
Happy reading....
Putra sudah mengemudikan kapal layar yang ditumpanginya dan Gadis ke tepian. Kembali ke tempat dimana mereka menaiki kapal itu sebelumnya. Dua staf Hotel yang sebelumnya sudah mendampingi Putra dan Gadis serta satu staf lainnya yang bertanggung jawab mengurus kapal-kapal layar yang disewakan untuk para tamu Hotel juga sudah berdiri menunggu Putra dan Gadis di tempat sebelumnya.
“Apa kamu sudah lapar, Gadis? ...” Tanya Putra sembari membantu Gadis turun dari kapal.
“Sedikit ...”
“Ya sudah. Ayo...”
Putra menggenggam tangan Gadis dengan menautkan jemarinya, menelusup ke jemari Gadis.
“Kita mau kemana?...” Tanya Gadis setelah Putra berbicara pada staf Hotel yang mendampingi mereka.
“Mengajakmu makan, Sayang”
Gadis tersenyum simpul mendengar Putra memanggilnya ‘sayang’, sembari mengerlingkan satu matanya pada Gadis.
“Kamu ini senang sekali menggodaku” Ucap Gadis. Putra terkekeh kecil sembari mengeratkan tautan tangannya pada Gadis dan membawa Gadis ke area dalam Hotel.
***
Kembali Gadis dibuat takjub hingga dirinya tertegun saat kini Putra sudah membawanya ke restoran mewah yang ada didalam Hotel Casino tersebut. Terlebih Putra sepertinya memesan tempat khusus di sudut lain yang tidak
berbaur dengan tamu yang lainnya. Dan yah memang benar, Putra memesan satu tempat private di restoran hotel tersebut.
‘Sebenarnya Putra ini siapa ya?... dia bukan salah satu tokoh negeri ini yang jelas. Dia kan orang asing... eh tapi dia berdarah Indonesia juga kan?. Tapi siapa dia, apa pekerjaannya sampai dia bisa mengeluarkan uang sebanyak ini?... aku yakin biaya sewa kapal layar tadi mahalnya minta ampun. Lalu ini, gajiku saja sebagai perawat rasanya bisa langsung habis jika aku makan disini dan dia mahal menyewa ruang pribadi di restoran...'
Gadis membatin disela ketakjubannya.
‘Sopan tidak ya jika aku bertanya pada Putra soal pekerjaannya?...’ Batin Gadis bertanya-tanya sendiri.
“Ada apa?” Gadis terkesiap saat mendengar suara Putra sembari menggoyang pelan tangannya yang tertaut dengan tangan Gadis.
“Tidak, tidak apa-apa ...”
“Apa kamu tidak menyukainya?”
“Apanya? ...”
“Makan disini”
“Kamu ini ...” Sahut Gadis. “Mana ada orang yang tidak suka makan di tempat mewah begini? ...”
“Lalu mengapa wajahmu seperti itu?”
“Memang kenapa dengan wajahku?”
“Bersungut!”
“Aku hanya sedang memikirkan kalau kamu sudah menghabiskan uang banyak, dari mulai menyewa kapal layar tadi, lalu sekarang kamu mengajakku makan disini”
Gadis berbisik di telinga Putra. Dan Putra spontan terkekeh. “Uangku hanya berkurang sedikit saja untuk semua ini ... Jadi kamu tidak perlu pusing memikirkannya” Celoteh Putra.
“Sombong”
“Memang!”
Putra dan Gadis sama-sama terkekeh kemudian.
***
“Sudahlah, kamu jangan memikirkan hal yang tidak penting”
Cup!
Putra mencuri-curi kesempatan dengan mengecup cepat pipi Gadis yang kemudian menggeram pelan.
“Kamu ini bisa tahu malu sedikit tidak?” Protes Gadis. “Tidak lihat dua orang staf hotel itu?”
Putra terkekeh kecil saja.
“Aku mengecup pipi kekasihku, calon istriku bahkan!”
“Iya, tapi ini di Indonesia” Sahut Gadis. “Jangan terlalu vulgar!..”
Gadis mengingatkan Putra.
__ADS_1
“Jadi jangan sembarangan mencium ditempat umum..”
Putra memutar bola matanya malas atas cerocosan Gadis itu.
“Ya sudah, ya sudah”
Putra mengalah.
“Ayo cepat duduk dan kita mulai makan. Daripada kamu mengomel terus”
Gadis pun mendengus geli, sembari Putra yang sudah merengkuh pinggangnya itu membawanya untuk duduk.
***
“Aku sudah memesankan set menu yang restoran ini sediakan .... Kamu bisa membacanya di kertas itu” Ucap Putra sembari mengangkat sebuat kertas yang sedikit tebal dan mengkilat dimana tulisan set menu yang dimaksud Putra itu terjabar, dari mulai hidangan pembuka hingga hidangan penutup.
“Iya”
“Tapi jika itu tidak sesuai dengan seleramu, silahkan saja kamu pilih menu yang lain yang ada didalam buku menu” Sambung Putra kemudian ia berbicara pada staf hotel yang dari awal mendampinginya dan Gadis itu.
“Apa Tuan Danny tidak ikut bergabung makan bersama kita? .... Bukankah Tuan Damian dan Tuan Garret juga ada disini?” Tanya Gadis dan Putra mengangguk.
“Aku sudah meminta pelayan tadi untuk mencari Danny, Dami dan Garret di Casino dan memberitahukan mereka kalau kita sudah berada disini” Jawab Putra.
Gadis pun mengangguk. “Ya sudah kalau begitu” Sahut Gadis.
“Kamu tidak keberatan bukan, jika aku mengajak mereka bergabung bersama kita?”
“Tentu saja tidak, Putra. Mereka kan keluargamu. Kenapa aku harus keberatan?”
“Mulai sekarang mereka keluargamu juga, Gadis” Ucap Putra sembari membelai lembut kepala Gadis yang duduk disampingnya.
***
“Well, well, well...”
Putra dan Gadis yang sedang mengobrol ringan dengan tangan Putra yang sedang menggenggam satu tangan Gadis diatas meja itu serta merta menoleh saat mendengar suara seorang pria berikut wajahnya yang cengengesan.
“Look at that fondness, hem?. ( Coba lihat kemesraan itu, hem? )” Itu Damian yang sudah datang bersama Garret dan Danny ke ruangan private restoran yang disewa Putra.
“I think we should to reserved for another room, than we disturb this tender-heart couple, right?. ( Aku pikir kita seharusnya memesan ruangan lain, daripada kita mengganggu pasangan ya mesra ini, benar bukan? )”
Garret menimpali ledekan Damian pada Putra dan Gadis, yang sebenarnya ledekan mereka lebih tertuju pada Putra yang selama ini memang tidak pernah dekat dengan seorang wanita. “We come in the wrong time.. ( Kita datang diwaktu yang kurang tepat )” Danny juga ikut nyeletuk.
“Those nosy creatures!. ( Para makhluk usil! )” Gumam Putra.
Sementara Gadis melemparkan senyum ramah pada tiga orang tersebut.
“No need.... ( Tidak perlu.. ), Gadis. Just stay at your seat. ( Duduk saja )...”Ucap Putra kala Gadis hendak berdiri dari duduknya.
“Putra was right ... ( Putra benar Gadis ) .... Don’t be such loath to us. Just take it easy. ( Jangan sungkan begitu pada kami. Santai saja )”
“Thank you....”
“Don’t mention it. ( Tidak perlu mengatakannya )” Sahut Damian yang kemudian mengambil tempat duduk dimeja yang sama dengan Putra dan Gadis, diikuti juga oleh Garret dan Danny.
***
“So, how was it?. You both now in a relationship? .... ( Jadi, bagaimana?. Sekarang kalian berdua sudah menjajaki sebuah hubungan? )....”
“I don’t think you don’t need to ask about that no more, Dam!. Can’t you see how gleam our brother face is?. ( Kupikir kau tidak perlu menanyakan soal itu lagi, Dam!. Tidak bisa kau melihat betapa bersinarnya wajah saudara kita ini? )”
“Ah! You were absolutely right!.. ( Kau benar sekali! )....” Sambar Damian.
“Love is in the air.... ( Cinta sedang di udara ).... haha!!!....” Timpal Danny seraya tertawa.
“Jerk ( Brengsek ).... sit and eat !. ( Duduk dan makanlah dengan tenang! ) ....”
“Shy, hem?. ( Malu, hem? )....”
“Tsk!”
“Look at that your blushing face, Putra. ( Lihat wajahmu yang merona itu, Putra )”
“My mistake to ask three jerk like you to eat with me and Gadis .... ( Salahku mengajak tiga laki-laki brengsek seperti kalian untuk makan bersamaku dan Gadis ) .... Hish!”
“Haha!!....”
__ADS_1
“So it is already official?. Both of you are in a love-relation?. You accept him?. ( Jadi sudah resmi?. Kalian berdua menjalin cinta?. Kamu menerimanya ), Gadis?”
“Just ignore him!. ( Abaikan saja dia! )”
Putra berkata pada Gadis karena sudah melihat seringai jahil diwajah Damian yang kini Putra rasa akan menggoda Gadis seraya meledeknya itu.
Gadis hanya tersenyum simpul.
Damian, Garret dan Danny terkekeh.
“You are a lucky woman, Gadis!.... ( Kamu adalah wanita yang beruntung, Gadis!.... )” Ucap Damian yang tersenyum lebar pada Gadis.
“Of course I am. ( Tentu saja )”
Gadis menyahut lembut dan sopan, sembari tersenyum dan melirik Putra yang membalas senyuman Gadis itu.
“I can see all women in this restoran-are .... jealous to me when-I enter this restoran with him. ( Aku bisa melihat semua wanita di restoran ini-seperti.... cemburu padaku saat-aku masuk kedalam restoran bersamanya )”
Gadis berucap dengan tersenyum dan berkata dengan tulus, selain ada kebanggaan sendiri dalam hatinya tentang Putra yang sudah menyatakan cinta padanya, bahkan Putra langsung melamarnya tanpa memberikan ruang untuk penjajakan bagi dirinya dan Putra untuk lebih saling mengenal dulu.
Putra spontan tersenyum.
“Aku yang merasa beruntung bisa mendapatkanmu, Gadis”
Putra meraih satu tangan Gadis, menggenggamnya, lalu mengecup dengan lembut sembari melemparkan tatapan memuja pada Gadis.
Membuat Gadis tersenyum, lalu tertunduk malu-malu setelahnya. Sementara tiga pria yang berada bersama dua sejoli yang baru meresmikan hubungan mereka tersenyum saja melihatnya. Ada rasa bahagia melihat Putra yang selama ini dingin pada wanita itu, sampai almarhum Rery pernah mencoba menjodohkannya dengan seorang kerabatnya.
Namun memang tidak berhasil, karena Putra selalunya menghindari wanita yang sempat dijodohkan oleh almarhum Rery dengannya.
“Well, you will have another luckiness, Gadis.... ( Dan kamu akan mendapatkan keberuntungan lain, Gadis )....”
Gadis langsung mengernyitkan dahinya.
“What is that?.... ( Apa itu .... )” Tanya Gadis.
“His virginity!.... ( Keperjakaannya! )....” Celetuk Damian tanpa basa-basi.
“Uhuk! Uhuk! ....”
Gadis sampai tersedak ludahnya sendiri karena celetukan Damian yang sedikit vulgar dan tabu bagi Gadis itu.
Damian spontan kembali tergelak bersama Garret dan Danny. Sementara Putra mendengus geli melirik ketiganya.
“Sudah kubilang kan?, kau akan mendapatkan keperjakaanku, Gadis?.... aku tidak berbohong kalau aku masih perjaka bukan?....”
Enteng saja Putra berbicara sembari mendekatkan wajahnya pada Gadis yang wajahnya sudah memerah sedemikian rupa.
‘Oh ya Tuhan!....’
Gadis membatin.
‘Apa laki-laki ekspatriat selalu se-vulgar ini?....’
“Tapi tenang saja, aku pasti akan bisa memuaskanmu di ranjang”
Dan seketika bola mata Gadis membulat sempurna dengan mulutnya yang terbuka atas bisikan Putra barusan.
***
“So, the plan that you are going tomorrow to England already fix, Dan?. ( Jadi, soal keberangkatan mu ke Inggris besok sudah rampung, Dan? )”
“Ya! .... I will go to the airport right after you guys set forth back to Villa .... ( Aku akan langsung ke bandara tepat setelah kalian berangkat untuk kembali ke ke Villa )....”
Putra manggut-manggut. Mereka membahas sedikit rencana mereka saat Gadis pamit untuk pergi ke toilet.
“I really wish I can go to England by now. So when I had a chance, I will kill Jaeden directly with no hesitation. ( Aku sangat berharap jika aku bisa pergi ke Inggris saat ini. Jadi saat aku mempunyai kesempatan nanti, aku akan membunuh Jaeden langsung tanpa keraguan sedikitpun )”
Putra berkata dengan serius dan satu tangannya terkepal kuat dengan dendam yang ada di pancaran matanya kini. Jauh berbeda saat sebelumnya ia sedang bersama Gadis.
Tanpa diketahui Putra, Damian, Garret dan Danny, kalau Gadis sudah kembali dari toilet dan hendak kembali masuk ke ruangan, namun ia urungkan sejenak karena ia mendengar pembicaraan Putra dan tiga saudaranya yang terdengar serius itu barusan.
‘Kill? .... bukankah itu artinya membunuh? .... Putra, ingin membunuh seseorang?.... Apakah .... mereka ini penjahat?’ Gadis menggigit bibirnya. Dadanya sedikit berdebar, agak takut saat ini.
***
To be continue ...
__ADS_1