
Happy reading .....
“Pa-pa Putra likes you (Pa-pa Putra menyukaimu)”
“Uhuk! Uhuk!”
Putra sampai terbatuk sembari melongo tak percaya mendengar ucapan polos Anthony barusan.
Entah bagaimana Anthony bisa berkata seperti itu dihadapan Gadis, yang orangnya nampak juga jadi salah tingkah seperti Putra. Garret, Damian, Addison dan Bruna pun langsung cekikikan.
“Come Anth, let us go back home, hem? (Ayo Anth, kita sebaiknya pulang, hem?)”
Putra mencoba menyelamatkan diri.
****
Pada akhirnya Putra bisa dan ke empat saudaranya bisa membujuk Anthony untuk berpamitan dengan Gadis. Putra berjalan berdampingan bersama Gadis saat keluar dari ruangan Perawat, dengan ke empat saudaranya yang memilih berjalan dibelakang mereka.
Sebenarnya kalau boleh jujur, Putra sedikit merasa canggung pada Gadis saat ini. Namun dengan keras, Putra mencoba menutupinya.
Putra berdehem singkat, hendak bicara.
“Maaf ...”
Gadis menoleh pada Putra.
“Untuk perkataan Anthony tadi .... mohon maaf jika membuat anda merasa tidak nyaman, Nona Gadis”
“Tidak apa – apa Tuan Putra. Namanya juga anak – anak” Sahut Gadis seraya tersenyum, dan Putra membalas senyuman itu dengan sebuah senyuman dan anggukan.
“Dia yang sebenarnya sangat menyukaimu ..”
Gadis terkekeh kecil. “Aku pun menyukai Anthony”
“Terima kasih” Ucap Putra dan Gadis mengangguk.
“Oh iya, Anthony itu salah satu pasiennya Dokter Ilse ya?”
Putra manggut – manggut. “Dapat dikatakan seperti itu”
“Apa hari ini juga jadwal Anthony berkonsultasi dengan Dokter Ilse?”
“Iya”
“Apa sudah mendaftar ulang dengan asistennya?”
“Mendaftar ulang?”
“Iya. Dokter Ilse itu kan banyak sekali pasiennya. Biasanya mereka dan seperti halnya pasien – pasien lain dari para Dokter selain Dokter Ilse pun melakukan prosedur itu. Agar tidak tersalip oleh pasien lain”
“Heemm”
Putra manggut-manggut.
“Jika belum, biar saya bantu untuk mendaftar ulang”
“Aku rasa tidak itu tidak perlu, Nona Gadis. Kami juga tidak pernah melakukan pendaftaran ulang seperti yang tadi anda jelaskan. Saat datang, kami langsung dipersilahkan untuk bertemu dengan Ilse”
“Ah, jadi Anthony masuk dalam pasien khusus ya kalau begitu?” Sahut Gadis.
“Kira – kira seperti itu”
“Ya sudah, sini biar Anthony saya antar ke ruangan Dokter Ilse kalau begitu”
“Hari ini sepertinya Anthony sedang enggan untuk melakukan konsultasi dan sebagainya”
“Loh memang kenapa?” Tanya Gadis.
“Entah, mungkin dia sudah bosan” Jawab Putra.
“Tapi bukankah sayang sekali ya Tuan?” Ucap Gadis.
__ADS_1
“Kenapa memang?”
“Ya biaya konsultasi khusus dengan Dokter Ilse kan lumayan besar juga untuk setiap pertemuannya. Dan itu pasti anda sudah bayar di muka bukan?”
“Aku tidak memikirkan hal itu. Kami semua lebih memikirkan kenyamanan Anthony” Sahut Putra.
“Anthony beruntung sekali memiliki ayah sepertimu dan juga paman dan bibi seperti mereka”
“Kami yang merasa beruntung memiliki Anthony dalam hidup kami” Putra menghentikan langkah saat dirinya sudah mencapai bagian depan Rumah Sakit dan Gadis juga menghentikan langkahnya disana.
Damian, Garret, Addison dan Bruna berpamitan lebih dahulu pada Gadis dengan masih mesam – mesem. Bahkan Damian terang – terangan menggoda Putra dengan memainkan alisnya dan menampakkan wajah konyol pada Putra, hingga Putra mendelik sebentar padanya.
“Alright Anth, say thank you to Gadis for her time today (Baiklah Anth, katakan terima kasihmu pada Gadis untuk waktunya hari ini)” Putra beralih pada Anthony.
“Tha-nk you, Gadis (Te-rima kasih, Gadis)” Ucap Anthony.
Gadis menunjukkan senyum ketulusannya yang menawan sembari meminta ijin Putra untuk menggendong bocah itu sebentar.
Tentu saja Putra mengijinkan karena Anthony pastilah senang untuk itu.
“You welcome, Anthony (Sama – sama, Anthony)” Sahut Gadis dengan gemas pada Anthony.
“Can-I come again tomorrow? (Bolehkah-aku datang lagi besok?)”
“Sure! Why not? (Kenapa tidak?)” Sahut Gadis dan Anthony nampak senang.
“Apa itu tidak mengganggumu, Nona Gadis?. Aku takut kedatangan Anthony mengganggu waktu kerjamu seperti sekarang”
“Tidak juga sih. Kebetulan hari ini aku hanya mendampingi satu Dokter, sisanya hanya mengecek beberapa pasien. Tapi jika besok Anthony mau datang lagi, waktu makan siang mungkin lebih baik. Jika saya boleh mengusulkan”
“Baiklah. Aku – ehem. Maksudnya saya rasa itu lebih baik. Jadi kami tidak mengganggu waktu kerjamu”
Gadis mengangguk dan tersenyum. Lalu ia beralih lagi pada Anthony. “See you tomorrow, Anthony (Sampai jumpa besok Anthony)”
“Kalau begitu, kami permisi dulu”
“Iya, hati – hati di jalan”
“Apa aku boleh mencium Anthony, Tuan?” Tanya Gadis sambil lalu pada Putra. “May I kiss you Anthony? (Apa aku boleh menciummu Anthony?)”
“Su-re Gadis... (Ten-tu Gadis)...”
Gadis tersenyum sebentar dan mendaratkan kecupan gemasnya dikedua pipi Anthony.
“Dia sungguh menggemaskan, Tuan”
‘How about me? (Bagaimana denganku?). Apa kamu tidak mau mencium pipiku juga, Gadis?’
Sayangnya pertanyaan itu hanya menggema saja di hati Putra yang kemudian merutuki dirinya sendiri.
‘Hish Putra, are you crazy? She is recruit to be a nun (Apa kau sudah gila Putra?. Dia itu calon Biarawati)'
***
“Love is in the air, hem? (Ada cinta di udara, hem?)” Damian yang sengaja menunggu Putra datang untuk mendekat dengan mobil yang akan ditumpanginya itu langsung menggoda Putra selepas ia dan Anthony berpamitan pada Gadis.
“You are the answer to my lonely prayer ... (Kau adalah jawaban atas doa kesepian saya)...”
Bruna ikut menggoda Putra dengan menyenandungkan satu Love Song yang cukup populer saat itu.
“Shut up (Diam)”
Putra melirik sinis pada empat saudaranya itu sembari masuk ke dalam mobil bersama Anthony.
Damian, Garret, Addison dan Bruna pun langsung terkekeh dan masuk ke dalam mobil dengan masih mempertahankan kekehan mereka.
***
“Ah, by the way. Are we going home? (Ngomong – ngomong, apa kita langsung pulang?)” Tanya Garret sebelum ia masuk mobil.
Pria itu teringat mereka akan pergi berkeliling kota setelah sesi konsultasi Anthony dengan Ilse. Namun mengingat Anthony tidak jadi melakukannya hari ini karena bocah itu menolak, jadilah Garret menanyakan lagi rencana mereka untuk berkeliling kota.
__ADS_1
“Let us ask Anth (Kita tanya Anth)” Sahut Putra.
Dan Putra pun langsung menanyakan pada Anthony apa keinginan bocah tersebut sekarang.
“Let us go to Museum (Ayo kita ke Musium)” Ucap Putra. “Anth wants to get around, I think he will like it (Anth ingin berkeliling, aku pikir dia akan menyukainya)”
Garret pun mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil yang sama dengan Damian.
“Batavia Museum right Ad? (Musium Batavia kan Ad?)” Tanya Putra pada Addison.
“Yes. There are another Museum also (Ya. Ada beberapa Musium yang lain juga)”
“How about that, Anth?. Do you want to go to the Museum? (Bagaimana, Anth?. Apa kamu mau pergi ke Musium?)”
Anthony mengangguk antusias dan mereka pun bergerak untuk berkeliling kota dan mampir ke tempat yang tadi Putra bilang.
Kebetulan Addison tahu dimana letak persisnya Musium yang dibilang Putra, begitupun jalanan untuk menuju ke tempat yang Putra sebut tadi, dan ia pun memimpin jalan.
**
“Pa-pa ....” Anthony memanggil Putra saat mereka sudah berada didalam mobil dan hendak meninggalkan Rumah Sakit.
“Yes Anth?" Sahut Putra dengan lembut.
“You do, like Gadis. Don't you?.. (Ka-mu menyukai Gadis kan?) .....”
“Ah that .... ( Ah itu )...” Putra jadi canggung untuk menjawabnya. Sedikit merasa ambigu juga dengan pertanyaan Anthony.
“Haha .. even Anth can see it Putra (bahkan Anthony saja bisa melihatnya Putra)” Goda Bruna.
“Shut up chatterer (Diamlah penggosip)” Putra menjawab sinis pada Bruna yang orangnya kembali terkekeh bersama Addison.
“Yo-u don’t like Gadis, Pa-pa? (Ka-mu tidak menyukai Gadis, Pa-pa?)”
Putra benar – benar merasa ambigu dengan pertanyaan Anthony ini.
Tapi Putra sepertinya bisa memanipulasi pertanyaan Anthony. “How about you Anth?. Do you like Gadis? (Bagaimana denganmu sendiri Anth?. Apa kamu menyukai Gadis?)”
Putra mengalihkan Anthony dengan membalikkan pertanyaan bocah itu yang kemudian mengangguk antusias.
“How could you like her that fast, hem? (Bagaimana kamu bisa menyukainya secepat itu, hem?)”
“I-can feel Mommy hug me – when Gadis hug me (Aku-seperti merasakan Mommy memelukku – saat Gadis memelukku)”
‘Oh Anth ..’
***
Setelah puas berkeliling kota Putra dan rombongan akhirnya kembali ke rumah sewaan mereka, dimana Danny nampak sedang menunggu mereka di teras rumah. Dan pria itu langsung berlari menuju pagar untuk membantu membukakan.
Addison dan Damian membuka kaca mobil mereka. “Thanks Dan!”
“You are very welcome”
Putra segera turun dari mobil setelah Addison memarkirkannya, karena Anthony sudah terlelap dan Putra menyegerakan membawa Anthony ke kamar agar tidurnya lebih nyaman.
***
“So, what makes you come Dan?. Did I tell you to take your day off today?”
“(Jadi, apa yang membuatmu datang Dan?. Bukankah aku menyuruhmu untuk libur hari ini?)”
“I bring some information (Aku membawa beberapa informasi)”
“About? (Tentang?)”
“Something, about Jaeden Zepeto (Sesuatu, tentang Jaeden Zepeto)”
***
To be continue...
__ADS_1
Enjoy..