ditekan tuasnya itu kembali terdengar ).


“Ti – Tidakk!!” ( Dalu berteriak, seiring air matanya yang kemudian tumpah ).


Tapi...


 “Hahaha!!! ....” ( Di saat dimana suara tawa pecah disekelilingnya yang membuat Dalu keheranan ).


‘Eh?’ ( Dalu membatin ).


( Dalu merasakan ada yang aneh. Dia memang mendengar alat yang digunakan oleh pria yang mencengkram tangannya, yang tadi digunakan untuk memisahkan jari – jari Baskoro memang terdengar berbunyi seperti memotong sesuatu yang Dalu sudah ngeri membayangkan, kalau alat tersebut akan memutuskan jari – jarinya juga


).


( Dalu melirik ke arah tangannya, dimana suara tawa yang mulai pudar berganti kekehan itu tetap terdengar ).


( Tidak ada rasa sakit yang ia rasa, pun jari – jarinya masih utuh semua ).


“Tenang saja jari – jarimu masih utuh. Setidaknya untuk saat ini” 


( Dalu spontan menghela nafas leganya, karena jari – jarinya tidak di potong oleh pria yang tadi mencengkram tangannya dan kini juga sudah tak lagi mencengkram tangannya itu )


( Putra tadi berbisik pada Garret untuk menggertak pria itu saja, karena Putra merasa pria bernama Dalu itu bisa dia manfaatkan, mengingat dari mobil dan penampilan pria itu, Dalu rasanya seseorang yang lumayan punya koneksi


diluar meski entah apa profesi orang tersebut yang Putra belum tahu ).


“Jangan berterima kasih dahulu, aku belum memutuskan apa aku akan membiarkanmu hidup, atau ku habisi nyawamu”


“Ti – tidak! Jangan! Jangan bunuh aku!”


“Berikan aku alasan yang bagus, agar aku mengampuni nyawamu”


“Saya akan tutup mulut!”


“Hanya itu?” ( Tanya Putra datar ).


( Dalu memberanikan diri menatap Putra dengan ragu – ragu selain takut ).


“Sa – saya bisa ... saya-bisa ... saya bisa membantu! Ya saya bisa membantu anda, dan kalian semua”


( Dalu mengajukan penawaran ).


“Dalam hal?”


“Apapun! Ya apapun itu!”


“Hemm ...” ( Putra seolah berpikir ).


“Begini Tuan...” ( Dalu kembali buka suara ) “Saya memiliki jabatan tinggi dalam lembaga pertanahan. Saya cukup punya banyak koneksi, barangkali anda membutuhkannya. Tu – Tuan .. maaf kalau saya lancang, tapi mohon jangan tersinggung .. kalian sepertinya baru tinggal disini kan?”


( Putra membiarkan Dalu berbicara ).


“Sa – saya selama ini bekerja sama dengan Baskoro. Kerjasama saling menguntungkan ...”


“Kau, ingin bernegosiasi denganku dengan meminta keuntungan dariku?”


“Oh bukan! Bukan begitu!”


“Lalu?”


“Maksud saya begini, Tuan – Tuan ini kan baru tinggal disini .. Mungkin anda semua ingin memulai bisnis atau apapun itu, saya bisa membantu!...”

__ADS_1


( Kembali Dalu berusaha menyelamatkan dirinya dengan menawarkan apa yang kiranya dia bisa lakukan, bahkan sampai melupakan rasa sakit di tangan dan salah satu pahanya itu ).


“Untuk yang kalian lakukan pada Baskoro ini, saya janji saya akan tutup mulut ... lain itu, anda bisa mengandalkan saya untuk membantu anda mengurus segala urusan”


( Putra tidak menyahut. Dia memperhatikan lamat – lamat wajah Dalu sekaligus Putra sedang menimbang - nimbang )


“Begini, anggap saja ... aku bekerja padamu .... pada kalian!”


A Flashback off


**


Bruna sudah mendatangi istal kuda milik mereka yang sudah hampir rampung pembangunannya dan masih berada dalam area Villa mereka, namun berada terpisah di bagian belakang Villa.


Meski hanya ada empat kuda di sana, namun istal itu dibuat lumayan besar dan punya ruang untuk beberapa kuda lagi.


“Who are they? ( Siapa mereka? )”


Bruna langsung bertanya, kala ia melihat tiga orang yang asing di matanya.


“Consider they are PW ( Anggap saja mereka tawanan perang )”


Putra yang menjawab. Seraya melemparkan guyonan yang membuat Bruna mendengus geli, begitu juga Addison, Damian, Garret bahkan Arthur.


Bruna membawa sebuah kotak yang seperti kotak perkakas di tangan kirinya.


“Is him that I should to take care? ( Apa dia yang harus ku tangani? )” Tanya Bruna sembari menggerakkan dagunya ke arah Dalu yang didudukkan diatas sebuah kursi kayu dan nampak sedang kesakitan dengan separuh tubuh yang masih terikat.


“Heemm”


“Okay...” Sahut Bruna yang kemudian mendekati Dalu bersama Addison.


Sementara Bruna menangani Dalu, Putra mengkode Arthur untuk mendekat padanya karena ada hal yang ingin Putra tanyakan pada pria tersebut.


**


“Arthur ..”


Putra mengajak Arthur berbicara di bagian luar istal kuda.


“Ya?”


“Your curiousity has been answered?”


“( Apakah rasa penasaranmu sudah terjawab? )”


“You mean?... ( Maksudmu?... )” Arthur balik bertanya. Putra menarik tipis sudut bibirnya.


“Aku tahu kau sedang mencari tahu tentang siapa kami sebenarnya. Bukan begitu?”


Putra beralih menggunakan bahasa Indonesia saja. Toh Arthur juga sama baiknya memahami bahasa di negeri tempat mereka berada itu.


“Aku tahu, Arthur. Kau sedang menyelidiki kami, sedikit lebih dalam”


Gluk!


“Benar seperti itu, bukan?”


“I... ( Aku ) ..” Arthur tergugu.


Arthur sedikit panik dan cemas sekarang.


Sementara Putra masih tersenyum tipis.


Sambil tetap juga mata Putra tak beralih dari Arthur.


“Aku tahu Arthur, tentang rasa penasaranmu pada kami yang tidak sepenuhnya kau tunjukkan di hadapan kami. Hanya aku belum tahu betul apa tujuanmu lebih jauh”


Putra merogoh saku jaketnya. Membuat Arthur entah kenapa spontan mundur satu langkah.


“Aku hanya ingin mengeluarkan rokokku .. tenang saja”


Putra berkata setelah ia sempat melirik Arthur dan menyadari kewaspadaan pria itu saat Putra merogoh saku jaketnya.


“I’m sorry Sir.. I just... ( Maafkan aku Tuan ... Aku hanya )..”


“Just like what I have said to you ( Seperti yang pernah aku katakan padamu )....” Sambar Putra. “Once me and my brothers put a trust in someone, better that person won’t dissapointed us ( Sekali aku dan saudara – saudaraku memberikan kepercayaan pada seseorang, sebaiknya orang itu tidak pernah mengecewakan kami )”


Putra memberikan penekanan pada ucapannya ke Arthur.


“Or you, will have the same fate with Baskoro ( Atau kau, akan mendapatkan nasib yang sama seperti Baskoro )”


**


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2