
Happy reading..
********
“Was Hiz giving you a latest information about that bastardo? ( Apa Hiz memberikanmu informasi terbaru tentang keparat itu? )”
“Yes ( Iya )”
“Means that we’re positively will off to Italy? ( Itu artinya kita positif pergi ke Italia? ) ....”
“No ( Tidak )”
“Why? ( Kenapa? )....”
“.....”
“Then what’s your plan? ( Lalu apa rencanamu? )”
“Go home ( Pulang )”
***
Saat ini..
Indonesia ..
“Kamu, pu-lang??” Gadis terisak dengan masih memeluk Putra leher Putra dengan eratnya.
Putra mengangguk seraya tersenyum.
“Iya, aku pulang...” ucap Putra kemudian.
Lalu Putra membalas dekapan Gadis yang terisak mendekapnya.
Membiarkan saja Gadis seperti itu dulu, tanpa berniat mengurai dekapan mereka.
***
“Apa tanganmu tidak pegal, hem?....” Setelah beberapa saat akhirnya Putra berbicara.
“Tidak!”
Gadis dengan segera menyahut, menjawab pertanyaan Putra yang masih mendekapnya itu.
“Aku tidak perduli dengan rasa pegal ku, mati pun aku tidak perduli asal bisa terus memelukmu begini supaya kamu tidak pergi lagi!”
“Hey, hey!”
Putra yang rasanya tak suka mendengar ucapan Gadis barusan itu, langsung menangkup wajah Gadis dengan cepat dalam tangkupan kedua tangan Putra sembari menatap tajam pada wajah Gadis yang ia paksa untuk mendongak itu pada akhirnya.
“Apa yang kamu katakan tadi, hah?!. Aku tidak suka mendengarmu bicara melantur seperti itu!”
Gadis tidak menyahut. Ia seperti terkesima pada wajah yang sedang menatapnya dengan tatapan gusar itu.
“Lihat aku baik-baik! ....” ucap Putra.
Gadis yang bak kerbau sedang dicucuk hidungnya itu pun mengikuti arahan dari pemilik wajah yang sedang menangkup wajah Gadis itu.
Lalu Putra memindahkan tangannya dari wajah Gadis dan ganti meraih tangan Gadis yang kini ia tempelkan di wajahnya.
“Putraaa .... apa ini benar-benar ka-mu?....” Gadis tergugu. Sementara Putra kemudian mendengus. Lalu Putra menghela sedikit berat nafasnya dan menangkup wajah Gadis lagi sembari menatapnya lekat-lekat.
“Lihat aku baik-baik, lalu rasakan kulitku ini di tanganmu ....” ucap Putra lagi.
“Kamu .... nya-ta. Aku bisa merasakan wajah kamu di telapak tangan aku ....”
‘Haish!....’ Putra mendengus pendek, sedikit berat.
Cup!
Cup!
Lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Gadis.
“Masih belum terasa nyata kecupan aku itu?”
Dan Gadis masih saja terkesima sembari menatap dan menangkup wajah Putra dengan matanya yang basah.
“Putraa....” lirih Gadis, lalu memeluk kembali Putra dengan posesif.
“Kalau masih menganggap ini mimpi, akan ku lucuti pakaianmu, dan aku akan mengayunkan tubuhku di atasmu agar kamu sadar ini bukan mimpi. Mau??!!! ....”
***
Dan ketika kalimat panjang soal hal menjurus itu barulah Gadis terkesiap dan tersadar, jika yang ada didepannya ini adalah benar Putra.
Suaminya, dalam wujud nyata.
Karena hanya Putra berwujud nyata sajalah yang sering menggoda, bahkan mengancam Gadis dengan kalimat-kalimat menjurus seperti tadi. Tapi kemudian Gadis tertegun lagi.
“Katakan, apa harus aku lakukan itu agar kamu segera sadar bahwa ini benar suamimu dan bukan hantu, hem?.... Mau aku lucuti pakaianmu sekarang? ....”
“Aaaa, kamu benar-benar Putra! . Suamiku yang sangat mesum itu!”
Dan Gadis kembali berhambur memeluk Putra dengan eratnya, kali ini dengan keantusiasan yang gembira. Membuat Putra jadi terkekeh geli karenanya, namun ia akhirnya membalas mendekap Gadis yang nampak bahagia itu.
“Benar-benar suamiku!” seru Gadis setelah mengurai dekapannya dengan cepat lalu menangkup wajah Putra dan memindainya, juga menggerak-gerakkan wajah Putra sesuka hatinya. “Wajah mesum yang membuatku rindu!....”
Cup!
Cup!
Lalu Gadis menciumi wajah Putra yang sedang terkekeh geli lagi. Tidak perduli jika tingkahnya saat ini macam orang yang sedang kehilangan akal saking ia terlalu senang, bahkan masih tidak percaya jika Putra sudah kembali bersamanya.
__ADS_1
“Gadis .... Gadis ....”
“Putraa aku rindu!. Benar-benar rindu!”
“Akupun begitu Gadis”
***
Meski sudah merasa sadar, dan jelas-jelas jika ia sedang tidak bermimpi saat ini, namun Gadis yang masih berada di atas ranjang dengan berbaring miring bersama Putra di sisinya yang juga sedang berbaring miring dengan menopang kepalanya pada satu tangan itu, terus saja menatap Putra dengan lekat seolah tak berkedip.
Seolah ia takut jika berkedip, lalu Putra menghilang. Selain Gadis sedang kembali meyakinkan dirinya bahwa suaminya ini benar-benar nyata.
Sementara Putra terus saja tersenyum melihat gelagat Gadis saat ini, sembari menatap wajah wanita yang sangat ia rindukan dalam beberapa hari ini karena berjauhan, terpisah negara, juga benua.
Dan membuat keduanya tersiksa menahan rindu, karena komunikasi pun tidak intens dilakukan.
****
Beberapa saat saling tatap, Putra yang belum mengganti pakaiannya dari sejak ia datang itu hendak beringsut dari tempatnya.
“Aku ganti pakaian dulu,” ucap Putra.
Tapi kemudian urung, karena lengannya langsung di pegang dan ditahan Gadis dengan kuat.
“Tidak, kamu tidak boleh kemana-mana!”
Dimana Putra langsung menghela nafasnya dengan sedikit berat, lalu langsung memposisikan dirinya lagi menghadap Gadis.
“Kemarilah ...” Putra kemudian memegang tangan Gadis yang sedang mencekal lengannya itu, lalu menarik Gadis dan membawanya kedalam dekapan.
“Jangan pergi ....”
“Aku hanya ingin berganti pakaian, Gadis.”
“Benar?...” Gadis memastikan.
Putra manggut-manggut. “Benar, istriku, Gadis, sayangku ...”
Sembari Putra menangkup wajah Gadis dengan kedua tangannya dan menggoyang-goyangkan wajah yang sedang penuh kekhawatiran jika Putra akan meninggalkannya lagi.
“Atau begini saja ...”
Putra menegakkan tubuhnya, dengan tangannya menggenggam tangan Gadis.
Lalu Putra beringsut kemudian beranjak dari ranjang lalu berdiri di dekat tepinya.
Mata Gadis tak putus memperhatikan gerak-gerik Putra, meskipun Putra masih memeganginya.
Lalu Putra sedikit merunduk dan meraih kedua kaki Gadis yang kemudian ia juntai kan ke bawah tempat tidur.
Dan setelahnya....
Syut!
Putra mengangkat tubuh Gadis dan menggendong istrinya itu ala Bridal Style seraya berbicara.
Lalu melangkahkan kakinya menuju walk-in-closet dalam kamar mereka itu.
***
Putra mendudukkan Gadis di atas meja pada sudut yang merupakan meja rias, karena ada cermin yang terpasang di dindingnya.
Dan memang, sudah seperti itu desainnya karena tadinya walk in closet yang didesain sedemikian rupa adalah untuk almarhum Rery dan Madelaine.
Yang tentu desainnya telah disesuaikan untuk almarhum sepasang suami istri itu. Dan sekarang Putra dan Gadis yang menggunakannya. Dan satu sudut yang dibuat sebagai meja rias Madelaine itu tadinya, kini digunakan oleh Gadis.
Jadi Putra tidak repot lagi menyesuaikan walk in closet dalam kamar yang ia tempati itu, setelah Gadis tinggal bersamanya.
Putra mengukung tubuh Gadis yang tetap terus memperhatikannya itu, bahkan setelah ia bawa Gadis turut serta ke dalam walk in closet, padahal ia hanya ingin mengganti pakaian yang ia kenakan saja, karena telah cukup lama melekat di tubuhnya sejak dari Belanda.
Sebenarnya Putra ingin juga membersihkan dirinya tadi, karena merasa tubuhnya tak nyaman setelah berada belasan jam di udara.
Namun berhubung Gadis seolah paranoid untuk ia tinggal, jadi Putra mengatakan kalau ia ingin berganti pakaian saja.
Namun tetap saja raut wajah khawatir dan ketakutan ditinggal melekat di wajah Gadis, hingga akhirnya Putra membawa Gadis turut serta ke dalam walk in closet, agar istrinya itu tidak lagi merasa khawatir.
***
Kembali Putra perhatikan lekat-lekat wajah Gadis yang orangnya sedang ia kukung, namun dalam jarak longgar, dan kini sedang menatapnya sendu itu.
Wajah Gadis yang nampak lelah dan menyimpan beban, lingkar hitam yang samar namun Putra dapat lihat di area mata Gadis, menandakan jika istrinya itu tidak beristirahat dengan baik.
Wajah yang terlihat tak bersemangat kala Putra datang ke Villa, lalu bertemu lebih dulu dengan Bruna yang mengatakan jika Gadis sedang beristirahat karena Bruna yang menyuruhnya, semata-mata karena Bruna mengatakan jika ia memperhatikan bahwasanya Gadis kurang beristirahat karena memikirkan Putra yang katanya ingin pergi ke Italia dan menghadapi musuh bebuyutannya.
Dimana Gadis berpikir, kalau Putra akan terancam bahaya karenanya.
Dan karenanya, ada gurat penyesalan dan rasa bersalah di hati Putra melihat Gadis sekarang ini.
Bukannya tidak ingin menghubungi dan berbicara dengan Gadis saat di Belanda.
Tapi memang, kondisinya tidak mungkin untuk melakukan itu, karena Putra ingin segera menyelesaikan masalah dalam klan Ramone, yang kini berada di bawah kekuasaannya.
Lalu informasi yang diberikan Ad soal Jaeden membuat Putra tak sabar untuk segera menghadapi keparat yang telah membunuh Rery dan istrinya dengan kejam, guna membalas dendam pada pria bernama Jaeden tersebut.
Selain itu, Putra rasanya tak tahan mendengar rengekan Gadis yang memintanya untuk segera pulang, karena ia takut menjadi dilema.
Tapi Putra tak sangka, jika Gadis akan terpuruk seperti ini karena mengkhawatirkannya dengan sangat.
Dan untung saja, ada informasi dari orang kepercayaan Putra dan para saudaranya, yang dirasa menguntungkan, dan Putra dapat menyempatkan diri untuk pulang dulu ke Villa dan menemui para dua saudara dan satu saudarinya, selain Putra memang merindukan Anthony dan Gadis.
Putra menangkup wajah Gadis dengan kedua tangannya.
Lalu kembali menatap Gadis lekat-lekat, sembari menelisik wajah tirus sang istri.
__ADS_1
Gadis pun menatap sama lekatnya dengan Putra, memandangi wajah suaminya itu. Lalu memajukan wajahnya dan menarik tengkuk Putra dengan cepat, hingga membuat bibir mereka saling bertabrakan dengan lembut.
Gadis berinisiatif, karena memang ia sangat merindukan Putra.
Dan menarik tengkuk Putra untuk menciumnya itu, adalah semata-mata jika Gadis ingin benar-benar memastikan nyatanya sosok sang suami yang sudah kembali pulang itu.
Putra juga sama, ia begitu merindukan Gadis, selain juga rindu pada Anthony dan segala tingkah polah bocah tampan itu.
Dan Putra memejamkan matanya, kala Gadis berinisiatif untuk menciumnya lebih dulu.
Lalu sesaat kemudian, Gadis mengurai ciumannya pada Putra yang dibalas lembut oleh suaminya itu.
Kembali Gadis menatap Putra penuh kerinduan.
“Kiss me again ( cium aku lagi )”
Ucapan Putra terdengar seperti perintah, namun dengan suara yang sedikit berat.
Dimana Gadis seolah tanpa ragu, kembali menarik tengkuk Putra untuk ia cium lagi bibirnya.
Kali ini, Putra tak membiarkan Gadis mengurai cepat ciumannya.
Karena tangan Putra kini sudah menahan tengkuk Gadis agar ciuman mereka tak terjeda.
Putra ingin melunasi hutang rindunya pada Gadis, yang juga sama merindukannya. Terutama pada bibir Gadis yang sudah menjadi candu bagi Putra.
Bibir yang enggan Putra lepaskan cepat-cepat, jika bibir Gadis sudah menempel di bibirnya. Putra yang menyadari jika Gadis mulai terengah, kemudian mengurai pagutannya pada bibir Gadis.
“Mau membantuku berganti pakaian?” pinta Putra dengan tatapan mendamba pada Gadis yang bibirnya sedikit membengkak itu.
Ehem!
***
Sekali lagi, bak kerbau yang sedang di cucuk hidungnya, Gadis mengiyakan ucapan Putra yang memintanya untuk membantu suaminya itu berganti pakaian.
Gadis mengangguk patuh, kemudian mulai menggerakkan tangannya ke dada Putra, lalu membukakan satu per satu kancing kemeja sang suami kemudian.
Hingga seluruh kancing kemeja Putra sudah terbuka semua, namun Gadis tidak menanggalkan kemeja suaminya itu dengan segera.
“Kamu sudah makan?”
Putra bertanya sembari menggerakkan tangannya, hendak melepaskan kemejanya.
Memang hanya ingin saja Gadis membukakan kemejanya, agar istrinya itu semakin yakin jika dia sedang tidak bermimpi, karena gelagat Gadis macam orang yang baru setengah sadar.
“Ga-dis ....”
Putra tahu-tahu mendesis serak.
Karena alih-alih menjawab, malahan tangan Gadis merayap dan memberikan usapan lembut disana, hingga satu gelenyar yang sudah beberapa hari ini tidak Putra rasakan, mulai ia rasakan merambat di tubuhnya.
“Ja-ngan, sayang ....”
Putra sungguh berdesir memang, namun melihat Gadis yang wajahnya nampak sayu akibat kurang istirahat itu membuat Putra menahan dirinya untuk tidak menyentuh Gadis sebagaimana biasa, hingga sesuatu yang dahsyat menggulung dengan hebatnya.
Jadi, Putra memegang tangan Gadis, guna menyergah istrinya itu melakukan hal yang sedang dia lakukan, karena jika tidak dihentikan dengan segera, Putra rasanya tidak bisa janji untuk tidak menerjang sang istri, meski istrinya itu nampak sayu, lesu bahkan sendu saat ini.
“Ga-dis ....” Putra kembali menyergah Gadis, memegang tangan Gadis lalu ia letakkan di pangkuan istrinya itu.
Tapi seolah tuli, Gadis melingkarkan tangannya di leher Putra, saat Putra sedikit merunduk untuk meletakkan tangan Gadis ke atas pangkuan istrinya itu.
Tak hanya sekedar melingkarkan tangannya di leher kokoh Putra, namun Gadis juga menguselkan wajahnya disana. Dan bukan hanya itu, Gadis memberikan kecupan disana, hingga spontan Putra menggeram samar.
Apa yang Gadis lakukan ini membuat mata Putra berkabut.
Dan selanjutnya dengan cepat Putra menerjang bibir Gadis. Yang disambut dengan pa**tan mesra oleh Gadis. Membuat Putra semakin berdesir karenanya, ditambah Gadis begitu erat mendekapnya, sampai Putra lumayan merunduk dan tubuhnya sudah berada di tengah diantara kaki Gadis.
“Kamu tidak apa-apa? ....”
Putra bertanya setelah mengurai ciumannya dengan Gadis.
Jujur saja, celana Putra rasanya menyempit sekarang.
Dan pertanyaan Putra itu, ia rasa Gadis tahu kemana arahnya.
Hingga saat Gadis mengangguk, tak menunggu lama, Putra kembali menerjang bibir istrinya itu.
Bukan lagi ciuman lembut, namun menuntut dengan nafas yang mulai memburu.
Dan didetik itu juga, Putra mengangkat tubuh Gadis dan menggendongnya tanpa melepaskan pagutan bibir mereka.
Hendak membawa Gadis ke ranjang mereka, agar lebih leluasa untuk saling memberikan kenikmatan disana.
Namun ....
“MAMA?! PAPA?! ....”
Sayang sungguh sayang, suara seorang bocah laki-laki terdengar di luar walk in closet dalam kamar pribadi Putra dan Gadis, dimana pemiliknya sedang, akan, berniat mengurai rindu lebih jauh dan dalam itu pun, langsung terkejut bukan kepalang.
Hingga dengan cepat namun tetap dengan pelan-pelan Putra menurunkan Gadis dari gendongannya.
“MAMA?! PAPA IS HOME RIGHT???!!!! ( MAMA?! PAPA SUDAH PULANG KAN???!!! ) ....”
Suara bocah lelaki yang terdengar sangat bersemangat itu terdengar lagi.
‘Haish Anth, why you always come in ‘not right’ moment of your Papa and Mama ( kenapalah kamu selalu datang di saat ‘yang tidak tepat’ saat Papa dan Mamamu sedang bersama ) ....’
Papa Putra pun membatin.
Sekaligus rasanya Papa Putra merasa lesu seketika.
***
__ADS_1
To be continue...