LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 97


__ADS_3

Happy reading ...


“Ar ....”


Putra dan Arthur sudah berpamitan dan keluar dari ruangan Pak Tri.


“Yes, Sir?” Sahut Arthur.


“Find out about the family of that Doctor, especially her Father”


“( Cari tahu tentang keluarga Dokter itu, terutama ayahnya )”


Arthur yang paham maksud Putra itu mengangguk.


“I want to know, how leaven her Father is ( Aku ingin tahu, seberapa berpengaruhnya ayahnya itu )”


Arthur manggut-manggut, menangkap sesuatu yang tersirat dari ucapan dan keinginan Putra itu.


‘Just like what I thought.... ( Seperti yang sudah kuduga )....’


Arthur membatin.


‘This man, will not just ‘accept’ if he didn’t feel pleased ( Pria ini, tidak hanya akan ‘menerima’ begitu saja jika dia merasa tidak senang ) ....’


“I believe that she will tell her Father, for what I have done to her ( Aku yakin dia akan mengadu pada ayahnya, tentang apa yang sudah aku lakukan padanya )” Ucap Putra.


“I think the same way too ( Aku juga berpikir hal yang sama )” Sahut Arthur. Putra tersenyum miring.


“Then I have to prepare some ‘bullets’, Am I? ( Maka aku harus mempersiapkan beberapa ‘peluru’, bukan begitu? )”


Arthur pun manggut-manggut. Paham maksud Putra.


**


“Going back to Bandung now? ( Kembali ke Bandung sekarang? )” Tanya Arthur dan Putra langsung mengangguk.


“But I’ll go to see Gadis before ( Tetapi aku ingin melihat Gadis dulu sebelumnya )”


Arthur mengangguk.


“Can you just wait for me? ( Bisakah kau menungguku? )”


“Sure! ( Tentu! )”


“There’s another favour that I would asked from you”


“( Aku ingin meminta bantuanmu lagi )”


“Feel free to ask it ( Silahkan memintanya )”


“Free to ask, but you will give me some bills after ( Gratis untuk meminta, tetapi kau akan memberikanku tagihan setelahnya )”


“Haha!!!!” Arthur tergelak.


****


“Eh iya Dis, berarti nanti akan ada pesta pertunangan dong ya Dis, kalo Tuan Putra mengumumkan secara resmi hubungan kalian ini?”


“Aku ga tahu Mba, ga mikirin juga soal itu ... terserah bagaimana Putra aku sih ...”


Putra menghentikan langkahnya saat dia sudah sampai didepan ruangan khusus para perawat.


“Lagian, aku itu suka sama Putra, ya karena aku suka. Bukan karena latar belakangnya, status sosial, apalagi kekayaannya...”


Putra menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Gadis yang terdengar tulus itu. Dan memang sedari awal, sebelum dia merasa jatuh cinta pada Gadis, Putra sudah bisa menilai kepribadian Gadis secara personal.


“Aku udah cukup merasa beruntung, kalau laki-laki seperti Putra itu bisa suka sama aku, apalagi sampai melamar aku, aku aja masih suka ga percaya sampe sekarang ...”


“Kenapa harus ga percaya?”


“Ya, Mba Nen, aku sama Putra kan kayak langit sama bumi status sosialnya!”


‘Gadis..... Gadis..... masih saja kamu mengkhawatirkan hal itu’ Batin Putra.


“Ih! Ngapain kamu pikirin soal status sosial Dis! Yang penting Tuan Putra serius sama kamu. Tuh buktinya udah ngelamar kamu, mana bagus banget itu cincinnya! Mahal pasti!”


“Nah iya bener itu, kalo inget gimana tadi mukanya Tuan Putra yang marah karena Dokter Ilse menghina kamu sampe Tuan Putra itu mencaci-maki Dokter Ilse, udah jelas sejelas-jelasnya Tuan Putra itu cinta banget sama kamu Dis!”


‘Sejelas itukah?’ Batin Putra lagi.


“Ih, sok tahu deh Mba Neni .....”


“Ih, ga percaya kalo dibilangin sama yang tuaan!”


Gadis terkekeh.


“Iyo bener itu Dis, kalo Tuan Putra ga cinta banget sama kamu, ga mungkin dia sampe ngebelain kamu sampe segitunya didepan Dokter Ilse!”


Para rekan kerja yang lain juga ikut mengiyakan dengan sahutan dan anggukan antusias.


“Laki-laki, kalau sampe membela perempuan yang deket sama dia kayak tadi Tuan Putra ngebelain kamu didepan Dokter Ilse, itu sih ga usah kamu pertanyakan lagi keseriusan sama perasaannya ke kamu Dis! .....”


“Iyes, yakin deh Tuan Putra itu cinta buanget sama kamu Dis!”


Putra mendengus geli. ‘Dasar wanita. Mulut mereka penuh saja masih terus bergunjing’ Namun Putra merasa senang.


“Bisa aja kalian ini.....”


“Nanti ya Mba tanyain ke Tuan Putranya langsung? Bener ga tebakan Emba, kalo dia itu cinta banget sama kamu.....”


“Benar”


Suara bariton yang terdengar itu membuat semua suster yang mendengarnya dalam ruangan spontan menoleh ke sumber suara.


“Put-ra .....”


“Eh Tuan Putra .....”


Sontak saja para suster itu langsung kikuk melihat Putra yang sudah berada didekat mereka dengan tersenyum ramah dan tampannya.


“Apa aku mengganggu?” Tanya Putra.


“Tidak dong Tuan Putra, sama sekali ga ganggu kok”


Mba Neni yang menyahut.


“Mari silahkan duduk! .....”

__ADS_1


“Iya, iya, Silahkan duduk Tuan! .....”


Rekan-rekan kerja Gadis itu bersahutan mempersilahkan Putra untuk duduk.


“Santai saja, jangan terlalu sungkan padaku”


Putra menunjukkan keramahan masih dengan tersenyum pada rekan-rekan kerja Gadis itu.


“Ya udah Dis, kami tinggal ya? Ini, makasih makanannya”


Salah seorang rekan kerja Gadis mewakilkan para rekannya yang lain, yang kemudian bersahutan menyampaikan hal yang sama.


“Ini ngomong sendiri sama orangnya, bukan aku yang belikan ini makanan kan.....” Celetuk Gadis pada para rekan kerjanya itu.


“Eh iya!.....”


“Makasih ya Tuan Putra untuk ini makanannya”


Mba Neni mewakilkan, dan sahutan ucapan terima kasih kembali terdengar dari yang lain.


“Terima kasih kembali” Jawab Putra sopan. “Apa kurang?.....”


“Tidak, tidak , Tuan. Ini sudah lebih dari cukup kok!”


“Benar cukup?” Tanya Putra.


“Benar Tuan .....”


“Ya sudah”


“Duduk?.....”


Gadis mempersilahkan Putra seraya bertanya.


“Iya, silahkan duduk Tuan” Rekan kerja Gadis menimpali.


“Tuan Putra mau kopi?”


“Tidak, terima kasih. Aku tidak akan lama”


**


“Kamu mau kembali sekarang?” Tanya Gadis setelah ia dan Putra kini hanya berdua setelah rekan-rekan kerja Gadis membubarkan diri.


“Iya” Sahut Putra pada Gadis  “Tidak apa-apa kan?”


“Iya, tidak apa-apa .....”


“Itu saja?”


Raut sedikit bingung nampak di wajah Gadis.


“Apanya yang itu saja?.....” Gadis balik bertanya.


Putra tersenyum kecil. “Tidak berusaha menahanku?”


“Kamu nih.....” Sahut Gadis seraya terkekeh.


“Mengenai Ilse, kamu tidak perlu khawatir lagi”


Mendengar Putra menyebut Dokter Ilse, membuat raut wajah Gadis berubah sedikit tegang.


“Aku sudah meminta Pak Tri menjauhkan dia darimu” Sambung Putra.


“Mak-sud, mu??? .....”


“Kamu tidak akan terlibat mengenai urusan pekerjaanmu disini dengannya secara langsung”


“Emm ..... maksudnya itu, aku tidak akan menjadi pendamping Dokter Ilse?? .....” Tanya Gadis.


“Hem, kira-kira seperti itu”


‘Hhh, syukurlah ..... aku tidak harus panjang berurusan dengan Dokter Ilse nantinya, andainya dia dikeluarkan dari Rumah Sakit ini’


Gadis membatin.


‘Jadi aku tidak perlu berurusan dengan keluarganya Dokter Ilse, yang pasti tidak akan terima jika Dokter Ilse dipecat dari Rumah Sakit ini’


“Kamu tidak akan mendampinginya, atau mengurusi hal-hal yang berkenaan dengannya mulai sekarang” Sambung Putra dan Gadis pun manggut-manggut.


**


“Aku pergi sekarang ya?” Pamit Putra setelah ia dan Gadis sudah berada diambang pintu ruangan khusus para perawat tersebut.


“Biar aku antar sampai lobi depan” Sahut Gadis.


“Tidak perlu”


“Tidak apa, aku sedikit santai kok”


“Tidak apa, kamu disini saja. Tidak perlu mengantarku sampai lobi depan” Ucap Putra.


“Ya sudah kalau begitu”


“Tidak perlu mengkhawatirkan lagi soal Ilse..... Dia tidak akan lagi mengganggumu”


“Putra.....” Panggil Gadis.


“Ya?” Sahut Putra.


“Jangan lagi marah-marah seperti tadi ya?.....”


Putra tersenyum kecil.


“Aku takut sekali melihatmu seperti itu.....”


“Aku kan sudah pernah mengatakan, jika aku tidak bisa diam saja melihat ada orang yang menghina mereka yang aku sayangi”


“.......”


“Dan rasanya juga aku sudah mengatakan padamu, tidak akan aku biarkan ada orang yang merendahkan mu”


“Iya aku ingat, tapi Dokter Ilse kan perempuan, Putra.....”


Gadis menatap Putra dengan wajah yang sedikit memelas, sembari melipat bibirnya.


Putra tersenyum tipis. “Siapapun yang melempar, batu pasti tenggelam”

__ADS_1


Putra menatap Gadis yang sedang menatapnya itu.


“Selalu ada konsekuensi untuk setiap tindakan, siapapun itu .....”


“.......”


“Dan aku, adalah orang yang tidak memperdulikan siapa, apapun gendernya, untuk memberi mereka pelajaran, jika kuanggap mereka mencari masalah denganku”


Putra berkata datar sembari menatap Gadis yang juga sedang menatapnya itu.


‘Entah mengapa aku merasa was-was atas ucapan Putra barusan’


“Jadi, jangan mencari masalah denganku, hem, Suster Gadis?.....”


‘Aduh, aku jadi takut’ Batin Gadis. ‘Apa aku harus jujur padanya sekarang?’


“Karena aku akan menghukummu jika kamu mencari masalah denganku .....”


Gluk!


Gadis sedikit menegang, meski Putra tersenyum kecil seraya menoel hidung Gadis saat berucap barusan.


“Jadi jangan mencari masalah denganku jika tidak ingin aku menghukummu, hem?”


‘Aku katakan sekarang tidak ya?’ Gadis bertanya-tanya dalam hatinya. ‘Tapi aku takut kalau Putra masih emosi karena kejadian tadi, jika begitu, aku sungguh takut kalau sampai dia marah seperti tadi. Oh Tuhaan, aku bingung!’


“Ya sudah,” Suara Putra membuyarkan lamunan Gadis. “Aku pamit sekarang.....” Ucap Putra. “Beberapa hari lagi aku akan datang bersama Anth” Sambung Putra dan Gadis mengangguk.


‘Ah iya. Saat itu saja kalau begitu. Nanti aku akan bicara pada Putra dan menceritakan semua pada Putra saat dia kesini lagi nanti’ Batin Gadis. ‘Ya saat itu saja’ Dan Gadis sedikit terkesiap saat merasakan belaian lembut di pipinya.


“Jaga dirimu baik-baik saat aku tidak berada didekatmu” Ucap Putra.


Gadis mengangguk lagi, namun sedikit was-was menatap Putra yang kemudian terkekeh kecil.


“Tenang saja, aku tidak akan mencium bibirmu saat ini.....”


Putra yang menyadari jika Gadis yang nampak was-was itu karena takut jika ia menciumnya, berkata seraya tersenyum.


“Meski aku sangat ingin melakukannya .....” Sambung Putra dan Gadis mendengus geli. Lalu terpaku sejenak saat Putra menarik pelan wajahnya dan mendaratkan satu kecupan dengan dalam di kening Gadis.


Dimana Gadis merasakan ada kupu-kupu beterbangan di dadanya. ‘Jika Putra sedang semanis ini, sungguh aku ingin sekali menahannya pergi’


“Sepertinya kamu tidak rela aku tinggalkan, hem?”


“A-pa?? .....”


Gadis tergugu.


‘Mengapa dia seolah tahu apa yang ada dalam hatiku sih?!!!.....’


“Atau jangan-jangan sekarang kamu menginginkan aku mencium bibirmu? .....” Bisik Putra di telinga Gadis. “Hem?.....”


“Sudah sana pergi!” Cebik Gadis seraya memukul pelan tangan Putra dengan spontan dan Putra langsung tergelak.


**


“Jika sempat, hubungi Anth pada jam istirahatmu seperti biasa”


Gadis mengangguk seraya tersenyum. “Iya, pasti!”


“Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu”


Gadis kemudian mengangguk lagi.


“Hati – hati ya? .....”


Gantian Putra yang mengangguk.


Putra hendak mengayunkan langkahnya, dan Gadis masih berdiri di tempatnya.


“Ngomong – ngomong Gadis, .....”


Putra menahan langkahnya.


“Ya?”


“Apa ada sesuatu yang kamu ingin sampaikan padaku?” Tanya Putra.


“Hm?..... a – apa?.....” Gadis balik bertanya. ‘A – apa..... Putra sudah mencurigaiku??.....’


Gadis kembali merasa was – was.


“Ya, entah. Makanya aku bertanya padamu. Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku?”


“Tidak” Gadis menggeleng pelan. ‘Tidak sekarang’ Batin Gadis.


“Ya sudah” Sahut Putra. “Aku pergi, hem?” Putra mengangkat satu tangannya.


“Iya, hati – hati” Ucap Gadis yang membalas lambaian tangan Putra.


“Sampai jumpa”


“Sampai jumpa .....”


Putra kemudian berlalu dari hadapan Gadis yang masih menatap punggungnya hingga Putra menghilang di belokan lorong untuk pergi ke mobilnya lalu kembali ke Villa bersama Suheil, namun membicarakan sedikit hal dulu dengan Arthur sebelum Putra pergi untuk kembali ke Villa nanti.


**


‘Kamu banyak melamun Gadis .....’


Putra sudah melangkahkan kakinya meninggalkan Gadis yang tadi masih berdiri di depan ruangan tempat Gadis biasa bekerja.


‘Seperti ada hal yang sedang mengganggu pikiranmu .....’


Putra membatin.


‘Atau memang ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku’


Putra mendengus pelan, lalu ia berbicara pada Arthur setelah Putra telah kembali ke tempat dimana Arthur tadi masih menunggunya.



"Find someone else to do the second thing that I asked you, Ar ....."


"( Cari orang lain untuk melakukan hal kedua yang aku minta padamu, Ar ..... )"


__ADS_1


To be continue ..


Enjoy...


__ADS_2