LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 437


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


Putra dan Gadis serta mereka yang menyertai keduanya pergi ke sebuah rumah sakit yang berada di pusat kota tempat villa mereka berada, kini telah sampai kembali ke hunian yang bagi para masyarakat sekitar tempat tinggal villa Putra dan keluarganya tersebut dianggap begitu ‘wah’.


Meski ada juga rumah-rumah luas, bagus, dan tergolong mewah --- walau masih dapat dihitung dengan jari, dalam jarak tertentu dari villa tempat tinggal Putra dan keluarganya tersebut, bagi masyarakat sekitar --- villa tempat tinggal Putra dan keluarganya itu lah yang mereka katakan megah.


Bahkan ada yang menyebutnya istana, walau villa Putra dan keluarganya itu tidak tampak seperti bangunan yang merupakan hunian keluarga kerajaan dari luar.


Namun memang total luasnya tidak kira-kira. Dan pemandangan luasnya villa milik Putra dan keluarga itu sudah bisa di lihat dari luarnya. Lalu bangunannya meski tak nampak mewah-mewah amat dari luar, namun memang terlihat jelas kokoh dan terawat --- selain luas dan besar villa tersebut, berdiri pongah di atas sebuah bukit kecil.


🌓🌓🌓


“Dimana semua orang?”


Putra yang sebelumnya diam saja selama dalam perjalanan setelah adu argumen dengan Gadis di dalam mobil dan masih nampak diam selepas dirinya keluar dari mobil dan Gadis kemudian disambangi Bruna hingga akhirnya mereka jalan beriringan di depan Putra, selanjutnya bertanya pada Pak Abdul yang sudah standby menyambut para majikannya yang baru saja tiba kembali di villa itu setelah dari pusat kota.


“Tuan Muda Anthony masih belum kembali dari kebun teh bersama Tuan Damian, Tuan Garret dan Tuan Devoss, Tuan. Katanya mereka akan bermain di air terjun kecil yang ada di hutan belakang kebun. Kalau Tuan Ramone berada di kamarnya,” jawab Pak Abdul.


“Hem...”


Putra menyahut hanya dengan deheman yang disertai anggukkan saja.


🌓🌓🌓


Setelah bicara sedikit dengan Pak Abdul dan itupun hanya sebaris pertanyaan yang menanyakan tentang Anthony berikut sebuah deheman dan anggukkan saja, Putra kembali pada mode diamnya.


Lalu kembali melangkah mengekori Gadis dan Bruna yang sudah meniti tangga utama menuju lantai dua. Sementara Arthur berbelok ke lorong dimana area kamar tamu berada.


Kemudian setelah kakinya sudah mencapai lantai dua, dan terlihat Gadis serta Bruna memisahkan diri --- Putra tak lagi mengekori Gadis.


Putra tidak berniat masuk ke kamar pribadinya dan Gadis.


Sedang agak kesal si Papa pada Mama Gadis sejak mereka adu argumen di setengah perjalanan pulang.


Jadi daripada berada dalam satu tempat yang sama, kemudian nanti ada sebab yang membuat dirinya membicarakan hal yang menjengkelkan lagi bagi Putra --- lalu yang ada emosinya malah menjadi, lebih baik Putra memisahkan dirinya dulu dari Gadis untuk beberapa saat.


Begitu pikir Putra.


‘Dari sejak aku tiba Gadis bahkan baru sebentar memberikan pelukan padaku, itu pun aku yang sedang menenangkannya dan kini dia malah mengacuhkanku. Lalu masih saja membela dua wanita menyebalkan itu!’ gerutu Putra dalam hatinya saat kakinya meniti tangga.


Mendengus dengan samar, saat Putra sudah berada di lantai dua, dan membatin lagi.


‘Terlalu baik membuat seseorang menjadi naif, macam istriku itu! Andai aku tidak mencintainya, mungkin aku sudah mengatainya bodoh langsung di depan wajahnya! Haishhh... me-----“


“Putra,“ namun sebelum gerutu dalam hati Putra selesai, suara Gadis membuatnya langsung menghentikan kegiatan Putra yang bermonolog dalam hatinya itu. Dan Putra yang sudah berbelok arah berlawanan dengan Gadis yang hendak masuk ke kamar mereka pun segera menoleh setelah mendengar Gadis memanggilnya.


“Pergi ke kamar dan jangan menggangguku.” Namun Putra kemudian berucap datar dan setengah ketus pada Gadis, yang lalu ia abaikan.


Dimana Putra yang sempat berhenti dan memiringkan sedikit tubuhnya kala menoleh ke arah Gadis, kemudian lanjut melangkah menuju ke arah dimana ruang kerja utama villa berada.


🌓🌓🌓


Gadis menghela berat nafasnya sambil memandangi Putra yang berjalan menjauhinya, ada sendu di hati Gadis mendapatkan perlakuan acuh Putra meski ia pun masih memiliki rasa sebal dalam hatinya pada sang suami --- tapi tetap, Gadis merindukan juga sikap mesra Putra padanya yang belum Gadis terima dari sejak kembali ke villa setelah beberapa hari berada di Inggris.


Ingin rasanya Gadis mengejar Putra yang sedang berjalan menjauhinya itu, terkesan enggan berada di dekat Gadis saat ini. ‘Aku sedih Putra seperti itu. Tapi sepertinya dia sedang marah padaku sekarang. Lalu jika aku menegurnya, bisa-bisa dia malah membentakku-----‘


🌓🌓🌓


‘Tapi tidak juga Putra bersikap seperti itu padaku, karena dia juga ada salahnya dalam hal ini. Perlakuannya pada ibu dan Madya tidak manusiawi, sesalah apapun merek. Dan bisa-bisanya Putra begitu kasar pada perempuan? Lalu bukannya mengajakku bicara baik-baik tapi terus mencibirku, aku juga boleh kan merasa kesal?...’


Gadis masih bermonolog dalam hatinya sambil matanya masih tertuju ke arah dimana Putra melangkah, kemudian Gadis menghela berat lagi nafasnya ketika Putra sudah berbelok ke lorong yang berada di depan ruang kerja utama dalam villa mereka itu.


Baru setelah sosok Putra tak lagi dalam pandangan Gadis, dia pun menggerakkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar pribadinya dan Putra untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sambil menunggu Putra datang ke dalam kamar mereka tersebut.


Namun sampai dirinya selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Putra tak kunjung muncul.


Hingga kemudian Gadis didera rasa kantuk dan merasakan tubuhnya lelah setelah beberapa belas menit dirinya menunggu kedatangan Putra setelah ia membersihkan diri dan berganti pakaian, namun Putra tak kunjung datang ke kamar mereka --- Gadis pun jatuh terlelap, dimana baru setelah beberapa belas menit kemudian Gadis terlelap di atas ranjangnya dan Putra --- pria itu muncul ke dalam kamar pribadinya dan Gadis.


‘Bukan aku kejam padamu, Gadis...’ ucap Putra dalam hatinya kala ia sedang menatap Gadis yang nampak pulas tertidur itu. ‘Tapi bukan dirimu saja yang kecewa karena kehilangan bayi kita, aku pun sama. Aku tak tega melihatmu seperti ini. Tapi kamu juga begitu keras kepala, bahkan tidak mempercayai firasatku tentang ibu dan saudari tirimu itu...’


Seolah Putra sedang berbicara langsung pada Gadis, yang nyatanya sedang terlelap pulas.


🌓🌓🌓


Beberapa saat berlalu, Gadis pun terbangun dari tidurnya, dimana setelah matanya terbuka --- Gadis tersenyum sedikit masam ketika ia mendapati kekosongan di sisi lain pada ranjangnya dan Putra. ‘Apa Putra tetap bertahan di ruang kerja utama karena malas bertemu denganku?... tidak ada iba-ibanya padaku, padahal aku kan masih sakit hitungannya. Luka goresan dan benturan dari  terjatuh di tangga saja masih perih dan nyeri aku rasakan sekarang. Tapi Putra lebih mementingkan egonya! Hhh. Ke-----‘


“Sudah hampir waktu makan malam,” Namun saat Gadis masih hendak bermonolog dalam hatinya, suara seseorang terdengar dari arah sofa yang berada di ujung tempat tidur.


‘Eh?...’


“Bersiaplah-----“


‘Putra-----‘

__ADS_1


“Jika memang kamu ingin ikut makan di ruang makan. Jika tidak, aku akan meminta maid membawakan makan malammu ke sini-----“


‘Apa sebaiknya aku ajak Putra bicara sekarang saja ya, agar kami tidak berlarut seperti ini? Tapi Putra masih datar dan dingin begitu?-----‘


🌓🌓🌓


“Jadi bagaimana, ingin ikut makan di ruang makan atau kamu ingin makan malammu dibawakan ke sini?-----“


“Ke ruang makan saja,” tukas Gadis atas ucapan Putra yang sekali lagi bertanya padanya.


“Ya sudah kalau begitu-----“


“Putra, aku-----“


Sreekk...


Tapi ketika Gadis bersuara hendak mengajak Putra sedikit berbicara sebelum waktu makan malam tiba, suara pintu penghubung yang terbuka bersamaan dengan sosok Anthony yang muncul dengan muka bantalnya membuat Gadis jadi urung meneruskan kalimatnya.


Dimana Putra langsung berdiri dari tempatnya dan menghampiri Anthony yang juga berjalan ke arahnya.


“You wake up?-----“


“I’m hungry, Papa-----“


“Playing a lot ( Lama bermain ), hem?”


Putra berjongkok di hadapan Anthony yang mengangguk setelah mendengar ucapan Putra.


Dimana Putra kemudian tersenyum sambil mengacak gemas rambut Anthony yang sudah agak berantakan itu.


“You’re lucky, because it’s almost dinner ( Kamu beruntung, karena ini hampir waktu makan malam )...” tutur Putra lembut pada Anthony.


Sementara Gadis yang masih terduduk di atas ranjang, hanya bisa tersenyum tipis dan sedikit miris melihat sikap Putra pada Anthony saat ini yang berbanding terbalik dengan sikap Putra padanya.


'Hhh... Aku jadi iri pada Anthony,' batin Gadis.


🌓🌓🌓


‘Setelah makan malam aku akan mengajak Putra bicara.’ Monolog Gadis dalam hatinya, saat dirinya sudah duduk di kursi ruang makan kala waktu makan malam tiba, dan seluruh keluarganya berikut juga Arthur dan Devoss telah duduk bersama di sana.


Gadis rasanya tidak betah dengan sikap Putra yang masih nampak acuh tak acuh padanya, namun hangat pada Anthony, meski memang sikap Putra selalunya seperti itu pada si bocah tampan kesayangan semua orang tersebut --- dimana biasanya, Putra juga tak kalah lembutnya bersikap pada Gadis.


‘Aku masih ada sebal padanya, tapi kalau aku menunggu Putra menurunkan egonya, kami akan terus saja saling acuh tak acuh seperti ini.’


Gadis masih bermonolog dalam hatinya, sambil kembali mengingat saat ia bangun dari tidur dan mendapati Putra telah ada di kamar mereka.


Lalu pergi mengurusi Anthony, walau sebelumnya Putra mengatakan, “Aku akan membantu Anth membersihkan diri. Jika butuh sesuatu kamu bisa memanggilku.”


Nampak masih perhatian memang, namun Putra bahkan tidak memberikan Gadis kesempatan untuk menjawab ucapannya --- karena pria itu langsung melangkahkan kakinya mengekori Anthony yang sudah lagi berjalan ke dalam kamar pribadinya.


🌓🌓🌓


Semua orang yang sebelumnya makan malam bersama itu, kemudian melipir ke ruang keluarga untuk sekedar bercengkrama --- dimana para orang dewasa yang berada dalam satu bangunan megah itu, lebih banyak mendengarkan cerita Anthony tentang kegiatannya hari ini, lalu apa saja kemajuan dirinya dalam hal pelajaran --- meski Anthony tidak menempuh sekolah formal, yang akhirnya membuat Putra sempat memikirkan tentang Anthony yang usianya memang dirasa sudah cukup untuk masuk ke sekolah formal.


Namun karena ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, maka Anthony belum dapat menempuh pelajaran dalam sekolah formal.


“Do you want to go to the formal school ( Apa kamu ingin bersekolah formal ), Anth?” pertanyaan itu kemudian tercetus dari mulut Putra. “If you want, then I will try to find information for that ( Jika kamu ingin, maka aku akan mencoba mencari informasi untuk itu )-----“


“I feel that I never saw a school nearby ( Aku rasanya tidak pernah melihat ada sekolah di dekat sini )?...” tukas Bruna.


“There is one about one kilometers from here. But not as good as schools at town centre ( Ada satu sekitar satu kilometer dari sini. Tapi tidak sebagus sekolah-sekolah yang ada di pusat kota )”


Gadis yang kemudian angkat suara menanggapi ucapan Putra dan Bruna sebelumnya, dimana dua orang itu dan lainnya manggut-manggut setelah mendengar penuturan Gadis.


"The one here, is not clearly can see from the road ( Satu yang ada di sini, tidak terlalu jelas terlihat dari jalanan )..." kata Gadis lagi.


“How was it, Anth?” cetus Putra tak lama kemudian. “Do you want to see that school that Mama Gadis said which is not too far from here?”


“Later, Papa,” respons Anthony. “I need to think about it first because I haven’t fluently understand and speaking Bahasa.”


“Anth was right ( Anth benar )... He will found a lot of difficulties if he’s get into school here before Anth totally understand about Bahasa ( Dia akan banyak menemukan kesulitan bersekolah di sini sebelum Anth benar-benar memahami Bahasa )-----“


“Indeed-----“


“But there’s an international school at the capital, but it means we need to move staying from here ( Tapi ada sekolah internasional di ibukota, tapi itu artinya kita perlu pindah tinggal dari sini )” Ramone berujar kemudian.


“I think it doesn’t matter since we already have new house in the capital ( Aku pikir tidak masalah karena kita sudah memiliki sebuah rumah baru di ibukota )-----“


“Ah ya I almost forget about our new house at the capital ( Ah iya aku hampir lupa tentang rumah baru kita di ibukota )”


Damian menimpali ucapan Putra soal rumah baru mereka tersebut.


“How’s the progress ( Bagaimana kemajuannya ), Ar?-----“


“Is the money still enough ( Apakah uangnya masih cukup )?”


Gantian Putra yang menimpali ucapan Damian dengan juga bertanya pada Arthur yang didetik berikutnya langsung bersuara untuk menjawab.

__ADS_1


“More than enough even if you want to buy more furnitures and even gain one more floor ( Lebih dari cukup jika kau ingin membeli tambahan perabot rumah tangga dan bahkan menambah satu lantai lagi )-----“


“And the progress?...”


Damian mengulang pertanyaannya.


“Will be able to occupied in a month ahead ( Dapat ditempati dalam satu bulan ke depan )”


Putra dan keluarganya kemudian manggut-manggut.


🌓🌓🌓


Pembicaraan kemudian dilanjutkan dengan Putra yang kembali mempertanyakan Anthony atas kesediaan bocah tampan itu bersekolah formal serta pindah tinggal ke rumah mereka yang berada di ibukota.


Namun keputusan belum diambil, karena Anthony masih menyatakan kebelumsiapan dirinya untuk bersekolah formal, selain Anthony merasa lebih betah tinggal di villa mereka yang berada di atas bukit kecil itu.


Jika bisa dikatakan, Anthony memang anak yang sedikit introvert karena kehidupannya dulu di Ravenna.


Pada ‘dunia’ dan ‘orang luar’.


Karena Anthony jauh lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kedua orang tuanya semasa mereka hidup atas beberapa pertimbangan, dimana Anthony belajar dengan diberikan guru pribadi.


Lalu Anthony malah jadi betah berada di rumah dan bermain dengan para pamannya yang sebelumnya banyak, meski seringkali juga Anthony diajak berjalan-jalan diluaran.


Jadi Anthony akan terlihat lebih nyaman jika bersama dengan orang-orang yang sudah dikenalnya. Dan sisi Anthony yang sedikit introvert itu nyatanya masih menempel pada diri bocah tampan tersebut.


“Well everything about how the way you want to study, are all up to you ( Yah semua tentang bagaimana kamu ingin belajar, terserah padamu )” tutup Putra saat dirasa Anthony masih nampak enggan tentang bersekolah formal, meski sebenarnya Putra ingin Anthony mulai menjalani kehidupannya dengan normal.


Toh musuh sudah tak ada, hanya tinggal menata semua yang pernah berantakan baik di Inggris maupun di Ravenna --- serta menata hidup baru mereka di negara yang sekarang Putra dan keluarganya tinggali ini. Paling nanti --- jika semuanya sudah benar – benar beres, perembukan dimana mereka akan benar = benar tinggal untuk menetap antara Inggris, Ravenna dan Indonesia akan dibicarakan lebih lanjut.


“Alright then it’s already your bed time, Anth.”


Putra berujar untuk mengingatkan Anthony.


“Yes, Papa,” sahut Anthony seraya mengangguk.


Paham maksud ucapan Putra, kalau Anthony harus pergi beristirahat karena malam sudah mulai kian menjelang, dan memang Anthony punya batas waktu untuk beraktifitas di malam hari, meskipun ia tidak berangkat ke sekolah di pagi harinya.


Suatu kebiasaan Anthony dari orang tuanya yang terus Putra jalani.


🌓🌓🌓


Putra bangkit dari duduknya, karena hendak mengantarkan Anthony ke kamar, entah ke kamar pribadi bocah kesayangannya itu, ataupun ke kamar pribadinya dan Gadis untuk tidur bersama seperti semalam.


Terserah Anthony saja. Namun Putra merasa Anthony lebih baik tidur lagi bersamanya dan Gadis karena hubungannya dengan sang istri sedang dalam kecanggungan saat ini, jadi keberadaan Anthony bisa mencairkan kecanggungan diantara dirinya dan Gadis yang jika hanya berdua saja sebelum --- katakanlah, mereka berbaikan.


Begitu pikir Putra.


“Come ( Ayo ), Anth,” ajak Putra pada Anthony, dengan mengulurkan tangannya pada bocah tampan itu.


“I want to sleep with Madre tonight ( Aku ingin tidur bersama Madre malam ini ), Papa-----“


“Well, okay then...”


Putra pun segera merespons ucapan Anthony tersebut, dimana bocah itu kemudian berpamitan sambil mengucapkan selamat malam pada Putra dan para orang dewasa lainnya.


Gadis telah ikut juga berdiri seperti halnya Putra, Bruna dan Anthony yang sudah akan hengkang dari tempatnya. Dimana Gadis berniat untuk menjalankan rencananya mengajak Putra bicara untuk memperbaiki hubungan mereka yang sedang dingin itu.


“Pu-----“


“Bru,”


Namun belum selesai Gadis yang bahkan belum lengkap menyebut nama panggilan Putra, suaminya itu sudah menyela, sambil memandang pada Bruna yang Putra panggil.


“Take Gadis with you, because I will stay here a little bit longer ( Ajak Gadis bersamamu, karena aku ingin berada di sini sedikit lebih lama )...”


🌓🌓🌓


“Pergilah ke kamar duluan.”


Putra yang kemudian bicara pada Gadis.


“Langsung beristirahat jika memang sudah mengantuk dan tidak perlu menungguku kembali untuk kamu pergi tidur-----“


“Tapi ada-----“


“Jika takut bosan di kamar sendirian, kamu dapat bersama Bru dan Anth dulu di kamar Bru dan Ad.”


Putra kembali menukas ucapan Gadis sebelum istrinya itu selesai bicara.


“Bahkan silahkan saja jika kamu ingin bergabung tidur bersama Bru dan Anth.”


🌓🌓🌓 🌓🌓🌓


To be continue...


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2