LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 377


__ADS_3

Happy reading .....


***************


Indonesia,


“I wonder how I feel so relieve to be here again (Entah kenapa aku merasa sangat lega bisa berada di sini lagi )”


Ada Damian yang bersuara, ketika dirinya telah menapaki tanah berlapis aspal di sebuah bandara.


Putra berdecih malas setelah mendengar ucapan Damian itu.


“Women here, that’s the reason I’m sure ( Wanita-wanita di sini, aku yakin itu alasannya )”


Kemudian Putra melontarkan cibiran pada salah satu saudara angkatnya yang memang seorang Cassanova kelas kakap itu.


Sambil  Putra berjalan melangkah menjauhi jet serta Damian yang terkekeh geli bersama Garret dan Devoss.



Arthur telah dihubungi sebelumnya oleh Damian atas ujaran Putra agar mempersiapkan mobil yang akan mereka gunakan saat telah mencapai indo, untuk menuju kediaman mereka yang berada di luar kota.


Sebanyak tiga buah mobil telah nampak siap ketika Putra sudah turun dari jet lebih dulu dari tiga orang lainnya, selain tiga orang anak buah mereka.


Accursio memang memilih tidak ikut, karena ia menawarkan diri untuk mengawasi Jaeden selama Putra kembali ke Indo.


Dan tindakan Accursio diikuti juga oleh Hizkia dan Yona yang memilih untuk tetap tinggal di Inggris sampai Putra kembali lagi ke sana untuk menyelesaikan semua urusan.


Jadilah hanya empat orang yang memang telah dianggap berdomisili di satu kota di negara tersebut, yang bertolak dari Inggris.


“How are you, Ar? ....” tanya Putra dan tiga lainnya pada pria itu. Yang kemudian sapaan tersebut dijawab Arthur dengan sumringah, serta menyapa balik ke empatnya.


“I wish I have a small gift for christmas from England ( Aku harap aku mendapatkan oleh – oleh dari Inggris untuk natal ) ....” canda Arthur kemudian.


Putra dan tiga lainnya terkekeh kecil menanggapi ucapan Arthur tersebut, kemudian memasuki mobil dengan formasi terpisah.


Putra bersama Devoss di satu mobil yang sama dengan Arthur dan seorang supir, sementara Damian dan Garret di mobil lainnya bersama seorang anak buah dan supir. Sisanya  --- beberapa anak buah mereka, menumpangi satu mobil yang sama.



Putra dan rombongan telah hampir sampai ke kediaman mereka yang berada di sebuah kota di barat jawanya Indonesia.


“Berhenti di gerbang, masukkan mobil ketika aku telah benar – benar sampai di dalam kediaman ....”


“Baik, Tuan.”



Seperti halnya Putra, semua orang yang menumpangi tiga mobil yang berbeda telah keluar dari dalamnya kecuali tiga supir yang mengemudikan mobil tersebut, yang berhenti sejenak di depan gerbang kediaman baru Putra dan orang – orang yang kini berlabel keluarga.


Damian – Garret – Devoss dan Arthur yang sudah tahu jika Putra ingin memberikan kejutan kepada semua orang yang ada di sebuah bangunan mewah nan kokoh dan cukup mencolok itu, akibat keberadaannya sudah dapat terlihat dari jarak yang agak jauh --- sudah juga mengikuti Putra yang keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju bangunan utama.

__ADS_1


“Selamat datang kembali, Tuan Putra, Tuan Damiyan, Tuan Garet, Tuan Defos ....” sapa dua orang yang bertugas menjaga di bagian gerbang kediaman Putra dan keluarga barunya, meskipun gerbang masuk ke dalam mansion itu tidak berpintu. “Tuan Artur ....”


Hanya sebuah pos penjagaan yang menandakan jika bagian tersebut berfungsi sebagai gerbang masuk ke dalam kediaman yang besar itu.


“Terima kasih.”


Putra membalas sapaan dua penjaga yang menyebut nama empat orang lain di belakang dan samping Putra sesuai dengan lidah lokal mereka, yang terkadang membuat Putra merasa geli sendiri mendengarnya.


“Kalian apa kabar?” tanya Putra pada dua penjaga tersebut yang langsung menjawab santun dengan wajah yang sumringah karena walau dingin wajahnya selain orang kaya, namun Tuan mereka itu sudi menanyakan kabar para pekerjanya.


“Kenapa berjalan kaki, Tuan?”


“Kami ingin sedikit berolahraga.”


“Kalau begitu saya kasih tau orang di dalem dulu ya, Tuan? –“


“Tidak perlu,” sergah Putra dengan cepat pada satu penjaga yang hendak mengambil satu sepeda motor yang terparkir tak jauh dari pos penjagaan kediaman Putra dan keluarganya itu. “Aku ingin memberi kejutan kepada orang rumah.”



“Tu –“


“Sstt.” Putra dengan cepat memotong kalimat salah seorang yang merupakan bagian dari asisten rumah tangga kediaman sambil meletakkan telunjuk di atas bibirnya sendiri, saat salah seorang asisten rumah tangga itu melihat Putra datang bersama empat orang lain yang adalah para tuan juga, dan tiga orang lainnya yang perawakannya seperti tukang pukul bagi satu art itu.


Sebelumnya Putra juga melakukan hal yang sama pada pekerja lain yang berjaga di area dalam kediaman namun bukan di dalam bangunan utamanya.


“Iya, Tuan, Maaf ... selamat datang, Tuan ...”


“Dimana istriku dan lainnya?” tanya Putra dengan sangat pelan kepada pekerjanya yang berbicara dengan pelan juga setelah Putra mengkodenya agar tidak membuat suara yang besar.



“Jadi Gadis, apa Putra pernah memasak untukmu? ...”


Telinga Putra mendengar suara Ramone dari tempatnya yang sudah berada di pintu dapur belakang.


“Sudah, Vader ...”


Dan suara yang menjawab pertanyaan Ramone itu membuat Putra mengulum senyum di tempatnya, tanpa orang – orang yang berada di dapur itu menyadari kehadirannya.


Terutama satu wanita yang membelakangi pintu tempat Putra akan memunculkan dirinya dari sana. “Benarkah?” suara Ramone terdengar lagi, dan Putra memilih untuk diam dulu di tempatnya saja.


"Benar, Vader ..."



“Kamu tidak sedang meninggi – ninggikan suamimu itu di depanku bukan?”


“Tidak Vader, aku tidak bohong. Putra sudah pernah membuatkanku makanan, meskipun bukan makanan berat. Tapi seperti itu saja, aku sudah bahagia Vader ...”


Putra tersenyum hangat, seiring hatinya yang juga terasa menghangat ketika ia mendengar ucapan Gadis barusan.

__ADS_1


“Aku bahkan tidak menyangka jika pria seperti Putra mau menurunkan harga dirinya untuk memasak demi seorang wanita. Dan aku sungguh tersanjung karena itu ...”


“Bahkan instingnya pun bekerja saat memilih wanita ... Dan anakku satu itu sangat beruntung mendapatkan wanita sepertimu, Gadis,” ucap Ramone, yang matanya telah menyadari kehadiran Putra yang juga memandang padanya.


“Aku yang rasanya beruntung dapat bersanding dengan Putra, Vader.”


Putra tersanjung mendengar ucapan Gadis yang terdengar tulus itu. Lalu melangkah sunyi untuk sampai ke dekat Gadis yang masih membelakanginya itu.


Gadis benar – benar tidak menyadari jika Putra telah berdiri menjulang di belakangnya.


“Yaah, tapi kamu akan senantiasa diuji kesabaranmu dengan kekeras kepalaan anakku yang satu itu.”


Ramone berucap lagi.


“Ah, kalau yang satu itu aku setuju. Selain keras kepala dia juga hobi sekali memaksakan kehendaknya padaku ...”


“Oh ya? ...” Putra yang bersuara.


“Iya,” jawab Gadis yang masih sibuk melipat serbet itu, tanpa ia sadari jika Putra lah yang menanggapi ucapannya tadi --- dengan dirinya yang melontarkan komplain soal suaminya itu pada Ramone – ayah mertuanya, karena pria itu adalah ayah angkat Putra.


Gadis menanggapi perkataan yang terdengar meragukan komplainnya soal Putra.


“Dia itu tidak ...“


Namun kemudian Gadis menggantungkan kata – katanya.


‘Eh? ...’


“Tidak apa? ---“


‘Seperti suara Pu ---‘


“Teruskan ucapanmu, aku ingin mendengar apalagi aduanmu pada ayah angkatku.”


Gadis yang mengernyit sambil bertanya – tanya dan menduga dalam hatinya itu kemudian dibuat terkejut dengan sangat, sampai matanya membola --- ketika ia berbalik badan.


“Put – ra??!!” pekik Gadis lalu menutup mulutnya sambil memandang tak percaya pada sosok yang sudah berada di hadapannya itu, yang orangnya mengulum senyum memandangi Gadis. “Ka – kamu ---“


“Lebih baik kamu memeluk suamimu ini karena sudah berani sekali membicarakanku saat aku sedang tidak ada ...” tukas Putra dengan masih mengulum senyumnya. “Ck! Lamban sekali ...” ucap Putra sambil menarik pelan tubuh Gadis hingga rapat dengannya.


“Kamu, pulang? ...” tanya Gadis dengan masih menampakkan ekspresi tidak percayanya sambil memandangi Putra.


“Merindukanku, hem?”


Putra bertanya santai namun terdengar mesra pada Gadis, masa bodoh dengan orang – orang disekelilingnya yang melihat sikap Putra pada Gadis itu.


“Sa – ngaat ...”


Gadis langsung saja melingkarkan tangannya pada leher Putra dengan sedikit membuat tarikan hingga Putra lebih merunduk lagi posisinya, membuat Putra kini tersenyum dengan lebarnya.


“Akupun sangat merindukanmu, My lovely wife ( Istriku sayang )” mesra Putra, lalu menangkup wajah Gadis yang ia kecup bibirnya kemudian. Yang ingin sekali Putra gendong dan cepat – cepat bawa ke kamar.

__ADS_1


☀☀☀


To be continue ...


__ADS_2