
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Bruuk!
“AAA..”
🔵🔵🔵
Indonesia,
“How is she, Bru?” Garret yang mengangkat Gadis dari tempatnya tergeletak langsung bertanya pada Bruna yang telah dengan cekatan memeriksa Gadis.
“*No*serious wounds ( Tidak ada luka serius ) –“
“Thanks God –“
“She still unconscious perhaps of the shock when she fell ( Dia masih tidak sadarkan diri mungkin karena syok saat terjatuh )”
“But I think we still need to take her to the hospital ( Tetapi menurutku kita tetap harus membawanya ke rumah sakit )..”
Arthur menyampaikan pendapatnya.
“She’s bleeding ( Dia pendarahan ) –“
“Hhhhh.” Bruna menghela berat nafasnya. “That’s her baby ( Itu bayinya )”
“Oh man –“
"It's quite late and the road here is quite dark at this time, I guess ( Ini sudah larut dan jalanan di sini cukup gelap pada jam seperti ini, aku rasa ) --"
"You're right."
"But wait for about 30 minutes if Gadis still not wake up then we take her to hospital ( Tetapi tunggu sekitar 30 menit jika Gadis belum bangun maka kita bawa dia ke rumah sakit )"
"Alright, then, Bru."
“Try to reach Putra. Perhaps they’re already finish or at least the save line already connected there ( Cobalah untuk menghubungi Putra. Mungkin mereka sudah selesai atau setidaknya saluran aman sudah tersambung di sana ) –“
“I’ll try now ( Aku akan mencobanya sekarang )”
🔵🔵🔵
Pergerakan Gadis kemudian terlihat di atas ranjang.
“Sshh ...” Lalu suara ringisan Gadis terdengar di detik setelahnya.
“Gadis ...”
Bruna memanggil pelan.
Begitu juga Anthony yang ikut memanggil pelan Gadis dengan wajahnya yang sedih setelah sebelumnya ia karena panggilan alam, lalu mendengar suara teriakan dari arah luar kamarnya – dan ia pun langsung berlari keluar kamar.
“Bru –“
“Don’t move, Gadis ...”
“Mamaa ... hiks ... hiks ...”
🔵🔵🔵
Gadis tersenyum tipis melihat Anthony yang menangis khawatir di sampingnya, lalu membelai lembut kepala Anthony untuk menenangkan bocah tampan itu.
“Mama okay, Anthony ...” kata Gadis pada bocah tampan itu kemudian.
“I was so afraid ( Aku sangat takut tadi ), Mama ...”
Gadis pun mendekap Anthony, dengan dirinya yang masih agak lemah.
“But I’m also so sad ... because my ( Tapi aku sedih ... karena a )—“
“Bru ... my baby and Putra is okay, right? ( bayiku dan Putra baik – baik saja, bukan? )”
Gadis menukas ucapan Anthony yang masih tersedu, saat bocah tampan itu mengelus perutnya.
Dimana Gadis langsung teringat dengan apa yang telah menimpanya, yang mana membuatnya langsung teringat pada janin di perutnya.
🔵🔵🔵
“I’m sorry to say this, Gadis. But your baby can’t survive ( Maafkan aku yang harus mengatakan ini, Gadis. Tetapi bayimu tidak selamat )”
Jawaban Bruna membuat gadis melirih lalu meluruh, lalu menanyakan kepastian lagi pada Bruna yang Gadis terka jika saudari iparnya itu yang telah memeriksa dan merawatnya saat ia tidak sadarkan diri.
Kemudian Gadis kembali meluruh dengan lebih sedih setelah mendengar ucapan Bruna. Dimana Bruna tidak tega melihat Gadis yang meluruh, dan Anthony ikutan sedih.
Tak lama, Garret kembali datang ke kamar Putra dan Gadis.
“Can you reach him? ( Kamu dapat menghubunginya? )” Bruna yang melihat kehadiran Garret itu kemudian berdiri dan pamit untuk undur diri sebentar pada Gadis yang tidak memperhatikan ucapannya karena masih sibuk terisak dalam penyesalan.
Melihat Gadis yang nampak sedang menangis, Garret lalu mengajak Bruna untuk bicara di luar kamar Putra dan Gadis. “Putra hasn’t back to Salisbury yet ( Putra belum kembali ke Salisbury )—“
“But you left a message? ( Tapi kau meninggalkan pesan? )”
“I did.”
“Can you stay inside for a while? I want to take some medicine for Gadis ( Kau bisa tinggal sebentar? Aku ingin mengambil beberapa obat untuk Gadis )—“
“Ya sure.”
🔵🔵🔵
“Call me or Garret if there’s any call from England ( Panggil aku atau Garret jika ada panggilan dari Inggris ), Ar ...”
Bruna yang selesai mengambil beberapa obat yang ia perlukan untuk Gadis itu kemudian berbicara pada Arthur yang berada di ruang kerja, karena sebagian besar obat – obatan koleksi Bruna memang memiliki satu lemari yang diletakkan di ruang kerja villa.
“I’ll answer it ( Biar aku yang menjawab ) ...”
Lalu Bruna berkata lagi, karena selepas ia berbicara pada Arthur, deringan telepon saluran rahasia mereka terdengar.
__ADS_1
“Yes, Ma’am ( Iya, Nyonya ) ...”
“It might be Ad or even Putra who already arrive at his family mansion ( Itu mungkin saja Ad atau Putra yang sudah kembali ke kediaman keluarganya )”
Dan seperti dugaan Bruna, memang Putra lah yang menghubungi saluran aman mereka yang berada di villa. Yang mana suara Putra terdengar amat gusar. Lalu terdengar agak putus asa kemudian.
🔵🔵🔵
England,
“Just take care a good of her until I’m home ( Rawat dia dengan baik sampai nanti aku pulang ) ...“
Putra yang menutup pembicaraannya dengan Bruna via saluran aman mereka. Kemudian mengakhiri sambungan teleponnya dengan Bruna, setelah sahutan saudarinya dari ujung saluran terdengar.
“Hhh.” Putra berkesah berat kemudian.
“How was Gadis? ( Bagaimana dengan Gadis? )” Addison yang langsung bertanya pada Putra, dimana dia dan Damian berikut lainnya segera mengekori Putra saat pria itu berlari ke tempat saluran aman dipasang.
“She is fell from second floor ( Dia memang terjatuh dari lantai dua ) –“
“Oh God –“
“But Bruna said that Gadis doesn’t get serious injured ( Tapi Bruna mengatakan jika Gadis tidak terluka serius ) –“
“Thanks God then –“
“But she’s get miscarriage ( Tapi dia keguguran )”
“Very sorry to hear that, Brother.”
🔵🔵🔵
Addison dan lainnya memberikan rematan dukungan di bahu Putra yang mengusap agak kasar wajahnya lalu bersandar putus asa di kursi yang sedang ia duduki sekarang. Putra sejenak terdiam, lalu didetik berikutnya dia berkata, “Dev, prepare the plane no matter what ( siapkan pesawat bagaimanapun itu )”
Devoss langsung mengiyakan ucapan Putra. Tak perlu berpikir lama untuk mengabulkan permintaan Putra yang ingin melakukan penerbangan antar negara dengan sangat mendadak itu.
Bekerja sebagai orang kepercayaan Ramone selama ini, telah cukup memberikan Devoss banyak ilmu dari ragam jenis pekerjaan baik yang legal maupun ilegal. Termasuk memiliki daftar orang-orang yang dapat ia ajak kerjasama.
“Use the jet behind. I’ll manage to make the flight save ( Gunakan jet di belakang. Aku yang akan mengurus agar penerbangan aman )”
Hizkia yang kemudian membantu Devoss mengurus penerbangan Putra yang hendak pulang ke Indo dengan sangat mendadak. “I think both of you might go with Putra ( Aku rasa kalian berdua bisa pergi dengan Putra ) –“
“Ya I guess so. What left to do just to manage the legalicy of Anth as the official heirs of Kingsley Smith family also the pers conference ( Ya aku rasa begitu. Apa yang tinggal dilakukan hanya mengurus legalitas Anth sebagai pewaris resmi keluarga Kingsley Smith juga konferensi pers )”
Damian yang kemudian angkat suara.
“And the pers conference need Anth’s presence ( Dan konferensi pers membutuhkan kehadiran Anthony )”
Damian bicara lagi.
“About the legalicy and everything connect that, I think Hiz can handle it without our presence ( Mengenai legalitas dan semua yang berhubungan dengan itu, aku rasa Hiz dapat mengurusnya tanpa kehadiran kita )” tambah Damian.
“Dami was right. But I think I’ll stay to help Hiz to make everything done sooner ( Dami benar. Tapi aku pikir aku akan tinggal untuk membantu Hiz agar semuanya selesai dengan lebih cepat )” timpal Addison.
🔵🔵🔵
“The jet is ready, but can landing only at capital because I remember we still don’t have enough space near our villa and our old jet is there ( Jetnya sudah siap, tapi hanya dapat mendarat di ibukota karena aku ingat kita tidak memiliki ruang yang cukup dekat villa kita dan lagi jet lama kita ada di sana )”
“Safe flight then –“
“Thanks. If it’s possible, don’t wait until we get back here for you to go to our villa if all are done and just waiting to take Anth here ( Terima kasih. Jika memungkinkian, jangan tunggu sampai kami kembali ke sini untukmu pergi ke villa setelah semua selesai dan hanya tinggal membawa Anth ke sini saja )”
Putra berkata pada pada Addison yang langsung mengangguk.
🔵🔵🔵
Indonesia,
“Tuan Putra, Tuan Ramone, Tuan Damian, Tuan Devoss. Selamat datang kembali ...” Pak Abdul yang selanjutnya menyapa ke empat orang yang baru turun dari dua mobil yang berbeda setelah para bodyguard yang sedang bertugas menyapa ke empatnya duluan.
“Terima kasih, Pak Abdul,” jawab empat pria itu kurang lebihnya.
Yang mana Putra, Ramone, Damian dan Devoss datang dengan bersamaan karena Ramone yang sedang berada di ibukota lalu mendapatkan kabar jika Putra akan kembali, langsung mengosongkan semua jadwalnya untuk menyambut Putra dan rombongan yang memang menggunakan jet miliknya.
Dimana jet tersebut mendarat di sebuah bandara tempat Ramone memiliki area yang ia sewa untuk parkir beberapa jet elite yang ia punya.
Dan beberapa jet elite itu memang salah satu bisnis Ramone di Indonesia.
Makanya Ramone sudah cukup lekat dengan negara yang sudah ia putuskan untuk ditinggali setelah menjadi bagian dalam keluarga baru Putra.
🔵🔵🔵
“Maaf jika tidak ada persiapan kedatangan anda semua karena tidak ada pemberitahuan pada saya.” Pak Abdul bicara lagi.
“Semuanya mendadak Pak Abdul,” ucap Putra menanggapi ucapan Pak Abdul dengan cepat, lalu Putra langsung bertanya dengan tergesa pada kepala asisten rumah tangga di villa itu. “Dimana istriku?”
“Nyonya Gadis ada di kamar anda berdua bersama yang lainnya, Tuan –“
“Baik. Terima kasih –“
🔵🔵🔵
Putra lalu melangkahkan kakinya lebar – lebar menuju kamarnya dan Gadis.
Tak lagi menengok kanan kiri, Putra fokus untuk segera melihat sendiri bagaimana keadaan Gadis.
“PAPAA!”
Putra yang telah berada di ambang pintu kamarnya dan Gadis yang terbuka, dengan kakinya yang sudah berada di area kamar--disambut dengan seruan amat bersemangat dari mulut Anthony yang langsung bangkit dan loncat dari kamar lalu segera berhambur kepada Putra.
Yang tentu saja tubuh Anthony langsung Putra sambar dan ia gendong sedetik kemudian. Sambil Putra ciumi wajah Anthony dan menanyakan kabar bocah kesayangannya itu, yang kemudian mengatakan rasa senangnya karena Putra yang telah kembali ke villa tanpa Anthony duga sebelumnya jika sang Papa akan kembali dengan cepat—sambil Putra melangkah menuju Gadis yang terduduk di ranjang mereka sambil tersenyum menatap Putra.
“Putra ...”
Gadis memanggil Putra lagi, setelah sebelumnya menyebut nama suaminya itu bersama Bruna dan Garret tepat setelah Anthony berseru sumringah sambil menoleh ke arah pintu kamarnya dan Putra.
Putra menurunkan Anthony dari gendongannya dengan cepat namun juga berhati – hati, dimana Anthony--Putra turunkan tepat disisi ranjang tempat Gadis berada. Lalu Putra langsung memeluk Gadis yang juga langsung membalas pelukannya.
Lalu Gadis terisak dan mengadu pada Putra tentang apa yang sudah terjadi padanya juga janin dalam kandungannya. Kata maaf pun Gadis sematkan dalam aduan bercampur isakannya. Berpikir, jika Putra pasti akan memarahinya.
__ADS_1
🔵🔵🔵
“Ini bukan kesalahan kamu ...” kata Putra dengan lembut pada Gadis yang sudah ia tangkup wajahnya dan Putra menyelipkan senyuman. “Aku masih memiliki banyak stok benih untuk membuatmu hamil lagi”
Putra berbisik di telinga Gadis kemudian yang langsung terkekeh kecil setelah mendengar bisikan Putra yang bermakna kelakar itu.
“Yang penting kamu tidak terluka serius,” kata Putra yang sudah membuat wajahnya dan Gadis saling berhadapan lagi, dengan menyertakan senyuman juga. “Jadi jangan membebani pikiranmu karena kehilangan bayi pertama kita ini, hem?”
Putra berkata lagi dengan lembut pada Gadis yang kemudian mengangguk dan tersenyum.
Lalu Putra merubah posisi duduknya, dengan Gadis yang masih ia biarkan bergelayut manja padanya, dan sedikit mengoceh soal penyesalannya karena sampai membuat janin dalam perutnya gugur.
Sambil juga Putra menerima ucapan selamat datang dari Bruna dan Garret yang tertunda, yang Putra balas dengan anggukkan dan senyuman.
Kemudian Putra mengedarkan pandangannya, saat Gadis di dekati oleh Ramone dan Damian. Dimana dahi Putra langsung mengernyit heran ketika matanya tertuju pada dua orang wanita yang asing baginya.
“Who are they? ( Siapa mereka? )“
Putra langsung bertanya.
Dimana ekspresi herannya berganti menjadi dingin.
Dan semua orang yang mendengar pertanyaan Putra itu langsung menoleh ke arah yang sedang Putra tatap.
🔵🔵🔵
Gadis yang langsung menggigit bibirnya saat Putra bertanya sambil memandangi dua orang wanita yang adalah ibu dan saudari tirinya itu, hendak menjawab pertanyaan Putra.
Namun belum sempat Gadis bersuara, Putra sudah kembali berkata.
“And who let people that I don’t know be in my room? ( Dan siapa yang membiarkan orang yang tidak aku kenal berada di kamarku? )”
Dan kali ini, tidak hanya nada suara Putra yang dingin, namun ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan dengan masih menatap tajam pada ibu dan saudari tiri Gadis.
🔵🔵🔵
“Me – mereka ...”
“Halo, Mister ... ayem Madya, sau – kenalin Dis, aku sama suami kamu. Aku ga bisa ngenalin diri pake bahasa londo ...”
Namun saat Gadis hendak menjawab pertanyaan Putra yang kini sudah menoleh padanya, Madya dengan penuh percaya diri sudah melangkahkan kakinya mendekat ke ranjang Gadis.
Membuat Putra spontan menoleh ke arah Madya yang tersenyum menggoda memandang Putra sambil mengulurkan tangannya dengan suara lembut yang dibuat - buat. “Halo, Mister –“
“Apa aku menyuruhmu untuk mendekat padaku?” tukas Putra dengan tajam pada Madya.
Membuat saudari tiri Gadis itu langsung cemberut dan menurunkan tangannya. Dimana Putra menoleh lagi ke arah Gadis.
🔵🔵🔵
“Tuan bisa bahasa Indonesia ternyata –“
“Aku tidak menyuruhmu bicara.”
Putra menukas lagi ucapan Madya yang masih bertahan di posisinya.
“Maaf. Tapi Tuan, rasanya kita pernah –“
“Apa kau tuli?!”
Putra berseru tajam pada Madya yang tidak paham pada peringatannya.
“Aku tidak menyuruhmu bicara! Keluar kau!” Putra langsung berdiri dan mengarahkan telunjuknya dengan tajam ke arah pintu, sambil memelototi Madya.
“Putra ...” lirih Gadis.
🔵🔵🔵
“Tunggu apalagi?! Keluar cepat!” bentak Putra pada Madya dengan mengabaikan lirihan Gadis yang juga sudah memegang satu lengan Putra. “Kau juga keluar dari kamarku!”
Putra lalu menunjuk ibu tiri Gadis yang sudah nampak ketakutan.
Dimana ibu tiri Gadis itu langsung menjawab dengan tergagap dan amat pelan dari tempatnya, ucapan Putra yang nadanya membentak itu.
Lalu langsung melangkah dengan cepat setelah menarik anak perempuannya yang nampak terpaku di posisinya saking syok mendengar bentakan Putra yang keras itu.
🔵🔵🔵
“Papa ...” lirihan Anthony yang memanggilnya seraya menggenggam satu tangannya, membuat Putra kemudian menghela nafasnya.
“I’m sorry if I shocked you ( Maafkan aku jika mengejutkanmu ), Anth.”
Putra lalu mensejajarkan tingginya dengan Anthony.
“Now could you please go back to your for a while? I need to talk with the adults ( Sekarang apa bisa kamu pergi ke kamarmu untuk sementara? Aku perlu bicara dengan para orang dewasa )”
“Sure, Papa.”
“Come, Anth. Opa will accompany you ( Ayo, Anth. Kakek yang akan menemanimu )”
Ramone mengulurkan tangannya yang langsung disambar oleh Anthony yang mengangguk patuh.
“Who are they? ( Siapa mereka? )“
Putra kembali melontarkan pertanyaan, setelah Anthony dan Ramone telah masuk ke dalam kamar Anthony melalui pintu penghubung yang kemudian ditutup rapat oleh Devoss.
“Jangan katakan , jika dua wanita itu adalah ibu dan saudari tirimu, Gadis.” Namun sebelum ada yang sempat menjawab pertanyaan Putra sebelumnya, Putra sudah keburu bicara lagi.
Tidak dengan nada tinggi, namun datar suara Putra sambil memandang serius pada Gadis.
Dimana Gadis menggigit bibir dalamnya. Lalu dengan takut – takut Gadis mengangguk sambil memandang pada Putra.
Putra menghela nafasnya kemudian. Lalu Putra melontarkan satu ucapan lagi, dengan dirinya yang masih menatap Gadis.
“Leave us ( Tinggalkan kami )“
Dan ucapan Putra itu dipahami oleh mereka yang masih berada di dalam kamar Putra dan Gadis.
Bahwasanya Putra ingin dibiarkan bicara berdua saja dengan Gadis yang masih Putra pandangi dengan serius.
__ADS_1
🔵🔵🔵
To be continue ...