LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 284


__ADS_3

Happy reading....


*************


Salisbury, England


“I just remember ( Aku baru teringat )---“


Putra berkata, kala ia dan rombongannya telah sampai di mansionnya yang berada di Salisbury.


Dan kini ia sedang duduk bersama tiga orang tersebut, berikut Hizkia yang memang menunggu kepulangan Putra, Damian, Garret dan Devoss dari London dengan gelisah.


“How about the radio ( Bagaimana dengan radio )?”


Putra berujar seraya bertanya soal saluran komunikasi yang Hizkia katakan masih belum dapat berfungsi setelah adanya badai salju.


“Already tried, but same. Disturbed ( Sudah dicoba, tetapi sama saja. Terganggu ) ...” Hizkia memberikan jawabannya, dan Putra berikut tiga orang lainnya kembali manggut-manggut. “But, there’s a news from his Boss ( Tetapi, ada berita dari Bosnya ) ...”


Putra yang hendak meraih kopi dalam cangkir yang telah disediakan oleh maid di mansionnya itu-yang menolak untuk beristirahat sebelum Tuan mereka kembali meski Hizkia telah menyuruh ketiganya untuk beristirahat itu, langsung menghentikan gerakannya dan menatap serius pada Hizkia.


“From what I’ve known, there a probability, if Jaeden will fly back over England by tomorrow ( Dari apa yang aku tahu, ada kemungkinan, jika Jaeden akan kembali ke Inggris esok hari )” lanjut Hizkia.


“Sam, would you please call Thomas here ( bisa tolong kau panggilkan Thomas untuk datang kesini )?” Putra beralih pada salah satu maidnya yang berdiri sigap di ruangan tempatnya berada, setelah ia dan istrinya menyajikan minuman panas untuk Putra dan empat pria yang bersamanya itu.


“Sure, Mister Putra.” Sam menyahut penuh kesopanan selain sigap.


“Thank you, Sam.”


**


“How about London ( Bagaimana dengan London )? –“


Hizkia kembali bersuara selepas kepergian Sam dari hadapannya dan empat orang yang bersamanya saat ini, untuk memanggilkan Thomas.


“Was you guys have checked the communication line at there ( Apakah kalian sempat mengecek saluran komunikasi disana )?” sambung Hizkia seraya bertanya.


“No ....”


Putra menjawab.


“I was thought to find a public phone, but then I totally forget about that when I saw one of Kingsley’s car passed us ( Aku sempat berpikir untuk menemukan satu telepon umum, tapi kemudian aku benar-benar melupakannya saat aku melihat satu dari mobil milik Kingsley melewati kami )” terang Putra setelahnya.


“Really ( Benarkah )?”


Hizkia memastikan. Lalu Putra, juga Damian mengangguk menjawab Hizkia.


“And you guys saw who’s inside that car ( Dan kalian melihat siapa yang ada di dalam mobil itu )?..”


“Even better than that ( Bahkan lebih bagus dari itu )!”


“Ya for sure!”


“Not only saw, but he followed that car ( Tidak hanya melihat, tapi dia mengikuti mobil itu )”


“You go to Kingsley’s Mansion ( Kau pergi ke Kediamannya Kingsley )?”


“Yes, but only in front of the gate ( Ya, tapi hanya di depan gerbang )”


“And what happened? ...... Who’s inside that car ( Lalu apa yang terjadi? ...... Siapa yang ada di dalam mobil itu )?”


Hizkia masih terus bertanya.


“Freya ......” jawab Putra.


“Freya? ......”


Hizkia mengulang nama yang barusan Putra sebutkan.


Putra, juga Damian mengangguk.


Hizkia manggut-manggut.


“Did she realize that you have been followed her ( Apakah dia menyadari kau mengikutinya )? –“


Putra dengan segera menggeleng.


“It’s good ( Bagus kalau begitu ) –“


“She didn’t realize even until I have talked to her ( Dia tidak menyadari meskipun aku bicara dengannya )”


Lalu Putra berujar. Dan Hizkia mengangkat alisnya. “You talked to Freya ( Kau bicara dengan Freya )?!”

__ADS_1


“Yup!” sahut Putra dengan cepat.


“Then ( Lalu )?!”


“She didn’t recognize him.”


“( Dia tidak mengenalinya )”


Damian yang menyahut.


“What did you say ( Kau bilang apa )? ...”


Hizkia memajukan duduknya.


Pria itu ingin memastikan apa yang didengarnya dari mulut Damian barusan.


“She didn’t recognize me ( Dia tidak mengenaliku )---“ tukas Putra.  “Sure she’s not, because she is not Freya ( Tentu saja tidak, karena dia bukan Freya )”


“What ( Apa )?!” Hizkia terlihat sangat terkejut.


Dengan wajah Hizkia yang nampak bertanya-tanya.


Putra dan Damian manggut-manggut. Lalu Putra menceritakan semua analisanya tentang wanita yang wajahnya sama dengan wanita yang Putra, Damian serta Hiz kenal dengan nama Freya.


**


“But how could be ( Tapi bagaimana bisa )?” Hizkia terlihat tak habis pikir setelah mendengar analisa Putra, yang amat Putra yakini itu. Dan tentunya analisa Putra itu tidak sembarang pria itu katakan, mengingat Hizkia begitu mengenal Putra dan kemampuannya.


Putra mengangkat bahunya tak peduli.


“How could that be, I really don’t care ( Bagaimanapun itu, aku benar-benar tidak peduli)”


Putra meraih cangkir minumannya, untuk meminum kopi yang ada di dalam cangkir tersebut-yang tadi sempat ia tunda, karena Hiz menyampaikan informasi tentang Jaeden.


**


Perhatian Putra teralih pada Thomas yang sudah hadir ditengah-tengah ia yang sedang duduk-duduk di salah satu ruangan dalam mansion pribadinya di sebuah kota yang berada di Inggris tersebut.


“Boss.”


Thomas pun langsung menyapa Putra, juga mereka yang sedang bersama Putra sekarang ini.


Putra mempersilahkan Thomas untuk duduk, karena ia ingin menanyakan beberapa hal.


“Hiz said you have news from Sio ( Hiz mengatakan kau memiliki kabar dari Sio )? ...” Putra langsung juga bertanya.


“Yes Boss.”


“How can you get that news  from Sio while Hiz said that the phone line also the radio frequence still not work yet ( Bagaimana kau bisa mendapatkan kabar dari Sio sementara Hiz mengatakan jika saluran telepon dan frekuensi radio masih belum berfungsi )?”


Putra langsung mengajukan pertanyaan sambil matanya menyorot pada Thomas.


“You, are not one of Jaeden’s who succeed to get in here and disguise ( Kau, bukan salah satu orangnya Jaeden yang berhasil masuk ke sini dan menyamar )? ...”


Di detik dimana berucap barusan, Damian, Garret, Devoss, termasuk Hizkia, langsung menegakkan duduk mereka dan bersikap waspada sambil menatap tajam penuh selidik pada Thomas.


Namun Thomas nampak tenang, dan ia bahkan tersenyum sambil menatap pada Putra. “Feel free to do anything to me if you think that I’m one of that man ( Silahkan melakukan apapun padaku jika anda berpikir jika aku adalah bagian dari pria itu ), Boss.”


Lalu Thomas berkata dengan tenangnya, setenang wajahnya.


Putra menyunggingkan senyum. “Chill out ( Tenanglah )” ucap Putra kemudian. “I’m just doodlebug ( Aku hanya iseng ) –“


Lalu Putra terkekeh kecil.


“Don’t you guys worry.I already know every detail from Sio about him.”


“( Kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah tahu tentang dia secara terperinci dari Sio )”


Putra berujar santai kemudian, sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.


“Now talk ( Sekarang bicaralah ), Thom.” Cetus Putra. "Let me know everything that Sio told( Beritahu padaku semua yang Sio beritahukan )"


Thomas mengangguk dan memberitahukan Putra informasi yang baru ia dapatkan saat Putra sedang berada di London, berikut bagaimana cara informasi dari Accursio yang berada di Ravenna itu bisa sampai ke Thomas, padahal saluran komunikasi masih tidak berfungsi di Salisbury.


***


“What next ( Apa selanjutnya )?..” tanya Garret sambil menatap Putra, setelah Thomas menjelaskan panjang lebar hal yang Putra tanyakan padanya.


“Take Gaines, The woman with Freya’s face, and killed that ‘Chicago Guy’ ( Ambil Gaines, wanita berwajah Freya itu, dan habisi si  ‘Pria Chicago’ )”


Putra menjawab dengan tenang dan santai.

__ADS_1


Damian, Garret, Devoss, Hizkia dan Thomas pun memperhatikan setiap perkataan Putra.


“And also ( Dan juga ) ----“


Putra menjeda ucapannya, karena ia menyesap rokoknya.


“Get that mot*er*uck*r’s Jaeden first kid ( Ambil anak pertama si keparat Jaeden itu )” sambung Putra, setelah mengepulkan asap rokoknya ke udara.


“Are you sure about this ( Apa kau yakin soal ini )? ..”


Hizkia bersuara untuk bertanya.


“I mean, that ‘Chicago Guy’, do you know exactly how big the power he has ( Maksudku, si ‘Pria Chicago’ itu, apa kau sudah tahu dengan pasti seberapa besar kekuatannya )?..”


“.......”


“He has big ‘companion’ at US ( Dia memiliki banyak ‘kawan’ di Amerika )”


Hiz nampak sedikit khawatir.


“Which I’m sure that he bring some, and also has another big companion here. Are we have enough power to fight them ( Yang aku yakin jika beberapa ikut kesini, dan kemungkinan juga dia memiliki ‘kawan’ yang besar disini. Apakah kita memiliki cukup kekuatan untuk melawannya )?..”


“Even elephant can knock down by ant if the ants always together ( Bahkan gajah pun dapat rubuh oleh semut jika semut itu selalu bersama kawanannya ), Hiz.”


Putra berujar.


“I know,but ( Aku tahu, tapi )—“


“Don’t you worry Hiz, we got that ( Kau jangan khawatir Hiz, kami dapat mengatasinya )..” potong Damian.


“Well, what I can say then if you guys already become stubborn like this ( Yah, apa yang dapat aku katakan lagi jika kalian sudah menjadi keras kepala seperti ini )?”


Hizkia berucap pasrah, Putra dan empat lainnya mendengus geli.


“And when we’re going to move for doing all of things that you have said ( Dan kapan kita mau bergerak untuk melakukan semua hal yang kau katakan tadi )?..”


Garret bertanya pada Putra.


“As soon as possible ( Secepatnya )” jawab Putra.


“If that so, I think we can’t stay too long here ( Jika seperti itu, aku pikir kita tidak bisa terlalu lama berada di sini )”


“Take some rest for two or three hours, and then prepare.. And Dev, plug off our safe line ( Beristirahatlah selama dua atau tiga jam, lalu bersiaplah..  Dan Dev, cabut saluran aman kita )---”


“Okay.” Devoss menyahut sigap.


“And destroy it before we go ( Dan hancurkan itu sebelum kita pergi ) ---“ satu lagi titah dari Putra yang diangguki dengan cepat oleh Devoss.


***


West Java, Indo ..


Beberapa hari berikutnya ..


“Vader –“ Seorang wanita cantik menghampiri pria yang merupakan ayah baptis suaminya, yang mana sedang duduk berkumpul dan nampak berbicara serius dengan beberapa orang di Villa yang mereka tinggali pada suatu daerah yang berada di barat pulau jawa, di suatu negeri yang kaya budaya.


Pria yang dipanggil Vader-yang adalah Ramone, ayah baptis Putra itu segera menoleh ke arah wanita cantik yang memanggilnya barusan.


Yang mana wanita cantik itu adalah Gadis. Dimana wajah cantiknya itu kini berselimutkan kekhawatiran yang teramat sangat, selain sedikit sembab.


“Iya Gadis?” tanggap Ramone. “Kemarilah.” Ucap Ramone pada menantunya itu. “Mengapa kamu belum tidur?” Ramone bertanya pada Gadis kemudian. “Anth sudah tidur?” tanya Ramone lagi.


Gadis mengangguk lemah.


“Sebaiknya kamu juga beristirahat Gadis.”


“Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang, Vader?...”


Gadis berucap pelan, sedikit serak.


“Jika aku tidak tahu bagaimana kabar Putra setelah aku mendengar kalian bicara tentang adanya baku tembak yang hebat dimana dia, juga yang lainnya terlibat di dalamnya?”


“Tenanglah Gadis.”


“Bagaimana aku bisa tenang Vader, jika aku tidak tahu bagaimana keadaan suamiku sebenarnya, setelah adanya  baku tembak, lalu adanya korban dari pihak kalian? ..  jangankan untuk beristirahaat .. untuk bernafas pun, dadaku sudah se-saakk .. membayangkan jika satu dari mereka yang tewas itu adalah Pu-traa ..”


♦♦♦♦♦♦♦


To be continue..


Terima kasih untuk kalian yang masih setia.

__ADS_1


__ADS_2