LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 30


__ADS_3

Happy reading ..


“Hallo. I’m Gadis. What’s your name? ( Aku Gadis. Siapa namamu? )” Perawat bernama Gadis itu mengulurkan tangannya pada Anthony.


Ilse menatap remeh pada Gadis.


“Maaf, mungkin dia tidak bisa menjawab pertanyaan anda”


Putra bersuara.


“Oh...”


“Namanya...”


“Anth-Anthony...”


Putra sontak membulatkan matanya dan dengan cepat ia berjongkok lalu menghadapkan Anthony padanya.


“An-Anth??.....”


Putra nampak antusias namun juga terlihat seolah tidak percaya, karena baru saja dia mendengar Anthony bersuara.


Putra langsung menangkup wajah Anthony.


Yang membuat Anthony akhirnya melihat pada Putra yang sedang menatapnya tidak percaya.


Mata Putra begitu berbinar menatap Anthony. Putra yakin kalau ia tidak sedang berhalusinasi dan suara Anthony, meski pelan tapi ia dengar.


“Did you talk, Anth? ( Apa baru saja kamu berbicara Anth? )” Ucap Putra seraya bertanya.


Namun belum sempat Anthony menjawab, Putra dengan antusias menoleh pada perawat yang bernama Gadis tersebut.


“Kamu mendengarnya bukan?. Kamu mendengar dia menyebutkan namanya?” Ucap Putra seraya bertanya dengan antusias pada Gadis.


Gadis yang ditanya seperti itu oleh Putra nampak sedikit tergugu. “I-yaa” Jawab Gadis. “Putra anda bilang.... namanya Anthony” Sambung Gadis dan spontan senyum Putra mengembang, lalu ia dengan cepat menoleh lagi pada Anthony.


“Say it again, would you? Let me hear your voice .... ( Katakan lagi, boleh? Biarkan aku mendengar suaramu )....” Pinta Putra pada Anthony.


Ke empat orang itu sempat menjadi perhatian di restoran tempat mereka berada sekarang.


“Come on talk Anthony, do not make your father feel dissapoint ( Ayo bicara Anthony, jangan membuat ayahmu merasa kecewa )” Ilse yang sudah sedikit merundukkan tubuhnya, ikut mengajak Anthony bicara dengan sedikit menuntut.


Namun Anthony bergeming, tak menanggapi Ilse. Putra kemudian tersenyum pada Anthony.


“It’s okay.... do not push yourself, hem? ( Tidak apa – apa .... jangan memaksakan dirimu, hem? )”


Putra menangkup lembut wajah Anthony yang kemudian mengangguk.


“Do not give up Mister Putra! ( Jangan menyerah Tuan Putra! )”


Ilse seolah menyemangati Putra.


“Talk Anthony! Come on ( Bicara Anthony! Ayolah )”


Ilse tersenyum pada Anthony. Namun dari cara bicaranya, Ilse terdengar sedikit memaksa.


“We hear you talked. You supposed to talk your father first than an stranger ( Kami mendengarmu bicara. Kamu seharusnya bicara pada ayahmu terlebih dahulu daripada dengan orang asing )”


Putra tak berkomentar. Hanya sekilas melirik Ilse, namun beralih lagi pada Anthony. “Never mind, Anth. You enough make me happy now ( Tidak masalah, Anth. Kamu cukup membuatku bahagia saat ini )”


Anthony mengangguk pelan lalu menoleh lagi pada Gadis yang tersenyum padanya. “Nice to meet you Anthony. Your Papa loves you very much ( Senang bertemu denganmu Anthony. Papamu sangat menyayangimu )”


Dengan lembutnya Gadis berujar sambil mengusap lembut juga kepala Anthony dan mengelus pipi bocah tersebut.


“Do you love your Papa? ( Apa kamu menyayangi Papamu? )”


Anthony mengangguk. Gadis masih mempertahankan senyumnya. Putra juga tanpa sadar menyunggingkan senyum melihat interaksi Anthony dan Gadis.


“Let him know, then ( Buat dia tahu, kalau begitu )”


Gadis masih berbicara dengan kelembutannya.


“He must be very happy if you call him again ( Dia pasti akan sangat bahagia bisa mendengarmu memanggilnya lagi )”

__ADS_1


Anthony kemudian menoleh pada Putra, selesai Gadis berujar sembari menoleh sebentar pada Putra. Putra menarik lagi sudut bibirnya pada Anthony kala bocah itu menatapnya.


“.. Pa – Pa ..”


Putra sampai membuka mulutnya saat Anthony mengucapkan satu kata yang ia katakan dengan sedikit terbata barusan.


“Pa – Pa Putra ..”


“Oh Anth..”


Putra tidak bisa menahan haru atas bahagianya.


Putra memeluk Anthony dengan antusias. Tubuhnya sedikit bergetar dan sebulir air mata lolos ke pipinya.


Tidak perduli sedang berada di tempat umum, karena Putra terlalu bahagia mendengar Anthony berbicara.


Terlebih lagi Anthony memanggilnya, Papa ..


Kebahagiaan Putra kian membuncah.


****


Setelah sesaat Putra memeluk Anthony yang juga memeluknya, Putra sejenak memandangi Anthony sembari tersenyum lalu mengelus kepala bocah itu dengan sayang. Kemudian ia menoleh ke sebelah kirinya, dan nampak perawat yang bernama Gadis itu sudah berdiri dari jongkok nya. Namun perawat cantik itu tetap memandangi Anthony sembari juga tersenyum.


“Baiklah, Tuan, Dokter Ilse .. kalau begitu saya permisi” Gadis bersuara. “See you, Anthony ( Sampai berjumpa, Anthony )” Ucap Gadis pada Anthony sambil mengelus pelan kepala Anthony dengan ketulusan yang nampak pada


sikapnya.


Putra mengangguk ramah pada Gadis.


“Terima kasih”


“Sama – sama Tuan”


“Putra ..”


Putra memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangan.


“Gadis. Senang berkenalan dengan anda Tuan Putra”


“Senang berkenalan dengan anda juga”


Putra menyahut dengan sopan dan ramah juga pada Gadis.


Sementara itu Ilse menatap interaksi Putra dan Gadis dengan sedikit gurat yang menyiratkan kan sedikit ketidak sukaan.


“Anthony must be hungry ( Anthony pasti lapar )” Ilse menyela dan membuat Putra serta Gadis langsung menoleh padanya, kemudian pada Anthony.


“Ah yes, forgive me Anth.. come let us order something ( Ah iya, maafkan aku Anth... ayo kita pesan sesuatu )” Ucap Putra. “What do you want, hem? ( Kamu mau apa, hem? )”


Putra membawa Anthony dalam gendongannya, dan menunjuk pada beberapa gambar makanan yang tertera.


“Kalau begitu saya permisi. Mari...”


Gadis mohon diri dari hadapan Putra dan Anthony.


“Ga – dis ....”


“Eum?”


Gadis tak melanjutkan langkah karena Anthony memegang bajunya.


“Yes Anthony? ( Iya Anthony? )” Ucap Gadis seraya bertanya pada Anthony.


“Don’ – t go ... ( Ja – ngan pergi ) ...” Ucap Anthony pelan sedikit terbata. Masih belum terbiasa setelah ia diam begitu lama.


“But .... ( Tetapi... )”


“She has to work Anthony ( Dia harus bekerja Anthony )”


Ilse menyambar sebelum Gadis menyelesaikan kalimatnya.


Gadis tersenyum pada Anthony.

__ADS_1


“Doctor Ilse is right, I have to work ( Dokter Ilse benar, aku harus bekerja )”


“Don’ – t go ... ( Ja – ngan pergi ) ...” Anthony tetap saja merengek, meski pelan.


Dan Anthony masih memegangi baju pada bagian lengan Gadis.


“Gadis has to work now. She has to help people in the hospital. We can meet her again later, hem? ( Gadis harus pergi bekerja sekarang. Dia harus menolong orang – orang di rumah sakit. Kita bisa menemuinya lagi nanti, hem? )”


“......”


“There are a lot of sick people who need her help. Isn’t it right Gadis? ( Ada banyak orang sakit yang membutuhkan bantuannya. Benar begitu bukan Gadis? )”


Putra yang mencoba membujuk Anthony dengan memberikan penjelasan yang kiranya bisa di pahami oleh bocah itu kemudian meminta pernyataan Gadis untuk mengiyakan agar rengekan Anthony tidak mengganggu perawat cantik tersebut.


“Eum.. Ma – af Tuan Putra, bisa sedikit berbicara pelan. Bahasa Inggris saya, masih terbatas. Kurang paham kalau ada yang berbicara dengan cepat dan kalimatnya terlalu panjang ...” Gadis sedikit meringis, dan entah kenapa Putra merasa geli sendiri melihat perawat cantik nampak salah tingkah sembari menggaruk pelan kepalanya.


“Oh ...” Putra menahan dirinya untuk tidak terkekeh. “ Aku bilang padanya anda harus menolong orang – orang yang berada di dalam rumah sakit”


Gadis tersenyum dan mengangguk pada Anthony, nampak juga raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu. “Eum.. it is right, I.. have to help.. people at the hospital ( Iya, aku ... harus menolong.... orang – orang di rumah


sakit )”


“I will take you to meet her when I take you for your time with Doctor Ilse the day after tomorrow, hem? ( Aku akan membawamu untuk bertemu dengannya saat aku membawamu lagi menemui Dokter Ilse lusa, hem? )”


Putra mencoba membujuk dan meyakinkan Anthony. Merasa tidak enak juga pada perawat bernama Gadis yang baru ditemui olehnya dan Anthony, namun Anthony nampak sangat begitu menyukainya. Padahal selama ini dia lebih dibilang dekat dengan Ilse karena sering bertemu dan sudah mulai terbiasa dengan Dokter wanita yang juga cantik tersebut. Pada akhirnya Anthony mengangguk.


“Oke, bye bye Anthony ( Dadah Anthony )”


“Bye – bye.. ( Dadah... )”


“Permisi sekali lagi, Tuan Putra, Dokter Ilse”


Anthony melambai lesu pada Gadis setelah perawat itu berpamitan pada Putra dan Ilse. Dan Anthony terus menatapnya hingga perawat tersebut menghilang dari pandangannya.


“Come, let us make an order ( Ayo, kita membuat pesanan )”


Ilse mencoba mengalihkan Anthony dan Putra yang memandangi Gadis, saat perawat itu pergi dari hadapan mereka dan keluar dari restoran untuk kembali bekerja.


“Come Anthony, sit next to me ( Ayo sini Anthony, duduk di sebelahku )”


Ilse mencoba mengakrabkan dirinya pada Anthony.


“It is okay if you want to sit next Doctor Ilse ( Tidak apa – apa jika kamu ingin duduk di dekat Dokter Ilse )”


Putra berucap pada Anthony sembari mengangguk.


Tapi Anthony menggelengkan kepalanya. Membuat Ilse terlihat nampak sedikit kecewa. Namun kemudian Ilse menaikkan tangannya memanggil seorang pelayan untuk memesan.


***


Sementara itu selepas Putra dan Anthony kembali dari Rumah Sakit, Putra tak henti – hentinya tersenyum, sambil sesekali menoleh Anthony yang duduk di kursi penumpang belakang. Dan Putra sendiri duduk di kursi penumpang depan disamping Danny, si Manajer Restoran yang merupakan orang kepercayaan Addison yang berada di balik kemudi.


“Ada sesuatu yang sangat baik sudah terjadi sepertinya, Tuan Putra?” Tanya Danny yang menyadari pancaran kebahagiaan Putra dari wajahnya yang sumringah serta senyumnya yang terus nampak di wajah tampan Putra.


Danny yang memang sudah fasih berbahasa Indonesia itu bercakap dengan menggunakan bahasa tersebut karena Putra yang memintanya. Semata – mata karena Putra ingin membiasakan lidahnya untuk memudahkan dirinya berkomunikasi di lingkungan sekitarnya. Putra kemudian menoleh dan mengangguk pada Danny selepas pria itu bertanya padanya.


“Iya Dan. Sesuatu yang sangat baik!”


Putra menyahut antusias.


“Pasti menyangkut tentang Anthony!”


“Iya Dan” Sahut Putra cepat. “Dia sudah mulai berbicara!”


“Benarkah Tuan?!”


“Iya benar!” Sahut Putra lagi dengan antusias. “Aku pun tidak menyangka!”


“Dokter Ilse memang patut menjadi Psikiater ternama di kota ini selain sebagai seorang Dokter. Pantas saja banyak sekali pasiennya, ternyata dia memang hebat baik sebagai Dokter atau Psikiater”


Putra hanya menanggapi ucapan yang merupakan pendapat Danny dengan senyuman.


‘I think it was not because of Ilse.. ( Aku rasa bukan karena Ilse .... )’ Batin Putra.

__ADS_1


***


To be continue ...


__ADS_2