
Happy reading..
************
Indonesia ....
“He will be okay ( Dia akan baik-baik saja ), Gadis ....” Bruna meraih pundak Gadis yang wajahnya nampak sendu itu dan merangkulnya.
“I hope so, Bru .... I really hope so ( Aku harap begitu, Bru .... Aku sangat berharap dia akan selalu baik-baik saja ) ....” Gadis menyahut pelan.
Bruna mengulas senyumannya, “He will comeback here safe, Gadis. Trust me. ( Dia akan kembali kesini dengan selamat, Gadis. Percayalah padaku )”
Gadis pun tersenyum tipis pada Bruna sembari menggerakkan pelan kepalanya untuk mengiyakan.
Lalu Gadis bersama Bruna, berikut Addison dan Damian berjalan untuk menyusul Anthony dan Danny ke ruang makan utama.
**
Belanda, Eropa ....
‘Alright,’ jawab seseorang yang bernama Hiz, yang sedang terhubung dalam sambungan telepon rahasia dengan Putra.
Terdengar helaan nafas pendek, namun agak berat dari seberang telepon, sebelum pria bernama Hiz tersebut berbicara lagi.
‘Keep alive ( Tetaplah hidup ) ....’ Kata Hiz. ‘So you can take your wife for a honeymoon and introduce her with me, because I’m very curious with a woman who can conquer I Nero Fuoco from Ravenna ( Jadi kau dapat membawa istrimu berbulan madu dan kenalkan dia padaku, karena aku sangat penasaran dengan wanita yang bisa menaklukkan I Nero Fuoco dari Ravenna )’
“I will ( Tentu saja ) , Hiz.”
Putra kemudian memutuskan sambungan teleponnya dengan pria kepercayaannya dan Rery, yang merupakan salah seorang yang disebut saudara untuk Putra, karena sama-sama setia pada Rery.
Lalu setelahnya, Putra segera beranjak dari tempatnya.
Putra terlebih dahulu melihat Ramone yang sudah terlelap di atas ranjangnya, sembari menyelimuti dengan benar tubuh ayah baptisnya itu.
Baru kemudian Putra keluar dari kamar Ramone untuk mengistirahatkan dirinya di kamarnya sendiri yang ada dalam kediaman Ramone. Kamar yang memang adalah kamarnya sejak dulu, sejak ia pernah tinggal selama beberapa waktu dengan Ramone, di Kediaman pribadi sang ayah baptis.
Dan meski Putra, sudah lama hengkang dari Kediaman pribadi ayah baptisnya itu, bahkan cukup lama tidak pernah datang lagi, namun Ramone masih membiarkan kamar itu menjadi milik Putra.
**
Putra sudah berada di dalam kamar miliknya sejak dulu dalam Kediaman pribadi ayah baptisnya.
Kamar yang tidak pernah dibiarkan siapapun menempatinya oleh Ramone, meski Putra tak lagi tinggal bersamanya.
Bahkan kamar itu pun tidak didapati memiliki perubahan yang berarti.
Hanya mungkin selalu dibersihkan oleh pelayan, makanya kamar itu sudah rapih dan bersih saat Putra kembali menempatinya, walau hanya sementara.
Putra kini sudah membaringkan dirinya, diatas ranjang besar dengan rangka kayu yang modelnya klasik, sesuai dengan desain kediaman Ramone yang memang klasik.
Selepas ia membersihkan diri lalu menyantap makanan yang pelayan Kediaman Ramone sediakan dan bawakan untuknya, serta selepas Putra menyesap sebatang rokok setelahnya, Putra baru membaringkan dirinya.
Putra memang merasakan tubuhnya cukup letih, namun matanya belum ingin terpejam.
Beberapa hal sedang ada dalam otak Putra diwaktu yang bersamaan kiranya saat ini.
Dari soal Jaeden, yang rasanya sudah membuat tangan Putra gatal untuk menghabisi pria yang sudah membunuh kedua orang tua Anthony, bahkan juga coba melenyapkan Anthony, sampai dengan pikiran pada dua orang yang ia sangat cintai.
Anthony tentunya, serta istri tercintanya. Gadis.
‘Gadis told us that Anth ever said, that he afraid if he loose you just like he lost Rery and Madelaine ..... and Gadis look kind of sustain worrying you’
__ADS_1
( Gadis mengatakan pada kami bahwa Anth pernah bilang, jika ia takut kehilanganmu seperti ia kehilangan Rery dan Madelaine ..... dan Gadis juga sepertinya terlihat menderita karena mengkhawatirkanmu ).
Ucapan Addison soal Gadis dan Anthony di telepon tadi terngiang kembali di telinga Putra.
Rasanya Putra menjadi dilema karena ucapan Addison tentang Anthony dan Gadis itu.
‘I’m sorry Anth..’ Putra membatin. ‘Maaf Gadis..’ Putra lalu menghembuskan kasar nafasnya. ‘I’m sorry if I’m selfish ( Maaf jika aku egois ) ..’ Lirih Putra dalam hatinya.
Jika mengingat ucapan Addison soal Anthony dan Gadis, memang rasanya Putra merasa tak tega pada kedua orang yang sangat dicintainya itu.
‘Tapi aku melakukan ini, selain untuk menuntaskan dendamku dan ingin mengembalikan semua hal yang memang adalah milik Anth, namun melenyapkan keparat bernama Jaeden itu dengan segera, semata-mata juga untuk kebahagiaan dan ketenangan kalian ke depannya ..’
Monolog Putra dalam hatinya.
‘Maafkan aku, Gadis, bukan aku tak memikirkanmu..’
Putra menarik tipis sudut bibirnya.
‘Aku bahkan sangat merindukanmu ..’
Lalu Putra memejamkan matanya. Karena biar bagaimanapun, ia harus beristirahat dengan baik saat ini, walau hanya beberapa jam saja.
‘I will be okay and come home soon to you ( Aku akan baik-baik saja dan pulang secepatnya pada kalian) , Anth, Gadis..’ Kata Putra dalam hatinya sebelum ia memejamkan mata dan mengistirahatkan dirinya.
***
Beberapa jam kemudian ..
Masih di Kediaman pribadi Ramone.
Tok .. Tok .. Tok ..
Tok .. Tok .. Tok ..
Dan Putra membuka matanya dengan sempurna, meski sedikit rasa kantuk masih Putra rasakan saat suara ketukan kembali terdengar.
Putra kemudian bergegas turun dari ranjangnya dan pergi ke arah pintu, setelah meyakini bahwa suara ketukan tersebut berasal dari ketukan di pintu kamarnya.
“Hey, sorry for disturbing you ( Hey, maaf mengganggumu ) ..” Garret yang mengetuk pintu kamar Putra.
“No problem, Gar ( Tidak masalah, Gar )..”
Putra menyahut sambil membukakan lebar pintu kamarnya dan mempersilahkan Garret untuk masuk.
“I just remember if you have a meeting with those people of Ramone’s people here, in two hours ahead ( Aku hanya ingat jika kau punya jadwal pertemuan dengan orang-orangnya Ramone yang berada disini dua jam lagi )” Ucap Garret.
Putra pun mengangguk sembari berjalan ke arah dalam kamarnya lagi, dan mendudukkan dirinya di atas sofa sambil memijat pelan tengkuknya, kemudian menggerakkan kepalanya untuk melemaskan otot-otot lehernya.
“You also just wake up? ( Apa kau juga baru bangun? )..”
“Ya not quite long ( Iya belum berapa lama )” Jawab Garret pada Putra.
“Have you meet Vader? ( Apa kau sudah bertemu Vader? ) ..”
“Ya, I met him just when I want to knock your door, then he left to talk with Bale and that sexy-cold sister of yours.”
( Iya, aku bertemu dengannya saat aku hendak mengetuk pintumu, lalu ia pergi untuk berbicara dengan Bale dan saudarimu yang seksi namun dingin itu ).
Putra pun mendengus geli mendengar sebutan Garret untuk Yonna, sang adik angkatnya, yang pernah dididik bersama oleh Ramone dengan Putra.
“By the way, have you succeed call Villa last night? ( Ngomong-ngomong, apa kau berhasil menghubungi Villa semalam? )”
__ADS_1
“Ya.”
“How are they? ( Bagaimana kabar mereka? )”
“They’re good ( Mereka baik ) .. but the news that Ad said, was not that good ( tetapi kabar yang disampaikan Ad tidak sebaik itu )” Papar Putra.
“What news? ( Kabar apa? ) ..”
Putra pun menjelaskan panjang lebar pembicaraannya dengan Addison terkait kabar yang didapat salah satu saudaranya yang katakanlah satu dari yang paling dekat selain satu saudarinya yang bersama tinggal di Villa mereka kini, dari salah satu orang yang merupakan saudara mereka juga, karena sama-sama setia pada Rery.
“Damn it!!”
Garret pun merutuk lalu mengumpat dan nampak geram.
“And what’s your plan? ( Dan apa rencanamu? )” Tanya Garret.
“Heading to Ravenna right away, after the meeting ( Berangkat ke Ravenna secepatnya, setelah pertemuan )”
Garret pun manggut-manggut. “Alright then, let’s prepare ( Baiklah kalau begitu, mari bersiap )” Ucap Garret kemudian.
Pria itu tanpa ragu mengatakan juga jika ia akan ikut dengan Putra, meskipun Putra memberikannya pilihan, antara ikut ke Ravenna, atau kembali ke Indonesia dan berjaga di Villa, meskipun hampir tidak akan ada kemungkinan bahaya yang mengancam mereka yang berada di Villa.
Dan ya tentu saja opsi yang Garret pilih adalah pergi ke Ravenna dengan Putra, untuk membantu saudaranya itu menyelesaikan dendamnya pada pria yang bernama Jaeden. Saudara angkat Rery yang tamak dan menghalalkan segala cara untuk merebut apa yang seharusnya milik Rery.
Lalu, Garret undur diri dari kamar Putra untuk membersihkan dirinya dan bersiap, dimana Putra pun melakukan hal yang sama dengan Garret. Yakni membersihkan diri dan bersiap.
Kemudian Putra dan Garret bertemu lagi, dan menyusul Ramone, Bale dan Yonna yang sedang berada di ruang kerja Ramone, menurut info dari salah seorang pelayan dalam kediaman pribadi Ramone.
***
Indonesia ....
Beberapa jam telah berlalu dari sejak Putra menghubungi Villa.
“Padre!”
Anthony memanggil Addison.
Dimana Addison langsung menyahut pada bocah tampan itu. "Yes, Prince?" Sembari Addison mengulas senyuman dan membawa Anthony ke atas pangkuannya.
“Still there’s no call from Papa? ( Masih tidak ada telepon dari Papa? )”
“No, Anth. Not yet ( Tidak, Anth. Belum ) ...”
Anthony terdengar menghela nafasnya dengan lesu setelah mendengar jawaban Addison.
“I hope Papa will be okay and comeback here soon ( Aku berharap Papa akan baik-baik saja dan kembali kesini secepatnya )”
Addison yang melihat Anthony nampak gundah dan lesu itu, langsung membawa bocah tersebut dalam dekapannya, seraya menampakkan senyuman dan mengatakan jika Putra pasti baik-baik saja dan akan segera kembali ke tengah-tengah mereka.
“Why Papa still not calling?.. Is he don’t miss me and Gadis? ( Mengapa Papa masih belum menghubungi?.. Apa dia tidak merindukanku dan Gadis? ) ...” Lirih Anthony, dimana Addison langsung membelai kepala bocah tampan tersebut.
“I’m sure that he miss you and Gadis that much ( Aku yakin kalau dia sangat merindukanmu dan Gadis )....” Ucap Addison.
Kemudian Anthony melingkarkan tangan kecilnya ke belakang leher Addison, yang sedang duduk memangkunya. “If something bad happened to Papa just like what happened to Daddy and Mommy, then I don’t want to stay in this world anymore, Padre ( Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Papa seperti yang terjadi pada Daddy dan Mommy, maka aku tidak ingin tinggal di dunia ini lagi, Padre ) ..”
‘Oh Anth....’
***
To be continue ....
__ADS_1