
Happy reading....
***************
Hari itu, selepas sarapan, sesuai keinginan Anthony, Putra dan para saudara angkatnya berikut Gadis akan membawa Anthony berjalan-jalan ke sebuah kebun binatang yang berada di Ibukota. Menikmati waktu yang menyenangkan tentunya bagi mereka semua.
Danny dan Arthur tidak ikut serta, karena ada hal lain yang harus mereka lakukan.
Tempat rekreasi yang berada di pusat Ibukota, di bekas kediaman seorang pelukis tersohor yang bernama Raden Saleh itu selalu dibanjiri pengunjung.
Namun memang tidak seperti kebun binatang yang ada di Italia atau Inggris, saat Putra dan yang lainnya masih berdomisili disana. Bahkan jalanan pada area kebun binatang yang berada di pusat Ibukota itu masih berupa tanah.
“Is there any tiger here? ... (Apa ada macan disini?)...”
“Sepertinya ada ...”
“Gadis said probably there is one here or maybe more ...”
(Gadis mengatakan sepertinya ada satu atau mungkin lebih disini)...
Putra merundukkan tubuhnya seraya berbicara pada Anthony.
“And I’m sure they must be have tiger here ... (Dan aku yakin mereka memang memiliki macan disini) ...”
“Let’s see then Papa! (Kalau begitu ayo kita melihatnya Papa!)” Seru Anthony. Putra pun langsung mengangguk.
Kemudian Gadis berinisiatif untuk bertanya pada salah seorang pria yang menggunakan seragam, yang sepertinya adalah pekerja di kebun binatang tersebut, saat pria itu lewat didekat Gadis dan yang lainnya.
“Ke arah sana ...”
“Okay ...” Putra mengangguk pada Gadis yang menunjukkan arah tempat dimana hewan yang ingin dilihat Anthony berada setelah Gadis bertanya pada salah seorang pekerja kebun binatang barusan.
Lalu mereka pun berjalan menuju area yang dimaksud.
***
“Papa...”
“Heem?”
“Can we raise a tiger?... (Apa kita bisa memelihara seekor macan?)...”
Pertanyaan Anthony saat ia dan para orang tua angkatnya sudah sampai ke sebuah kandang yang berisikan hewan predator tersebut sontak membuat para orang tua angkat Anthony itu tersenyum lebar.
Ringan saja Anthony bicara, dan tak tampak jika bocah tampan takut pada binatang predator tersebut.
“Why want raise a tiger? It’s a dangerous animal (Mengapa ingin memelihara seekor macan? Itu hewan yang berbahaya)” Putra kemudian bertanya.
“I know it’s a dangerous animal. But I’m not afraid”
(Aku tahu itu hewan berbahaya. Tetapi aku tidak takut)
Bibir Putra kembali menciptakan senyum. Begitu juga lima lainnya.
“I’m sure you’ll become a brave man in future, Our Prince (Aku yakin kamu akan menjadi pria pemberani dimasa depan, Pangeran Kami)”
“So, why are you thinking to raise a tiger? ... (Jadi mengapa kamu berpikir untuk memelihara seekor macan?)...”
Addison dan Damian seperti bicara dengan saling bersahutan.
“I will, Padre. I will become a brave man just like all of you (Pasti, Padre. Aku akan menjadi pria pemberani seperti kalian)...”
Anthony menyahut, namun matanya tertuju pada dua singa dalam kandang.
“Then I will find the bad guy who kill Daddy and Mommy... That’s why I want to raise a tiger ... because when I found that bad guy, I will give him to the tiger that I raise and saw that bad guy ripped by my tiger ...”
(Lalu aku akan mencari orang jahat yang telah membunuh Daddy dan Mommy... Itulah mengapa aku ingin memelihara seekor macan... karena saat nanti aku menemukan orang jahat itu, aku akan memberikannya pada macan peliharaan ku dan melihatnya dicabik oleh macan milikku ...)
Didetik setelah Anthony berbicara dengan tatapannya yang nanar ke arah dua singa yang berada didalam kandang dihadapannya, Putra dan tiga saudara lelakinya juga Bruna langsung saling melempar pandang.
Didetik yang sama pada akhirnya Putra, Addison, Damian, Garret dan Bruna, mengetahui jika Anthony kecil mereka menyimpan luka yang besar di dalam hatinya.
Hingga hati yang mungil itu menyimpan sebongkah dendam, yang mungkin Anthony belum pahami maknanya. Namun begitu, wajah Anthony cilik yang tampan itu kini nampak sendu dengan tatapan yang nanar dan jauh.
Entah apa yang sedang Anthony kecil mereka pikirkan saat ini, namun yang jelas, ucapan Anthony terasa mencubit hati Putra dan empat orang lainnya yang sedang bersama Anthony saat ini.
Selain, seperti ada sebuah batu yang tercekat di tenggorokan kelima orang tersebut.
Untuk sesaat, Putra, Addison, Damian, Garret dan Bruna sama-sama terdiam. Kemudian saling bergantian mengulurkan tangan untuk mengusap kepala, punggung dan tangan Anthony.
Hanya sebuah sentuhan tanpa kata. Hanya dipadu dengan senyuman dengan bibir yang sedikit terlipat, namun sarat makna. Tetapi yang paling jelas, yang ingin disampaikan oleh lima orang tua angkat Anthony itu adalah,
“Kami paham lukamu, dan kami akan selalu berada disisimu untuk selalu mendukungmu”
Gadis yang menyadari perubahan raut wajah semua orang. Meski tidak terlalu jelas mengapa, karena Gadis tidak terlalu jelas mendengar ucapan Anthony yang seperti sedang menggumam itu.
“Hey Anthony, do you like cotton candy? ... (Apa kamu suka gulali?)...” Tanya Gadis yang sudah merundukkan tubuhnya dengan tangan yang mengusap kepala Anthony hingga kemudian Anthony menoleh sekaligus mendongak pada Gadis.
__ADS_1
Gadis tidak tahu jelas mendengar apa yang keluar dari mulut Anthony, lalu membuat wajah mereka yang bersamanya kemudian nampak sendu.
Meski penasaran, namun Gadis tidak langsung menanyakan pada Putra. Gadis lebih memilih untuk membuat wajah Anthony yang juga nampak sendu di matanya, kembali menjadi ceria lagi seperti saat mereka datang tadi ke kebun binatang tempat mereka berada ini.
Jadi, gulali yang tertangkap oleh mata Gadis dan terjajar di sebuah tempat penjualan yang ada didalam kawasan kebun binatang tersebut bisa membuat Gadis mencoba untuk menghilangkan wajah sendu Anthony.
Untungnya percobaan Gadis untuk menghilangkan wajah sendu Anthony berhasil, karena bocah tampan tersebut langsung mengangguk seraya tersenyum. “I like cotton candy (Aku suka gulali)...” Sahut Anthony. “I like everything
sweet. Cotton Candy, Ice cream ... (Aku suka semua yang manis. Gulali, es krim) ... bla ... bla ...”
Sahutan Anthony membuat Gadis dan lainnya pun kembali menarik sudut bibirnya tinggi, karena Anthony sudah tak nampak sendu lagi.
“Ayo kita beli!”
Gadis mengulurkan tangannya.
“Eemmm... let’s go to buy it! (Ayo kita membelinya!)”
Gadis meralat ucapan bahasa Indonesianya dengan bahasa Inggris.
“I am right, right? (Aku benar, iya kan?)”
Gadis berceloteh riang pada Anthony.
“Right! Gadis is smart! (Benar! Gadis memang pintar!)”
Dimana Anthony membalas celoteh riang Gadis dengan sama riangnya dengan Gadis.
Gadis dan para orang tua angkat Anthony pun kembali tersenyum lebar.
Lalu Gadis memboyong Anthony ke tempat Penjual gulali yang tadi Gadis tunjuk.
Putra, Addison, Damian dan Garret mengekori Anthony yang jalan bergandengan bersama Gadis dan Bruna didepan mereka.
***
Setelah Anthony merasa puas berjalan-jalan di kebun binatang, Putra akan memboyong Anthony, Gadis serta keluarganya yang lain ke sebuah Pusat Perbelanjaan dimana Putra sudah dua kali membelanjakan Gadis disana.
Namun sebelumnya, Putra dan rombongan menikmati makan siangnya di sebuah Restoran yang pernah juga Putra dan keluarga sambangi sebelumnya.
Ada Danny dan Arthur yang sudah berada dalam restoran tersebut lebih dulu, karena mereka memang mem-booking satu tempat di restoran tersebut untuk para Tuan mereka.
Untung saja Anthony juga tidak berlama-lama meminta untuk menghabiskan waktu di kebun binatang, jadi Putra dan rombongan bisa tepat waktu, untuk sampai dijam dimana satu area telah Danny dan Arthur pesan.
Jadi juga, Putra dan keluarganya tidak perlu menambahkan pembayaran ekstra jika mereka terlambat datang, meskipun itu merupakan hal kecil saja bagi Putra dan para saudaranya.
“Obviously I won’t let her back to that Pub! (Tentu saja aku tidak akan membiarkannya kembali ke Pub itu!)”
Putra langsung saja menjawab dengan tegas pertanyaan Garret barusan. Sementara Gadis hanya tersenyum saja, sembari ia sesekali menoleh pada Anthony yang mengajaknya bicara.
“I don’t mean in that place ... (Maksudku bukan di tempat itu)...” Sanggah Garret. “But in the hospital as a nurse... (Tetapi di rumah sakit sebagai perawat) ...” Sambung Garret. Memandang pada Putra dan Gadis yang duduk
mengapit Anthony.
“Also not (Juga tidak)”
Putra menyahut, lalu menoleh pada Gadis.
Dan Gadis menarik sudut bibirnya saja. “Kita sudah membicarakannya bukan?”
Putra berkata pada Gadis yang langsung manggut-manggut seraya menatap dan tersenyum pada Putra.
Gadis sudah pasrah. Ikhlas sih sudah.
Sejak Gadis memutuskan untuk hidup bersama Putra.
Sedikit banyak, Gadis sudah menyelami sifat dan tabiat seorang Putra, pria yang akan menikahinya itu.
Dan Gadis menerimanya dengan lapang dada, baik buruknya sifat Putra.
**
“Are you okay with that Gadis? ... (Apa kamu baik-baik saja dengan itu Gadis?)...”Gantian Addison yang bertanya. “I’m sure it’s Putra decision to ask you stop working right? (Aku yakin itu keputusan Putra yang memintamu untuk
berhenti bekerja bukan?)” Sambungnya.
Gadis menarik dulu sudut bibirnya lalu ia baru menjawab pertanyaan Addison padanya barusan. “Ya I’m okay with that ... (Iya aku baik-baik saja dengan itu)...” Jawab Gadis. Tak nampak ada tekanan di wajahnya.
Lalu Gadis menoleh pada Putra. Kembali menunjukkan senyumnya.
Dimana Putra juga menoleh pada Gadis.
“I will (Aku akan), eum, ap-preciate (meng-hargai) Putra de-cision (ke-putusan Putra)”
Dan sudut bibir Putra nampak naik setelahnya. Ia puas mendengar jawaban Gadis barusan.
“Me and Gadis already discuss about this before... (Aku dan Gadis sudah mendiskusikan ini sebelumnya)... Ya, I insist her for not working in any place anymore. That’s the point. But I’m sure Gadis understand, my reason for it. Don’t you Gadis? ... (Ya, aku memaksanya untuk tidak bekerja lagi dimanapun. Itu intinya. Tapi aku yakin Gadis memahami alasanku atas itu. Bukan begitu Gadis?)...”
__ADS_1
Gadis tersenyum dan mengangguk, mengiyakan ucapan Putra.
Putra sama tersenyum, karena merasa Gadis sudah memahaminya.
Sudah tak nampak lagi ada tekanan di wajah Gadis atas keputusan yang Putra ambil soal bagaimana Gadis akan menjalani hidup ke depannya. Hidup bersama Putra tentunya.
“Well, glad to hear that you understand, why Putra don’t want you to work. Because there’s no woman in our family who is working... (Yah, aku senang mendengar jika kamu mengerti, mengapa Putra tidak ingin kamu bekerja. Karena tidak ada wanita di keluarga kami yang memang bekerja) ...”
Damian berkomentar.
“But, don’t thinking that we are such dictator guy, who won’t accept woman who has a job and push them, our woman especially, only to become a house wife who push for not knowing anything outside house...”
(Tetapi, jangan berpikir jika kami ini pria diktator, yang tidak dapat menerima wanita yang memiliki pekerjaan dan memaksa mereka, wanita kami terutama, hanya untuk menjadi ibu rumah tangga yang dipaksa untuk tidak boleh
mengetahui apapun di luar rumah ...)
Damian masih berbicara.
“We’re not that shallow also ... (Kami juga tidak sedangkal itu) ...”
“.......”
“You can do something to kill your time than working ... Maybe you and Bruna can planning to start some kind of business. Something like that (Kamu bisa melakukan sesuatu untuk mengusir kebosanan selain bekerja... Mungkin kamu dan Bruna bisa merencanakan untuk memulai sebuah bisnis. Ya sesuatu seperti itu)”
Putra, Addison dan Garret manggut-manggut atas ucapan panjang lebarnya Damian.
Sementara Danny dan Arthur hanya mendengarkan saja, namun keduanya ikut manggut-manggut. Setuju juga dengan ucapan Damian.
“I think I agree with what Dami said .. (Aku pikir aku setuju dengan apa yang Dami katakan)...”
Addison kembali bersuara.
“Bruna has nothing to do here, and I’m sure she will become noisy just a little bit more about how bored she is ... (Bruna juga tidak melakukan apapun disini, dan aku yakin sebentar lagi dia akan ribut mengatakan betapa bosannya dia) ...”
Addison menunjuk pada Bruna yang kemudian terkekeh kecil, diikuti lainnya yang juga terkekeh.
“And you (Dan kamu) ...”
Addison menunjuk pada Gadis.
“A woman who ever get used to work, will meet a bored if you doing nothing when you’re not working anymore ... so I think both of you should thinking about starting some kind activities to killing time (Seorang wanita yang terbiasa bekerja, akan merasa bosan jika kamu tidak melakukan apapun saat kamu sudah tidak bekerja lagi... jadi aku pikir kalian berdua mulai berpikir untuk memulai suatu kesibukan untuk mengusir kebosanan) ...”
‘Panjang sekali Addison ini jika berbicara’ Batin Gadis. ‘Sudah begitu aksennya sangat orang Inggris sekali... aku jadi pusing’
Lalu Gadis menoleh pada Putra dengan tatapan seolah meminta tolong, dengan ekspresi yang membuat Putra mengulum senyum.
Putra yang paham jika Gadis menemui kesulitan dengan penuturan Addison, kemudian menjelaskan kembali pada Gadis dalam bahasa Indonesia.
Barulah Gadis manggut-manggut.
“So you’re not working at the hospital anymore (Jadi kamu tidak akan bekerja lagi di rumah sakit), Gadis? ...”
Anthony kemudian bersuara, seraya bertanya dan menoleh pada Gadis.
“No Anthony, I’m not working at the hospital anymore ... (Tidak Anthony, aku tidak akan bekerja di rumah sakit lagi)...”
“And it means that you really-really will be always with me all the time??!... (Dan itu artinya jika kamu akan benar-benar bisa selalu bersamaku disetiap waktu??!)...”
“Yes (Iya) Anthony” Jawab Gadis sembari manggut-manggut dan tersenyum.
“Yeayy!” Anthony mengangkat tangannya ke udara.
Putra mengusap pelan kepala Anthony yang memekik senang itu dengan juga tersenyum.
“Gadis will taking care of us now, not that those patients at the hospital anymore ... (Gadis akan merawat kita sekarang, dan tidak lagi merawat para pasien di rumah sakit) ...”
Putra berceloteh.
Anthony manggut-manggut dengan antusias.
“After you taking care Gadis by massaging her feet when Gadis feel cricked, then Gadis maybe could do the same thing to you when you’re get tired Papa...”
(Setelah Papa merawat Gadis dengan memijat kakinya saat kaki Gadis pegal, maka Gadis mungkin dapat melakukan hal yang sama jika Papa merasa lelah ...)
“Of course she is (Tentu saja iya)”
“And will Gadis lap you, like the way you lapped her at sofa last night? ...”
(Dan apakah Gadis akan memangku Papa, seperti Papa memangkunya di atas sofa semalam?...)
Bluuurrrf
Putra menyemburkan air yang baru saja ia sesap.
**
To be continue...
__ADS_1