LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 144


__ADS_3

Happy reading ..


“Anth menyimpan dendam”


Jemari Putra bermain di pundak terbuka Gadis yang sedang berada dalam pelukannya setelah sesi percintaan mereka.


Tubuh keduanya masih polos dengan hanya berbalut selimut saja.


Karena setelah Putra ‘melepaskan’ dirinya dari Gadis, ia langsung membawa Gadis berbaring bersisian dengannya, lalu menyelimuti tubuh mereka dan mendekap tubuh Gadis hingga rapat padanya.


“Aku lupa apa sudah menceritakan ini padamu ...” Putra sedikit menundukkan kepalanya, karena Gadis bersandar di dada bidang milik Putra.


Gadis mendongakkan kepalanya saat Putra sedang berbicara padanya itu.


“Kedua orang tua Anth mati dibunuh oleh saudara angkat ayah Anth yang mengincar harta kekayaan keluarganya. Padahal kepindahan kami di Ravenna, sudah sangat kami lakukan dengan hati-hati. Bahkan keluarga ayah Anth, kakeknya Anth tidak tahu sama sekali. Walaupun dari informasi yang kami dapat, meski dia bersitegang dengan ayah Anth sebelum ayah Anth memutuskan untuk pergi jauh dari kakek Anth dan nama besar keluarganya, namun dia masih mencari keberadaan Rery...... Katanya ingin membujuk Rery untuk kembali ke Inggris. Tapi Rery tidak mau. Terlebih kakeknya Anth hendak menjodohkan Rery dengan anak salah satu kerabatnya, sementara Rery mencintai Madelaine....”


“.........”


“Dan kakek Anth, tidak mau jika Rery menikah dengan orang biasa. Bahkan sampai setelah ia menikah dengan Madelaine di Ravenna dan Anth lahir pun, Rery tak memberitahukannya pada kakek Anth. Rery sudah benar-benar memutuskan hubungan dengan keluarganya yang berada di inggris, dan memilih untuk hidup tenang dikehidupan barunya bersama istri dan anaknya di Ravenna”


Gadis masih mengarahkan pandangannya pada wajah Putra yang sedang bercerita padanya itu.


“Dan kami yang memang pro pada Rery, mengikuti langkah Rery.. Hingga suatu hari, ada kabar yang sampai jika kakeknya Anth meninggal dunia, dan dari informasi yang kami dapat dari orang-orang yang masih pro pada Rery namun tetap bertahan di Inggris, kakek Anth itu dibunuh oleh saudara angkat Rery. Barulah setelahnya banyak fakta yang terungkap”


“.........”


“Namun begitu, Rery tetap tidak mau kembali ke Inggris, karena ia sudah merasa kehidupannya tenang di Ravenna selama enam tahun terakhir. Dan memang, selama enam tahun terakhir itu, kami sudah tak mau tahu lagi dengan apa yang terjadi di Inggris. Namun nyatanya kekacauan terjadi disana, saudara angkat Rery yang bernama Jaeden itu, benar-benar ingin menguasai semua harta kekayaan keluarga Rery .. Hingga ia tak segan membantai semua orang di lingkungan keluarga Rery yang berada di Inggris, yang kontra padanya...”


Gadis tetap setia mendengarkan.


“Hingga akhirnya suatu fakta membuat kami yang berada di Ravenna membuat kami lebih meningkatkan kewaspadaan atas keselamatan Rery, Madelaine dan Anth. Maka dari itu kami langsung merencanakan banyak hal, termasuk kepindahan kami kesini .. Untuk mencari tempat aman untuk Madelaine dan Anth terutama, karena negara ini, tidak mungkin sampai terpikir oleh Jaeden. Jadi aku dan Dami pulang-pergi kesini, mempersiapkan segalanya dengan cepat....”


“.........”


“Tapi sayangnya, saat aku baru saja sampai ke Ravenna sehabis dari sini bersama Dami, kabar yang sangat buruk itu sampai dari mulut Addison, jika ternyata Jaeden berhasil menemukan keberadaan Rery. Dan aku terlambat datang...”


“.........”


“Semuanya terlambat saat aku sampai di Kediaman Rery”


“.........”


“Aku sangat terlambat...”


“Putra..”


Gadis menaikkan posisi tubuhnya dan mengusap lengan Putra yang sedang mengusap kasar wajahnya sendiri. Berikut raut wajah Putra yang menyiratkan sebuah penyesalan besar disana.


“Hey, itu bukan salahmu Putra ...”


“Salahku Gadis, salahku. Andai saja aku tidak pergi kesini dan ada bersama Rery, Madelaine dan Anth hari itu, aku masih punya kesempatan untuk menyelamatkan Rery dan Madelaine, setidaknya jika tidak pun, aku bisa mati bersama mereka, dan tidak menanggung sakit atas rasa bersalah ku pada Anth...”


Putra menjadi sedikit gusar, selain ada gurat kesedihan di wajahnya.


“Hey Putra, lihat aku ...”


Gadis meraih wajah Putra, dan membuatnya menghadap pada Gadis.


“Lepaskan rasa bersalah kamu itu... Kamu sudah berjuang untuk Anthony... Dan sepertinya Anthony nampak bahagia sekarang.....”


“Iya memang, Anth sudah jauh lebih baik sekarang ... Dan aku merasa lega untuk itu...”


“Ya sudah, fokuslah pada Anthony kalau begitu. Tebus rasa bersalah kamu pada kedua orang tuanya yang tewas di tangan orang jahat itu, dengan merawat Anthony dengan baik dan limpahkan dia dengan semua kasih sayang yang kamu punya untuknya ..”


“Itu yang sedang aku lakukan saat ini Gadis ....” Ujar Putra.


“Itu sudah sangat benar kalau begitu Putra ...”


“Hanya saja tidak sesederhana itu keadaannya Gadis ...... Apa yang Anth katakan saat di kebun binatang tadi, membuat aku dan yang lainnya baru mengetahui fakta, walau keadaan nampak jauh lebih baik saat ini, namun sesungguhnya ada luka yang besar di hati Anth atas kematian Rery dan Madelaine”


“.........”


“Kami semua sangat yakin, jika Anth melihat sendiri dengan mata kepalanya, saat kedua orang tuanya dihabisi. Anth sendiri bahkan juga hampir terbunuh, karena Jaeden dengan laknat menenggelamkan Anth ...”


Gadis nampak tercenung mendengar penuturan Putra.


“Kamu mau tahu apa yang Anth katakan di kebun binatang tadi? ...”Suara Putra sudah tidak lagi terdengar gusar.


Tatapan Putra juga kembali lembut pada Gadis.


“Kamu dengar Anth bertanya apakah boleh memelihara seekor macan bukan? ..”


Gadis pun mengangguk.


“Anth bilang, ia ingin memelihara seekor macan, karena setelah ia menemukan orang jahat yang membunuh kedua orang tuanya itu, ia mau memberikan Jaeden pada macan peliharaannya tersebut. Dan melihat macan peliharaannya itu mencabik-cabik Jaeden didepan matanya”

__ADS_1


Dan Gadis kembali tercenung selepas Putra berbicara soal omongan Anthony di kebun binatang.


Gadis tak sangka, bocah tampan yang baru berumur tujuh tahun itu sudah menyimpan dendam yang begitu besar di hatinya atas kematian kedua orang tuanya. ‘Benar yang Putra bilang, Anthony terluka’


Gadis pun membatin pilu.


‘Ternyata, dibalik senyum dan tawanya yang selama ini aku lihat, Anthony tidak sebaik kelihatannya...’


Gadis jadi termenung.


‘Kamu pasti sangat menderita ya, Anthony sayang?....’


“Anth sudah memiliki dendam dalam hatinya ... Dan aku sangat yakin itu sangat membebaninya ...”


Gadis yang sedang termenung itu kembali sedikit mendongakkan kepalanya saat mendengar Putra berbicara lagi.


“Dan aku tidak ingin Anth terbebani ...” Sambung Putra. “Biar beban itu, aku saja yang menanggungnya ... Aku yang akan membalasnya. Untuk Anth. Juga untuk Rery dan Madelaine ...”


Gadis yang bersandar landai di dada Putra yang tadi sudah menegakkan duduknya dan bersandar di sandaran ranjang itu pun kini ikut menegakkan tubuhnya, dengan mengapit selimut yang menutupinya dari atas dadanya.


Cup!.


Putra sontak menoleh, kala Gadis mengecup pipinya.


“Kalau begitu, ayo kita menikah secepatnya!. Agar Anthony bisa lebih berbahagia, dan dia bisa mengubur lukanya...”


****


“Me and Bruna will probably marry on this month... (Aku dan Bruna kemungkinan akan menikah dalam bulan-bulan ini...)”


Addison membuka omongan selepas ia dan semua yang berada dalam kediaman mereka yang berada di Ibukota itu sedang duduk bersama di ruang tengah sekaligus ruang santai, selepas sarapan.


Dan senyuman lebar kemudian mewarnai wajah semua orang yang berada bersama Addison saat ini, termasuk Bruna yang sedang bersandar manja di dada Addison. Anthony tidak hanya tersenyum lebar, tetapi ia sampai memekik  girang dan segera bangkit dari duduknya untuk memeluk Padre dan Madrenya itu.


“Padre and Madre will marry in the Church?... (Padre dan Madre akan menikah di Gereja...)” Tanya Anthony yang  kemudian dipangku oleh Addison.


Addison dan Bruna pun sama-sama mengiyakan.


“So which Church? (Jadi di Gereja mana?)...”


Damian yang bertanya.


“We think that the one at the Center of this City area (Kami berencana disatu yang ada di bagian Pusat Kota ini) ...”


“Maksud kamu, apa aku tahu nama Gereja yang Addison maksud?...” Jawab Gadis seraya balik bertanya dan Putra langsung mengangguk.


“Near a place called (Didekat sebuah tempat yang bernama)...”


Bruna saling tatap dengan Addison, sedang sama-sama mencoba mengingat.


“Pasar Baru?” Gadis menyambar. “Katedral Church?...”


Gadis menoleh pada Addison dan Bruna.


“Ah ya!. That’s! ( Itu!)”


Addison dan Bruna kompak menyahut.


“Ya I know that Church (Iya aku tahu Gereja itu)”


“Have you both come there and booked a date? (Apakah kalian berdua sudah datang kesana dan menetapkan tanggal?)”


Gantian Garret yang bertanya.


“No, not yet (Tidak, belum)” Jawab Addison.


“Kalau menurut aku sih Putra, jika memang Addison dan Bruna ingin menikah disana, apalagi dalam bulan-bulan ini, lebih baik mereka datang langsung kesana... Soalnya Gereja itu termasuk tempat yang menjadi favorit umat Kristiani untuk melangsungkan pernikahan”


Gadis kembali menoleh pada Putra. Paham pembicaraan Garret dan Addison serta Bruna.


Namun Gadis takut salah berucap dengan menggunakan bahasa Inggris, karena yang ingin ia ucapkan panjang kalimatnya.


Jadi Gadis memilih untuk berbicara dengan Putra, biar pria itu saja yang kemudian menterjemahkan pada para saudaranya. Putra yang paham maksud Gadis berbicara padanya itu kemudian mengangguk, lalu mengulangi perkataan Gadis padanya dengan menggunakan bahasa Inggris pada para saudara dan satu saudarinya itu.


Addison dan Bruna, serta Damian dan Garret kemudian manggut-manggut.


“Then could you please accompany me and Ad to go to that Church to get some information, Gadis?... (Lalu apa kamu berkenan untuk menemaniku dan Addison pergi ke Gereja itu untuk mencari beberapa informasi, Gadis? ...)”


“Tentu saja!”


Gadis menyahut cepat, pada Bruna yang seolah memohon padanya untuk ditemani.


“Eumm... I mean, of course (Maksudku, tentu saja) ...” Gadis yang tersadar jika ia menyahut dengan bahasa Indonesia, kemudian meralat ucapannya ke dalam bahasa Inggris.


Semua orang yang berada di dekat Gadis sontak terkekeh kecil, karena Gadis nampak malu sendiri. Dan tangan Putra terulur untuk mengacak gemas rambut Gadis, saat wanita tercintanya itu menoleh padanya.

__ADS_1


“So, of course, means ten-tu sa-ja in Bahasa? ...” Celetuk Anthony sembari menatap Gadis yang kemudian menoleh dan langsung mengangguk dan tersenyum pada bocah tampan yang masih betah duduk di atas pangkuan Addison itu.


“Smart boy (Anak pintar)” Addison mengacak gemas rambut Anthony yang tersenyum puas karena ia menebak dengan benar arti sebuah kata.


***


Sudut bibir Putra melengkung keatas, kala ia masuk ke dalam kamar pribadinya yang berada dalam kediamannya dan keluarganya di Ibukota itu.


“Papa! ...”


Anthony langsung berseru disaat Putra memasuki kamar. Dan Putra terus menampakkan senyumnya sembari mendekati Anthony yang sedang bersama Gadis itu.


“We’re ready Papa! (Kami sudah siap Papa!)...” Seru riang Anthony dengan riang.


Bocah tampan itu memang sudah berganti baju dengan pakaian semi formal, berikut juga Gadis yang sudah berganti pakaian.


“I’ll go for change then (Aku akan berganti pakaian dulu kalau begitu)” Sahut Putra.


“Do I look handsome Papa? (Apakah aku sudah terlihat tampan Papa?)...”


Dimana Putra dan Gadis sontak terkekeh kecil karena Anthony nampak memamerkan dirinya pada Putra.


“I handsome right?... (Aku tampan bukan? ...)” Tanya Anthony lagi dan Putra mendengus geli.


“As handsome as me (Setampan diriku)...” Jawab Putra yang sudah mendekati Anthony dan urung untuk membuka lemari pakaian dan mengambil baju ganti.


“A-A ...”


Anthony mengangkat satu telunjuknya kehadapan Putra lalu menggoyangkannya kekiri dan kekanan.


“I’m more handsome than you (Aku lebih tampan darimu)”


“No, our handsomeness is equal (Tidak, kita sama tampannya) ...”


Putra seolah tidak mau kalah dengan pernyataan Anthony.


“No, I’m more handsome (Tidak, aku yang lebih tampan). Right (Benar begitu kan), Gadis? ...”


“If you ask Gadis, then she will answer that I’m more handsome than you (Jika kamu bertanya pada Gadis, maka dia akan menjawab jika akulah yang lebih tampan darimu)”


Putra langsung saja menyambar sebelum Gadis menjawab pertanyaan Anthony.


“Right Mi Amore? (Benar begitu kan Sayangku?) ...” Sambung Putra sembari mengerling pada Gadis yang tersenyum lebar melihat interaksi Putra dan Anthony yang nampak hangat di matanya.


“Oh my God Papa! (Ya Tuhan Papa!)...”


Anthony tahu-tahu memekik dan menangkup wajah Putra dan dihadapkan padanya.


“You’re so Girlish! (Papa sangat Genit!)”


Didetik kemudian gelakan Putra pun mengudara.


Diikuti oleh kekehan geli Gadis yang tak lama juga terdengar.


“Both of you are handsome (Kalian berdua sama-sama tampan)”


Kedua tangan Gadis terulur dan menyentuh dagu Putra dan Anthony secara bersamaan dengan tersenyum lebar.


“See? Our handsomeness is equal... (Benar kan? Kita itu sama tampannya ...)” Kata Putra.


“I can’t accept that (Aku tidak bisa menerimanya)” Anthony mensedekapkan tangannya, lalu geleng-geleng serta membuat wajah seperti kecewa.


Yang tentu saja membuat Putra kembali terkekeh geli. “Then I’m more handsome than you (Kalau begitu ya aku lebih tampan darimu)” Kelakar Putra.


“That I can’t more accept (Itu aku lebih tidak bisa terima)” Kata Anthony lagi. “Boy must be more handsome than a man (Anak laki-laki itu pasti akan lebih tampan dari pada pria dewasa)”


Putra sontak terkekeh geli lagi.


“What a chatty boy, huh (Dasar anak laki-laki cerewet) ...”


Dimana gelakan Anthony langsung terdengar karena Putra nampak merengkuh tubuh mungil Anthony lalu menggelitikinya.


Gadis yang melihat interaksi Putra dan Anthony itu melengkungkan bibirnya ke atas sembari memperhatikan. Betapa Gadis hati Gadis rasanya selalu menghangat setiap melihat kedekatan Putra dan Anthony.


Putra dan Anthony tidak ada ikatan darah sama sekali. Putra juga bukan seorang papa sambungnya Anthony yang menikah dengan ibunya bocah tampan itu. Tapi keakraban yang terlihat antara Putra dan Anthony sudah seperti ayah dan anak kandungnya sendiri.


Terlalu hangat bahkan.


Memang, ada ungkapan jika darah lebih kental dari air.


Tapi rasanya ungkapan itu tidak pas disematkan pada hubungan Putra dan Anthony yang terjalin dari ketulusan hati dan kasih sayang yang besar.


***


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2