
"Ya, Pah." aku menggiring Key, untuk masuk ke dalam rumah.
"Cuci tangan dulu, Key." aku menggandeng tangan anak perempuan ini, untuk masuk ke dalam kamar mandi yang dekat dengan pintu belakang.
"Siap-siap, Dek. Papah temani kau ke dokter. Dokter kandungan kemarin minta kau cek darah."
"Jauh ya, Pah? Naik motor aja sih, Pah. Tak sama mamah ini kan?" aku teringat jarak rumah ke dokter kandungan cukup jauh.
Mamah Dinda tengah berada di rumah Giska. Sore nanti ada acara di rumah Giska. Umumnya di daerah Cirebon, empat puluh hari selesai nifas biasanya diadakan syukuran. Aku tahu adat ini. Mamah Dinda pun tengah mencoba menggelar syukuran itu. Dengan hidangan wajib bubur sumsum dan juga ketan kuning.
Hari ini adalah dua hari setelah kami tidur bersama di kamar Giska.
"Di puskesmas juga bisa. Kalau kau tak mau terlalu jauh. Mumpung masih pagi, langsung aja Pah." saran Kinasya. Ia terlihat biasa saja padaku, meski masalah kemarin sempat mencuat.
Sekarang sudah pukul sepuluh pagi.
"Hasilnya sama tak?" mungkin pertanyaan papah Adi mengarah ke kualitas keakuratan laboratorium.
"Sama aja. Beda harga aja. Di puskesmas, tujuh puluh lima ribu kalau tak salah. Tes sekarang, hasilnya sore ataupun besok bisa diambil. Sama kan? Kek di dokter kandungan."
Aku dan papah Adi mengangguk secara bersamaan, setelah mendengar penjelasan Kinasya.
Ehh, tapi kok penghuni rumah ini biasa saja. Apa mereka tidak ada yang kasihan pada Nadya? Seolah-olah tidak ada keributan. Suara anak-anak yang malah seperti pasar kambing. Heboh bersahutan, tetapi ucapannya tidak bisa diterjemahkan.
"Yuk... Naik motor mamah. Papah tunggu di luar."
Aku teringat cerita motor itu. Motor datang, mamah langsung dikurung papah ke kamar. Beat Street hitam, yang menjadi tunggangan mamah ketika berjalan-jalan sore dengan suami dan anak-anaknya yang bungsu.
"Ya, Pah." aku langsung mencari ibu.
Aku selalu mengantongi uang dan ponsel. Buku KIA pun belum aku dapatkan. Jadi rasanya cukup hanya membawa uang saja.
"Buuuu... Ibu...." aku mencari keberadaan beliau. Tadinya ibu berada di dapur dengan Kinasya.
"Di belakang itu, Canda." ujar Tika yang muncul dari pintu belakang.
Aku mengangguk, lalu langsung menuju ke area halaman belakang.
"Bu... Nitip anak-anak. Aku mau ke puskesmas dulu." seruku ketika mendapati beliau tengah duduk anteng bersama Winda.
Winda sering keluar masuk ke dalam rumah megah ini.
__ADS_1
"Ya, jangan lupa bawa gunting kuku."
"Haa? Buat apa, Bu?" aku langsung memeriksa kukuku.
Tidak panjang kok.
"Buat jaga-jaga aja. Orang hamil kan, harus punya pegangan."
Aku tidak mengerti dengan maksud ibu.
"Tak usah. Pegang papah Adi aja kuat-kuat." Kin muncul dengan beberapa botol dot di tangannya.
"Biar gak kena sawan gitu loh, Ndhuk. Biar setan juga gak berani usik perut kamu." jelas ibu kemudian.
"Di sini tak berlaku, Bu. Setannya takut sama orang-orang di rumah ini, udah kek setan tingkahnya. Setan tak ngehasut apapun, manusia di sini ada yang salah, pasti nyalahin setan." Kinasya seperti tengah menyindir seseorang.
"Bukan Ane!"
Aku memutar pandanganku, mencari sumber suara tersebut.
Oh, rupanya itu Ghifar. Ia tengah membersihkan kandang burung.
"Pamit dulu, Bu." aku langsung berlalu pergi.
Aku berpapasan dengan Nadya yang baru masuk dari pintu samping. Aku mengikuti orang-orang di sini, aku tak menegur atau memberinya senyum. Dengan begitu saja, aku melanjutkan langkah kakiku.
Kasihan juga sebenarnya Nadya. Untuk makan saja, ia mencuri furniture di sini untuk dijual dulu.
Aku yakin mas Givan memberinya uang. Hanya saja, pasti uang pemberiannya tak cukup untuk Nadya. Aku yakin itu.
Saat waktu dzuhur tiba, aku sudah berada di rumah kembali.
"Ada apa nih?" papah Adi berjalan lebih dulu.
Ada suara tangis perempuan. Ada dua mobil asing juga, yang terparkir di halaman rumah.
"Ini suami Saya, Pak." mamah Dinda menunjuk papah Adi, yang berada di depanku.
Papah Adi segera duduk di samping istrinya. Dengan aku yang menghampiri mamah Dinda, karena lambaian tangan beliau.
Ternyata, mamah Dinda menyerahkan Zio padaku. Mungkin karena ibunya tengah terisak dengan memeluk lengan suaminya itu.
__ADS_1
"Oh, Bapak Adi Riyana ya? Ada kemajuan mengenai laporannya, Pak. Bapak dan Ananda Givan, juga beberapa pihak bersangkutan diminta untuk ikut bersama anggota. Ada beberapa hal yang perlu kami rujuk kembali, juga mengenai permasalahan sekarang."
"Kira-kira, berapa lama ya? Saya tidak bisa terlalu lama ninggalin istri dan anak-anak Saya." sahut papah Adi.
"Untuk keterangan, mungkin hanya dua kali dua puluh empat jam. Saran saya, Bapak perlu menggunakan kuasa hukum, agar waktu dan gugatan Bapak lebih kuat. Jika memang Bapak tidak memiliki waktu untuk melakukan persidangan kelak, Bapak cukup mewalikannya saja pada kuasa hukum Bapak." terang kepolisian kembali.
Kenapa sampai dua mobil seperti ini?
Kan tetangga malah menjadi cctv sekarang.
"Apa Saya harus ke Kalimantan?" tanya papah Adi kembali.
"Ya, Pak. Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, ada satu PT juga di Papua. Hanya kantornya saja di Papua, tapi setelah diselidiki ternyata operasinya di Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Itu satu nama kepemilikan, Pak. Ananda Givan sebagai pemilik dan penanggung jawab, saham terbesar seingat Saya itu... Bapak sendiri, Adi Riyana. Jika memang ada kekeliruan, ada penjelasan yang kurang terinci. Bapak silahkan langsung ikut ke kantor saja. Di sana akan dijelaskan dengan gamblang, juga permasalahan apa saja yang merugikan Bapak. Perlu diketahui juga ternyata kantor yang di Papua itu, PT. Putra Tunggal Berintan tidak memiliki WIUP. WIUP ini surat paling dasar, Wilayah Izin Usaha Pertambangan. Penduduk setempat juga sudah beberapa kali demo, hanya saja PT ini memiliki preman. Yang di Kalimantan Selatan dan Tengah ini satu PT, Pak. Masih PT. Adi Wijaya Abadi. Hanya saja, memang dipecah menjadi dua, karena sudah termasuknya usaha pertambangan terbesar di Indonesia."
Wow, luar biasa.
Aku sampai tidak berkedip, saat menyimak penjelasan tersebut.
"Owaaaaa...."
Aku reflek menepuk-nepuk part belakang bayinya mas Givan ini. Lalu aku membawanya pergi ke ruangan lain, agar tidak mengganggu obrolan mereka.
Aku terus-menerus memandangi wajah bayi ini. Ternyata ini hasil mas Givan reuni. Semoga dia kelak setampan mas Givan.
Ya, semoga hanya ketampanannya saja yang menurun. Tidak dengan sifat jeleknya.
"Semoga kau bisa bikin rumah tangga orang tua kau kuat, Nak. Kasian bunda kau, kasian ayah kau. Bunda kau butuh kasih sayang, ayah kau butuh wanita yang menuntun arah hidupnya. Sehat-sehat, Nak. Yang akur sama kak Key, sama bang Chandra. Yang nurut sama kakek nenek, mereka suka sama anak yang penurut." aku langsung mencium pucuk kepalanya.
Aku menimangnya, agar ia lekas tenang.
"Shttttttt....." aku langsung menoleh ke kiri dan kanan, untuk mencari sumber suara tersebut.
"Dek... Sini!"
Aku langsung mengerutkan keningku, saat melihat seseorang yang tengah bersembunyi di suatu sudut ruangan.
...****************...
Main petak umpet kah?
Siapa ya yang manggil Canda dek?
__ADS_1