
"Putri ada di sini?" aku bisa menangkap keterkejutan mas Givan.
"Makan aja dulu, Mas." aku menyentuh lengannya.
Mas Givan mengangguk, ia fokus kembali pada piringnya. Aku bergulir untuk memandang mamah Dinda dan papah Adi bergantian. Mereka pun, malah melempar pandangannya lagi.
Setelah selesai sarapan, mas Givan keluar rumah. Dengan adanya Putri di sini, membuatku merasa khawatir kecolongan suami. Apa seperti ini, yang dirasakan Kin setiap hari?
Setelah kamar dan dapur aman, aku membawa Ceysa keluar rumah. Namun, aku ditahan oleh mamah Dinda yang tengah duduk di teras rumah sendirian.
"Ehh, panggilin Ria ya? Mamah mau arahin buat dia ambil sekolah paket. Givan suruh adik iparnya punya ijazah." ucap beliau dengan menahan tanganku.
"Ya, Mah." mas Givan sudah pernah membicarakan tentang Ria.
Yang membuatku sedikit tidak setuju, karena mas Givan berniat melempar Ria ke Kalimantan. Aku khawatir ia tidak baik-baik saja di rantau orang, aku takut juga ibu sendirian. Sedangkan aku, pasti harus ikut ke sana ke mari dengan mas Givan.
Ya, mas Givan berniat membawaku ke mana pun dia berada untuk pekerjaan. Ia ingin aku mengurusnya di tengah kesibukannya bekerja.
Aku langsung masuk ke ruko, ibu tengah berada di dapur dan Ria tengah mengobrol bersama Zio di ruang tamu.
"Dek..... Dipanggil mamah." aku mendudukkan Ceysa di sofa.
"Ada apa sih, Mbak?" Ria melirikku sekilas.
"Mas Givan ada ngomong tak tentang sekolah kau?" aku memperhatikan Ria sejak tadi.
Ia sedikit pucat, mungkin ia tidak enak badan. Kantung matanya pun, terlihat begitu bengkak.
"Ada ngomong, sekali. Sama ngasih akte kelahiran punya aku."
Mas Givan adalah orang yang tidak suka mengulang ucapannya.
"Ya udah sana ke mamah dulu. Zio biar Mbak yang jaga."
Ria langsung bangkit dan melangkah pergi.
"Masak apa, Bu?" aku sedikit berseru.
"Ayam rica-rica. Givan tadi ke sini, suruh Ria ambil oleh-oleh di rumah." ibu muncul dengan membawa sebuah sutil.
"Oh, iya. Lupa. Keknya masih di mobil juga."
Aku terlalu asik dengan aktivitas baruku sebagai seorang istri dan ibu.
"Biyung, Iyo mau sekolah." Zio menunjukkan tas ransel miliknya bergambar kartun mobil merah.
Entah apa namanya.
Aku baru ngeh, ternyata Zio memiliki tas baru.
"Kapan sekolah?" aku menyibakkan rambut di bagian dahinya.
Biang keringat menumpuk di sana.
Hufttt.....
"Dak tau, yayah yang bilang." Zio anteng memainkan krayonnya kembali.
Chandra saja baru masuk TK, masa iya Zio mau masuk TK juga? Lagi pun, Zio masih tiga tahunan.
__ADS_1
Zio tumbuh dengan tubuh yang cenderung tinggi. Kulitnya berwarna kuning sedikit putih, bukan kuning cerah seperti mas Givan. Wajahnya, tidak mirip mas Givan. Tapi aku tidak akan meragukan tentang darah di dalam diri Zio. Menurutku, itu sudah tidak penting. Mau bagaimana pun kebenarannya, Zio sudah menjadi bagian dari keluarga Adi's Bird.
Toh, Nadya pun tidak pernah kembali untuk sebatas menengok anaknya. Nadya seperti membuang anak. Nomor teleponnya pun, tidak dimiliki keluarga kami. Mas Givan pun sama, ia tidak pernah berkomunikasi dengan Nadya.
Namun, dengan Nadya seperti ini malah membuatku menjadi khawatir. Aku lebih tenang pada mantan mas Givan yang seperti Fira, meski ia kadang usil dan genit, tapi gerak langkahnya tidak membuatku curiga. Apa lagi, curiga suamiku diambilnya.
Tetapi pada Nadya. Kemunculannya pasti seperti panci presto yang dibuka dengan uap yang masih mengepul. Bisa saja ia mengagetkanku, lebih buruknya mencelakaiku.
Aku tidak tahu, aku pun tidak berniat su'udzon padanya. Tapi, biasanya seperti itu.
"Dekkkkk.... Jangan lah!"
Aku langsung menoleh ke arah anak-anak ini. Zio sudah hampir menangis, melihat krayonnya dipatahkan oleh Ceysa.
"Adek Ceysa, jangan dong. Minta maaf sama Bang Iyo."
Ceysa memandang kakaknya itu, "Aap ya? Dek aap." Ceysa mengusap-usap lengan Zio.
Namun, tangis Zio langsung menggema.
"Aku tak punya krayon warna kuning lagi."
Aku memangku Ceysa, lalu memeluk Zio.
"Tak apa, nanti kalau mau sekolah beli yang baru." seperti Chandra, ia mau barang-barangnya serba baru saat masuk taman kanak-kanak.
"Aap ya, Bang Iyo?" Ceysa mengusap-usap kepala Zio.
Dewasa juga Ceysa ini. Pasti ia sering melihat adegan seperti ini.
"Jangan nangis dong. Main yuk?" aku menenangkan Zio, berusaha membuatnya tidak menangis lagi.
Aku mengangguk, "Iya sok dibawa." aku bangkit, lalu memakaikan Ceysa sendal yang seperti klakson.
Saat ia menginjak, maka akan berbunyi cit-cit.
"Main ke mana nih? Ke nenek kah?" aku menggandeng Ceysa dan Zio.
"Adi..." Ceysa begitu girang dengan jejingkrakan.
"Ke Aksa aja." Zio menunjuk bangunan milik Ghavi.
"Adi, Iyung." Ceysa mengibaskan tangannya yang aku gandeng.
"Ke Aksa aja yuk? Ke Hadi nanti sama yayah."
Masalahnya, rumah Giska di RT sebelah. Aku lelah berjalan menuju ke sana.
"Adi. Ain Adi." Ceysa malah menangis.
"Ya udah, ya udah." Zio setuju, tetapi bibirnya cemberut.
"Jangan nangis Adek Ceysanya." tambah Zio kemudian.
Ceysa mengangguk, tangisnya langsung berhenti seketika. Dengan langkah berat, ditambah kanan dan kirinya membawa anak, aku melangkah menuju ke rumah Giska.
Hadi harga mati untuk Ceysa. Padahal mereka lawan jenis, tapi satu frekuensi.
Sayang sekali aku melupakan sesuatu, aku baru teringat ketika baru sampai di rumah Giska. Yang membuatku ingin pulang lagi ini hanya satu, karena Aini dan bang Ardi tinggal di sini.
__ADS_1
Hufttt....
Telat, telat.
Hadi dan Giska sudah menyambut kami penuh semangat.
"Ayo main di kolong rumah yuk?" dasar Zuhdi kecil.
"Mainan yang bersih aja, Hadi! Hadi udah mandi!" suara ibu hamil itu begitu lepas.
"Yuk ke dalam yuk? Nanti ma marah loh Hadi." aku bersuara pelan untuk membujuk Hadi.
"Huh.... Ya udah deh." Hadi melangkah lunglai menaiki tangga kembali.
"Adi...." begitu lembutnya Ceysa memanggil Hadi.
"Hadi, aku mau sekolah." seperti anak-anak pada umumnya.
Pamer.
Aku bisa melihat Hadi menoleh ke arah Zio, "Hadi tak sekolah lagi, langsung jadi teungku haji aja."
Siapa yang tidak tertawa?
Aku mengetuk-ngetuk dahiku sendiri, mendengar jawaban Hadi. Saat dulu, ia pernah tidak mau sunat. Katanya, ia mau jadi cina saja agar kaya. Sekarang, ia tidak sekolah lagi tetapi langsung menjadi teungku haji.
Ya memang sih, menjadi teungku haji tidak harus bersekolah. Yang penting berhaji, orang terpandang, agamanya bagus juga. Sepahamku itu.
"Kakek kau teungku haji." tambah Giska yang duduk di bangku teras rumahnya.
"Ya, nanti aku teungku haji Hadi." Hadi sudah heboh saja.
"Yeyyyyy...." Ceysa yang malah girang berloncatan.
Aku terkekeh geli melihat anak-anak itu. Kemudian aku duduk di sebelah Giska, dengan memperhatikan anak-anak.
"Kakak ipar..." Giska mencolek lenganku.
"Hmmm?" aku menoleh ke arah Giska.
"Bilangin bang Givan, pembangunan yang lainnya uang di muka aja gitu. Uang bang Adi, mau aku pakai buat pegangan melahirkan. Sebenarnya, bang Adi ngelarang aku ngomong gini. Makanya jangan bilang-bilang ke bang Adinya ya?"
Aku manggut-manggut. Ya, pasti nanti Zuhdi merasa tidak enak hati pada mas Givan.
"Kau tak ada dana kah? Nanti aku juga bilang ke mas Givan." kami berbicara dengan suara rendah.
"Ada, cuma tuh takut tak cukup. Karena kan, uangnya mau dipakai cover pembangunannya bang Givan dulu. Maksudnya, biar dana lahiran aku aman gitu. Makanya, aku minta bang Givan buat bayar di muka aja."
Aku mengerti, "Ya, Giska. Nanti aku sampaikan."
Tiba-tiba posisi Giska lebih dekat lagi padaku. Sampai perut buncitnya menyentuh siku tangan kananku.
"Pengeluaran aku boros betul, sejak ada...." Giska melirik ke area dalam rumahnya.
"Ada siapa?" sahutku menimpali dengan suara pelan.
...****************...
Sesi ghibah dimulai 🤠real life
__ADS_1