LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 422


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia .....


“Ya sudah. Aku akan segera meminta Arthur mengeceknya .. aku tinggal ya sekarang ya? Dan ingat pesanku tadi.”


Adalah Putra yang berpamitan pada Gadis, selepas ia dan istrinya itu membahas tentang surat –surat kepemilikan tanah dan rumah orang tua Gadis ---- yang ingin Gadis ketahui apakah surat – surat tersebut ada di tangan Putra dan para saudaranya yang sejauh Gadis tahu, telah mengambil alih perihal surat – surat berharga milik masyarakat di desanya yang digadaikan kepada seorang rentenir, dimana rentenir tersebut sudah meninggal.


“Iya,” jawab Gadis atas Putra yang hendak pamit sebentar darinya itu.


Dan sesudahnya, Putra kemudian keluar dari kamarnya dan Gadis tersebut untuk pergi ke ruang kerja utama villa dan melakukan urusannya di sana.


Sementara Gadis patuh mengikuti ucapan Putra yang tidak memperbolehkannya turun dari ranjang mereka, selain memang ia merasakan badannya masih agak lemas.


Namun duduk diam tanpa melakukan apa – apa juga membuat Gadis bosan dan perih serta nyeri di bagian tubuhnya malah kian terasa, jadi Gadis memilih membaca novel saja yang sebelumnya sempat ia mintakan Putra untuk ambilkan pada rak buku dalam kamar mereka itu.


Sebenarnya Gadis juga berniat untuk menemani Anthony karena teringat jika Ramone yang sedang menjaga Anthony saat ini, karena sejauh yang Gadis ingat ---- Ramone juga baru datang seperti Putra dan berpikir pria yang Gadis anggap sebagai ayah mertuanya meski Ramone bukan ayah kandung Putra, perlu beristirahat juga.


Hanya saja karena ia sempat membuat Putra kesal karena ibu dan saudari tirinya yang Gadis ajak tinggal tanpa seijin Putra lebih dulu, Gadis jadi urung menyambangi Anthony ke kamarnya. Karena tidak ingin membuat suaminya itu kesal lagi padanya jika tidak menuruti apa yang tadi Putra katakan, selain Gadis merasa bersalah pada Putra, karena ia menganggap dirinya ceroboh hingga sampai kehilangan bakal calon anak pertamanya dan Putra.


Gadis lalu berkesah sendu sambil agak menunduk menatap perutnya.


“Hhhh.” Satu tangan Gadis yang bebas mengelus pelan bagian luar perutnya yang tertutup pakaian yang ia kenakan. “Maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu, Nak.”


Gadis bergumam sendu kemudian.


‘Tapi jika aku ingat – ingat, setelah aku merasa pusing dan ingin berbalik untuk kembali ke kamar .. rasanya punggungku seperti ada yang mendorong sebelum aku sempat berbalik? ..’


Gadis membatin kemudian.


‘Apa mungkin ada yang sengaja mendorongku? ..’


Sambil Gadis tercenung.


‘Madya dan ibu? ..’


Pikiran Gadis tertuju kepada dua orang itu kemudian.


‘Tapi tidak mungkin .. aku ingat tidak ada sesiapapun saat aku keluar kamar ..’


Dimana Gadis menyangkal pikirannya itu.


‘Lagipula .. untuk apa Madya dan ibu mencelakaiku? .. kalau aku sampai meninggal juga kan mereka akan disuruh pergi dari sini oleh Putra dan keluarganya pasti. Aku yakin mereka pun berpikir seperti itu. Karena dengan tidak ada aku di sini, Madya dan ibu tidak lagi ada urusan dengan Putra dan keluarganya. Dengan aku yang masih ada saja .. Putra sudah ingin cepat – cepat mengusir mereka .. apalagi jika aku ‘tidak ada’? ..’


Gadis bermonolog panjang dalam hatinya.


‘Hhhh. Mungkin hanya perasaanku saja jika aku terjatuh karena didorong seseorang.’


Gadis kemudian beralih untuk meneruskan membaca novel saja, daripada dia berpikir yang tidak – tidak.


Begitu pikir Gadis yang kembali mengangkat novel yang sempat ia letakkan di sampingnya saat ia teringat pada bakal calon anaknya dan Putra yang sudah tidak ada lagi di dalam perutnya.


Dimana sebelumnya Gadis mencetuskan harapannya dalam hati. ‘Semoga aku dan Putra cepat kembali diberi pengganti anak kami yang tidak selamat karena kecorobohanku itu –‘



“Where’s Bru? ..”


Putra yang sudah berada di dalam ruang kerja utama bertanya pada beberapa orang yang ternyata ada juga di sana.


“Bru went to Anth’s room ( Bru ke kamar Anth ) ..”

__ADS_1


Garret yang menjawab pertanyaan Putra.


“So Vader can take a rest ( Jadi Vader dapat beristirahat ) –“


“Hem ..”


Putra mengangguk setelah mendengar jawaban Garret.


“I’ll go to Anth’s room after I call Ad ( Aku akan ke kamar Anth setelah menghubungi Ad )”



“You guys better take a rest too ( Kalian sebaiknya beristirahat juga ) ..”


Putra lalu berkata sambil memandang pada Damian dan Devoss yang juga ada dalam ruang kerja utama villa bersama Garret dan Arthur.


Damian langsung berdecih geli.


“Better you said that to yourself ( Sebaiknya katakan itu pada dirimu sendiri )” cetus Damian kemudian.


“Indeed ( Benar sekali )”


Garret menimpali. Putra langsung mendengus geli selepas mendengar perkataan Damian yang kemudian ditimpali oleh Garret.


“Beside, you should not left Gadis alone ( Lagipula kau seharusnya tidak meninggalkan Gadis sendiri )”


“Just a minute to call Ad ( Hanya sebentar saja untuk menghubungi Ad )”


“It’s still dawn in England, if you forget Mister Putra ( Ini masih dini hari di Inggris, jika anda lupa Tuan Putra ) –“


“Ah ya, I don’t pay attention of it ( Ah iya, aku tidak memperhatikannya ) ..” tukas Putra pada cibiran kecil Damian.


“Because it was closed by your upset ( Karena itu tertutup dengan kekesalanmu ) ..” timpal Damian.


“And you should hold your temper to Gadis. Remember her condition ( Dan sebaiknya kau menahan emosimu pada Gadis. Ingat kondisinya )”


Putra lalu mengambil duduk di sofa single yang kosong di samping Garret.


"Just not comfortable with that 2 ladies, especially after see the attitude of the young ( Hanya tidak merasa nyaman pada 2 wanita itu, terutama setelah melihat sikap yang mudanya )"



“What makes you look that you quite dislike to Gadis’ step mother and sister? ( Apa yang membuatmu terlihat tidak menyukai ibu dan saudari tiri Gadis? )” Garret langsung bertanya pada Putra selepas salah satu saudara angkatnya itu telah duduk dan sedikit melandaikan tubuhnya. Dimana Putra langsung menjawab pertanyaan Garret tersebut.


“Gadis ever told me about them. Not the good things about how they were treated her. And somehow—even Gadis told me if they’re change become that good now, I can’t believe them ( Gadis pernah cerita padaku tentang mereka. Bukan hal yang baik bagaimana mereka memperlakukan Gadis dulu. Dan entah mengapa—meski Gadis mengatakan padaku jika mereka telah berubah baik, aku tetap tidak mempercayai mereka )”


Putra hanya mengatakan garis besarnya saja pada empat pria yang sedang bersamanya itu, tentang alasan mengapa ia terlihat kesal tadi saat melihat ibu dan saudari tiri Gadis yang begitu asing baginya, ditambah sikap Madya ---- Putra anggap begitu menyebalkan. Dan kalimat yang menggambarkan kecurigaan, kemudian tercetus dari mulut Putra.


“So coincidentally, Gadis got an accident here when that 2 ladies are here too ( Kebetulan sekali, Gadis mendapatkan kecelakaan disini, saat 2 wanita itu juga ada di tempat ini )---“


“Well ..” sambar Garret. “You never told us about that story of Gadis and that two ladies, so me and Bru didn’t aware. But I’m sorry for that ( Kau tidak pernah mengatakan cerita Gadis yang itu mengenai dua wanita tersebut, jadi aku dan Bru tidak waspada )”


“Never mind ( Sudahlah )”


“But I think what happened with Gadis and that two ladies here, it was just a fortuity ( Tapi aku pikir apa yang terjadi dengan Gadis dan keberadaan dua wanita itu di sini, hanya kebetulan semata )”


Garret menyampaikan pendapatnya.


“I hope so ( Aku harap begitu )”


Putra menanggapi dengan nampak santai.


“But if both of them are connected to what happen to Gadis, I won’t forgive them ( Tetapi jika mereka berdua ada hubungannya dengan apa yang sudah menimpa Gadis, aku tidak akan mengampuni mereka )”

__ADS_1


Namun kemudian ---- meski Putra masih terlihat nampak santai,  nada keseriusan nan tegas tergambar dari kalimatnya yang barusan, dan empat pria yang bersamanya itu mengangguk paham. Lalu Garret dan Damian membatin hal yang sama kurang lebihnya, dimana hati mereka sama berbisik ---- jika Putra memiliki firasat, seringnya firasatnya tak meleset.


Tak terbayang nasib buruk yang akan menimpa ibu dan saudari tiri Gadis jika firasat kecurigaan Putra pada wanita itu yang telah membuat Gadis sampai terjatuh dari tangga, benar adanya. Karena Putra akan menjadi raja tega jika ada yang menyakiti orang – orang terdekatnya, apalagi wanita yang ia cintai.


Begitu kiranya pikir Garret dan Damian.


Toh baru – baru ini Damian telah menyaksikan sendiri, bagaimana dengan tanpa perasaannya Putra menembak mati istri Jaeden demi pria itu merasakan apa yang Rery rasakan saat melihat istrinya meregang nyawa di depannya karena perbuatan Jaeden ---- berdasarkan cerita Anthony.


Bagaimana jika wanita yang Putra cintai dibuat celaka? ... Bahkan sampai Putra kehilangan calon anaknya ---- dan hal itu adalah sebuah kesengajaan. Rasanya Putra tidak akan berbelas kasih pada ibu dan saudari tiri Gadis jika memang ada bukti yang menjadikan keduanya tersangka dan memiliki niat jahat pada Gadis.


Tak peduli mereka perempuan, Putra pasti tidak akan segan untuk memberikan ganjaran yang buruk pada keduanya tanpa peduli apapun jika kecurigaannya benar.


Garret dan Damian paham betul hal itu.


⭐⭐⭐


“Apa ini?”


“Teh.”


“Harumnya tidak seperti teh?”


“Ini teh rempah untuk menambah tenaga, Putra.”


“Heem.”




“Tuan Putra –“


“Ah, Ibu Marsih.”


“Anda butuh apa? biar saya ambil atau buatkan –“


“Buatkan aku teh rempah seperti yang istriku minum –“


“Teh .. rempah? ..”


“Ya. Teh yang istriku katakan jika teh itu untuk menambah tenaga. Aku ingin mencobanya.”


“Maaf, tapi kita engga punya stok teh seperti itu di sini, Tuan .. teh – teh persediaan di sini, hanya teh yang diambil dari kebun teh milik Tuan, selain teh impor yang di bawa oleh Tuan Besar Ramon .. Ada memang teh yang dibeli dari toko, tapi semuanya teh biasa dan Nyonya Bruna meminta saya dan bapak beli juga buat bahan perbandingan dengan teh dari kebun Tuan, katanya. ”


“Tetapi aku melihat istriku meminumnya. Tapi tidak sempat mencicipi, dan aku ingin mencicipinya sekarang.”


“Tapi bener Tuan, saya engga tau teh rempah yang dimaksud .. Atau mungkin itu teh racikan obat dari Nyonya Bruna? –“


“Bru hanya akan memberi obat medis. Dia tidak percaya pada pengobatan tradisional. Lagipula Bru akan mengatakan padaku jika ia membuat sesuatu yang baru.”


“Mohon maaf Tuan,  kalau begitu saya ga tau. Yang Tuan maksud teh rempah yang bagaimana –“


“Wanita .. saudari tiri istriku itu yang aku lihat memberikannya pada Gadis. Jika dia memberikan istriku teh tersebut, seharusnya teh tersebut ada di sini, bukan?”


“Coba saya carikan ya, Tuan Putra? .. Mungkin saya yang belum tau ada teh begitu di sini yang siapa tau dibeli oleh Tuan Besar. “




“Ada tehnya Ibu Marsih?”


“Tidak ada, Tuan Putra. Tidak ada teh yang seperti Tuan Putra maksud tadi. Semuanya masih persediaan yang memang ada di sini sebelumnya ..”

__ADS_1


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


To be continue .....


__ADS_2