LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 196


__ADS_3

Happy reading ......


*****************


“All of us better to take a rest for a while... ( Kita semua sebaiknya beristirahat sejenak .... )”


Putra beranjak dari tempatnya.


“Cause likely we will do some of ‘visits’ tonight.”


(Karena kemungkinan kita akan melakukan ‘kunjungan’ malam ini).


“Can’t wait the night to come. ( Tak sabar menunggu malam datang )”


Yonna menimpali ucapan Putra dengan sikapnya yang santai, namun terkesan datar.


“Do you want to wait the night with me? ... ( Apa kau mau menunggu malam datang bersamaku? ... )”


Kemudian celetukan dari mulut Garret terdengar sembari tersenyum jahil pada Yonna yang langsung melirik datar pada Garret.


“Sure, if you don’t want to live more longer. ( Tentu, jika kau tidak ingin hidup lebih lama )” Dan sahutan sarkas pun terdengar dari Yonna.


Kekehan sontak saja keluar dari mulut tiga pria yang berada di dekat Yonna.


*


“That two bastrds of father and son were taken to the City Hospital... Are you going there or want to ‘visit’ the others before?”


(Sepasang ayah dan anak bajingn itu dibawa ke Rumah Sakit Kota... Apa kau mau langsung kesana atau ingin ‘mengunjungi’ yang lainnya terlebih dahulu?)


Yonna sudah berada di depan pintu kamar Putra, saat pria itu membuka pintu kamarnya dengan pakaian yang cukup rapih dan coat panjang yang membalut kemeja sampai hampir ke bawah celananya, setelah langit di luar Kediaman pribadi Ramone telah menggelap.


Seperti biasa Yonna berbicara dengan datar, jika itu menyangkut sebuah pekerjaan atau misi.


Wanita muda berwajah cantik namun dingin itu juga sudah nampak rapih dengan balutan pakaian yang memudahkan dirinya untuk bergerak cepat.


“The man that become Jiltk back up, have you bring him here? ( Pria yang ada di belakang para Jiltk, apa kau sudah membawanya kesini? )”


Putra menjawab pertanyaan Yonna tadi dengan sebuah pertanyaan juga.


Yonna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “You want to meet him? ( Kau ingin menemuinya? )”


Putra menganggukkan kepalanya sekali.


“Well I should bring a-souvenir when ‘visit’ someone in Hospital, should I?”


(Bukankah aku harus membawa buah-tangan saat ‘mengunjungi’ seseorang di Rumah Sakit?).


*


Putra menyusuri lorong dalam sebuah tempat rahasia di satu bagian Kediaman pribadi Ramone, yang ia juga sudah sempat kunjungi tadi.


“Gijs Jürgen ...” Ucap Putra saat ia sudah masuk ke dalam ruangan yang tadi sempat ‘diisi’ oleh tamu lain sebelum pria yang namanya ia sebutkan barusan.


“W-wie Ben Jij?!... (S-siapa Kau?!...)”


Pria yang ada dihadapan Putra itu langsung melontarkan pertanyaan pada Putra yang telah mendudukkan dirinya didepan pria tersebut, setelah kain hitam yang tadi menutupi kepala pria bernama Gijs Jürgen itu dibuka oleh salah seorang anak buah Ramone yang telah membawanya.


Hanya sunggingan miring di satu sudut bibir Putra yang tampak setelah pria dihadapannya yang nampak ketakutan itu bertanya tentang siapa dirinya.


Dan pria bernama Gijs Jürgen saat Putra yang sedang duduk elegan dengan menyilangkan kakinya, lalu menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di bibirnya dengan sebuah pemantik besi, tak ayal membuat pria yang ada dihadapan Putra itu memperhatikan lekat-lekat diri Putra.


(Percakapan berlatar belakang bahasa Belanda, di Indonesia kan ya).


“Kau tidak perlu tahu siapa diriku.”


Putra berucap pada pria bernama Gijs Jürgen itu setelah mengepulkan asap dari rokok yang telah ia nyalakan dan sesap ke udara.


“Aku hanya ingin melihat wajah orang yang berani bermain-main dengan ayah baptisku.”


“Ap-pa mak-sudmu? ...”


Putra menyeringai.


“Aku rasa kau tahu betul apa maksudku Tuan Gijs Jürgen.”


“Ti-dak, aku tidak mengerti,” Ucap Gijs Jürgen. “A-ku tidak tahu siapa yang kau maksud dengan ayah baptis mu.”


“Heem...” Putra berdehem pendek, lalu mendengus sinis sembari menatap pada Gijs Jürgen.


“Ak-u yakin ada kesalah-pahaman disini.”


“Ramone Zeeman.”


Putra menyebutkan nama sang ayah baptisnya. Dan didetik berikutnya, Gijs Jürgen menelan pekat salivanya.


“Kau mengenalnya bukan?” Ucap Putra. “Dan kau bekerjasama dengan sepasang Jiltk untuk menghabisinya, selain kau menjadi penadah dari barang dan uang yang dicurangi keduanya dari ayahku.”

__ADS_1


Gijs Jürgen menelan ketat lagi salivanya.


“Itu yang membuatmu berada disini sekarang.”


“Ak-u –“


“Untuk mendapatkan hukuman karena berani untuk mencoba menghabisi ayah baptisku dengan para b*jing*n Jiltk itu. Sekaligus menjadikanmu contoh.”


Seringai tajam nampak di wajah Putra yang kemudian menjentikkan jarinya dimana Yonna segera mendekat pada Putra, dan berdiri dengan tegak disamping Putra.


“Lakukan dengan cepat, lalu buang jasadnya tepat di depan Rumah Sakit yang akan aku kunjungi.”


Putra berbicara pada Yonna, namun matanya tetap menatap tajam pada Gijs Jürgen, berikut bibirnya yang menyungging sinis.


“Ti-dak! tung –“


DOR!.


Suara tembakan langsung terdengar dalam ruangan tempat Putra berada, sebelum Gijs Jürgen menyelesaikan kalimatnya.


Dimana pria tersebut kemudian jatuh ke sisi kirinya setelah kepalanya tertembus sebuah peluru dari senjata api milik anak buah Ramone yang telah mendapatkan perintah dari Yonna.


****


“Why give him a quick and easy death? (Mengapa memberikannya kematian yang cepat dan mudah?)”


Garret berucap, selepas pria bernama Gijs Jürgen ambruk dan tewas dengan lubang di kepalanya.


“I don’t want to waste much time (Aku tidak ingin membuang banyak waktu)”


“Heem.”


“Beside, he’s not the mastermind of the scheming to kill Vader (Lagipula, dia bukan dalang dari perencanaan untuk membunuh Vader)”


Putra pun beranjak dari tempatnya.


“His mistakes is because he helped The Jiltk stiffed Vader (Kesalahannya adalah membantu Para Jiltk mencurangi Vader)”


“But isn’t he also who acquainted the two men that were sent to kill Ramone to that Jiltk? (Tetapi bukankah dia juga yang memperkenalkan dua orang yang dikirim untuk membunuh Ramone oleh Para Jiltk itu?)”


Putra pun manggut-manggut selepas mendengar penuturan Garret.


“That’s why I will make him as an ‘example’ (Itulah mengapa dia akan aku jadikan ‘contoh’)”


**


“Why don’t Bale who stay? ( Mengapa bukan Bale saja yang tinggal?)” Ucap Yonna. Wajah wanita cantik berhati dingin itu sedang nampak tidak puas.


“A good woman supposed to be stayed home at night.”


(Wanita yang baik seharusnya tetap tinggal di rumah saat malam hari).


Putra melontarkan kalimat godaan pada adik satu ayah angkat itu.


“Ck!” Dimana Yonna sontak saja berdecak sembari melirik malas pada Putra.


Garret, Ramone dan Bale yang kini sudah bersama kedua kakak adik satu perguruan itu tersenyum geli saja melihat Yonna yang sedang nampak tidak puas karena tidak diikut sertakan untuk menghabisi orang-orang yang sudah ada dalam daftar.


“Just stay here little sister (Tinggal saja disini adik kecil)”


Putra kembali menggoda sekaligus meledek Yonna.


“Your brother was right, just stay here to accompany me (Kakak lelakimu itu benar, tinggal saja disini untuk menemaniku)”


“You can ask Bale... (Kau bisa meminta Bale...)”


Yonna menyahut atas ucapan Ramone.


“Or him... (Atau dia...)”


Lalu menunjuk pada Garret.


“To accompany you here (Untuk menemanimu disini), Vader ...”


Yonna nampak seperti sedang merajuk pada Ramone.


“Men, have to work Baby (Pria, harus bekerja Sayang)”


Garret ikutan menggoda Yonna yang langsung mendelik pada Garret karena memanggilnya dengan sebutan Sayang.


“You should watch the way you talk if you don’t want me to rip your mouth (Kau jaga ucapanmu jika tidak mau aku merobek mulutmu itu)”


Yonna melontarkan ancaman pada Garret dengan wajah sinis. Namun alih-alih takut, Garret malah terkekeh pada Yonna.


Kemudian Bale, Putra dan Ramone pun menyusul untuk ikut terkekeh.


“Alright then, maybe both of you can continue your romance after we’re finished outside.”

__ADS_1


(Baiklah kalau begitu, mungkin kalian berdua dapat meneruskan romansa kalian setelah kami selesai diluar).


Putra mengeluarkan ledekannya sembari menoleh pada Garret dan Yonna. Dimana Garret terkekeh lagi bersama Bale dan Ramone, sementara Yonna berdesis sinis sambil memandang pada Putra.


“Hish!”


Putra sontak juga terkekeh kecil.


“Well, I think we should go now, before the snow falling hard”


(Kalau begitu, aku pikir sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum salju turun lebih lebat)


Ucapan Putra langsung diangguki oleh Bale, Garret dan Ramone. Sementara Yonna mengerucutkan bibirnya.


“Sure, you won’t let me in? (Yakin, kau tidak mau aku ikut serta?)”


Yonna ingin memastikan lagi dan berharap Putra mau merubah pikirannya, lalu mengajak Yonna yang memang senang ‘beraktifitas’ itu turut serta bersama Putra dan dua orang yang ada bersamanya saat ini, dan akan ikut membantu Putra.


“Hem, just stay here and guard Vader (Hem, tetaplah disini dan jaga Vader)”


Namun sayangnya Putra tak merubah keputusannya untuk tidak mengajak Yonna ikut bersamanya, Bale dan Garret, serta beberapa orang anak buah mereka.


“We don’t know if they have another backup plan, right? (Kita tidak tahu jika mereka memiliki rencana cadangan, bukan?)”


Putra memaparkan dan Yonna mengangguk paham. “Alright then (Baiklah jika begitu)” sahut Yonna dan mengulas senyuman.


“Good girl (Gadis baik)” Ledek Putra sembari menepuk-nepuk kepala Yonna, yang orangnya langsung berdecak sebal pada Putra.


Putra dan tiga pria lainnya terkekeh lagi, lalu Putra, Bale dan Garret pun segera melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari Kediaman Ramone.


**


“They must be found out the accident that they had is a warn right? (Mereka pasti sudah mengira jika kecelakaan yang mereka alami adalah sebuah peringatan bukan?)”


“I believe so (Aku yakin begitu)” Putra menjawab pertanyaan Garret saat mereka sudah hampir sampai di Rumah Sakit kota.


“So they probably already thought that you have found out about their betrayal to Ramone (Jadi ada kemungkinan mereka telah menduga jika kau sudah tahu tentang pengkhianatan mereka pada Ramone)...”


“Perhaps (Mungkin saja)” sahut Putra.


“Don’t you think that they might try to run? (Tidakkah kau berpikir mungkin saja mereka mencoba kabur?)...”


“I already think about it (Aku sudah memikirkannya)”


“Then? (Lalu?)...” tanya Garret.


“Jacco is injured quite bad than Henrick. And it’s impossible for him to go anywhere.”


(Jacco terluka cukup parah daripada Henrick. Dan mustahil baginya untuk pergi kemanapun)


“I see ...” Garret manggut-manggut.


“And about what you think that they already found out if Putra has found out their betrayal to Ramone, I think they are (Dan pikiranmu tentang apakah mereka telah menyadari bahwa Putra sudah mengetahui pengkhianatan mereka, aku pikir memang mereka telah menyadarinya) ...”


Bale bicara panjang lebar.


“And because of that, they put a lot of men to guard the at the Hospital (Dan karena itu, mereka menempatkan banyak orang untuk menjaga mereka di Rumah Sakit)” Bale lanjut menjelaskan situasi.


“Means that their bodyguards have been told to face us when we come (Itu artinya para penjaga mereka telah diberitahukan untuk menghadapi kita saat kita datang)”


Garret menimpali.


“Yes they are (Iya)”


Bale menjawab pasti.


“Are we going to have shoot-ing in the Hospital? (Apa kita akan baku tembak di Rumah Sakit?) ...”


Garret penasaran.


“Of course not (Tentu saja tidak) ...”


Putra menyahut.


“Not openly, I mean (Tidak secara terbuka, maksudku)” sambung Putra.


“Hem .... That’s why you bring that dead man? (Hem .... Itulah sebabnya kau membawa pria yang sudah mati itu?)”


“Heemm”


Putra pun berdehem sembari manggut-manggut menanggapi ucapan Garret barusan.


“We’re in when our guys make an diversion in front door (Kita masuk saat orang-orang kita membuat pengalihan di pintu depan)”


“Would it be success? (Apakah itu akan berhasil?)...” tanya Garret dengan santai.


Putra mengangguk yakin.

__ADS_1


**


To be continue .....


__ADS_2