LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 435


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“Seperti yang dikatakan oleh Nyonya Bruna kepada saya, bahwasanya anda telah mengalami keguguran ya, Nyonya Gadis? –“


“Iya, Dok.”


“Dan penyebabnya adalah karena anda terjatuh dari tangga.”


“Iya, betul, Dok...”


“Lalu menurut Nyonya Bruna anda tidak mengalami demam sampai muntah yang menyebabkan sulit untuk makan dan minum –“


“Iya, Dok. Yang saya rasakan setelah sadar adalah sakit di kepala dan sekujur tubuh, serta juga perut saya yang terasa sangat melilit.”


“Baik –“


“Saya juga tidak mengalami pendarahan hebat, Dok...”


“Tapi saya akan tetap melakukan usg untuk melihat apakah ada jaringan dari janin yang tertinggal di rahim anda, Nyonya Gadis –“


“Baik, Dok –“


***


“Effect apa saja yang biasanya terjadi pada wanita yang telah mengalami keguguran?... Apakah membahayakan bagi istriku di kemudian hari?”


Pertanyaan yang kemudian tercetus dari mulut Putra pada dokter yang sedang ada di hadapannya sekarang, dikala Gadis sedang melakukan pemeriksaan di sebuah bilik yang tertutup gorden.


Kemudian penjelasan yang cukup panjang lebar, dokter tersebut katakan pada Putra----dan selanjutnya percakapan diantara dua pihak itu bergulir, namun terjeda selepas dokter yang berada di hadapan Putra itu memberikan saran pada Putra terkait Gadis----dimana Putra sempat terdiam sejenak.


“Apa lab disini tergolong lengkap?...” Selang berapa detik berikutnya, Putra kembali bertanya kepada dokter yang ada di hadapannya itu.


“Cukup lengkap, meski tidak selengkap rumah sakit di Ibukota... Namun untuk medical check up standar, fasilitas lab dalam rumah sakit ini sudah cukup memadai...“ jawab sang dokter.


Putra pun manggut-manggut selepas mendengar jawaban atas pertanyaannya sambil ia berdehem samar, lalu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Kemudian Putra melirik pada Arthur.


***


“Bisa saya meminta secarik kertas?”


Putra berbicara lagi sambil memandang pada dokter yang sedang bercakap dengannya itu.


“Tentu –“


“Terima kasih.”


“Ini, silahkan Tuan Putra –“


***


*Tolong lakukan tes darah pada istriku, dan tolong katakan itu secara spontan saja. Selain ada sesuatu yang ingin saya bicarakan secara pribadi dengan anda.


Apa yang Putra tulis pada selembar kertas memo yang diberikan dokter yang berada di hadapannya, setelah Putra memintanya.


Yang kemudian kertas tersebut ia berikan kembali pada sang dokter yang langsung menatap ke selembar kertas yang diberikan padanya itu.


Dokter pria spesialis kandungan itu sedikit heran dengan dahinya yang nampak sedikit mengernyit saat Putra menyodorkan kertas yang telah ditulisi Putra padanya.


Nampak juga ia melirik pada Arthur yang memberikan anggukkan sekali padanya, dimana setelahnya dokter pria tersebut melemparkan kembali pandangannya pada Putra----lalu mengangguk tak lama kemudian.


***


Gadis telah selesai diperiksa, dan dokter tersebut telah memberitahukan kondisi Gadis kepada yang bersangkutan dan semua orang yang menyertai istri Putra itu.


“Apa adalagi yang kamu ingin tanyakan pada Dokter Ridwan, Putra?...”


Gadis menoleh dan bertanya pada Putra yang langsung menjawabnya. “Tidak.”


***


Gadis pamit undur diri pada dokter bernama Ridwan yang sudah beberapa kali menanganinya itu, dengan disusul oleh Bruna yang juga berucap untuk berpamitan.


Sementara Putra hanya mengatakan ucapan terima kasihnya pada dokter tersebut, yang disusul juga oleh Arthur dengan melakukan hal yang sama seperti Putra yang melangkah setelah Gadis dan Bruna sudah melangkahkan kaki mereka menuju pintu ruang praktek dokter Ridwan untuk keluar dari sana----dengan suster yang tadi memeriksa Gadis berjalan di depan kedua wanita itu guna membukakan pintunya.


Dibelakang Putra, ada Arthur yang berjalan berdampingan dengan Dokter Ridwan----yang menyempatkan mengambil kesempatan menunjukkan secarik kertas yang tadi ditulisi Putra lalu diberikan padanya, dimana Arthur kemudian bersuara dengan pelan pada sang dokter, “Lakukan saja,” kata Arthur.


Dokter Ridwan pun mengangguk selepas mendengar ucapan Arthur tersebut, lalu kembali berjalan mengekori beberapa orang didepannya yang hendak keluar dari ruang prakteknya tersebut.


Dimana setelah Gadis-Bruna berikut Putra serta juga sudah berada di luar ruang praktek Dokter Ridwan namun ketiganya tidak segera hengkang menjauh dari ruang praktek dokter tersebut, dokter itu kemudian angkat suara.


“Mohon maaf Nyonya Gadis, ada pemeriksaan yang asisten saya lupa lakukan –“


“Apa itu, Dok?...” tanggap Gadis.


“Mengambil sample darah anda –“


***


Sempat sedikit merasa heran atas Dokter Ridwan yang memintanya untuk melakukan tes darah----dan setelah mendengar celetukan Putra atas ucapan Dokter Ridwan yang meminta Gadis melakukan tes darah, juga atas saran Arthur yang kemudian didukung Bruna----pada akhirnya Gadis mengiyakan untuk melakukan hal tersebut.

__ADS_1


“Baiklah,“ ucap Gadis.


“Tapi sebelumnya, apa anda semua dapat menunggu diluar? Karena saya ingin berbicara dengan asisten saya sebentar.”


“Tentu –“


“Silahkan saja.”


“Saya tinggal sebentar kalau begitu...”


***


“Nanti biar Bruna saja yang menemaniku ke labolatorium. Tes darah kan tidak lama? –“


“Okay.”


Putra menjawab cepat ucapan Gadis selepas Dokter Ridwan masuk ke dalam ruang prakteknya bersama suster yang merupakan asistennya.


‘Aku pikir Putra akan ngotot ikut menemaniku?’


Gadis langsung membatin heran, melihat Putra yang menunjukkan betul sisi posesifnya di ruang praktek Dokter Ridwan----namun sekarang suaminya itu malah nampak santai saja.


‘Tapi baguslah kalau dia tidak ngotot menemaniku ke labolatorium----karena seandainya petugas yang mengambil darah adalah laki-laki, bisa-bisa ia membuatku malu seperti saat di dalam ruangan Dokter Ridwan tadi atas kecemburuannya yang salah tempat itu –‘


***


“Mari Nyonya, saya antar anda ke labolatorium –“


“Oh iya, Suster –“


“Apakah ruangan itu jauh dari sini?”


“Tidak, Tuan.”


“Hanya Selurusan lorong ini lalu belok ke kanan, sudah langsung sampai di lab...”


“Ya sudah...”


“Kalau begitu mari?...”


Selepas Putra mengiyakan keterangan Dokter Ridwan, asisten dokter tersebut kembali mempersilahkan Gadis untuk mengikutinya.


“Apa sungguh tidak apa-apa jika tidak aku antar dan temani?” tanya Putra ketika Gadis hendak melangkah bersama Bruna dan asisten Dokter Ridwan.


“Sangat tidak apa-apa...” jawab Gadis.


“Ya sudah...” balas Putra.


Lalu Gadis dan Bruna melangkah dari tempat mereka menuju lab dalam rumah sakit dengan mengikuti langkah asisten Dokter Ridwan.


Dimana sesuai dengan apa yang dituliskan Putra pada selembar kertas beberapa saat lalu kala Gadis masih diperiksa dalam ruangan tersebut, bahwasanya Putra ingin bicara secara pribadi dengan Dokter Ridwan dengan tanpa adanya Gadis di dekatnya.


***


“Mohon maaf jika aku begitu menyita waktu anda, Doctor.”


“Tidak masalah Tuan Putra, mengingat istri anda terdaftar sebagai pasien eksklusif di sini. Dan sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan sedikit tentang kondisi Nyonya Gadis yang saya pikir lebih baik Nyonya Gadis tidak mengetahuinya dulu agar dirinya tidak khawatir, selain saya ingin betul-betul memastikan dugaan saya berdasarkan hasil usg yang tadi dilakukan oleh asisten saya melalui pemeriksaan lebih mendetail di labolatorium –“


“Apakah istriku diduga menderita suatu penyakit yang berbahaya? –“


“Jika dari hasil usg tadi, ada kejanggalan dalam rahim Nyonya Gadis----namun bukan sesuatu yang merupakan suatu penyakit macam kanker atau tumor.”


“Lalu apa? –“


“Adhesi Intrauterin atau mudahnya suatu perlengketan dalam rahim –“


“Seberapa berbahayanya? –“


“Berbahaya sekali tidak, namun buruknya bisa menyebabkan kemandulan dan komplikasi kehamilan pada beberapa wanita...”


“Apa dapat diobati? –“


“Biasanya kami lakukan pembedahan jika memang hal itu sudah positif diderita pasien.”


“Kalau begitu, seharusnya istriku langsung saja menjalankan tes secara keseluruhan di lab untuk memastikannya dengan cepat –“


“Saya ingin menyarankan itu memang. Jika anda setuju saya akan langsung menghubungi asisten saya di lab untuk melakukan sejumlah tes lain yang diperlukan, lalu anda silahkan menandatangani surat ijin tindakan pada Nyonya Gadis terkait beberapa pemeriksaan yang akan dirinya lakukan di lab serta rincian biayanya pun tertera di sini –“


“Aku mengijinkan. Hubungi saja asisten anda dan berikan berkas itu pada saya untuk saya tanda tangani...”


“Baik, Tuan Putra.”


***


Dokter Ridwan mengangkat gagang pesawat telepon yang ada di atas meja prakteknya kemudian terdengar berbicara tak lama kemudian, setelah sebelumnya Putra mewanti-wanti dirinya untuk mengatakan pada asisten dokter tersebut yang sedang bicara dengannya dan katakanlah sedang bersama Gadis termasuk juga Bruna agar memberikan alasan yang tidak sampai membuat Gadis khawatir tentang kondisinya karena istri Putra itu akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang bukan hanya sekedar tes darah.


“Jika saya tidak salah, istri anda pernah bekerja sebagai seorang perawat?...”


“Iya, benar...”


“Kalau begitu Nyonya Gadis akan menyadari sesuatu bila dia melakukan serangkaian tes yang akan dijalani...”


“Katakan saja aku ingin tahu kondisi tubuhnya secara keseluruhan. Istriku itu pasti memaklumi jika anda mengatakan jika itu adalah atas permintaanku yang mendadak...“

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu... saya akan menyuruh asisten saya menyampaikan alasan seperti yang anda bilang tadi,” ucap Dokter Ridwan sebagai balasan atas apa yang Putra katakan padanya barusan.


***


“Lalu mengenai anda yang ingin bicara secara pribadi dengan saya, Tuan Putra –“


“Ah ya...”


Putra segera merespons ketika Dokter Ridwan yang telah selesai bicara di telepon itu kemudian bicara untuk bertanya pada Putra.


Dimana setelahnya Putra menoleh pada Arthur yang duduk di sampingnya, dimana pria itu mengangguk paham sambil merogoh kantong kemejanya.


“Aku tidak tahu apakah lab di sini memadai untuk memeriksa kandungan dalam serbuk ini...”


Putra kemudian bicara lagi pada Dokter Ridwan sambil memberikannya benda berbentuk serbuk kasar dalam wadah plastik yang tadi Arthur keluarkan dari saku kemejanya.


“Namun saya butuh bantuan anda untuk tahu kandungan yang ada di dalam serbuk teh ini. Aku mencurigai ada kandungan zat lain di dalamnya dan bukan zat yang bagus karena cairan dari rendaman serbuk ini-mungkin, sudah aku cek dan ada perubahan warna di alat perak yang aku gunakan untuk memeriksanya... hanya saja aku tidak bisa memastikan kandungan apa sebenarnya yang tercampur dalam serbuk teh ini.”


“Tapi aromanya lebih kepada jamu ketimbang teh.”


“Ja-mu? –“


“Ramuan tradisional –“


“Ah ya, aku ingat apa itu ja-mu. Ibuku pernah aku tahu meminumnya saat berkunjung ke tempat kelahirannya ini.”


“Nyonya Gadis meminum jamu saat dia sedang hamil? –“


“Aku kurang tahu pasti, karena aku hanya melihat istriku itu sekali meminumnya ketika ia telah keguguran dan dia mengatakan padaku jika ini teh rempah untuk memulihkan stamina?...”


Putra memberikan keterangannya pada Dokter Ridwan, “Yah semoga saja ini memang Nyonya Gadis pasca keguguran –“


“Memang kenapa jika dia meminumnya saat hamil? Seingatku ja-mu itu adalah pilihan pengganti obat yang digunakan orang-orang pribumi di sini, bukan? –“


“Iya, betul. Tapi tetap tidak disarankan pada wanita hamil untuk mengkonsumsinya, karena ada beberapa kandungan dari rempah tradisional dalam jamu memberi dampak negatif pada kehamilan. Walau masih banyak juga orang asli Indonesia yang percaya pada khasiat jamu untuk beragam hal. Namun dalam dunia medis, ya tidak dianjurkan. Karena ragam rempah kan ragam khasiatnya. Namun jika salah memperuntukkan dalam hal ini dikonsumsi oleh wanita hamil, maka efek yang harusnya baik malah jadi kebalikannya–“


“Apa itu terkait dengan adhesi yang anda katakan tadi? –“


“Ya. Itu salah satunya,” tukas Dokter Ridwan, lalu Putra pun terdiam sejenak.


Hanya sebentar saja, karena setelahnya Putra kembali berbicara.


“Kalau begitu apa anda berkenan untuk memeriksakan serbuk ini? –“


“Bisa saja, tapi –“


“Bukan maksudku merendahkan...”


Putra menukas Dokter Ridwan yang nampak ragu-ragu.


“Tapi mungkin, ini dapat membuat anda mengatakan ‘Ya’ atas permintaanku...”


Sambil Putra meletakkan map berwarna cokelat dan nampak tebal di atas meja, yang sebelumnya dikeluarkan Arthur dari tas yang ia bawa.


“Dan memprioritaskannya, karena selain aku ingin anda mengesampingkan urusan anda yang lain dan fokus memeriksakan apa sebenarnya serbuk ini... saya juga ingin anda memberikan saya hasilnya secepat mungkin –“


***


Dokter Ridwan berdehem saat Putra bicara kalimat yang sebelumnya, dengan satu tangannya mendorong amplop tebal itu ke arah dokter tersebut yang kemudian hendak bicara----namun keburu Putra bersuara lagi.


“Jumlah rupiah yang ada di dalam amplop ini, kiranya cukup untuk biaya liburan anda dan keluarga ke luar negeri selama sepekan dan jumlahnya cukup untuk mendapatkan fasilitas liburan di atas standard...”


Dokter Ridwan lalu terdiam, memandang pada Putra lalu pada amplop tebal dihadapannya. Lalu memandang pada Arthur yang kemudian angkat suara, “Silahkan lihat saja isi amplop itu bahkan anda silahkan saja untuk menghitungnya jika ragu jumlahnya diperkirakan seperti yang Tuan Putra katakan –“


“Tenang saja, ini hanya antara kita –“


“Baiklah kalau begitu... saya akan langsung melakukan pengecekan pada serbuk ini dan segera melaporkan hasilnya pada anda,Tuan Putra –“


“Senang bekerjasama dengan anda, Dokter Ridwan... selebihnya silahkan berbincang dengan Arthur, karena aku ingin melihat istriku sekarang... Ar, berikan nomor telefon villa padanya agar dapat langsung menghubungi setelah hasil pemeriksaan dari serbuk itu keluar...”


Putra lalu berujar seraya ia mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Dokter Ridwan, dan bicara pada Arthur setelahnya.


“Yes, Boss –“


“Jika memang memungkinkan, aku ingin mendapatkan hasilnya hari ini juga, mengenai apa serbuk itu sebenarnya, termasuk hasil pemeriksaan istri saya secara keseluruhan...“


“Saya akan sangat mengusahakannya,” jawab Dokter Ridwan.


“Terima kasih, kalau begitu. Dan tolong jangan mengecewakan saya –“


‘Karena kemungkinan Dokter akan berakhir pada sesuatu yang tidak baik yang terjadi baik pada diri atau karir anda, Dokter Ridwan...’


Arthur bermonolog dalam hatinya terkait ucapan Putra saat pria itu tengah berdiri dan hendak keluar dari ruang praktek Dokter Ridwan.


‘Mengingat bosku satu ini, tidak bisa dibuat tidak senang oleh orang-orang luar,’ batin Arthur lagi, yang berniat memperingatkan Dokter Ridwan agar tidak mengecewakan Putra.


Yang meski belum lama bekerja pada Putra----istilahnya.


Walau Arthur sendiri masih tetap menjalankan profesinya sebagai akuntan, namun selebihnya memang dia katakanlah bekerja juga sebagai ‘Pengurus’ Putra dan keluarganya sejak dibawa oleh Danny.


Dan sedikit banyak, Arthur sudah paham bagaimana tabiat Putra.


‘Pada seorang perempuan saja Tuan Putra tak segan bertindak kasar, apalagi pada pria? Yang walau tidak besar kesalahannya, tapi hukuman dari Tuan Putra pasti sampai pada mereka yang mengecewakannya...‘

__ADS_1


******


To be continue.......


__ADS_2