LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 90


__ADS_3

Happy reading ....


***************


Celotehan Putra mengenai mampir ke Hotel sebenarnya hanya sekedar celetukan untuk menggoda Gadis saja. Karena bagi Putra, wajah Gadis yang jika merasa gugup itu sungguh menggemaskan baginya, seperti wajah Anthony jika sedang merajuk.


“Kita sarapan terlebih dahulu” Ucap Putra saat mobil yang dikemudikan Suheil sudah hampir mencapai Rumah Sakit tempat Gadis bekerja. “Kamu belum sarapan dengan layak”


“Eeeeummm ........”


“Hanya teh dan makanan tadi itu, rasanya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan tenagamu sampai siang nanti”


Putra berkata pada Gadis, lalu menyuruh Suheil untuk tidak membelokkan mobil ke Rumah Sakit dahulu, melainkan sedikit maju dimana ada tempat makan yang berada tidak jauh dari Rumah Sakit tersebut.


“Aku sudah merasa kenyang, Putra” Sahut Gadis. “Lagipula sebentar lagi sudah masuk jam kerja aku” Sambung Gadis. “Dan aku juga harus menghadiri pengarahan untuk jadwal bekerja hari ini, termasuk Misa pagi yang juga harus aku hadiri”


“Aku, juga Suheil terlebih lagi, belum sarapan juga. Aku juga hanya baru meminum kopi dan makanan yang kamu suguhkan tadi di rumahmu. Itu tidak cukup untukku, mengingat aku akan langsung kembali ke Kediamanku yang berada di luar Ibukota setelah dari sini”


“Ya kalau begitu kamu saja dengan Pak Suheil yang sarapan” Sahut Gadis. “Aku tidak enak jika datang terlambat Putra ..”


“Aku tidak menerima penolakan. Lagi....”


“Iya aku paham, tapi ...”


“Jangan suka menyelaku, jika aku sedang bicara”


“Iya maaf ...” Sahut Gadis lagi. “Tapi aku memang benar tidak bisa jika harus menemanimu sarapan saat ini”


“Gadis ...”


Putra menegaskan pandangannya pada Gadis.


“Tolonglah Putra, mengertilah...”


“Ya sudah ...”


*****


“Hubungi aku jika sudah sampai di tempat tinggal kamu yang di luar kota itu ya?”


Gadis sudah berada di depan lobi rumah sakit tempatnya bekerja, setelah menolak dengan halus seraya memohon dan memelas agar tidak mengajaknya sarapan bersama Putra pagi ini.


“Ya” Sahut Putra singkat saja.


Gadis tersenyum pada Putra yang hanya berdiri saja di lobi dan sepertinya tidak akan mengantar Gadis sampai ke depan ruang kerjanya.


“Kamu, ga marah kan?..”


“Tadi kamu buru-buru ingin segera sampai kesini .. sekarang kamu malah berlama-lama bicara denganku”


“Kamu, marah ya? ..”


“Apa aku menghardik mu?”


“Tidak sih”


Gadis menggeleng.


‘Tapi justru kalau Putra seperti ini, diam dan memandangku dengan tatapan yang seperti itu malah aku was-was jika Putra merasa tersinggung atas penolakanku untuk sarapan bersamanya. Aku rasanya khawatir jika setelah ini Putra akan acuh padaku. Dia kan tidak suka penolakan .. Huft!’


Gadis membatin.


‘Aku sebenarnya ingin sekali sarapan bersama Putra, tapi mau bagaimana? Aku kan harus bertanggung jawab pada pekerjaanku. Jika aku dipecat karena tidak disiplin, bagaimana aku bisa menabung untuk menebus tanah ayah nanti?’


“Ya sudah, cepat masuk sana”


Putra berucap, seraya menggerakkan dagunya ke arah dalam rumah sakit.


“Iya sudah, aku masuk sekarang. Sekali lagi maaf ya?” Ucap Gadis, namun Putra tak menyahut. ‘Marah pasti.. haish!....’


Gadis melambaikan tangannya sebelum ia berbalik pergi dan melangkah masuk kedalam area dalam rumah sakit untuk sampai ke ruangan khusus para suster.


“Juga jangan lupa makan dulu sebelum kamu melakukan perjalanan ya? ... Kamu kan belum sarapan dengan baik tadi di rumah kontrakanku. Dan juga kamu bilang tadi, Pak Suheil belum sarapan juga... Jadi jangan lupa makan sebelum pergi untuk kembali ke Kediaman kamu di luar Ibukota itu ...”


Gadis menahan langkahnya.


“Lebih baik kamu pikirkan dirimu sendiri. Kamu sendiri saja juga belum sarapan dengan layak”


Gadis menarik sudut bibirnya. “Ada kantin kecil kok di dalam sini. Jika nanti aku merasa lapar sebelum waktu istirahatku tiba, aku bisa membeli sesuatu disana ...”


“Hem” Begitu saja sahutan Putra dengan raut wajah dan sorot matanya yang datar menatap Gadis.


“Oh iya, satu lagi”


“Apa?”


“Sepertinya saat kamu sampai  di tempat tinggalmu yang berada di luar kota nanti aku masih berada disini, jadi jika memang kamu ingin meneleponku saat kamu sudah tiba nanti di ...”

__ADS_1


“Lihat saja nanti”


Putra menyambar sebelum Gadis menyelesaikan kata-katanya.


Gadis tersenyum canggung karenanya.


‘Hatiku menjadi tidak nyaman dengan sikapnya yang seperti ini...’ Gadis membatin. “Ya sudah kalau begitu. Aku masuk dulu ...”


“Hem” Sahut Putra seperti itu saja.


“Hati-hati dijalan dan titip salam untuk Anthony ...”


Putra mengangguk tipis.


“Baiklah sampai jumpa...”


“Sampai jumpa”


Gadis kembali mengangkat tangannya untuk melambai pada Putra.


‘Sepertinya Putra memang tersinggung karena aku menolak sarapan bersamanya’


Gadis membatin lagi sembari mengurai senyum pada Putra yang tidak membalas lambaian tangannya itu.


Sedikit merasa kehilangan akan sikap Putra yang biasanya jahil padanya. ‘Dia bahkan tidak memasang wajah konyolnya dan menggoda untuk menciumku ...’


Gadis menghela nafasnya pelan seraya berbalik meninggalkan Putra yang masih berdiri di depan lobi Rumah Sakit tempatnya bekerja itu.


‘Rasanya aku tidak bisa bekerja dengan tenang hari ini jika hatiku tidak nyaman begini. Fuuhhh!!! ... Mau bagaimana habisnya?, aku kan punya tanggung jawab di pekerjaanku ini ... Jika aku melanggar kedisiplinan, aku bisa saja dipecat nanti ... Lalu bagaimana tabunganku bisa terkumpul dengan cepat untuk menebus perkebunan ayah? ...’


Gadis menghela nafasnya lagi seraya berjalan menuju ruangan khusus perawat, untuk memulai pekerjaannya. Sementara itu, dibelakang Gadis yang nampak berjalan lunglai menyusuri koridor Rumah Sakit, Putra masih berdiri dan memandangi punggung Gadis sampai suster yang dicintainya itu menghilang dari pandangannya.


Kemudian Putra berbalik ke arah mobilnya yang terparkir, tak jauh dari lobi Rumah Sakit dan berjalan kearah mobilnya itu, dimana ada Suheil yang duduk dibelakang kemudi.


***


Gadis tidak bisa fokus dalam bekerja saat ini.


Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya atas penolakannya atas ajakan Putra untuk sarapan bersama, terlebih lagi sikap Putra yang begitu datar setelah penolakan Gadis itu, sungguh membuat Gadis merasa tidak nyaman.


‘Aku tahu kamu merindukanku Putra ... Akupun sama’ Batin Gadis.


Gadis menghela lagi nafasnya setengah frustasi.


‘Coba aja, kamu kembali nanti sore dari sini, kamu ajak aku kemanapun selepas pulang kerja nanti aku tidak akan menolak sama sekali ...’


“Dis!”


“Eh, Mba Neni”


“Pasti lagi mikirin Papanya si bocah tampan itu ya???...”


“Ih! Apa sih, Mba Neni?...”


Gadis mendengus geli. Sementara satu suster yang Gadis panggil  dengan Mba Neni itu terkekeh kecil.


“Ngaku aja sih, Dis! ...” Celetuk Mba Neni yang juga seorang suster itu. “Lah wong muka kamu jadi merah muda begitu pas aku sebut papahnya si bocah tampan itu!”


“Mana ada”


Gadis berkilah.


“Alaahh, jangan boong deh!”


“Jangan menggosip pagi-pagi deh...”


“Mana ada gosip. Memang kenyataannya begitu kan? Ngaku aja deh, kamu suka kan sama papahnya si bocah tampan itu? ...”


“Kerja, kerja!...” Tukas Gadis sembari berlagak melanjutkan menulis dalam sebuah buku diatas mejanya.


“Atau jangan-jangan kalian sudah menjalin hubungan ya???...” Celetuk Mba Neni lagi. “Aku lihat kayaknya papahnya si bocah tampan itu juga suka sama kamu deh, Dis?!”


“Betul itu!”


Salah seorang rekan seprofesi Gadis tahu-tahu nyeletuk bersama dengan orangnya yang mendekat pada Gadis yang sedang bersama Mba Neni.


“Ini lagi, cepet banget nyamber kalau soal bergosip!”


“Keliatan jelas kalo papahnya si bocah tampan itu emang naksir kamu, kok!” Seru salah satu suster yang baru bergabung itu. “Inget ga waktu ada Dokter Bajra disini yang ngajakin kamu pulang bareng tuh ya kalo aku ga salah?, lalu papahnya si bocah tampan itu datang dan menghalangi kan? ...”


“Ah! Iya bener, bener!” Mba Neni menyambar.


Gadis geleng-geleng sekaligus mendengus geli.


“Jadi udah jelas banget kalau papahnya si bocah tampan itu emang naksir kamu, Dis!”


“Udah ah! Aku mau mulai kerja ini! ...”

__ADS_1


“Ah! Jangan sok rajin deh!”


Mba Neni nyeletuk asal dan Gadis serta satu rekan lainnya itu terkekeh kecil.


“Jujur, kamu juga punya perasaan sama papahnya si bocah tampan itu, kan?! ...”


Gadis mengulum senyumnya.


“Tuh, tuh kan, senyum-senyum begitu, berarti iya ya, kamu suka sama papahnya si bocah tampan itu?! ...”


“Terus kenapa memangnyaa??...” Tukas Gadis pada dua rekannya itu yang langsung tersenyum lebar pada Gadis.


“Kita orang dukung kalo gitu!”


Mba Neni berkata dengan antusias.


“Kamu kan sama papahnya si bocah tampan itu cocok banget, Dis! .. Yang satu tampannya bukan main, yang satu cantiknya luar biasa!”


“Ah, aku mencium maksud minta ditraktir makan siang kalau ada pujian dari mulut kamu itu ..”


Ketiga suster yang sedang mengobrol itu sontak terkekeh bersama.


“Sudah ah!... aku beneran mau kerja inii!!”


“Eh tapi ngomong-ngomong .. papahnya si bocah tampan itu, udah nyatain perasaannya ke kamu belum Dis?!”


“Iya, iya! Udah belum Dis?!”


“Rahasia!” Ledek Gadis dan dua rekannya itu mencebik.


“Awas ya, nanti aku tanya langsung kalo papahnya itu Bocah tampan dateng kesini!”


“Tanya aja!” Timpal Gadis.


“Bener loh nanti aku tanya langsung sama dia!”


Gadis mendengus geli, lalu pandangannya turun ke atas pahanya, dimana satu tangannya tertopang disana.


‘Aku sendiri bahkan masih ingin terus bertanya, apa benar semua yang telah katakan padaku malam itu, dan keseriusannya padaku benar adanya..’


Gadis melirik pada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya itu sembari tersenyum tipis.


‘Karena rasanya juga aku masih tidak percaya... Kalau Putra memiliki perasaan khusus padaku seperti halnya aku padanya, bahkan ia telah melamarku’


“Hey suster-suster penggosip!. Aku mau ke kantin. Ada yang mau ikut? Atau ada yang mau dititip? ....” Seorang suster lain bersuara dan kini sudah berada didekat tiga rekannya yang sedang asik mengobrol itu.


“Aku ikut deh!” Sahut Mba Neni.


“Aku titip roti yang biasa aku beli itu ya, Nis!" Sahut satu rekan lainnya.


“Kamu, Dis?”


“Aku....”


“Hey, bubar! Bubar!...”


Gadis tak melanjutkan kata-katanya, kala seorang rekan suster tiba-tiba masuk dengan tergesa ke ruangan khusus mereka itu.


Membuat Gadis dan tiga rekannya yang sedang berada di dekat Gadis itu sedikit terkejut.


“Ada apa?!....” Tanya Gadis pada rekan kerjanya yang datang dengan tergesa itu.


“Ada Pak Wakil Kepala! Mau inspeksi kayaknya!...”


Satu suster yang barau datang dari arah luar itu berucap dan sontak tiga suster yang sedang mengerubung di dekat Gadis itu seketika bubar jalan dan kembali ke meja kerja mereka masing-masing atau mengambil sembarang berkas agar terlihat sedang bekerja.


Begitu pula Gadis yang langsung memposisikan dirinya menghadap buku yang sudah ada di meja kerjanya itu.


‘Hahhhh, untung aja aku menolak ajakan Putra untuk sarapan bersama! Jika tidak, aku pasti kena teguran atau bisa jadi dipecat karena tidak ada saat inspeksi kedisiplinan! Karena aku pasti akan sangat terlambat datang jika tadi aku mengiyakan ajakan Putra untuk sarapan bersama ..’ Batin Gadis.


Hingga sampai terdengar suara seorang laki-laki paruh baya yang menyapa dengan ramah saat laki-laki paruh baya itu sudah berada dalam ruangan khusus perawat tersebut dan Gadis berikut rekan-rekannya yang berada dalam ruangan sontak berdiri dari duduk mereka untuk menyalami pria paruh baya yang baru memasuki ruangan kerja mereka itu.


“Dis!” Mba Neni memanggil Gadis dengan berbisik. “Tuh!...”


Mata Mba Neni seperti memberikan kode pada Gadis yang sedikit merasa bingung.


“Ya ampuun...”


Salah seorang rekan Gadis yang tadi mengobrol dengannya juga menimpali ucapan Mba Neni yang sembari mengkode itu.


Dan pada akhirnya Gadis mendelik seraya terkejut, setelah melihat seseorang yang berada di belakang pria paruh baya yang merupakan Wakil Kepala Rumah Sakit tempat Gadis bekerja.


***


To be continue....


Jangan lupa dukungan kalian pada karya ini jika berkenan.

__ADS_1


__ADS_2