LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 195


__ADS_3

Happy reading ...


**************


Noted: ( Percakapan panjang yang digambarkan sebagai latar belakang episode selain bahasa Inggris, authornya akan Indonesiakan aja yawgh 😉 )


***


Netherlands, Europe


“Aku rasa pertemuan hari ini sudah dapat diakhiri.”


Suara Putra yang kemudian terdengar setelah beberapa saat suasana dalam aula menjadi hening.


“Tapi besok aku mengharapkan kembali kehadiran kalian disini pada waktu yang sama.”


“Baiklah. Kami akan datang kembali besok ....”


Salah seorang pria paruh baya dari kubu yang memang setia pada Ramone menyahut.


Dan ucapan pria tersebut diiyakan oleh beberapa pria lain dari kubu yang sama dari pria yang baru saja berbicara itu.


Para pria paruh baya yang hadir di aula, yang merupakan bagian dari ‘kerajaan’ dalam dunia yang Ramone kuasai di Belanda itu membawa serta beberapa anak-anak mereka seperti halnya Henrick yang membawa Jacco masuk ke dalam lingkup ‘keluarga’ Ramone Zeeman.


Dan, seperti para ayah mereka, para anak yang kesemuanya pria muda dan diantaranya juga sudah ada yang berusia matang seperti Putra dari para pria paruh baya yang ada di kubu setia Ramone, berada di jalur yang sama dengan ayah mereka yang setia pada Ramone.


Selain memang para calon penerus itu tahu diri atas posisi mereka sebagaimana ayah-ayah mereka. Tidak seperti Jacco dan Henrick, dimana pasangan anak dan ayah itu berupaya ‘menjilat’ pada Ramone untuk mendapatkan posisi yang sama seperti para anggota ‘keluarga’ yang memang benar-benar setia pada Ramone, karena Jacco dan Henrick hanya sekedar anggota tambahan saja jika dibilang.


Namun begitu, Henrick tetap diberikan satu wilayah kekuasaan Ramone yang dipercayakan padanya.


Hanya saja, Henrick Jiltk dan anak lelakinya itu tidak merasa puas akan hal tersebut.


Jadi setelah mendapatkan orang yang mau bekerjasama dengan mereka untuk menghabisi Ramone, Henrick dan Jacco terlihat semakin berani, walau masih tetap menutupi sikap mereka yang sebenarnya sudah memberontak dibelakang, namun dihadapan Ramone, kesan yang mereka berikan adalah sebuah pengabdian yang setia.


Suatu sikap kepengecutan yang membuat Putra merasa muak.


***


“Aku berharap jika fakta tentang adanya pengkhianat didalam keluarga ini salah.”


Putra kembali berbicara, saat mereka yang berada di aula mulai bersiap beranjak dari kursi yang mengitari meja jamuan panjang berbentuk huru U, tempat para anggota ‘keluarga’ itu duduk berkumpul.


“Aku akan bersikap adil pada semua anggota ‘keluarga’ ini,” ucap Putra lagi. “Dan untuk keadilan itu, seorang pengkhianat akan mendapatkan keadilan yang sama.”


Putra nampak tenang, tidak terlihat emosional sama sekali. Namun ucapannya terdengar lugas, selain tegas dan tajam.


Disamping Putra, Bale sedang membisikkan sesuatu di telinga Ramone yang kemudian nampak manggut-manggut dan memandang tegas ke satu arah.


“Aku akan memberikan keadilan pada seorang pengkhianat,” papar Putra. “Keadilan untuk sebuah hukuman tanpa ampunan.”


Suara Putra kembali terdengar, dimana dia sedang menatap satu-satu orang-orang yang ada dihadapannya itu.


“Masaku, peraturanku.”


Putra menegaskan.


“Belajarlah untuk menerima hal itu mulai dari sekarang.”


Jawaban iya dan anggukan dari semua orang, para anggota ‘keluarga’ Ramone Putra dengar dan lihat.


“Kalian bisa pergi sekarang, dan kembalilah besok seperti yang anakku katakan tadi.”


Kini Ramone yang bicara. Dan jawaban iya berikut anggukan kembali terdengar dan terlihat.


“Kalian semua, terkecuali Henrick dan Jacco....” suara berikut ucapan Putra membuat orang-orang yang tadinya hendak bergegas dari tempatnya dan sudah berdiri kemudian terdiam sembari memandang Henrick dan Jacco.


Ada kerutan di kening semua orang. Terkecuali dua orang yang namanya disebutkan oleh Ramone barusan.


Henrick dan anak lelakinya itu, tidak hanya mengerutkan kening namun juga merasa was-was karena Ramone meminta mereka untuk tinggal.


Selain Henrick dan Jacco, dua orang yang mendukung mereka dalam ‘keluarga’ juga memiliki ras was-was dalam hati mereka.


“Ada, apa?...”


Henrick pun memberanikan diri untuk bertanya, setelah ia dan anak lelakinya yang bernama Jacco itu, sempat saling lirik.


“Apa kau berpikir jika kami adalah pengkhianat nya?” Henrick kembali bertanya.


Putra menyungging miring dalam duduknya sembari menatap dua orang yang diminta Ramone untuk tinggal, setelah menangkap jika sepasang ayah dan anak itu saling lirik satu sama lain, dan juga saling melirik tipis pada dua orang dalam ‘keluarga’ yang memang adalah sekutu Henrick dan Jacco.


“Apakah kalian merasa?”


Henrick, Jacco, dan dua orang sekutu mereka itu pun seketika menelan ludah.


“Ya tentu saja tidak ...”


Henrick pun langsung menyangkal.


“Kalau begitu, seharusnya kau tidak perlu gugup bukan?”


Putra berucap santai.

__ADS_1


“A-aku bukannya gugup,”


Henrick kembali menyangkal.


“Aku hanya takut jika kau mendapat informasi yang salah, lalu menuduh aku dan anakku .... Atau mungkin menuduh beberapa diantara kami sebagai pengkhianat, padahal seharusnya kau berpikir itu tidak mungkin....”


Putra tak menyahut. Dia hanya menyungging miring dengan tipis saat mendengar Henrick yang sedang berbicara panjang lebar itu.


“Dan... Kau juga tetap harus menunjukkan bukti yang akurat atas tuduhan tentang adanya pengkhianat di dalam ‘keluarga’ kita ini ...”


Putra kemudian mendengus geli.


“Aku akan menemukan bukti ...”


Kemudian Putra menimpali ucapan Henrick.


“Bersamaan dengan pengkhianat nya sekaligus.”


Setelahnya Putra mengulas senyuman.


Mereka yang masih berada di dekat Putra dan Ramone kemudian manggut-manggut.


Para anggota ‘keluarga’ yang benar-benar setia pada Ramone tentunya yang kini juga mendukung Putra secara penuh dan berpikir memang masuk akal apa yang dikatakan Putra.


Sekali jalan. Tanpa perlu membuang banyak waktu dan tenaga untuk mendapatkan bukti berikut pengkhianat nya, sekaligus langsung dihukum saja tanpa ampun.


Begitu kiranya pendapat yang terlontar dari para pria di kubu setia Ramone, sebelum mereka pamit undur diri dari hadapan Ramone dan Putra.


“Aku ingin membicarakan hal lain denganmu...”


Suara Ramone yang kemudian terdengar sembari menatap pada Henrick dan anak lelakinya itu, disaat yang bersamaan mereka yang tidak diminta Ramone untuk tinggal, berpamitan pada Ramone dan Putra, termasuk juga Balin.


“Aku ingin membahas sikap anakmu yang tidak bisa bisa ia jaga itu pada kepala keluarga baru disini ...”


Ramone pun menatap tajam pada Jacco.


Sementara Putra, ia bersikap santai dan menyesap wine dari gelasnya sembari tersenyum tipis yang menjurus ke sebuah seringai.


****


“Jadi menurutmu mereka berdua pengkhianat nya?”


Ramone yang masih berada di aula bersama Putra dan Balin bertanya pada Putra, selepas kepergian Henrick dan Jacco dari hadapan Ramone, Putra dan Balin alias Bale beberapa menit yang lalu.


Garret pun ada bersama Ramone, Putra dan Balin. Namun sedari tadi memang Garret diam saja saat kericuhan yang sempat terjadi di aula diantara para anggota ‘keluarga’ Ramone.


Garret yang saat para anggota ‘keluarga’ Ramone masih berada dalam aula hanya berdiri dan memperhatikan setiap orang dengan matanya. Membaca setiap gelagat orang-orang untuk nanti dia sampaikan pada Putra.


Selain Garret merasa tidak ada urusan dengan topik pembicaraan orang-orang yang ada dihadapannya tadi, toh Garret tidak dapat memahaminya karena mereka menggunakan bahasa Belanda yang sama sekali tidak Garret mengerti.


Jadi Garret diam saja, kecuali jika ada yang bertanya padanya untuk meminta pendapat.


Sejenak, Garret mengagumi Putra sekali lagi. Saudara angkatnya yang kompeten dalam banyak hal,  dan iseng menghitung bahasa yang kiranya Putra kuasai.


Karena selain bahasa Inggris dan Italia, Putra fasih berbahasa Indo dan kini Garret melihat jika Putra juga fasih berbahasa Belanda.


***


“Jadi menurutmu mereka berdua pengkhianat nya?”


Putra menggeleng pelan, selepas Ramone bertanya padanya mengenai dua orang yang belum lama hengkang dari hadapan mereka, dan dipastikan telah meninggalkan kediaman Ramone.


“Bukan menurutku Vader, tapi memang merekalah pengkhianat nya ... dan bukan hanya mereka berdua ...”


Kemudian Putra berbicara.


“Tapi juga Douwe dan Erwin. Mereka berdua bersekongkol dengan Henrick dan anak lelakinya yang tak tahu malu itu.”


“......”


“Aku rasa Douwe dan Erwin juga mencurangi mu dan Henrick atau Jacco mengetahuinya, jadi mereka bekerjasama untuk menutupi kebusukan mereka masing-masing ...”


Putra lanjut bicara dan Ramone manggut-manggut. Sementara Bale dan Garret belum berkomentar.


“Kau cari tahu semua hal yang Douwe dan Erwin lakukan di wilayah mereka, Bale.” Ucap Ramone pada Bale.


“Aku sudah mengirim orang untuk mencari tahu soal itu.”


Bale dengan cepat dan pasti menyahut pada Ramone.


Dan Ramone kembali manggut-manggut.


“Sebaiknya kau bekerja dengan cepat Bale... bukankah kita harus menunjukkan bukti pada mereka semua dan membuka topeng para pengkhianat itu untuk mempermalukan mereka sebelum memberikan mereka hukuman?”


“Tak perlu kau risaukan bagaimana caraku mengurus para pengkhianat itu Vader.”


“Ah ya, aku lupa jika aku sudah pensiun sekarang ...” kekeh Ramone, yang kemudian tiga orang yang bersamanya pun juga ikut terkekeh kecil.


Lalu Ramone kembali berwajah serius.


“Tapi tetap kau harus menunjukkan sesuatu yang meyakinkan jika memang ke empat orang itu benarlah pengkhianat di hadapan yang lainnya ...”

__ADS_1


Putra tersenyum tipis.


“Sudah kukatakan kau tak perlu risau Vader ...”


Putra berucap santai saja.


“Semuanya sudah ada disini ...”


Putra menunjuk samping kepalanya.


Ramone mendengus geli kemudian. “Baiklah aku percaya padamu.”


“Memang sudah seharusnya seperti itu ...”


Putra menatap ayah baptisnya lalu menyeringai kecil.


“Lebih baik kau duduk diam dan beristirahatlah yang cukup, dan biarkan ‘kepala keluarga’ baru ini melakukan tugasnya.”


“Jadi kau sudah tahu mengenai kondisiku?”


Putra pun mengangguk menanggapi pertanyaan Ramone.


“Makanya aku katakan kau perbanyaklah waktumu untuk beristirahat dan biarkan aku menyelesaikan urusan ‘keluarga’ yang sedang kacau balau ini. Setelahnya akan aku carikan Dokter terbaik di dunia ini untuk membantu mengobati penyakitmu itu.”


“Kau memang anak yang baik ...”


“Heh, kau baru sadar memangnya?”


Ramone pun terkekeh bersama Bale dan Garret, sementara Putra tersenyum geli.


“Sudah, sana pergilah beristirahat dan minum obatmu ...” ucap Putra.


“Baiklah, baiklah...” sahut Ramone yang memilih untuk mendengarkan ucapan Putra.


Ramone kemudian berdiri dari duduknya. Putra, Garret dan Bale juga ikut berdiri. Hendak membantu Ramone dan mengantarkan ke kamarnya.


“Ngomong-ngomong,  kemana Yonna? ...”


“Aku menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.”


Putra menyahut, disertai dengan sebuah seringai yang nampak di wajahnya.


****


Beberapa saat kemudian


“Did you finished your job very well, sister?”


(Apa kau menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik, dik?)


Itu Putra yang berbicara pada Yonna.


Wanita cantik namun berwajah dan berdarah dingin itu telah kembali ke Kediaman Ramone.


Dan Yonna langsung menghadap pada Putra yang sedang duduk bersama Garret dan Bale di ruang kerja pribadi Ramone.


“Just like my new Boss have commanded me. (Seperti yang Bos baruku perintahkan padaku)” ucap Yonna.


Putra terkekeh kecil.


“And where are they now? (Dan dimana mereka sekarang?)”


“I left them in the place where their car was upside. (Aku tinggalkan mereka di tempat dimana mobil mereka terbalik)”


“And their men? (Dan orang-orang mereka?)” tanya Putra detail.


“Dead (Mati)” sahut Yonna santai dan datar. “You just said to hit the car where Henrick and Jacco were inside, but not kill them and also not give them flash wounds (Kau kan hanya mengatakan untuk menabrak mobil yang Henrick dan Jacco tumpangi, tapi jangan sampai membunuh mereka, dan tidak memberikan mereka luka ringan)”


Yonna pun berbicara panjang lebar.


“You didn’t say anything about their bodyguards. So I killed them”


(Kau tidak mengatakan apapun soal para pengawal mereka. Jadi aku bunuh para pengawal itu).


Yonna mengendikkan bahunya masih dengan santai dan datar.


“Even if those bodyguards were alive, they couldn’t get their salary, because their Boss will be dead soon, right?”


(Jikapun para pengawal itu hidup, mereka tidak akan bisa menerima gaji mereka, karena Bos mereka akan mati sebentar lagi, bukan?).


Putra terkekeh kecil sekali lagi melihat sikap Yonna yang santai saja itu selepas menghabisi nyawa beberapa orang dengannya macam tak punya hati dan perasaan.


Namun kemudian Putra tersenyum puas. Yonna sangat dapat diandalkan dan sepertinya kemampuan adik satu asuhan Ramone itu sudah semakin meningkat.


“All of us better to take a rest for a while... ( Kita semua sebaiknya beristirahat sejenak .... )”


Putra beranjak dari tempatnya.


“Cause likely we will do some of ‘visits’ tonight.”


(Karena kemungkinan kita akan melakukan ‘kunjungan’ malam ini).

__ADS_1


****


To be continue....


__ADS_2