
Happy reading....
♠♠♠♠
Author’s POV....
Sudah beberapa jam sejak kepergian Putra yang katanya akan pergi ke Ibukota untuk bertemu dengan Arthur, sekaligus melihat progress kediaman baru mereka yang berada di Ibukota bersama Anthony, Addison, Damian dan Garret.
Itupun bukan Putra yang menjelaskannya pada Gadis, melainkan Gadis mendengar Putra mengatakan itu pada Bruna. Dan setelahnya Putra berucap pada Bruna dengan menggunakan bahas yang Gadis tidak mengerti sama sekali.
Putra bahkan hanya mengucapkan kata pamit sekedarnya saat pergi tadi, tanpa memberikan kecupan baik di kening dan di bibir Gadis seperti yang biasa suaminya lakukan jika hendak pergi.
Membuat Gadis sedikit merasa miris pada dirinya sendiri. Baru saja Putra pulang, dan bersikap mesra padanya.
Tapi sekarang Gadis sudah diabaikan sampai sebegitunya. Tak hanya membuat Gadis merasa miris, tapi juga gundah gulana.
*
Beberapa jam telah berlalu, dan hari pun sudah sore sekarang.
Namun sampai dengan sekarang, baik Putra dan semua yang pergi bersamanya tadi pagi belum juga kembali ke Villa.
Sungguh membuat Gadis gundah, meskipun Bruna ada bersamanya di Villa. Selain para pekerja di dalam Villa mereka.
Dan meskipun, banyak hal yang Gadis dan Bruna lakukan di Villa untuk membunuh bosan kedua Nyonya tersebut.
Dari mulai saling berbagi ilmu, yakni Bruna yang katakanlah seorang Dokter sebenarnya, karena ilmu Bruna soal kedokteran memang banyak dan luas juga.
Hanya saja Bruna belum sempat membuat ijin untuk membuka praktek saat di Ravenna. Almarhum Rery sudah berkali-kali mendesaknya untuk benar-benar menjadi seorang Dokter, tidak hanya pengetahuan saja.
Namun Bruna rasanya malas, selain ia hanya ingin mengabdi pada Rery saja, dan menggunakan ilmu kedokteran yang ia punya setelah Rery menyekolahkannya hanya untuk kalangan mereka saja. Dan memang, sebelum tadinya Bruna mau mengiyakan desakan Rery untuk membuat dirinya jadi Dokter sungguhan, Rery keburu tewas.
***
Bruna membagi banyak ilmu soal pengobatan, termasuk ragam obat-obatan pada Gadis yang notabene pernah bekerja sebagai perawat, jadi tidak begitu sulit memahami setiap ilmu kedokteran yang Bruna bagi padanya.
Walau kebanyakan dari ilmu kedokteran yang Bruna bagi adalah ragam praktek penyelamatan.
Misal, mengeluarkan peluru dari dalam tubuh.
Yang membuat Gadis sempat bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa dia harus tahu hal itu.
Tapi ya sudah, namanya ilmu, jadi Gadis telan saja. Meski rasanya ilmu itu tidak mungkin pernah Gadis praktekkan.
Namun ilmu tentang ragam obat-obatan dan fungsinya masing-masing yang Gadis sangat perhatikan, karena dianggap berguna untuk sehari-hari nantinya, apabila ada orang di Villa yang sakit, dan Bruna sedang tidak ada, jadi Gadis tahu apa yang harus dilakukan.
Jadi lebih tahu, karena Gadis juga punya sedikit ilmu yang ia serap selama dia pernah bekerja sebagai perawat.
***
Jika Bruna membagi ilmu kedokteran pada Gadis, Gadis mengajarkan Bruna bahasa dari negeri kelahiran Gadis ini. Karena Bruna yang memintanya.
Gadis dan Bruna juga saling berbagi resep makanan dan masakan dari masing-masing resep atas makanan khas dari negara kedua Nyonya tersebut. Yang mana ilmu saling berbagi itu langsung dipraktekkan.
Yang kemudian disantap sendiri oleh Gadis dan Bruna, juga oleh para pekerja di Villa yang dibagi hasil masakan kedua Nyonya dalam Villa yang baik hati dan tidak pelit itu. Selain menghargai setiap pekerja di Villa, baik yang berinteraksi langsung dengan para penghuni utama Villa, ataupun yang bekerja di luar Villa.
Setelahnya, Gadis dan Bruna berleha-leha sambil mengobrol santai di ruang keluarga pada lantai dua Villa, dengan televisi yang menyala. Dan sesekali keduanya nampak fokus memperhatikan acara yang sedang terputar di televisi tersebut. Hanya Bruna sih yang sepertinya cukup fokus menonton televisi, karena Gadis sendiri hanya matanya saja yang terarah ke televisi.
Sementara angan Gadis sedang melanglang buana.
Tidak terlalu melanglang buana sebenarnya, karena satu saja yang ada dalam pikiran Gadis saat ini.
Seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya, Putra. Dan angan Gadis sedang mundur ke belakang, mengingat saat-saat pertama ia bertemu Putra.
Gadis teringat akan kenangan, bagaimana Putra membuatnya jatuh cinta.
Bahkan Gadis rasanya sudah mengagumi Putra dari kali pertama Gadis melihat Papanya Anthony itu. Yah, kalau dilihat bagaimana perawakan seorang Putra, rasanya bukan hanya Gadis seorang wanita yang bisa terpesona pada itu Papa Muda pada pandangan pertama – kalau menurut pendapat Gadis.
Tapi Gadis juga orang yang tidak mudah jatuh cinta, ataupun mengagumi lawan jenisnya sampai dadanya berdebar walau hanya sedetik bertatapan. Dan pada Putra lah, hal itu Gadis rasakan. Karena dari banyaknya pria yang mengejar cinta Gadis, bahkan telah mengungkapkan dan meminta Gadis secara terang-terangan untuk menjadi kekasih mereka dengan beragam cara, nyatanya tidak pernah ada yang dapat menggugah hati Gadis.
Bahkan seorang Dokter favorit para pekerja serta pasien wanita di Rumah Sakit tempat Gadis bekerja dahulu, juga telah mengungkapkan hatinya pada Gadis dengan tulus.
Namun ya itu, Gadis tidak tergugah. Dan penolakan kembali Gadis berikan pada Dokter pria yang kira-kira seusia Putra. Karena hati Gadis seolah enggan terbuka pada Dokter tersebut kala itu, meskipun Dokter pria muda tersebut juga cukup tampan dan baik hati, selain berasal dari keluarga berada dan mapan.
Jangankan menerima cinta dari Dokter tersebut, untuk memberikan kesempatan memenangkan hatinya pun, Gadis rasanya enggan.
Tapi Putra?
Pria itu bahkan sudah menampakkan wajah dinginnya dari kali pertama mereka bertemu.
Walaupun pada saat itu, katakanlah Gadis telah membantu Putra menemukan Anthony yang lepas dari pengawasan Putra dan Damian.
Tapi Putra hanya berekspresi datar. Tapi sialnya, hati Gadis terasa berdesir saat melihat Putra hari itu, walaupun kali pertama, tanpa saling mengenal.
Yang pada akhirnya, pria minim ekspresi bernama Putra itu, dapat membuat jantung Gadis berdebar tak karuan saat mereka berdekatan.
Pria yang membuat Gadis hampir jatuh pingsan, kala pertama Putra mencium bibirnya.
Pria yang sekiranya membuat Gadis rasa bermimpi telah sampai dinikahi oleh Putra, bahkan dari sejak Putra melamarnya.
Gadis kadang masih merasa hal itu tidak nyata.
Dicintai oleh Putra sampai sebegitunya. Dengan banyaknya perhatian dan kasih sayang yang Putra berikan padanya.
Walau Putra memang cukup menuntut, bahkan posesif padanya, dan kadang membuat Gadis merasa terganggu.
Tapi jika ia merasa terganggu pun, Gadis akan mengingat segala kelembutan Putra padanya. Hingga pada akhirnya Gadis berpikir, bahwa Putra yang seperti itu, karena Putra begitu mencintainya.
Hal yang kadang membuat Gadis merasa pongah sendiri, karena bisa dicintai oleh pria seperti Putra yang status sosialnya begitu jauh diatas Gadis. Jangan lupakan paras Putra yang dapat membuat banyak wanita sulit untuk tidak menatap wajah tampan Putra, berikut tubuh atletisnya.
Sosok yang selalu mendekapnya erat, memperhatikannya, bahkan sering menggodanya itu begitu Gadis cintai. Sosok yang membuat Gadis merasa bahagia karena cintanya.
Dan atas dasar itu, diabaikan seperti ini oleh Putra, dirasa Gadis sangat tidak enak sekali. Membuat Gadis menjadi gundah gulana, selain ia sedikit merasa miris dan sedih juga atas sikap Putra padanya dari sejak semalam, hingga saat Putra meninggalkan Villa tadi pagi.
Ditambah lagi, esok hari Putra akan pergi ke Italia entah untuk berapa lama. Padahal baru sebentar saja mereka saling bertemu dan bermesra serta bermanja. Tapi malah bertengkar dalam waktu kebersamaan yang singkat. Alhasil, Putra yang gelagatnya menunjukkan ketidak-terimaan-nya atas sikap dan ucapan Gadis semalam, kini memilih untuk menghabiskan satu-satunya waktu yang tersisa disatu hari ini sebelum bertolak ke Italia besok, dengan menjauhi dirinya.
‘Hh, aku rasanya ingin pergi saja dari sini kalau Putra bersikap seperti ini padaku.’
Gadis berkesah dalam hatinya.
Author’s POV....
***
__ADS_1
“Gadis ....” Suara Bruna yang sedang bersama Gadis di ruang santai pada lantai dua Villa itu membuat lamunan Gadis tertarik paksa. Dan Gadis langsung menoleh dan menyahut pada Bruna yang duduk berjarak dengannya itu.
“Ya, Bru?”
“I want to take a bath (Aku ingin mandi) ....”
“Okay, Bru,” Sahut Gadis.
Gadis juga menampakkan senyumnya.
“It’s okay if I left you here? Because I feel a little bit sleepy too (Tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu disini? Karena aku merasa sedikit mengantuk juga) .... ”
“It’s okay (Tidak apa-apa), Bru,” sahut Gadis lagi. “We’re home remember? (Kita kan di rumah? ),” kata Gadis sembari mengulum senyumnya. Bruna juga tersenyum sambil manggut-manggut.
“Alright then, don’t feel reluctant to knock my door room if you need me when those guys still haven’t come yet.”
“(Baiklah jika begitu, jangan sungkan mengetuk pintu kamarku jika kamu membutuhkan aku jika para pria itu belum kembali) ....”
“Yes, Bru. Don’t worry (Iya, Bru. Jangan khawatir) ....”
Bruna pun menanggapi dengan anggukan serta senyuman ucapan Gadis yang barusan.
“You better also go to take some rest (Kamu juga sebaiknya pergi beristirahat), Gadis ....”
Bruna sudah berdiri dari duduknya. Dan Gadis menanggapi saran Bruna dengan anggukan berikut senyuman. “You better go to sleep than take a bath first if you feel very sleepy (Kamu sebaiknya pergi tidur ketimbang mandi terlebih dahulu kalau memang benar-benar mengantuk), Bru ....”
Bruna yang baru saja menguap itu mengangguk. “Ya, I think so (Iya, aku rasa begitu),” ucap Bruna.
Setelahnya, Bruna melenggang dari hadapan Gadis untuk pergi ke kamarnya dan Addison.
***
“Putra.”
“Ya?”
Putra menyahut pada Garret yang duduk di kursi penumpang belakang bersamanya dan Anthony yang sudah terlelap.
Putra, dan empat orang yang pergi bersamanya ke Ibukota lalu mampir ke restoran mereka yang ada di kota yang sama di tempat Villa mereka berada, kini sudah sampai kembali di Villa kala senja sudah tiba.
“Let Anth with me (Biar Anth bersamaku)” ujar Garret. “Better you meet Gadis right away (Sebaiknya kau segera menemui Gadis)”
“Ya he’s right (Iya dia benar) .... Also don’t be too hard to your wife, Bro. However, Gadis is not like Bruna who already get usual with danger and threat around us (Juga jangan terlalu keras pada istrimu itu, Saudaraku. Bagaimanapun, Gadis tidak seperti Bruna yang sudah terbiasa dengan bahaya dan ancaman disekeliling kita)”
“Ya, poor her. She’s been worried you a lot when you still in Netherland. And I’m sure she feel tormented for that (Iya, kasihan dia. Dia sangat mengkhawatirkanmu saat kau di Belanda. Dan aku yakin dia tersiksa karenanya) ....”
Damian dan Addison ikut berkomentar. Putra pun mengangguk. “Ya, I know (Iya, aku tahu)” sahut Putra. “That’s why I bought a beautiful bouquet of flowers (Itulah kenapa aku membeli buket bunga yang indah itu )”
Putra tersenyum geli, dan tiga orang yang bersamanya itu terkekeh kecil. Kemudian mereka semua yang menaiki mobil yang sama itu segera turun dari mobil dan menanyakan dua Nyonya yang sedari pagi mereka tinggal di Villa.
“Dimana para Nyonya, Pak Abdul?” tanya Putra.
“Terakhir saya mengantarkan teh dan makanan ringan untuk Madam dan Nyonya di ruang keluarga yang ada di lantai dua, Tuan.”
Pak Abdul menjawab dengan lugas.
“Setelahnya saya tinggal untuk memberi makan kuda-kuda, bersama Suheil dan Tri yang membersihkan kandang. Dan setelah itu saya langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan belum sempat melihat ke ruang keluarga di lantai dua, karena keburu mendengar anda semua telah kembali dan saya langsung kesini.”
Pak Abdul juga memberi laporan dengan detail.
“Sama-sama Tuan,” balas Pak Abdul dengan sopan dan hormat pada salah seorang Tuannya itu.
“Are you sure, you want to take care of Anth (Apa kau yakin, kau mau mengurusi Anth), Gar?” Putra beralih pada Garret yang sudah turun dari mobil dengan menggendong Anthony.
“Of course I’m sure (Tentu saja aku yakin)”
Garret menyahut cepat.
“Anth is not only your son, okay?”
“(Anth itu bukan anakmu seorang, oke?)”
Putra pun terkekeh kecil mendengar celotehan Garret barusan.
“Better now you move your as to meet your wife then begging and flatter your wife, oh guilty husband* (Sebaiknya sekarang kau bergerak untuk menemui istrimu dan meminta maaf serta merayunya, wahai suami yang bersalah)”
“Indeed (Benar sekali)” Addison menimpali ucapan Damian barusan. “We will take care Anth, while you busy to begging to Gadis (Kami akan mengurus Anth, selama kau sibuk meminta maaf pada Gadis)” sambung Addison. “It was us, who also taking care of Anth while you’re not here, you know? (Kami ini, yang ikut mengurus Anth selama kau tidak ada disini, tahu?)”
“Ya, ya, ya ....”
Putra memutar bola matanya malas, menanggapi komentar tiga saudaranya itu.
“Shuu!” usir Garret pada Putra.
Putra, Addison dan Garret terkekeh.
Lalu Putra melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk masuk ke area dalam Villa untuk menemui Gadis, dengan sebuah buket bunga yang sudah berada di tangannya, setelah salah seorang anak buahnya mengambilkan buket tersebut di dalam mobil yang anak buah Putra dan para saudaranya gunakan, selain mobil yang dinaiki oleh Putra dan tiga saudaranya berikut Anthony, lalu memberikan buket itu pada Putra.
‘Aku harap kau menyukainya, Gadis ....’ kata Putra dalam hatinya, sembari ia melangkahkan kaki menuju ke lantai dua. ‘Mungkin dia sudah pergi ke kamar ....’
Putra membatin lagi, sembari membelokkan dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadinya dan Gadis, setelah ia pergi ke ruang keluarga yang berada di lantai dua, namun Gadis tidak ada disana.
Dengan menarik sudut bibirnya terlebih dahulu, baru Putra membuka pintu kamarnya dan Gadis.
Namun kekosongan yang tertangkap dalam pandangan mata Putra.
Putra langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, karena mungkin saja Gadis sedang membersihkan dirinya di dalam sana.
Putra masih memegang buket bunga yang ia beli untuk Gadis, lalu tanpa memastikan terlebih dahulu apa Gadis berada di dalamnya, Putra segera membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci itu.
Namun lagi-lagi kekosongan yang Putra dapati disana. Putra langsung masuk ke dalam walk-in-closet melalui pintu penghubung.
Namun lagi-lagi sama.
Walk-in-closet juga kosong.
Putra juga mengecek balkon.
Pun, kosong.
“Dimana dia?” gumam Putra.
Hingga Putra pergi ke kamar Anthony melalui pintu penghubung yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Ada Garret yang menggendong Anthony, serta Damian yang merapihkan tempat tidur Anthony sebelum Garret meletakkan bocah tampan yang masih tampak sangat pulas itu.
“Have you guys meet Gadis down there? (Apa kalian bertemu Gadis dibawah?) ....” tanya Putra pada Garret dan Damian.
“No,” jawab Garret dan Damian kompak.
“Bru?” tanya Putra. “You guys meet her? (Kalian bertemu dengannya?)”
“No,” kembali Garret dan Damian menjawab dengan kompak.
“Where’s Ad? (Dimana Ad?)” tanya Putra lagi.
“Go to his room (Pergi ke kamarnya )”
Damian yang menjawab, karena Garret sedang meletakkan Anthony ke atas ranjang bocah tersebut.
“I’ll go to Ad then (Aku ke Ad dulu kalau begitu) ....” ucap Putra.
“Gadis not at room? (Gadis tidak ada di kamar?) ....”
Putra menjawab pertanyaan Damian dengan gelengan kepalanya.
“Maybe in the kitchen with Bru (Mungkin di dapur bersama Bru) ....”
“Ya, maybe (Iya, mungkin saja) ....” sahut Putra. “I’ll go check then (Akan kucek kalau begitu)”
Kemudian Putra keluar dari kamar Anthony.
***
“Hey Bru ....”
Putra langsung menyapa Bruna yang ia lihat ada di depan kamarnya dan Ad itu.
“Hey, Brother! Have you appologize to your wife (Halo, Saudaraku! Apa kau sudah meminta maaf pada istrimu), hem? Oh selfish man (Wahai pria egois) ....”
Putra tersenyum kecil pada Bruna yang barusan sedikit menyindirnya itu.
“How can I ask appologize if I haven’t see her yet (Bagaimana aku bisa meminta maaf jika aku belum melihatnya)”
Bruna nampak sedikit mengernyit, selepas mendengar ucapan Putra barusan. “She’s not at room? (Dia tidak ada dikamar?)”
Pertanyaan Bruna membuat Putra yang gantian sedikit mengernyit sekarang. “I thought you just with her at kitchen (Aku pikir kau baru saja bersamanya di dapur)”
Bruna langsung saja menggeleng. “Last time I’m with Gadis in the family room (Aku terakhir bersamanya di ruang keluarga) ....”
Putra manggut-manggut. “Maybe she is the kitchen, making something (Mungkin dia memang di dapur, sedang membuat sesuatu) ....”
“Hemm, maybe (Hemm, mungkin saja) ...”
Bruna mengiyakan dugaan Putra tersebut.
“Whereas I told her to take a rest, before I go to my room (Padahal aku mengatakan padanya untuk beristirahat, sebelum aku pergi ke kamarku) ....”
“I’ll go check her in the kitchen then (Akan kulihat dia di dapur kalau begitu) ....” ucap Putra, lalu ia melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga dan menuju dapur.
Bruna pun mengangguk.
Istri Addison itu juga ikut berjalan di belakang Putra untuk pergi ke dapur juga, karena ingin membuatkan kopi untuk suaminya.
“Dimana istriku Ibu Marsih?”
Putra langsung bertanya pada salah seorang asisten rumah tangganya itu, setelah ia mencapai dapur kotor Villa, karena ia tidak melihat Gadis di dapur bersih.
“Nyonya Gadis tidak ada disini Tuan Putra ....”
Dimana jawaban dari Ibu Marsih membuat Putra mengernyit dalam.
“Apa dia berada di kebun? ....”
Ibu Marsih menggeleng.
“Tidak Tuan Putra, saya baru saja dari kebun belakang dan Nyonya Gadis tidak ada disana ....”
“Lalu dimana dia?”
“Mohon maaf Tuan Putra, saya tidak melihat Nyonya Gadis lagi setelah beliau dan Madam pergi ke ruang keluarga di lantai dua ....”
“Apa Ibu yakin? ....”
“What’s wrong? (Ada apa?)”
Bruna yang tak lama muncul di belakang Putra segera bertanya, karena melihat Putra yang sepertinya sedang gusar.
“Gadis is not here also ( Gadis juga tidak ada disini ) ....”
“Maybe in the backyard garden? (Mungkin di kebun belakang?)”
Putra menggeleng.
“She’s not there also (Dia juga tidak ada disana)”
Putra kemudian berucap.
“Ibu Marsih said she's just from there, and Gadis not at the backyard Garden (Ibu Marsih mengatakan dia baru saja dari sana, dan Gadis tidak ada bersamanya) ....”
Putra mendengus kasar.
“I’ll go check workroom (Aku akan periksa ruang kerja)”
Putra dengan segera melangkah kesana.
“GADIS!”
Putra berteriak di halaman belakang Villa, setelah ia tidak menemukan juga istrinya itu di ruang kerja, bahkan Gadis tak ada di setiap bagian area dalam Villa.
Putra juga sudah mengumpulkan semua pekerja yang ada di Villa.
“AKU TIDAK MAU TAHU, KALIAN CEPAT CARI DAN TEMUKAN ISTRIKU!”
***
To be continue ....
__ADS_1
Jangan lupa untuk menggoyangkan jempol sebagai dukungan kalian pada karya ini, itupun jika berkenan.
Loph Loph.