Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD100. Begini begitu


__ADS_3

Harusnya ia tidak perlu bertanya.


Buktinya, aku mengeluarkan ASI untuk menyusui Chandra. Otomatis, aku pernah hamil dan punya suami.


"Iyalah!" aku ketus dalam menjawabnya.


"Berapa lama rumah tangganya dulu?"


Harusnya pertanyaan seperti ini, di keluarkan saat kita masih tahap pendekatan. Bukan sudah suami istri, lalu di baru bertanya.


"Lima tahun. Aku nikah umur delapan belas tahun, semester dua waktu kuliah. Aku lulus MA umur tujuh belas tahun. Terus, aku hamil umur dua satu mau ultah ke dua puluh dua tahun. Terus sekarang, kan Chandra udah setahun lebih. Pas, aku dua puluh tiga tahun." aku sampai memperjelas setiap kalimat yang aku ucapkan.


"Lima tahun nikah? Tapi gak paham begini-begitunya?" bang Daeng menunjukkan lima jarinya, saat mengatakan lima tahun.


"Begini-begitu apa sih?" aku tersulut emosi.


Inti pertanyaannya apa sebenarnya?


Segala membawa begini-begitu dikata.


"Huh.... Masa harus diajarin dulu." bang Daeng bersandar pada tembok.


Ruang televisi ini, tidak dilengkapi dengan sofa. Televisi berdiri di atas rak TV, lalu di bagian bawah terdapat DVD player. Di samping kiri dan kanan rak tersebut, terdapat sound sistem masa kini. Kami menonton TV, lesehan di atas karpet permadani berwarna cream.


"WOT, MOT, d*ggy, sendok, gunting, stand d*ggy, gitu-gitu paham gak?"

__ADS_1


Aku paham d*ggy, meski tak pernah aku lakukan. Sendok, gunting itu, malah membuatku traveling pada alat-alat dapur.


"Tau d*ggy aku." aku meliriknya sinis.


Aku kesal, karena bang Daeng tidak berbicara dengan jelas.


"WOT, perempuan di atas. MOT, laki-laki di atas. Sendok, Abang di belakang Adek. Posisi Adek tiduran menyamping. Terus, gunting juga Adek tiduran menyamping. Bedanya, satu kaki Adek ada di bawah Abang, satu kaki Adek ada di bahu Abang. Abang bersila di tengah-tengah inti Adek. Stand d*ggy, Adek n*ngging sambil berdiri."


Hah?


Sepertinya alisku pun menyatu sekarang.


"Buat apa sih susah-susah kek gitu? Sulit betul rupanya, ngelakuin hal yang mudah aja." tuturku kemudian.


"Terus, Adek suka gaya apa? Sama yang kemarin dulu, Adek rutin gaya apa?"


Apa ia tidak akan cemburu, jika membahas hal ini?


"Misi*naris." cetusku cepat.


"Lebih bervariasi sekarang, karena sebutannya MOT." aku tidak peduli, meski ia menjelaskan tentang pengertian hal itu.


Aku merasa sedikit heran, dengan pembahasan mengenai hal ini. Ini menurutku, hanya perlu dipraktekkan. Tidak untuk dijelaskan.


"Abang sukanya WOT. Abang suka perempuan di atas."

__ADS_1


Aku jadi teringat, kenapa kak Venya dan Putri suka sekali duduk di pangkuannya.


"Aku tak mau WOT-WOTan! Apalah! Capek aku, badan aku besar. Apa tak nyeri paha nanti?" aku menjawabnya sedikit ketus.


Herannya, bang Daeng asik tertawa saja. Apa ini lucu?


Benar-benar aku tidak habis pikir, di mana memangnya letak kelucuan ini?


"Liat nanti aja. Tak mau, tak mau! Gaya betul! Sombong!" bang Daeng langsung mengecup pipiku.


Aku mendorong tubuhnya, "Ih, Abang!" moodku naik turun dibuatnya.


Tawanya pecah kembali. Ia merangkulku, lalu menarik leherku. Otomatis pipiku semakin dekat dengan wajahnya. Hal itu pun terulang kembali, ia menciumi pipiku dengan gemas.


"Abang tuh!!" aku memukul pahanya pelan.


"Apa sih, Dek? Istri sendiri ini, halal loh kita." ia memberiku kedipan genitnya.


"Iseng!" aku memukul lagi pahanya yang terlapisi celana jeans selutut itu.


"Yuk... Belajar dulu yuk?" ia bangkit, tangannya terulur untuk mematikan televisi. Lalu setelahnya, ia membawaku ke dalam gendongannya.


...****************...


Begini begitu caroeng dek bak ta rayu.. Cut abang adek hana perle tau.... 🎢🎀

__ADS_1


__ADS_2